Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 34. Sungai Musi


__ADS_3

Di sebuah mobil yang terus melaju di jalanan, Riyan sesekali menatap layar ponselnya. Ingin sekali ia mengabari Zahra tentang kedatangan nya hari ini, namun, ia takut Zahra tidak akan mau bertemu dengannya.


Sehari setelah tiba di Jakarta, Ibu dan Ayahnya segera mengajaknya ke panti asuhan di mana Zahra berada. Namun, sayang, setelah tiba di sana, istrinya itu ternyata tidak sedang berada di sana.


Dan kini, tibalah mereka di sebuah kota Palembang yang begitu indah di pandang mata. Ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini memang menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak di kunjungi. Tidak hanya pemandangan pantai dan pasir putihnya yang memukau, namun juga terdapat salah satu sungai terpanjang di pulau Sumatera yaitu sungai Musi.


"Keren ya, Yan." Eliana menunjuk jauh ke arah sungai yang membentang, dari atas jembatan yang sedang mereka lewati menuju pesantren di mana menantunya berada. "Ibu ga sabar pengen ketemu Zahra." Ucapnya lagi.


Suara sang Ibu menyadarkan Riyan dari lamunan. Laki-laki itu mengalihkan tatapannya dari jalanan yang berada di depannya, lalu menoleh menatap binar bahagia di wajah sang Ibu. Kemudian mengalihkan tatapannya ke arah sungai yang begitu indah di pandang dari ketinggian jembatan Ampera.


"Bu, bagaiman jika Zahra tidak mau bertemu dengan ku?" Tanya Riyan lirih.


"Yah, itu resiko sekaligus tugas kamu untuk meyakinkan Zahra agar mau di bawa pulang ke Jakarta." Ujar Kenan tegas dari bangku depan tepat di samping sopir taksi yang sedang mereka tumpangi.


Eliana terdiam. Sejak tadi saat mereka tiba di kota ini, tidak sekalipun pikiran seperti itu terlintas di otak nya. Kini, perasaan khawatir mulai mengganggunya. Walau bagaimana pun, Zahra sudah terlanjur terluka atas sikap yang di ambil putranya. Dan kini, setelah meninggalkan menantunya itu selama lebih dari tiga bulan, dengan seenak jidat kembali mengajak untuk pulang.


"Bagaimana jika Zahra tidak mau di ajak pulang, Bang." Ucap Eliana pekan.


"Itu tugas Riyan, Sayang." Jawab Kenan. Biarkan, ia ingin memberi pelajaran berharga untuk putranya ini, agar di kemudian hari bisa menentukan pilihan. Menjadis seorang laki-laki, harus punya pendirian atas apa yang terjadi dalam hidupnya.


"Ayah masih marah, ya?" Tanya Riyan.


Kenan tidak menjawab. Laki-laki yang masih terlihat tampan di usia yang tidak lagi muda itu, tidak menanggapi pertanyaan putranya. Tidak, dia sama sekali tidak marah, hanya kecewa atas sikap yang di ambil oleh putranya tanpa sepengetahuannya.


Sejak awal, ia tidak mau jika Riyan menikahi Zahra karena dia tahu putranya ini sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun, entah apa yang membuat Riyan begitu kekeuh ingin menikahi gadis yang tidak bersalah itu, dan memberinya luka.


Karena tidak mendapat jawaban dari sang Ayah, Riyan kembali menatap keluar jendela mobil. Hingga beberapa saat melaju di jalanan, mobil itu berhenti di depan gerbang utama sebuah pesantren yang cukup besar.


Jantung terus berdetak tidak karuan. Sejak semalam ia terus memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan pada Zahra, tapi sampai detik ini belum ada satu kalimat pun yang menurutnya tepat.


"Ayo, turun." Ajak Eliana.

__ADS_1


Riyan menatap ibunya sendu.


"Ga apa-apa. Ayo turun." Ajak Eliana lagi. "Kamu tidak akan tahu Zahra mau atau tidak, jika kamu hanya akan berdiam diri di sini." Sambungnya.


Riyan akhirnya menurut, dan ikut keluar dari dalam taksi yang membawa dirinya dan juga kedua orang tuanya dari Bandara ke tempat ini.


Di sisi lain mobil, Kenan mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribu pada sopir taksi itu, lalu mengucapkan terimakasih.


Eliana dan Kenan masuk ke dalam gerbang pesantren, sedangkan Riyan mengikuti kedua orang tuanya itu dari belakang.


Saat tiba di depan sebuah bangunan yang cukup mewah, Kenan langsung di sambut oleh sepasang suami istri yang umurnya hampir seusia dengan nya.


"Assalamualaikum." Ucap Kenan dan langsung di jawab oleh sepasang suami istri yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan rumah.


"Adik saya sudah mengabari tentang kedatangan kalian. Mari, Pak, silahkan masuk." Ajak seorang laki-laki yang baru di ketahui Kenan bernama Abi Ridwan.


"Terimakasih." Ucap Kenan. Ia lalu mengajak istri dan putranya masuk ke dalam rumah, mengikuti sepasang suami istri pemilik rumah.


Ucapan terimakasih kembali terucap dari bibir Kenan, karena keluarga Zahra masih menyambut kedatangan mereka dengan begitu hangat, padahal putranya sudah melukai gadis itu.


Beberapa saat kemudian, seorang santri membawakan nampan berisi beberapa gelas minuman lengkap dengan cemilan untuk di suguhkan kepada mereka.


"Kedatangan kami ke sini, ingin bertemu sekaligus mengajak Zahra kembali ke Jakarta." Setelah beberapa saat mereka menikmati minuman yang di suguhkan oleh pemilik rumah, Eliana akhirnya memberanikan diri mengutarakan niat kedatangan mereka di tempat ini.


"Zahra sedang di rawat di rumah sakit tidak jauh dari pondok pesantren ini." Jawab Umi Kalsum.


"Apa sakitnya parah?" Tanya Kenan khawatir.


Laki-laki paruh baya yang sedang duduk di samping Umi Kalsum segera menggeleng.


"Dia baik-baik saja. Hanya calon bayi nya membutuhkan cairan." Jawab Abi Ridwan menjelaskan.

__ADS_1


Kenan masih belum mengerti. Jika menantunya itu baik-baik saja, tidak mungkin sampai berada di rumah sakit.


"Zahra mengalami mada-masa ngidam di trisemester pertama, Pak. Sering muntah. Tapi itu hak yang wajar kok. Jangan terlalu khawatir." Ujar Umi Kalsum.


Hembusan nafas leg terdengar dari bibir Kenan. Akan seperti apa mereka nanti, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Zahra. Sungguh, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, jika nanti terjadi apa-apa pada gadis yang di lukai oleh putranya itu.


"Jadi apa bisa kita langsung ke sana?" Tanya Eliana.


"Ibu.. Ibu dan Ayah istirahat aja dulu. Biar Riyan sendiri yang akan berangkat ke sana." Ucap Riyan menimpali. Perjalanan dari Jakarta menuju Palembang cukup menguras tenaga. Dan wanita yang begitu ia hormati ini pasti kelelahan.


"Benar, Ibu Eliana. Ibu istirahat aja dulu. Mas Riyan biar nanti di antar oleh santri kami." Usul Umi Kalsum.


"Tapi saya ingin sekali bertemu dengan nya." Jawab Eliana.


"Ibu akan tetap bertemu dengan nya." Ucap Riyan.


"Kamu ngga apa-apa ke sana sendirian?" Tanya Eliana.


Riyan menggeleng.


"Riyan tetap harus bertemu dengan nya. Zahra mau atau tidak bertemu, itu urusan nanti." Jawab Riyan yakin.


Meskipun kekhawatiran begitu mengganggunya karena ragu jika Zahra mau bertemu, tetap saja ia harus memaksakan diri untuk bertemu istrinya itu. Menanyakan tentang kesehatannya, juga memohon maaf atas apa yang sudah terjadi di antara mereka.


***


*NoteAuthor


Maafkan dua hari ini ga update, kerjaan real life numpuk.. Biasa di akhir bulan..


Mulai hari ini aku update seperti biasa yaa 🥰

__ADS_1


__ADS_2