Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 13. Riana


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Meskipun hubungan di antara keduanya begitu dekat, Riyan tetap bertahan pada pendiriannya untuk tidak menyentuh Zahra. Padahal istrinya itu berulang kali mencoba menawarkan diri untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Berdosa? Biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah nanti.


Pagi yang begitu indah kembali menyapa. Ujian pernikahan yang semakin rumit, tak ayal membuat hubungan keduanya merenggang. Setiap waktu, Zahra selalu meyakinkan Riyan, jika apa yang terjadi di antara mereka, semata-mata ujian dari sang pemilik kehidupan. Anggap saja dirinya terobsesi, akan tetapi apapun itu ia pun berhak untuk tetap berada di samping Riyan.


"Udah." Ucapnya sambil tersenyum manis.


Riyan tersenyum hangat. Mengusap lembut kepala istrinya sebentar, lalu kembali tubuhnya dan menatap ke arah cermin besar yang ada di dalam kamar tidur mereka. Memastikan jika penampilannya hari ini, sudah benar-benar pas.


"Terimakasih." Ucap Riyan.


Zahra yang sudah rapi dengan stelan berwarna putih khas perawat, tersenyum manis kemudian mengangguk.


"Ayo kita berangkat." Ajak Riyan. Meraih tangan Zahra, lalu membawa istrinya itu keluar dari dalam kamar mereka.


"Ngga sarapan dulu?" Eliana sudah menunggu putra dan menantunya di ruang keluarga.


"Riyan ada jadwal pagi ini, Bu." Jawab Riyan.


"Mas duluan aja, aku mau sarapan dulu." Pinta Zahra.


"Kok begitu?" Tanya Riyan.


Zahra tersenyum.


"Aku lapar banget. Makanan di rumah sakit ga seenak masakan Bibik." Jawab Zahra berbohong. Ia hanya tidak ingin pergi bersama Riyan, karena ada hati wanita lain yang harus ia jaga.


"Baiklah, aku pergi." Riyan mengusap lembut puncak kepala Zahra yang tertutup hijab, lalu mengulurkan tangannya untuk di salami istri nya itu.


Setelah Riyan berlalu dari ruang keluarga menuju pintu depan, Eliana mengajak Zahra menuju dapur untuk sarapan bersamanya.


"Ayah mana, Bu?" Tanya Zahra karena tidak mendapati Ayah mertuanya di ruang makan.


"Sama sibuknya dengan suami mu, Nak. Dia sudah pergi dari tadi. Penerbangan pagi." Jawab Eliana cemberut.


Zahra tersenyum lucu. Bahkan di usia yang tidak lagi muda seperti Ibu mertuanya, masih saja terasa enggan di tinggalkan.

__ADS_1


"Ayo kita makan. Biarkan saja mereka dengan kesibukannya itu." Ujar Eliana lagi semakin membuat senyum Zahra mengembang.


"Yang penting transferan nya lancar ya, Bu." Ucap Zahra menimpali.


Dua wanita yang sama-sama berhijab itu, tertawa dengan topik pembicaraan mereka.


Beberapa menit menikmati sarapan, sambil bercengkrama di meja makan, kini Zahra pun berpamitan pada Ibu mertuanya itu untuk berangkat ke rumah sakit tempat nya bekerja. Bukan hanya tempatnya, tapi juga tempat Riyan dan Meisya bekerja. Entah bagaimana nanti ia bersikap di rumah sakit, yang pasti ini tidak mudah untuk ia lalui.


****


"Menantu keluarga Hermawan, kenapa duduk di sini sendirian?" Tanya seseorang yang ikut duduk dengan jarak yang cukup dari Zahra.


Zahra yang sedang asyik chatingan dengan sahabatnya, menoleh sebentar, lalu tersenyum saat mendapati laki-laki yang tidak lagi asing sedang duduk di kursi panjang yang sama dengannya.


"Mas Riyan ada pasien pagi. Dan sebagai menantu yang baik, aku harus menemani ibu mertuaku sarapan." Jawab Zahra tertawa kecil, membuat laki-laki yang sedang duduk tidak jauh dari nya itu ikut tertawa.


"Itu sahabat aku udah tiba. Kamu mau ikut numpang dengannya?" Tanya Zahra.


"Ga usah. Malu ah, masa sih kaki ga punya modal dan numpang di mobil seorang wanita." Jawab lelaki itu.


"Hati-hati, Zahra." Ucap laki-laki itu.


Zahra mengangguk. Mengucapkan terimakasih, kemudian berlalu dari sana.


Beberapa saat setelah Zahra masuk ke dalam mobil, dan laki-laki muda yang masih duduk di kursi panjang, terus memperhatikan mobil yang belum juga berlalu dari sisi jalanan itu.


"Mas, yuk masuk." Seorang gadis terlihat keluar dari dalam mobil, kemudian berteriak memanggilnya. Lelaki yang memang masih memperhatikan mobil tempat wanita yang pernah singgah di hatinya berada, menatap bingung ke arah gadis berhijab yang masih terus melambai ke arahnya.


Laki-laki tampan yang terlihat rapi dengan pakaian kerjanya itu, beranjak dari atas kursi tempat ia duduk, lalu melangkah menuju ke arah gadis yang masih berdiri di samping mobil.


"Aku anterin ke tempat kerja yuk." Ajak gadis itu lagi.


Zahra yang sudah berada di dalam mobil, mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil itu, lalu tersenyum ke arah sahabat nya.


"Kenapa?" Tanya laki-laki itu bingung.

__ADS_1


"Karena Bis yang sedang kamu tunggu, sudah pergi." Nana menunjuk bis yang sudah berlalu dari halte.


Lelaki yang sejak tadi tidak memperhatikan bis yang biasanya ia tumpangi sudah berhenti, ikut menata nanar ke arah bis itu.


"Gimana?" Tanya Nana. "Aku Riana, tapi orang-orang biasa memanggilku Riana." Ucap gadis itu lagi.


Zahra sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak pecah. Kakak sepupu dari suaminya ini benar-benar sudah kerasukan. Ini pertama kalinya melihat Nana berani mengajak orang yang tidak dia kenal, berbicara.


"Namanya Fikri, Mbak." Zahra menimpali dari dalam mobil, karena laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil tak kunjung menyebutkan namanya. "Ayo, Mas. Ada aku kok, tenang aja." Ucapnya lagi.


Riana sudah membuka pintu mobilnya, lalu mengajak laki-laki itu masuk ke dalam mobil.


Berhasil membawa laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya, Riana pun ikut masuk dan duduk di depan kemudi.


"Sebelum ke tempat kerja mu, kita mampir ke rumah sakit tempat Zahra kerja lebih dulu." Ujar Riana.


Lelaki yang bernama Fikri itu mengangguk. Dia tahu, rumah sakit tempat Zahra bekerja tidak terlalu jauh dari sini.


"Kenapa, Mbak? Apa Tante Rianti dan Om Kean masih memaksa untuk mencarikan jodoh untuk mu?" Tanya Zahra.


"Kalau kamu sudah tahu, ngga usah di tanyakan lagi." Riana cemberut mendengar pertanyaan dari Zahra.


Zahra tertawa geli.


Di bangku belakang, Fikri pura-pura mengusap-usap layar ponselnya, namun, telinganya terus menyimak percakapan dua wanita yang berada di dalam mobil yang sama dengannya itu.


"Fikri, kamu punya pacar ga?" Tanya Riana.


Fikri menatap Zahra sebentar, kemudian menggeleng.


Riana mengangguk.


"Kenapa memangnya?" Tanya Zahra curiga.


"Ya ngga apa-apa. Kan ga enak kalau ternyata Fikri udah punya pacar, dan kita ngajak di naik mobil ini." Jawab Riana bohong. Bukan itu tujuannya mengajak Fikri untuk naik ke dalam mobilnya. Sesekali, Riana melirik laki-laki yang terus sibuk dengan ponsel itu melalui spion.

__ADS_1


__ADS_2