
Bandara yang hampir lebih dari satu tahun di batasi aktivitas nya, kini mulai kembali di padati oleh pengunjung dan petugas bandara.
Riyan terus melangkahkan kakinya sambil menggenggam erat tangan Zahra. Sebelah tangannya lagi di gunakan untuk menarik koper yang berisi pakaian dan barang pribadi istrinya itu.
Langkah keduanya terhenti di depan loket cek in. Zahra menarik tangannya dari genggaman Riyan, dan mengambil beberapa dokumen penting yang di perlukan. Setelah semua selesai, keduanya kembali melangkah masuk untuk menunggu keberangkatan.
Saat Riyan kembali meraih tangannya dan menggenggam dengan sangat erat, Zahra masih saja menutup mulutnya rapat-rapat, dan membiarkan suaminya itu kembali meraih tangannya.
Genggaman erat dan rasa hangat yang terasa di telapak tangannya, membuat jantungnya semakin berdetak keras seakan ingin melompat keluar dari tempatnya.
Sepasang suami istri yang masih nampak terlihat canggung itu, melangkah menuju pesawat yang akan membawa keduanya terbang menuju Jakarta.
"Hati-hati." Riyan melepaskan genggaman tangannya, dan membiarkan Zahra untuk naik lebih dulu.
"Terimakasih." Balas Zahra.
Setelah keduanya tiba di dalam pesawat, Riyan segera menuntun Zahra menuju kelas bisnis yang di sediakan langsung oleh sang Ayah.
"Mau duduk di samping jendela?" Tanya Riyan.
Zahra mengangguk.
Setelah semua penumpang sudah duduk nyaman di kursi masing-masing, pesawat pun bersiap untuk lepas landas.
Zahra melihat keindahan kota Palembang dari ketinggian. Melalui kaca jendela pesawat, Zahra menatap pemandangan indah di bawah sana. Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, mulai terlihat mengecil seiring ketinggian pesawat.
Keindahan sungai Musi dan Jembatan Ampera, masih terlihat begitu jelas dari tempat ia duduk saat ini.
Benar-benar memukau keindahan yang di ciptakan oleh Allah ini. Saat tiba di sini, hal yang pertama ia lakukan adalah mendatangi Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota ini, dan kini saat ia akan pergi pun, jembatan itu yang masih menjadi titik pandangannya.
"Istirahatlah." Ujar Riyan.
Zahra kembali mengangguk, lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat, membiarkan Riyan yang kini menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang baru saja di antar oleh seorang pramugari.
__ADS_1
Melihat Zahra yang sejak pagi belum juga membuka suara, sedikit membuatnya takut. Takut, jika wanita yang sedang berada di sampingnya ini terpaksa melakukan hal ini hanya karena ingin menghargai perasaan kedua orang tuanya.
Namun, beberapa saat kemudian, mata Riyan membulat penuh. Ia terkejut karena Zahra tiba-tiba menyandarkan kepala di bahunya. Hembusan nafas lega di sertai senyum hangat terlihat di bibir Riyan. Kecupan singkat ia daratkan di puncak kepala istrinya yang tertutup hijab itu.
****
Di Jakarta seorang wanita cantik yang merupakan pemilik beberapa kafe juga hotel berbintang, kini sedang menikmati sarapan bersama suami dan putri tunggalnya. Ia menatap bergantian ke arah suami dan putrinya. Jelasnya menatap kesal ke arah dua orang yang sama-sama tidak peduli dengan keadaan.
Entah bagaimana lagi caranya untuk membujuk Riana agar mau di kenalkan dengan pria yang menurutnya cocok dengan putrinya ini.
"Ibu punya seseorang untuk di kenalkan padamu, Riana. Kali ini ibu tidak menerima penolakan!" Tegas Rianti. Ayolah, gadis di depannya ini sudah melebihi umur yang sepantasnya menikah.
"Nana sudah punya seseorang, Ibu. Sebenarnya kemarin mau Nana kenalin, tapi Ayah ga ada." Jawab Riana masih terlihat acuh.
"Siapa?" Tanya Kean cepat. Ia menatap putrinya penuh selidiki.
"Sarapan dulu, Yah. Nanti juga Nana kenalin kok." Jawab Riana. Menatap makanan di piring sang Ayah sebentar, lalu kembali menyantap sarapan nya.
"Awas aja kalau bohong!" Ancam Rianti.
"Kamu tahu, Nak. Menikah itu adalah bagian dari menyempurnakan separuh agama. Apa kamu mau menyia-nyiakan kesempatan itu?" Kali ini Kean sudah bersuara. Ia tahu, putrinya ini memang benar-benar belum berpikir untuk menikah. Padahal usianya, sudah melebihi batas bagi seorang gadis untuk mulai membina rumah tangga.
"Iya, Yah. Nanti di rumah sakit akan Nana kenalin." Jawab Riana. Oh iya, Yah. Semalam Zahra kasih kabar, kalau dia dan Riyan akan pulang ke Jakarta hari ini." Sambungnya Riana memberitahu.
"Alhamdulillah. Jadi gimana sama pernikahan mereka?" Tanya Rianti.
"Yah begitulah, Bu. Sepertinya Meisya sudah memilih melepaskan diri dan membiarkan Riyan pulang kembali bersama Zahra." Jawab Riana.
Cinta memang kadang serumit itu, namun, dia akan tetap tahu kemana dia harus kembali. Dia tahu, siapa pemilik sebenarnya karena.
Rianti menoleh, menatap suaminya dengan begitu lekat. Yah, dulu pun ia pernah berada di situasi itu. Bersabar untuk mengikhlaskan Kean bersama kakak kembarnya, namun, pada akhirnya laki-laki yang kini sedang menikmati sarapan di meja yang sama, tetap dipersatukan kembali dengan nya.
"Ayah, Ibu, Nana duluan ya berangkat nya." Pamit Riana setelah sarapannya tandas. Gadis itu meraih tas kecil miliknya, kemudian melangkah keluar dari ruang makan.
__ADS_1
"Jangan lupa kenalin laki-laki itu pada Ayah." Ujar Rianti dari meja makan..
"Iya, Ibu." Jawab Nana lalu menghilang di pintu pembatas.
"Anak itu." Rianti berdecak. Di sampingnya, Kean tertawa melihat tingkah Istri yang hampir setiap hari membahas pernikahan Riana. "Tertawa lah sampai gigimu kering." Ketus Rianti.
"Maaf." Kean mengusap lembut kepala Rianti. "Oh iya hari ini aku masih harus ke Rumah Sakit. Riyan baru saja berangkat hari ini." Ucap Kean.
"Kamu ngga khawatir, dia itu umurnya sudah masuk tiga puluh dua tahun loh. Riyan aja bentar lagi mau punya anak." Ucap Rianti sambil menatap sendu suaminya.
"Tetap berpikir positif, Sayang. Mungkin Allah memang belum mempertemukan Nana dengan orang yang tepat. Kita tunggu siapa yang akan dia perkenalkan pada kita." Kali ini Kean sudah mengusap pipi Rianti dengan sayang.
Setelah sarapan pagi, keduanya berangkat menuju ketempat kerja masing-masing. Kean akan mengantar Rianti ke hotel terlebih dahulu, lalu ia sendiri akan pergi ke rumah sakit.
Di sebuah cafe milik ibu nya, Riana terlihat begitu gelisah. Sesekali ia melirik keluar cafe untuk melihat laki-laki yang janjian dengannya.
Beberapa saat kemudian laki-laki yang sejak beberapa menit lalu membuatnya menunggu, memasuki ruangan tempat dirinya berada.
"Maaf saya terlambat." Ucap Fikri tulus.
"Kamu bilang mau berterimakasih padaku karena sudah membantu mu waktu itu." Riana menatap wajah Fikri beberapa saat, lalu mengalihkan tatapan itu pada jari-jari miliknya yang saling bertaut di atas meja.
"Terimakasih." Jawab Fikri.
Riana menghembuskan nafasnya.
"Bantuin aku." Ucapnya memohon.
Fikri mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Bantu apa?" Tanyanya.
"Aku mau kenalin kamu sebagai laki-laki yang aku suka pada Ayah ku. Dan kamu cukup bilang aja tidak menyukai ku, atau apa saja." Jelas Riana.
__ADS_1
Fikri menarik sudut bibirnya, kemudian mengangguk setuju dengan permintaan Riana.