Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
27. 120 N


__ADS_3

Susan masih dengan kondisi sedih kendatipun air matanya berhenti membasahi pipinya yang halus dan lembut.


Dia duduk di belakang. Dari lima wanita di kelas itu, hanya dia yang duduk paling belakang, hampir paling pojok.


Dia duduk tepat di sebelah Girang. Dia mendaratkan dagu lancipnya di atas telapak tangan kanannya. Matanya layu. Ekspresi wajah yang murung itu tak mengurangi rona cantiknya yang menawan, tak mengurangi semangat Girang untuk menggapai impiannya: bisa dekat dengan Susan.


Suasana tampak tegang setelah adu mulut antara Ketua Tingkat Syarif dan Zahid Si Mahasiswa Dingin. Kebanyakan pria di kelas itu terlihat depresi, kecewa karena Susan sudah banyak yang mengincar.


Mereka bersikap skeptis, kecuali Syarif yang tadi barusan mati-matian membela Susan, dan juga Girang yang sedang dihujani takdir keberuntungan.


Girang merasa seperti bermimipi, tak percaya bahwa di sebelahnya duduk seorang wanita yang dikagumi oleh dua puluh delapan pria satu kelas, belum lagi di kelas dan fakultas lain.


Dia adalah satu-satunya orang yang paling ceria pada saat itu. Ekspresi wajahnya berbunga-bunga. Senyumnya mengembang. Seolah dia sedang makan anggur yang disuapi bidadari surga.


Hatinya nyaman, senyaman malam yang ditemani indahnya rembulan. Keceriaan di wajahnya menjalar sampai ke ujung kakinya. Tak tahu dia harus memulai pembicaraan dengan berkata apa.


Dia hanya melongok. Sesekali dia mengendus aroma wangi yang berasal dari pakaian Susan.


Setelah jam kuliah usai, Syarif mendekat ke arah Zahid. “Hei kau! Aku tunggu di kantin belakang!” kata Syarif lantang.


Zahid berdiri dari duduknya.


“Coba lihatlah pemimpin kelas kita! Apa dia layak dikatakan seorang pemimpin yang berwibawa dengan sikapnya seperti ini?” teriak Zahid kepada semua mahasiswa di dalam kelas.


“Jangan banyak bacot! Kalau kau memang laki, temui aku di kantin!”


Syarif berjalan keluar kelas bersama Andre, wakilnya. Mereka berjalan cepat menuju kantin.


Mereka menerobos keramaian. Syarif bertambah geram terhadap Zahid yang sudah mempermalukannya di hadapan mahasiswa. Dia naik pitam.


Perlahan tapi pasti hati Susan sedikit menaruh perasaan terhadap Syarif. Susan sering merasa diperhatikan selama beberapa hari kuliah ini.


Setiap pulang dari kampus Syarif selalu mengantarnya pulang. Jadi, Susan khawatir dengan sikap berlebihan Syarif, apalagi harus berkelahi dengan Zahid lantaran persoalan kecil.


Ego Zahid memuncak. Nafsu jahatnya mengalahkan kekuatan berpikirnya. Dia tetap ingin menjaga harga dirinya. Dia beli tantangan dari Syarif.


Uratnya mulai mengencang. Tekanan darahnya naik. Mukanya mulai memerah. Otot-ototnya siap bekerja ekstra.


Girang memegang pundak Zahid berharap Zahid ingin mengurungkan niatnya untuk datang ke kantin, membatalkan tantangan Syarif yang sudah terlanjur basah.


“Sudahlah, Kawan. Lupakanlah kejadian tadi. Untuk apa kau adu tinju dengan cowok sok berjiwa pemimpin dan sok playboy itu?”


“Minggir!” teriak Zahid.

__ADS_1


Zahid berjalan keluar kelas. Akal sehatnya sudah mati. Dia berjalan ngebut. Emosinya benar-benar mencapai *******. Dia teringat dengan tantangan Syarif sebelum meninggalkan ruangan kelas.


Sesampai di kantin, Zahid melontarkan pandang ke arah Syarif dan Andre yang sedang asyik merokok. Dari kejauhan terlihat mereka sedang mengatur strategi.


Zahid berpikir. Akankah dia benar-benar membeli tantangan dari Syarif? Akankah dia akan berkelahi lantaran masalah kecil yang dibuatnya?


Kalau dia lakukan itu, tentu akan merusak nama baik kelas, juga ini akan menjadi kasus besar.


Tiba-tiba Girang dengan terengah-engah muncul dari belakang Zahid. Dia menyusul. Dia tak mau kalau Zahid adu jotos dengan Syarif.


“Hei... Zahid! Aku harap kauurungkan niatmu itu. Percuma jika kau meladeninya!”


Zahid menoleh ke arah belakang. Dia melihat Girang yang sangat peduli terhadapnya. Sementara itu, banyak mahasiswa yang wara-wiri di sekitar pelataran kampus.


“Untuk apa kau ke sini? Dasar bodoh!” teriak Zahid kesal.


“Zahid, kau akan menyesal. Camkan itu baik-baik!”


Zahid tak peduli dengan perkataan Girang. Emosinya sudah membakar gelora amarahnya. Dia benar-benar panas. Dia berjalan lurus ke arah kantin, tepat ke arah Syarif.


Kantin lumayan cukup ramai dikunjungi oleh mahasiswa. Wanita dan pria lagi sibuk mengisi kalori, makan dan minum, menikmati hidangan pengenyang perut.


Suasana adem ayem, tenang dengan hembusan kipas. Obrolan-obrolan dan celotehan anak-anak kampus menggema kecil di kawasan kantin.


Syarif menginjak rokoknya. Lalu dia berdiri, melepas landas dari kursinya, dan berjalan santai ke arah Zahid.


“BRENGSEK!!!” jerit Syarif.


Lalu, dengan kedua tangannya dia mendorong Zahid dengan gaya yang jauh lebih besar dari massa tubuh Zahid, sehingga Zahid mengalami percepatan.


Zahid terpental dengan jarak dua meter. Waktu yang dibutuhkan dari pas kedua tangan Syarif mendorong dan waktu Zahid mendarat di lantai adalah satu detik.


Jadi, jarak dibagi waktu untuk mendapatkan hasil dari kecepatannya, yaitu dua meter dibagi satu detik. Maka kecepatannya adalah dua meter per detik.


Percepatannya berbanding lurus dengan kecepatan dibagi satuan waktu. Maka, percepatannya adalah dua meter per detik kuadrat sehingga bisa dicari berapa gaya yang dikeluarkan oleh Syarif sehingga Zahid terpental.


Diketahui bahwa massa tubuh Zahid adalah enam puluh kilogram. Jadi, enam puluh kilogram dikali percepatan. Maka, gaya yang diberikan oleh Syarif berupa dorongan keras sehingga Zahid terpental dengan jarak dua meter dalam waktu satu detik adalah sebesar SERATUS DUA PULUH NEWTON!!!


Sontak peristiwa itu mengagetkan mahasiswa yang ada di kantin. Semua orang, termasuk pemilik kantin, yaitu Bu Yani dan Tiara–anak perempuannya–menjadi sedikit takut. Suasana di kantin menjadi tegang!


Zahid berdiri menegakkan tubuhnya. Dia menyapu pakaiannya yang terkena debu dan kotoran.


Dia mendekat ke arah Syarif dan langsung mendaratkan tinjunya tepat ke arah pipi kiri Syarif. Kali ini gaya yang diunggah jauh lebih besar.

__ADS_1


Peristiwa momentum satu arah itu mengakibatkan memar pada setengah bagian muka Syarif. Peristiwa tumbukan itu menghasilkan gesekan sehingga timbul nada suara yang khas.


Tiga detik setelah momentum itu terjadi, Syarif mencoba untuk membalas. Dia mengepalkan tangan kanannya lalu menepatkan arah tinjunya ke pipi kiri Zahid. Tinju itu masuk ke dalam pandangan Zahid. Seperkian detik pandangan itu langsung direspons oleh otak cemerlangnya.


Lalu ditransfer ke sang pimpinan: hati. Hati dengan sigap mengatur semuanya. Dengan gerak reflek Zahid merunduk.


Syarif meninju kumpulan angin, sehingga telinga Zahid hanya merasakan getaran angin itu saja. MELESET!


Zahid mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan taijutsu-nya dia mendorong tubuh Syarif. Dorongan itu membakar beberapa kalorinya, sehingga terbentuklah sebuah energi: ENERGI KINETIK!


Syarif mengalami percepatan. Andaikan tidak ada meja itu, tentu tubuhnya akan terpental dengan jarak lebih dari dua meter.


Dan jika itu terjadi, maka Zahid layak dikatakan pemenang, karena dia tadi hanya terpental dengan jarak dua meter saja pas didorong oleh Syarif.


Tapi sayang, tubuh Syarif terkena meja, badannya merasakan sakit yang sangat.


BRRAAKKKK!!!


Sementara itu, Andre hanya membatu. Dia hanya jadi penonton, tak berani berbuat apa-apa.


Akan tetapi, ada dari pengunjung kantin yang ingin bermaksud untuk melerai perkelahian itu, ada dari mereka yang ingin menghentikan pertengkaran mahasiswa satu kelas itu.


“Woi! Berhenti berkelahi!” teriak salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Sipil yang bisa diketahui identitasnya dari seragam pakaiannya.


Suasana kantin semakin runyam, bertambah tegang! Mahasiswa menjadikannya sebagai tontonan menarik.


“Pisahkan mereka!” teriak yang lain.


Tiba-tiba seseorang memegangi Zahid yang masih bersikeras ingin memukuli Syarif.


“Sudahlah! Sudahlah!”


“Lepaskan aku!”


“Pisahkan mereka! Pegangi orang itu!” kata seorang mahasiswa di kantin.


Kantin itu menjadi ramai. Mereka yang berada di luar kantin langsung menuju ke pusat kejadian, penasaran dengan apa yang telah terjadi.


“Ada apa? Ada apa?” tanya sebagian mereka.


Syarif dipegangi oleh seorang mahasiswa yang ada di kantin itu. Andre juga ikut memeganginya. Sementara itu Zahid ditahan oleh dua orang mahasiswa. Mereka berhasil dipisahkan, Syarif tetap di kantin, dan Zahid diajak untuk masuk ke kelasnya.


***

__ADS_1


__ADS_2