
Semilir angin menerbangkan pakaian yang melekat di tubuh Zahra. Suhu dingin yang menerpa waja cantik nya, ia abaikan. Malam ini adalah malam kedua setelah mereka menikah. Namun, permasalahan yang membuatnya dilema masih belum juga mendapat titik terangnya. Bertahan berat, pergi pun sulit, karena laki-laki itu sudah terlanjur mencuri hati nya.
Sebulan setelah lamaran, banyak hal indah yang terjadi di antara mereka. Sebulan itu Zahra berpikir, benar-benar hanya ada dirinya di dalam hidup Riyan. Karena begitulah yang nampak terlihat. Dokter cantik bernama Meisya, tidak lagi terlihat dekat dengan calon suaminya. Tapi kenyataan malam kemarin, membuat hatinya bagai di tikam benda tajam berulang kali, sakit.
"Kita shalat dulu." Ajak Riyan tiba-tiba.
Zahra yang masih menatap pemandangan lampu malam ditengah kota, membalik tubuhnya. Menatap sosok laki-laki yang sudah sebulan ini mengisi relung hati terdalamnya.
"Mengapa?" Gunanya bertanya, membuat laki-laki yang bisa mendengar suaranya itu, mengerutkan dahi tidak mengerti.
Zahra menatap Riyan sejenak, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Melewati Riyan yang masih berdiri di ambang pintu pembatas balkon dan kamar tidur mereka.
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Tanya Riyan.
Zahra masih membisu sambil mengenakkan mukenah berwarna putih miliknya.
"Ra...
" Ga apa-apa, Mas." Jawab Zahra. "Kita mau shalat kan?" Tanyanya lagi.
Riyan terdiam sejenak, kemudian mengangguk mengiyakan. Keduanya pun melakukan kewajiban pada sang Maha pencipta itu dengan khusyuk.
Usai melakukan shalat berjamaah di dalam kamar tidur mereka, Zahra menyalami punggung tangan suaminya, itu takzim.
"Mas.." Tahan Zahra saat Riyan hendak beranjak dari atas lantai yang beralaskan sajadah.
"Mas tahu kan berapa lama hukumnya jatuh talak bagi seorang istri yang tidak di sentuh okeh suaminya?" Tanya Zahra.
Riyan kembali merapikan tempat duduknya. Balik menggenggam erat tangan yang sedang menggenggam tangannya.
"Aku tahu, dan aku tidak mau menyiksamu dalam pernikahan sampai selama itu. Hanya berikan aku sedikit waktu untuk mencari cara yang baik agar tidak mengecewakan Ibu dengan kejujuran ku." Jawab Riyan.
__ADS_1
"Mas, aku......
Riyan masih diam. Menanti kalimat apa yang ingin di utarakan oleh istri keduanya ini.
"Ada apa? Katakan padaku?" Tanya Riyan karena Zahra tak kunjung melanjutkan kalimat menggantung itu.
"Aku mencintaimu. Bisakah kamu memilih ku? Tak masalah jika alasan mu ingin membahagiakan Ibu dan Ayah." Pinta Zahra, sayangnya ia hanya bisa meminta itu di dalam hatinya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku mau turun ke membantu Ibu menyiapkan makan malam." Ucapnya.
Riyan mengangguk. Melepaskan tangan Zahra dari genggamannya, kemudian mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.
Setelah kepergian Zahra menuju lantai bawah, Riyan segera menghubungi Meisya untuk menanyakan kabar istri pertamanya itu. Namun, tak ada jawaban meski deringan demi deringan masuk ke ponsel yang sedang ia tuju.
Saat ia hendak mengetik sebuah pesan singkat, tiba-tiba satu panggilan masuk ke ponselnya. Seutas senyum terlihat di bibir tios Riyan, saat melihat nama Meisya tertera di layar ponselnya.
Di luar kamar, di depan pintu yang sedikit terbuka, Zahra berdiri di sana. Melihat senyum di wajah tampan Riyan saat mendapat kabar dari wanita yang ia tahu pemilik hati suaminya itu. Berbagai macam pertanyaan kembali mengganggu otaknya. Apakan kini dirinya yang begitu egois ingin memisahkan dua insan yang saling mencintai? Entahlah, tapi hatinya pun ingin memiliki laki-laki yang masih duduk di atas lantai itu.
Zahra menggelengkan kepalanya.
"Hei.. Aku hanya menanyakan kabarnya. Takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada nya." Jelas Riyan.
Zahra hanya mengangguk kan kepalanya.
"Ayo." Riyan tersenyum, lalu menarik tangan Zahra menuju tangga, dan turun ke lantai bawah.
"Aku mau langsung ke dapur, Mas." Zahra melirik tangannya yang sedang di genggam dengan erat oleh Riyan. "Kamu mau menemui Ayah, kan?" Tanyanya lagi sambil melihat ke arah sofa di mana Ayah mertuanya sedang duduk.
Riyan mengangguk, namun, tak kunjung melepaskan tangannya..
"Tangan aku, Mas." Ucap Zahra.
__ADS_1
"Kamu tuh." Pukul Eliana di pundak putranya.
"Bu.." Protes Riyan karena mendapat pukulan dari sang Ibu. "Maafkan aku." Sambungnya sambil melepaskan tangan Zahra.
"Ngga usah di lepas." Ucap Eliana sambil kembali menautkan jemari putra dan menantunya. "Ayo sana ke dapur, kita makan malam. Ibu mau panggil Ayah kalian dulu." Dorong nya di tubuh Riyan dan Zahra.
"Maafkan aku." Riyan tertawa kecil sambil kembali melepaskan tangannya.
Zahra pun ikut tersenyum kecil. Ia sudah bertekad sejak malam pengantin mereka, untuk tetap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tersenyum pada hal-hal kecil yang indah terjadi di dalam rumah tangga mereka. Menikmati setiap detik waktu yang Allah berikan, dan mengikuti kemana arus takdir membawanya.
"Ibu memang seperti itu, Ra. Dia bahkan bisa lebih ekstrim dari ini." Ucap Riyan lagi.
Zahra mengangguk membenarkan.
"Aku tahu kok, Mas. Ibu adalah wanita terkuat yang pernah aku temui. Di tengah kesedihan karena penyakit Rayan, beliau selalu mampu membuat suasana hidup. Ada hal-hal yang tidak bisa di lakukan oleh Ibu yang lain di luar sana ketika sedih. Tapi ibu mampu melakukan hal itu." Jawab Zahra. "Terimakasih." Ucapnya lagi saat Riyan menarik kursi yang akan di duduki olehnya.
"Kamu sudah cukup mengenal seluruh keluarga ku. Hanya aku saja yang tidak kamu kenal." Ujar Riyan sambil duduk di samping istrinya.
"Kita bisa saling mengenal sambil berjalannya waktu. Kita akan punya waktu yang panjang untuk bisa saling mengenal, bahkan kita bisa menggunakan waktu seumur hidup kita." Jawab Zahra.
Riyan menatap Zahra sendu.
"Apakah akan sampai di sana?" Tanyanya lirih.
Zahra menengok ke arah pintu pembatas dapur. Memastikan jik sepasang suami istri paruh baya yang mereka tinggalkan di ruang keluarga, belum sampai ke ruangan tempat mereka berada.
"Jika Mas berpikir, pernikahan itu adalah sebuah kelanjutan hidup, maka Mas salah besar. Sejatinya, setelah kita menikah, itu berarti kita memulai kehidupan kita yang baru. Seperti siswa baru. Mas tahu kan seperti apa siswa baru di sekolah. Akan ada banyak ujian di sana, begitupun dengan pernikahan. Aku menganggap, apa yang sedang kita hadapi saat ini, adalah ujian pernikahan." Jelas Zahra panjang lebar, membuat hati Riyan menghangat.
Gadis ini, gadis cantik ini adalah istrinya. Yah, gadis bijak ini adalah amanah yang di titipkan Allah padanya.
"Benar itu Nak. Iiihhh, putri Ibu tidak hanya cantik, tapi juga pintar." Eliana mencolek pipi menantunya.
__ADS_1
Kenan tersenyum bahagia. Lelaki itu pun mendengar kalimat panjang lebar yang baru saja di utarakan oleh menantunya. Hanya terus berharap dalam hati, Zahra mampu meyakinkan putranya, jika tidak ada pernikahan yang hanya ada keindahan di dalamnya.