
POV Author
*****
Pagi kembali menyapa. Saudara kembar itu baru saja menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah, walaupun Rayan hanya bisa melakukan kewajibannya dari atas tempat tidur. Riyan kembali merapikan sajadah yang baru saja ia gunakan, lalu kembali memasukkan kain itu ke dalam ranselnya. Setelah memastikan perlengkapan shalatnya sudah rapi, Riyan menarik sebuah kursi dan membawanya ke samping ranjang di mana adiknya sedang terbaring.
"Bang..." Panggil Rayan.
Riyan yang sudah duduk di samping Rayan memilih diam. Menunggu dengan sabar apa yang ingin di sampaikan oleh adiknya itu.
"Karena kamu sudah berada di sini, maka tugasku untuk memastikan dia bahagia telah selesai. Tolong buat dia bahagia ya, Bang." Ucap Rayan.
Riyan yang tidak mengerti arah pembicaraan adiknya, terlihat mengerutkan keningnya.
"Dia, siapa?" Tanyanya.
"Zahra. Nikahi dia, Bang." Ucap Rayan dengan sorot mata sayu, membuat Riyan tidak mengerti.
"Kami tidak cocok, Rayan. Kamu lebih cocok dengannya." Kekeh Riyan mengalihkan situasi menyedihkan yang kini mulai menguasai ruangan tempat ia dan Rayan berada.
"Bang tahu aku tidak akan sempat menikahinya. Tidak banyak yang aku inginkan, Bang. Melihat Zahra bahagia, bagiku sudah lebih dari cukup. Anggap saja ini adalah permintaan terakhir ku." Ujar Rayan lagi.
"Aku ngga mau mengabulkannya. Jika ingin membuatnya bahagia, maka kamu harus melakukannya seorang diri!" Ujar Riyan tegas, namun, matanya terlihat berkaca. Sebagai seorang dokter, ia tahu jika adiknya sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia masih berharap, ada keajaiban yang bisa Allah berikan untuk laki-laki yang terlihat pucat pasti di atas ranjang di hadapannya ini.
"Aku mau keluar sebentar, cari sarapan." Ucap Riyan ingin mengalihkan topik pembicaraan yang tidak ia sukai.
"Ga usah Bang, bentar lagi... Nah itu dia." Jawab Rayan sambil tersenyum hangat saat melihat pintu ruangan nya terbuka perlahan, dan terlihat Zahra sudah berada di ambang pintu yang terbuka itu.
"Ini masih sangat pagi, kenapa dia sudah berada di sini?" Tanya Riyan saat ikut melihat ke arah pintu, dan mendapati Zahra sudah berdiri dengan canggung di sana.
"Abang ga akan nyesal kalau mau mengabulkan permintaan ku." Ucap Rayan lagi sambil menampakan senyum di bibir pucat nya.
Riyan tidak lagi menimpali. Tatapannya hanya terus mengikuti langkah kaki Zahra yang sedang menuju ke arah sofa, kemudian menata makanan yang ia bawa, ke atas meja sofa.
__ADS_1
"Ayo sana, katanya mau sarapan." Usir Rayan. Lelaki yang nampak semakin lemah itu kembali tersenyum pada gadis yang sedang melangkah menuju ranjang tempat ia berbaring sambil membawa kotak makanan yang gadis itu siapkan untuknya.
Riyan tidak menjawab, ia memilih melangkah menuju sofa untuk menyantap sarapan dan membiarkan Zahra membantu adiknya untuk sarapan pagi ini.
"Kamu cantik banget sih."
Suara Rayan terdengar jelas di pendengar nya.
"Aku bukan obat nyamuk loh." Ucapnya sambil melirik ke arah Zahra. Nampak terlihat jelas pipi gadis itu memerah karena ocehan adiknya.
"Tenang aja, Bang. Om Kean sudah memastikan tidak akan ada nyamuk di rumah sakitnya ini." Ujar Rayan sambil tertawa kecil.
"Udah ih, sarapan dulu." Zahra ikut menimpali, dan berhasil membuat laki-laki yang selalu saja menggodanya itu, menutup mulut.
"Kamu bawakan aku apa, Ra?" Tanya Rayan.
"Memangnya orang sakit bisa makan apa lagi selain bubur. Makanya cepat sembuh, nanti setelah kita nikah, aku bakal masakin yang enak." Jawab Zahra.
"Aku tunggu." Ucap Rayan lagi.
"Ara, nanti setelah ini kamu mau ke mana?" Tanya Rayan.
"Karena kamu ada di sini, dan di temani abang kesayangan kamu, aku mau izin bantu kerja di depan, ga apa-apa kan?" Tanya Zahra.
Rayan mengangguk mengiyakan.
"Udah, aku udah kenyang." Tolaknya saat Zahra hendak kembali menyuapi dirinya.
Zahra tidak memaksa. Setelah kembali membantu Rayan minum, dan membersihkan sudut bibir laki-laki itu menggunakan tisu, Zahra kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk membereskan bekas makan Riyan.
"Ara.."
Suara Rayan kembali menahan langkah kaki Zahra. Gadis itu membalik tubuhnya, dan menunggu apa yang ingin di katakan oleh calon suaminya.
__ADS_1
"Kamu harus bahagia, ya." Ucap Rayan pelan.
"Aku akan selalu bahagia bersama kamu." Jawab Zahra yakin. "Aku keluar ya?" Tanya Zahra lagi saat ingin kembali melanjutkan langkahnya menuju sofa.
Riyan dan Zahra kembali bergantian tempat duduk. Riyan sudah kembali menuju ranjang, dan duduk di kursi yang baru saja digunakan Zahra untuk membantu adiknya sarapan. Sedangkan Zahra sedang merapikan bekas yang baru saja ia gunakan untuk sarapan.
Setelah memastikan semua sudah rapi, Zahra kembali berpamitan untuk luar dari dalam ruangan itu. Bukan tanpa alasan, Riyan adalah laki-laki yang paling di rindukan oleh Rayan, untuk itu ia ingin memberikan waktu yang banyak untuk kedua saudara kembar itu untuk melepas rindu.
***
"Dokter Riyan sudah kembali ya?" Bisik-bisik para perawat yang sedang berada di dalam ruangan tempat Zahra berada.
"Dokter Meisya pasti senang banget." Imbuh perawat lain.
Zahra hanya menyimak pembicaraan orang-orang yang ada di ruangan itu, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Memang, pekerjaannya di rumah sakit ini, tidak terlalu berat setelah ia terpilih menjadi salah satu perawat yang bertugas menjaga anak dari pemilik rumah sakit ini.
Meskipun begitu, ia selalu meluangkan waktunya untuk bekerja di rumah sakit jika Rayan tidak terlalu membutuhkan dirinya.
"Nikahan kalian kapan?" Salah satu perawat yang ada di dalam ruangan itu, sudah membungkuk di depan meja tempat Zahra berada.
"Belum tahu, Sus. Nunggu Mas Rayan sembuh dulu." Jawab Zahra sopan.
Perawat itu nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dokter Riyan masih berada di ruangan adik nya ya?" Tanya perawat itu lagi, dan di jawab Zahra dengan anggukan kepalanya.
Sejujurnya hal yang paling tidak ia sukai di sini, adalah sebagian petugasnya yang suka mencari tahu kehidupan orang lain. Waktu yang seharusnya di gunakan untuk bekerja, hanya akan habis di gunakan untuk membahas hal-hal yang bukan urusan mereka.
"Gimana rasanya menjadi bagian dari keluarga mereka? Pasti senang banget ya? Setelah nikah nanti, kamu bakal berhenti dari rumah sakit kan?" Pertanyaan beruntun membuat Zahra semakin jengah. Ia tidak berniat menjawab dan hanya tersenyum pada wanita yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
"Aku pun mau menikah, walaupun lelakinya sedang sakit seperti itu asalkan kata. Iya nggak?" Gadis itu masih terus berceloteh ke mana-mana.
Zahra meletakkan pena yang ada di tangannya ke atas meja, lalu menatap gadis yang terlihat begitu bahagia dengan pembahasannya, tajam.
__ADS_1
"Apa kamu ga punya pekerjaan?" Tanya Zahra pelan, walau kekesalan terlihat begitu jelas di wajah cantiknya.
"Dih, santai aja kali. Kamu tuh terlalu rajin, padahal kan sebentar lagi akan jadi menantu mereka." Ujar gadis itu masih belum mengerti jika Zahra begitu kesal karena hubungannya dengan Rayan menjadi pembahasannya.