
Badan Zahid kurus dan tinggi, tapi perawakannya sungguh memukau. Hidungnya sedikit mancung. Rambutnya semakin panjang saja. Telinganya nyaris tak terlihat.
Pria seperti dia sungguh tak mencerminkan calon seorang ilmuwan. Orang mungkin mengiranya adalah anak band, seorang vokalis.
Zahid dengan penuh semangat menuju susunan buku-buku ilmu murni, lalu mengambil buku Fisika Dasar.
Zahid mencari salah satu kursi di antara kursi-kursi yang masih banyak terlihat kosong. Dia duduk tenang, menegakkan badan, lalu meluruskan tulang lehernya.
Menghela napas sebentar, kemudian lembaran demi lembaran terus dia baca. Dia betul-betul semangat ketika sudah berhadapan dengan buku, hanyut dalam setiap halaman demi halaman, dan asyik sendiri dengan susunan-susunan huruf yang membentuk kata.
Dia mulai bergegas kembali ke kelas. Dia menuju rak tempat di mana buku-buku ilmu murni berada dan meletakkan buku fisika dasar tadi tepat di mana dia mengambilnya satu jam yang lalu.
Zahid melewati rak buku-buku bahasa dan sastra. Di rak itu juga berjejer novel-novel. Dia melihat-lihat di sekitar rak itu.
“Huu... Sastra... keindahan!” katanya kepada dirinya sendiri.
Zahid mengambil satu dari ratusan buku-buku sastra itu, membuka secara acak halamannya, lalu membaca sekilas.
“Huuu... puisi... Keindahan... membosankan!” gumamnya.
Dia menggaruk-garuk kepalanya, padahal dia sendiri tidak merasa gatal. Bukan karena tidak sering bershampo, bukan juga karena gangguan psikis, tapi dia menggaruk kepalanya dengan alasan sebuah ejekan.
Lalu, dia menyorot deretan-deretan novel. Dia membaca dengan fokus judul-judul dari novel-novel itu kemudian berkomentar dengan nada sinis,
“Huu... ini lagi cerita fiktif, hasil karangan dari imajinasi orang lain. Sungguh membosankan menghabiskan waktu untuk memahami sesuatu yang dibuat-buat dan direka-reka!”
Bisikan pelan itu terekam secara samar oleh tiga orang wanita yang sedang asyik membaca. Mereka memutar kursinya seratus delapan puluh derajat arah jarum jam.
Serentak mereka memandangi pria yang sedari tadi menggerutu tidak jelas, menerawang pria itu dari kepala sampai ke kaki, berkali-kali.
Semacam diselimuti perasaan heran melihat makhluk luar angkasa, mereka tertegun memandang.
“Apa kau ini sudah gila? Hah!?"
Dengan sorotan penuh kejengkelan wanita yang memakai baju biru muda itu memberikan makian sengit.
Zahid mengunduh tatapan bengis itu, merangkum cacian itu ke dalam alam pikirannya. Ketiga wanita itu terperangkap dalam matanya.
Tapi hanya ada satu wanita yang menjadi titik pandangnya, wanita yang paling kiri, yang habis melontarkan kata “gila” barusan.
Dalam kurun waktu dua detik itu dia merangkum: cantik, manis, elegan, proporsional, bibirnya merah tanpa balutan lipstik; bibir yang mengecap dengan godaan; bibir yang mengulum-ngulum dengan sentuhan persuasif, hidungnya mancung untuk kelas orang Indonesia, matanya berbinar, dagu lumayan lancip, pasti cerdas, dan... SANGAR!!!
Zahid melengos cepat. Dia menghamburkan penglihatanya pada novel-novel fiksi yang habis diejeknya tadi.
“Dasar aneh!” tambah wanita tadi ketus.
Sepertinya hanya wanita inilah yang paling tidak senang dengan kritikan kecil dari Zahid tadi.
__ADS_1
“Eeee... ya... sorry,” jawab Zahid malu.
Ekspresi mukanya tidak merasa enak karena isi lidahnya tanpa sengaja didengar oleh orang lain. Dia melencit meninggalkan perpustakaan. Di perjalanan dia berbicara dalam hati, Mungkin tadi adalah anak-anak Bahasa dan Sastra. Jadi, wajar kalau mereka marah ketika mendengar kritikanku tadi.
***
Matahari memuncak panas. Teriknya memanggang tanah. Perpindahan panas melalui radiasi sinar mentari itu membuat bebatuan mengering.
Dedaunan mengucapkan terima kasih atas donasi berupa sinar UV untuk membuahkan oksigen. Pondok sederhana itu terperangkap dalam rajutan panas.
Setelah bermunajat kepada Sang Pencipta, Uzlah kembali bersiap membantu ibunya berjualan. Dia melayani setiap pelanggan yang membeli.
Pondok kecil ibunya menyediakan berbagai jenis pempek, model, dan tekwan. Semua yang dijual adalah makanan khas Palembang.
“Kak, pempek lenjernya tiga dan pempek telurnya tiga.” ucap gadis yang memakai seragam SMP.
“Tunggu sebentar.”
Uzlah mengambil pempek-pempek yang tadi disebutkan, lalu membungkusnya ke dalam kantong plastik. Kemudian dia menuangkan cuko ke dalam plastik yang lain.
“Ini pempeknya. Uangnya enam ribu.”
“Terima kasih. "
“Ya, sama-sama.”
Uzlah duduk di pondok yang atapnya dari seng itu. Luas pondok itu hanya dua kali tiga meter saja, cukup untuk enam orang yang ingin berkunjung.
“Nak, masih baca bukunya?”
“Masih Bu, selagi ada luang seperti sekarang ini lebih baik membaca, daripada melamuni hal yang tidak-tidak,” jawab Uzlah sambil membalik ke halaman berikutnya.
Suara dari lembaran kertas itu terdengar halus. Sehalus jalinan kasih antara seorang ibu yang mencintai anaknya, begitu pun sebaliknya.
“Baguslah, Nak, kalau begitu. O ya, Rian sudah pulang, belum?” tanya Bu Mirna.
“Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi.”
“Ajari adikmu itu ya, Nak, biar cerdas dan berprestasi sepertimu.”
Uzlah melipat kecil di ujung bagian kertas halaman empat puluh delapan. BAB tentang listrik, lalu menutup bukunya.
“Bu, Uzlah mau tanya sama Ibu.”
“Apa, Nak?”
“Begini, Bu. Misalkan, Ibu dipercayai oleh orang lain karena kelebihan dari Ibu. Tapi, Ibu tidak bisa memenuhi kepercayaan itu. Bagaimana kira-kira sikap Ibu terhadap orang yang telah memberikan kepercayaan tadi?”
__ADS_1
“Seharusnya Ibu harus paham dulu dengan kelebihan Ibu sebelum mengiyakan sebuah amanah yang akan Ibu jalani. Harus dipikirkan matang-matang dulu. Jika sudah matang, Ibu terima amanah itu. Pertanyaanmu tadi salah Nak. Seharusnya, bagaimana sikap Ibu sebelum menerima sebuah amanah atau kepercayaan?”
Uzlah canggung, merasa salah dalam memasukkan omongan. Sebetulnya dia mau mengajak ibunya berbicara tentang masalah keinginannya untuk melanjutkan sekolah.
“Begini, Bu. Misalkan, Ibu memiliki sebuah prestasi yang membuat guru-guru Ibu menjadi bangga dan akhirnya memberikan sebuah kepercayaan bahwa nantinya Ibu akan melanjutkan dan meningkatkan prestasi itu. Guru-guru Ibu percaya bahwa nantinya Ibu akan lebih cerdas dan berprestasi. Apa yang akan Ibu lakukan? Begitu, Bu,” tegas Uzlah dengan gamblang.
“Tentu Ibu akan belajar lebih giat lagi karena sudah dipercayai guru-guru Ibu. Ibu akan membuktikan kepada guru-guru Ibu bahwa Ibu akan menjadi lebih baik lagi.”
Uzlah diam sejenak dan menyelami alam pikirannya. Dia memegangi buku fisika SMA-nya dan memain-mainkannya.
“Bu...,” kata Uzlah. Dia menunduk menatap tanah. "Aku sudah dipercaya oleh guru-guru SMA-ku, Bu. Mereka harap bisa melihat aku jauh lebih baik dari waktu SMA. Mereka sudah memberikan kepercayaan kepadaku kalau aku akan meningkatkan prestasiku. Nah. Bagaimana aku bilang kepada guru-guruku itu bahwa sekarang aku... aku tidak kuliah, Bu.”
“Nak, jangankan guru-gurumu, Ibu sungguh berharap kau jauh lebih baik dari waktu SMA kemarin. Ibu sangat berharap kau menjadi orang yang cerdas dan berprestasi. Ibu juga pasti senang jika kau bisa kuliah. Tapi, uang dari mana untuk biaya kuliahmu, Nak.”
Uzlah diam. Dia sedih dalam harap.
“Ibu tanya. Kau ingin kuliah untuk belajar dan berprestasi, atau untuk menghilangkan rasa malumu terhadap guru-gurumu dan teman-temanmu, Nak?”
Uzlah tersentak. Dia terpana dalam diamnya, melongok ke arah atap pondok. Ibunya menatapnya lurus.
Uzlah menghela napas. “Emm... untuk meningkatkan prestasi, Bu. Aku ingin belajar dan menuntut ilmu setinggi langit."
“Kau itu jangan terpancing dengan apa yang dilakukan oleh teman-temanmu, Nak. Kau itu pasti sering memperhatikan teman-temanmu yang kuliah. Pantas kau menjadi iri. Dan akhirnya kau malu sama teman-temanmu. Untuk masalah kepercayaan dari guru-gurumu, Ibu yakin kalau mereka tidak akan merendahkanmu lantaran kau tidak kuliah, Nak. Yakinlah. Prestasi itu diraih bukan hanya lewat belajar di perguruan tinggi, bukan hanya karena kau dianggap sebagai mahasiswa.”
“Ya, Bu.” Uzlah mengangguk pelan.
“Kau jangan malu karena kau tidak kuliah, Nak. Jika di mata guru-gurumu kau adalah orang yang berprestasi, tentu mereka akan menilaimu seperti itu meski apa pun yang terjadi, termasuk karena kau tidak bisa melanjutkan sekolah.”
“Ya, Bu.” Hati kecil Uzlah menangis.
Bu Mirna mengelus rambut anak pertamanya itu. Dia meratapi keadaan anaknya yang sangat ingin bisa kuliah seperti teman-temannya, memandangi wajah anaknya dengan penuh cinta dan kasih.
Sepenuh hatinya sangat berharap agar anaknya bisa menjadi mahasiswa. Ingin rasanya dia menangis di atas harapan, menitihkan air mata di atas cita-cita anaknya.
“Almarhum ayahmu dulu pernah bilang. Mengapa kita selalu melihat pelangi di atas kepala orang lain? Mengapa kita tidak pernah melihat warna indah pelangi di atas kepala kita sendiri?”
“Aku mengerti, Bu.”
“Ya, Nak. Kita ini selalu saja melihat sesuatu yang ada pada diri orang lain. Kita ini selalu beranggapan bahwa kelebihan dan kenikmatan itu selalu ada pada tangan orang lain, sedangkan kita tidak pernah mampu untuk merasakannya.”
“Ya, Bu,” kata pria yang yang berhidung mancung dan beralis tebal itu.
“Sama seperti kau yang selalu memikirkan bahwa segala sesuatu yang indah dan baik itu pasti berada pada diri orang lain. Kau melihat teman-temanmu bisa kuliah sementara kau tidak bisa. Kau selalu saja melihat kehidupan orang lain yang jauh lebih baik darimu.”
Uzlah manggut.
“Nak, yakinlah bahwa di dalam setiap kita ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan setiap kita ini sudah mendapat takaran nasib masing-masing. Ibu harap kauhilangkan rasa malumu itu karena tidak bisa kuliah, Nak.”
__ADS_1
Sebetulnya bisa saja Uzlah melanjutkan sekolah dengan beasiswa. Tapi pembicaraan dengan ibunya tadi membuatnya mesti berpikir ulang.
Apalagi kalau dia sibuk kuliah, siapa yang akan membantu ibunya dalam mencari nafkah?