Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
36. Tidak make sense


__ADS_3

~ Seseorang bisa senang dan semangat atas apa yang dilakukannya karena sebuah pujian, tetapi dengan kritikan dia mampu untuk merubahnya menjadi lebih baik.


“Ada yang mau dibicarakan lagi?” tanya Zahid datar.


“Ya, ada. O ya, kenapa sih kau sering diam waktu di kelas.?”


“Aku hanya ingin menjadi diriku yang utuh dan yang sebenarnya. Lagi pula, jika dipikir-pikir, dari segala yang hidup, hanya manusia yang paling banyak bicara. Aku malu dengan Tuhan, malaikat, manusia, alam, dan bahkan dengan diriku sendiri,” balas Zahid lugas.


Susan manggut pelan. Dia menikmati udara malam yang segar. Semilir angin menembus pakaiannya.


Dia sedikit merinding. Dia memandangi wajah Zahid yang terlihat samar di tengah remangnya malam.


"Zahid, aku tidak pernah berbicara denganmu waktu di kampus. Terakhir, waktu kau membuatku jengkel. Ketika kau duduk di kursiku.”


Zahid tersenyum canggung.


“Yang waktu itu. Aku minta maaf.”


“Tidak apa-apa kok. Tapi, aku salut denganmu. Ternyata kau cerdas.”


“Ha ha ha ha ha.” Zahid meniru cara tertawa Squidward.


“Apa yang lucu?”


“Kau habis mengejekku ya? Cerdas?! Ha ha ha.”


Susan mengawasi wajah Zahid yang tiba-tiba terpampang cerah. Dia terheran-heran.


“Zahid, kenapa jika kau bicara suka tidak jelas gitu? Maksudnya suka mengkritik. Waktu pas mata kuliah fisika, yang dosennya Bu Luna, kau menanyakan sesuatu yang menurutku itu aneh. Kenapa begitu?”


“Ya... karena aku merasa ada yang ganjil. Tidak make sense.”


“Hanya itu? Kau juga sering bertanya waktu di kelas. Yang aku ingat kau pernah bertanya untuk apa mempelajari kalkulus. Jujur, itu adalah pertanyaan yang aneh. Memangnya apa pendapatmu tentang kalkulus?”


“Menurutku itu adalah pelajaran yang membosankan. Kita hanya berbicara masalah angka. Aku mengakui banyak manfaat yang bisa kita ambil setelah mempelajari itu. Tapi aku memikirkan kira-kira setelah mempelajari itu apakah aku bisa mengamalkannya. Setelah mempelajari kalkulus, apa aku pasti menjadi orang yang berguna? Kan belum tentu”


“So?”


“Ya menurutku kita itu kalau mempelajari sesuatu harus lihat sisi pragmatisnya. Kita harus paham sisi praktis yang bisa kita ambil setelah paham dengan suatu ilmu. Sekarang aku tanyakan kepadamu. Apa yang bisa kaulakukan setelah mempelajari kalkulus?”


“Pertanyaan itu tidak layak untukku. Coba kautanyakan dengan dosen saja lagi. Memang dengan jawaban dari dosen tempo hari kau belum puas?” ujar Susan.


“Bukan begitu. Yang pasti menurutku, jika kita ingin mempelajari sesuatu harus terlebih dahulu memikirkan untuk ke depannya nanti. Hanya belajar, tapi tidak bisa menggunakan ilmu itu untuk hidup dan kehidupan, percuma saja. Kalau seperti itu kita hanya menghabiskan waktu saja. Intinya harus oportunis juga,” ujar Zahid dengan gamblang.


“Entahlah. Berbelit-belit. O ya. Kenapa kau tidak masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, Zahid?”


Zahid mulai dongkol. Mukanya menjadi masam. Dia kesal minta ampun dengan wanita yang tepat berada di sampingnya itu yang banyak sekali bertanya.


Ingin rasanya dia pulang. Malam itu sungguh menjengkelkan baginya. Tak tahan dia terus diobral pertanyaan demi pertanyaan.

__ADS_1


Dia pikir aku ini artis, apa? pikirnya.


Sementara itu, Susan memasang raut muka yang datar, tak banyak ekspresi.


Tapi jika dibandingkannya dengan Syarif, tentu dia lebih nyaman dengan Zahid.


Zahid tidak banyak omong, apalagi menggombal. Tidak seperti Syarif, baterai di mulutnya selalu full, begitu banyak cerita-cerita lucu, puisi, dan rayuan gombal yang ada di benaknya.


Susan tidak suka dengan lelaki yang terlalu banyak mengobral kata-kata.


“Aku tidak lulus,” jawab Zahid pelan.


“Kok bisa?!”


“Ya karena aku bodoh.”


“Tidak mungkin. Pasti kau memang tidak ikut SNMPTN, kan?”


“Aku ikut tes. Tapi tidak lulus. Kalau kau?”


“Sama sepertimu. Aku ikut tes, tapi tidak lulus. Papa dan mamaku memarahiku habis-habisan pas mereka tahu kalau aku tidak lulus.”


Tanpa ragu Zahid tak segan-segan memandangi wajah Susan yang berada tepat di sebelah kirinya. Dia sudah bisa menebak cukup dengan dua kali pengamatan saja.


Malam itu dia menarik sebuah konklusi tanpa banyak memerlukan hipotesis. Persepsinya: Susan merupakan sosok wanita yang sukar dibuat bahagia.


“Kau kecewa atau tidak?” tanya Susan.


“Kecewa.”


“Oh. Zahid, aku ingin bicara sesuatu kepadamu.”


“Kenapa tidak dengan kekasihmu?”


“Emm... tidak. Sepertinya dia tidak bisa memberi saran apa pun.”


“Lantas, kenapa harus aku?”


“Zahid, aku memperhatikan sikapmu selama ini. Menurutku, kau lumayan bijak. Begini. Jujur, selama aku kuliah di kampus kita itu, aku malu dengan teman-teman alumni SMA-ku. Mereka seolah mengejekku yang mana aku sekolah di kampus swasta. Mereka juga seolah merendahkanku karena perbedaan status swasta dan negeri. Aku sungguh minder.”


Dan tetap Susan menampakkan wajah yang kendur.


“Susan, apa mereka secara terang-terangan mengejek dan merendahkanmu?”


“Tidak. Tapi aku suka mendengar omongan mereka yang seolah membeda-bedakan status swasta dan negeri. Mereka bilang bahwa sepintar-pintar mahasiswa di kampus swasta, masih mending orang bodoh yang sekolah di kampus negeri. Mereka juga bilang bahwa alumni dari kampus negeri itu lebih cepat diterima bekerja di perusahaan besar ketimbang mahasiswa dari kampus swasta. Mereka juga suka bilang bahwa kualitas kampus negeri selalu lebih baik jika dibandingkan dengan kampus swasta.”


Zahid terperangah mendengarkan suara yang datar tak bernada itu sehingga ia sulit mencari makna yang tersirat di dalamnya.


Matanya berkaca-kaca. Dia pikir bahwa ternyata Susan juga mempunyai masalah dalam hidup, bahkan lumayan berat.

__ADS_1


Dia hanya tahu Susan itu adalah mahasiswi  cerdas di kelas, paling cantik di Fakultas Teknik dan sekitarnya, pendiam, dan cuek. Hanya itu.


Tapi, untuk malam ini, ada banyak fakta yang terungkap.


Zahid bertambah penasaran dengan karakter dari sosok Susan yang selalu diidolakan mahasiswa Teknik dan sudah berminggu-minggu dipacari Syarif.


Zahid sadar ternyata Susan menyimpan perasaan yang jauh di dasar hatinya, yang berisi problema serius.


Telinganya menjadi sasaran empuk setiap kata-kata yang terucap itu. Buktinya, sekarang, hanya dia manusia yang dipilih oleh Susan untuk mendengarkan curahan hatinya.


Woah! Zahid benar-benar bangga.


“Susan, itu hanya perasaanmu saja. Belum tentu mereka benar-benar mengejek dan merendahkanmu lantaran perbedaan status swasta dan negeri.”


Waktu itu juga Zahid menjelma menjadi pribadi yang bijak. Cueknya menguap ke udara.


“Tidak, Zahid. Aku melihat mereka yang seperti tidak mau lagi berteman denganku. Aku memperhatikan sikap mereka yang tidak seperti dulu. Aku yakin, ini lantaran masalah perbedaan status kampus.”


“Kau jangan jadi pribadi yang pesimistis begitu. Kau jangan berprasangka buruk. Tidak mungkin mereka seperti itu terhadapmu.”


“Sekarang, jujur, tempo hari waktu itu di tempat pesta ulang tahun temanku, kami teman sesama alumni berkumpul-kumpul. Kami membahas masalah kampus. Seolah bikin kelompok sendiri-sendiri, mereka yang lulus dan masuk di kampus negeri membuat gerombolannya sendiri. Mereka seolah mau bebicara dengan sesama mereka saja. Terpaksa aku ngobrol bersama teman-teman satu kampusku saja.”


Zahid merespons omongan Susan dengan manggut-manggut.


“Sejak kejadian itu aku tidak mau lagi bertemu dengan teman-temanku. Aku malas berhubungan dengan mereka. Lantaran perbedaan kampus swasta dan negeri, persahabatan jadi terpisah. Dasar!”


“Susan, apa kau merasa lebih baik dari mereka?”


“Bukan aku sombong, tapi sungguh aku merasa lebih baik dari mereka. Aku sering mendapat penghargaan dari sekolah. Aku juga termasuk orang yang berprestasi,” keluh Susan.


“Apa yang perlu dikhawatirkan?”


“Ya ada. Yang pasti aku masih kesal lantaran mereka suka membeda-bedakan status kampus.”


“Itu hanya egomu saja. Sudalah. Kalau kau merasa lebih baik dan berprestasi dari mereka, buktikan! Jangan kauhiraukan masalah status negeri atau swasta. Kau jangan malu karena kau kuliah di kampus swasta. Dan, tetap kau harus berteman dengan mereka, jangan terlalu ambil hati dengan sikap mereka yang seperti itu! Aku yakin kau itu terlalu sensitif saja menanggapinya.”


“Kau itu tidak mengerti perasaan perempuan!” balas Susan.


“Aku ingat perkataan Dave Mahoney: Yang penting bukanlah di mana kau berada dahulu, atau di mana kau berada sekarang, melainkan ke mana kau ingin menuju.”


Dengan cepat Susan menganggapi perkataan Zahid. Dia tetap memasang ekspresi datarnya.


JENG JEREJENG JEREJENG JEREJENG!!!


Suara pengamen itu menabrak percakapan mereka.


“Ayo kita pulang!” ajak Zahid cepat-cepat.


***

__ADS_1


__ADS_2