
~ Tiada sahabat yang lebih akrab daripada ilmu, tiada teman yang lebih dekat dibandingkan Imajinasi.
[POV Uzlah]
Sekarang aku sudah mengenakan seragam kerjaku, yakni baju berkera kancing dua warna orange, celana dasar hitam, dan sepatu kulit hitam.
Srang Sreng!!!!
Bunyi spatula beradu-adu dengan kuali besar. Sesekali api meraung tinggi keluar dari kuali itu.
Sang koki sangat piawai sekali. Seperti sedang dalam acara sirkus saja. Orang dapur pada sibuk memasak.
Bau bumbu dan kepulan asap masakan berkolaborasi hebat. Membuat hidung mengendus-endus, membuat perut kriut-kriut.
TRRIINNGG
Ada dua belas mangkok pindang patin yang ada di atas meja.
Dua minggu menjadi pelayan merupakan waktu yang cukup singkat bagiku untuk bisa menyesuaikan diri.
Ya, kedua tanganku sudah mampu untuk membawa dua tray sekaligus. Ku taruh enam mangkok pindang patin ke satu tray. Begitu juga untuk tray satunya.
Ku geser satu tray agak ke bibir meja, lalu telapak tangan kiriku menempel bagian bawah tray sebagai tumpuan.
Kemudian tray tersebut ku angkat ke atas sambil memutar sedikit sehingga arah jari tangan kiriku ke arah jam 9.
Terus ku geser juga tray satunya ke bibir meja dan ku lakukan sama seperti sebelumnya.
Dua tray di atas bahuku. Aku melewati lorong jalan sejauh lebih kurang dua puluh meter. Bangganya, langkah kakiku pun agak lebih cepat.
Karena sekarang adalah waktunya jam makan malam, maka resto ramai, apalagi ini malam minggu.
Bagi pria dengan penghasilan UMR agaknya mesti berpikir empat kali sebelum makan di sini. Apalagi kalau dia sama pacarnya.
Pokoknya yang gaji pas-pasan lebih janganlah ke sini. Mending cari pecel lele pinggiran saja.
Setahuku, orang yang sering makan di sini biasanya pengusaha, pejabat pemerintah, artis, dan orang-orang penting
Aku sangat berhati-hati sekali sebab sekarang sedang turun hujan. Jalanan di lorong dan jembatan besi kecil itu agak basah.
Dengan pelan-pelan aku melewati jembatan besi. Lalu masuk ke kapal terapung yang dindingnya ada kerlap kerlip lampu.
Kapal terapung ini pas malam bagus sekali dilihat dari kejauhan karena lampu-lampunya seirama dengan bentuk kapalnya.
Aku menuju meja yang agak panjang. Tentu akan ada lebih dari 10 orang di sana. Pesanannya saja dua belas.
Cuaca yang dingin diiringi pula suara rintik hujan membuat suasana makan pindang patin bertambah nikmat.
Aku menghidupkan dengan api sebuah kompor kecil, sedikit lebih kecil dari diameter mangkok, supaya pindang nya tetap dalam keadaan hangat.
Pindang patin di sini paling top. Kuahnya pedas mantap. Ikan patinnya lembut gurih. Bumbu alaminya buat badan jadi sehat.
Lalu aku menuju arah pos minuman. Ada beberapa minuman. Jus alpukat, jus mangga, es teh manis, kopi. Semuanya ku angkut dan ku bawa ke meja tadi.
"Terima kasih, Mas," ujar Bapak berkemeja putih. Kumisnya ikut tersenyum
__ADS_1
"Kembali, Pak, " balasku dengan senyuman pula.
Lebih dari sepuluh kali aku bolak-balik dari dapur ke kapal terapung, mengantar semua pesanan.
Dari selepas maghrib sampai jam sembilan pesanan yang harus diantarkan tidak berhenti. Ada saja pesanan pokoknya.
Pas di jalan lorong, tiba-tiba Pak Assmen mengajakku bicara.
"Dik, di sana ada genangan air, coba kau bersihkan."
Sebenarnya aku mesti mengantarkan pesanan, tetapi karena ada perintah dari Pak Assmen maka pesanan tadi kubiarkan dulu.
Aku pergi ke ruangn OB dan mengambil serokan air. Lalu kugeret air yang menggenang itu keluar lorong. Airnya langsung ke sungai.
Setelah itu aku kembali bekerja seperti biasa.
Lantas beberapa saat kemudian Pak Assmen kembali mendekati aku. Wajahnya agak serius.
"Itu airnya masih. Bersihkan lagi! "
Untuk kedua kalinya ku lakukan hal yang sama. Bahkan Pak Assmen sampai tiga kali memerintahkan aku.
"Kamu tidak kerjakan?"
"Sudah saya kerjakan, Pak. Atapnya ada bocor sedikit. Jadi airnya terus netes." Aku agak sedikit marah. "Pak, ini tugas OB. Bukan tugas saya."
Lalu aku meninggalkan nya dan sibuk kembali dengan pekerjaanku. Kesal sekali rasanya aku disuruh-suruh.
Namun, keesokan harinya Pak Assmen menghampiriku dan meminta maaf soal kejadian kemarin.
***
Ada lipatan kecil. Sekarang masuk ke soal Investments And Profitability. Bagaimana cara menghitung Annual Costs, profits, dan cash flows.
Contribution and Breakeven Charts, Capital Costs, Depreciation. Lalu tentang proses ekomomi lainnya, Accounting and cost control, Manufacturing-cost Estimation, FixedFixed-Capital-Cost Estimation.
Ada banyak sekali grafik dan tabel yang sulit aku mengerti. Sesekali aku menelpon Zahid menanyakannya. Dia paham karena diajarkan langsung oleh dosen.
Ya sementara aku cuma bisa belajar otodidak. Selain melalui buku, aku juga belajar melalui media internet, mengikuti seminar online, dan bergabung di grup online pecinta sains.
Dari pagi sampai siang kuhabiskan waktuku untuk membaca, selebihnya tentu membantu ibuku berjualan.
Aku jarang keluar rumah seperti layaknya orang-orang. Aku lebih senang menghabiskan waktu dengan bacaan, soal, dan belajar bersama adikku.
Boleh saja aku tidak duduk di bangku kuliah, tapi ku harap nanti adikku tidak sama seperti aku.
Aku ingin dia sekolah setinggi-tingginya. Ya hanya dengan beasiswa, hanya itu saja. Kalau bisa dia kuliah di luar negeri. Semoga.
Rian sudah menunggu di dekat pintu.
"Buruan, Kak. Nanti adik telat. Nanti Bu Dewi marah marah lagi takutnya. Terus ngebanding bandingkan Rian dengan Kakak. Kakak kan tidak pernah telat pas SMP dulu. Malu Rian kalau sampai telat."
"Siap, Delapan Enam! Siap, adikku yang ganteng!"
Aku tancap gas mengntar adikku pergi sekolah.
__ADS_1
***
Jam setengah tiga sore.
Aku berpamitan pada Ibu. "Kerjanya hati-hati, Nak."
Di atas motor bebek-ku ini, sambil mengawasi jalan, sambil aku menghitung-hitung pengeluaran untuk bulan ini.
Biaya sekolah adik, kontrakan, beras selama beberapa hari kedepan, dan cicilan hutang.
Maka gaji yang akan kuterima di awal bulan ini tersisa sedikit saja, paling buat servis motor dan bensin selama dua minggu kedepan.
Tidak seperti tempat bekerja sebelumnya, di sini aku tidak bisa membawa buku untuk dibaca sebab tidak ada waktu senggang sedikit pun.
Makanya waktu dari pagi sampai siang itu aku manfaatkan betul untuk belajar di rumah.
Sesampai di resto, jika tidak ada pesanan, aku membantu tugas orang-orang dapur, seperti memotong kangkung dan membersihkan cabai.
Sesekali juga terkadang terlibat langsung dengan hal-hal memasak jika dibutuhkan, seperti mengangkat kuah pindang dengan muatan yang besar.
Fan berdebu di sudut ruangan itu melempar kembali asap uap udara yang keluar dari alat steam.
Kerapu steam kecap.
Ya itu salah satu menu favorit dan menu yang mahal di sini. Ada juga ikan belida yang di-steam. Spesies langka sekarang. Harganya pun mahal.
Aku beranjak karena suara kringan itu. Ada udang asam manis, cumi lada hitam, cah kangkung dan beberapa makanan lain yang siap aku antarkan.
Aku membawa semua menu itu dengan menggunakan dua tray. Jalanan agak basah karena habis diguyur hujan.
Aku sudah pelan-pelan pas di jembatan besi, tapi....
Braaakkk....
Mataku ke arah langit.
Badanku berdebam.
Sakit rasanya.
Pak Assmen mengangkat badanku. Bajuku kotor. Segera aku menyingkir ke toilet, membersihkan pakaian, dan menenangkan diri.
Habis gajiku bulan ini.
Bahkan total harga pesanan yang ku bawa tadi lebih besar daripada gaji yang akan aku terima.
Minus uang ku bulan ini. Aku harus mengganti semua pesanan yang jatuh tadi. Beberapa saat aku melamun di depan toilet.
Pak Assmen menghampiriku. "Bagaimana keadaanmu, tidak terluka kan?"
"Tidak apa-apa, Pak. Berapa duit yang harus saya ganti Pak?" Kataku lemas. Mataku tertunduk. Aku sungguh bersalah sekali.
Pak Assmen terlihat tegar dan memegang pundakku. Dia melihat aku lurus-lurus.
"Tidak apa-apa, Uzlah. Kamu tidak perlu mengganti makanan yang jatuh itu. Kamu tidak sengaja menjatuhkannya. Resto tidak akan menuntut apa-apa dari kamu. Tidak usah khawatir. Kamu harus tetap bekerja seperti biasa."
__ADS_1