
"Tapi wanita itu sedang mengandung darah daging mu, Yan. Apa kamu ga kasian padanya? Dia pasti sedang tidak baik -baik saja." Ujar Meisya.
Riyan tidak menanggapi. Jika di tanya, ingin sekali ia terbang saat ini juga untuk pulang dan menemui Zahra di sana. Namun, ia tahu di sini pun ada hal yang juga sama pentingnya, dan ia sudah berjanji untuk tidak lagi melukai Meisya.
"Aku baik-baik saja, Yan." Meisya melepaskan selimut yang menutupi kepalanya. Membalik tubuhnya, lalu menatap wajah Riyan dengan mata yang masih terlihat sembab.
Riyan meraih kepala Meisya, lalu menenggelamkan wajah sendu wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kamu tahu Mei. Zahra, Ayah dan juga Ibu ingin kamu bahagia. Namun, jika seperti ini, apa yang harus aku katakan pada mereka." Ucap nya lirih.
Tidak ada jawaban dari Meisya. Gadis itu hanya semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Riyan, dan tersedu di sana.
"Aku tidak tahu harus seperti apa lagi, dan hanya memilih untuk tetap melanjutkan hidupku, entah itu dengan Zahra atau dengan mu. Percayalah Mei, kalian sama pentingnya dalam hidup ku. Namun, aku tidak ingin kembali menyakiti mu untuk yang kedua kalinya." Ujar Riyan lagi.
"Tapi aku tetap tersakiti dengan keadaan kita. Aku terlalu mencintai mu, dan itu menyakiti diriku sendiri. Aku tahu kamu sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk kita, tapi entah mengapa tetap saja masih belum cukup membuat hati ku merasa lebih baik. Aku ngga tahu mengapa aku tidak bisa berlapang dada atas takdir yang sudah digariskan oleh Nya." Ucap Meisya.
"Kita hanya perlu berusaha, bukan. Ayo kita buat Allah agar kembali merubah takdir ini." Bujuk Riyan. Bukan, bukan tidak lagi menginginkan Zahra. Namun, hanya ingin menyederhanakan masalah yang begitu pelik di antara mereka.
"Bagaimana jika Allah bersikeras jika takdir ini yang terbaik untuk kita semua?" Tanya Meisya.
"Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Kita hanya perlu berusaha." Jawab Riyan.
Meisya menarik wajahnya dari dalam pelukan Riyan. Menatap wajah tampan yang sudah membuatnya jatuh cinta sekian tahun itu, dengan hangat. Mengangkat sebelah tangannya, lalu mengusap pipi laki-laki itu dengan lembut.
__ADS_1
"Pulanglah dan temui dia. Mungkin dengan seperti ini, bahagia yang dulu pernah aku rasakan saat bersamamu, akan Allah hadirkan kembali dalam hidupku, meski itu bukan dengan mu." Ucap Meisya yakin.
"Mei.." Riyan menggengam tangan yang sedang mengusap lembut pipinya.
"Maaf aku terlalu mencintai mu hingga membuat mu tersiksa." Ucap Meisya lagi.
Riyan menggeleng.
"Kamu lebih butuh aku di sini. Zahra, dia punya banyak orang yang menyayangi nya di sana." Jawab nya.
"Aku sudah baik-baik saja, Yan. Dan semua itu berkat kamu. Kamu lihat sendiri aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa walau belum bisa seintens dulu. Tapi hanya butuh sedikit waktu untuk kembali seperti biasa." Ujar Meisya lagi.
Wanita itu mengurai pelukan di tubuhnya, lalu turun dari ranjang.
"Aku akan menyiapkan pakaian mu. Anggap saja ini pekerjaan terakhir yang bisa aku lakukan sebagai seorang istri." Jawab Meisya. Ia menoleh, menatap sebentar ke arah ranjang di mana Riyan berada lalu tersenyum manis.
"Mei jangan lakukan itu. Aku akan benar-benar hidup dalam kubangan rasa bersalah jika terus seperti ini." Ujar Riyan.
"Sama saja, Yan. Kamu pun akan terus hidup dalam kubangan itu, bahkan mungkin lebih dalam lagi. Penyesalan akan datang dan menambah rasa bersalah itu, karena kamu telah menyia-nyiakan darah daging mu. Pulanglah, yang aku punya di sini hanyalah cinta yang kapan saja bisa di hapus oleh Allah. Namun, di sana, Zahra memiliki sesuatu yang tidak akan pernah terputus dari mu. Buah cinta kalian." Ucap Meisya sambil mengeluarkan pakaian Riyan satu per satu dari dalam lemari pakaian.
Riyan terdiam di atas tempat tidur. Tidak tahu harus seperti apa lagi menjalani semua ini. Sekuat tenaga ia menepis rasa untuk Zahra yang selalu saja membuatnya gundah, dan memilih untuk melanjutkan hidup bersama Meisya. Namun, kini, Meisya sendiri yang terus mendorongnya pergi. Sekuat tenaga ia mengusahakan hati agar jangan goyah, saat memilih melanjutkan hidup bersama Meisya dan meninggalkan Zahra dengan segala luka, namun, kini Meisya sendiri yang membuat usahanya menjadi sia-sia.
"Mei, aku lelah." Ucap Riyan.
__ADS_1
Meisya tertawa.
"Kamu sendiri yang mencari masalah yang membuat mu lelah." Jawab nya acuh. "Bentar aku minta tolong Gio buat anterin kamu ke Bandara." Meisya hendak melangkah keluar dari dalam kamar, namun, Riyan kembali menahan tangan istrinya itu.
"Kamu masih sama penting nya, Mei. Walau rasa ku telah terbagi, tapi kamu masih menjadi wanita yang penting dalam hidup ku." Lirih Riyan.
Meisya bersimpuh di atas lantai tepat di hadapan Riyan. Meletakkan wajahnya di atas pangkuan laki-laki itu.
"Kamu juga penting. Namun, puncak tertinggi dari sebuah rasa cinta, adalah mengikhlaskan. Begitulah kata Mommy sebelum kita terbang ke sini. Mommy sudah mengingatkan aku, jika kamu bukan lagi sepenuhnya milik ku. Dan itu benar. Aku tidak ingin menahan mu lebih lama di sini, dan membuat mu melepaskan tanggung jawab mu untuk gadis itu. Aku tidak ingin, di masa tua kita hanya akan di isi oleh penyesalan karena tetap mempertahankan cinta yang salah." Ujar Meisya masih terus meletakkan pipinya ke atas pangkuan Riyan. "Seharusnya aku melakukan ini sejak lama. Daddy punya keahlian untuk merawat ku, namun, karena rasa ingin memiliki mu seorang diri, dan memaksa mu ke sini." Sambung nya.
Riyan mengangkat wajah Meisya agar menatap ke arah nya...
"Dan penyesalan yang sama pun akan aku rasakan jika membiarkan mu di sini sendirian." Jawab nya.
"Aku akan baik-baik saja, percaya padaku. Entah cepat atau lambat, aku pasti akan membuktikan padamu jika aku akan tetap bahagia walau tanpa kamu."
Riyan menatap Meisya dengan mata berkaca.
"Pergilah." Meisya beranjak dari atas lantai, lalu menarik tangan Riyan keluar dari dalam kamar itu. "Kita ke apartemen Gio." Ucapnya lagi.
"Gio sudah berangkat kerja, Mei." Ucap Riyan..
"Kita lihat dulu, siapa tahu dia belum pergi. Orang dia bos nya kok." Jawab Meisya sambil terus menggenggam tangan Riyan dan melangkah keluar dari apartemen mereka.
__ADS_1
Riyan menghembuskan nafas nya yang terasa berat. Entah rencana seperti apa yang sedang Allah sediakan untuk nya ini, sehingga membuatnya selalu berada di situasi yang seperti ini. Keadaan ini sama seperti tiga bulan lalu saat dia akan meninggalkan Zahra.