Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 21. Luka Masa Lalu Eliana


__ADS_3

Eliana menatap menantunya dengan hati yang berkecamuk. Air mata kesedihan terus meluncur dari netra nya. Hari ini, Zahra mengutarakan sesuatu yang semakin membuat hatinya di penuhi rasa bersalah. Sejak awal, seharunya ia tidak menyetujui keinginan Riyan yang ingin menikahi Zahra, karena takut hal seperti ini akan terjadi. Tapi lihatlah sekarang, semua yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.


Zahra memilih untuk kembali ke panti asuhan, dan merelakan putranya pergi ke luar negeri bersama menantunya yang lain.


"Sejak awal Ayah memang tidak menyetujui keinginan mu untuk menikahi nya. Biarkan di bertemu laki-laki baik yang benar-benar tulus mencintai, tapi kamu memaksa dan bersikeras untuk menikah dengannya. Dan sekarang lihatlah apa yang kamu beri untuknya. Kita memberinya luka untuk yang kedua kalinya." Lirih Kenan penuh kecewa. Ia menatap putranya yang sedang bersimpuh di hadapan Eliana.


"Kamu terlalu serakah." Ujar Kenan lagi.


"Riyan mencintainya." Ucap Riyan pelan namun, bisa di dengar dengan jelas oleh kedua orang tuanya. "Bisakah Ibu memintanya untuk tetap di rumah ini?" Pintanya lagi.


Plakkk....


Tamparan yang kedua kalinya setelah di rumah sakit beberapa Minggu yang lalu, kembali mendarat di pipi Riyan. Namun, bedanya kali ini Eliana yang melakukannya.


"Ibu benar-benar kecewa padamu. Ayo pergi saja dari sini, pergilah cari kehidupan yang menurutmu baik."


Eliana beranjak dari atas sofa yang ia duduki, lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya. Meninggalkan dua lelaki yang sangat ia cintai, terdiam di dalam ruangan mewah itu.


Anak tangga yang menjadi tujuannya. Ia ingin menemui gadis yang sudah di beri luka oleh putranya yang mungkin saat ini sedang mengepak barang-barang pribadi nya.


***

__ADS_1


"Bisa nggak Ibu minta kamu tetap di sini walau pun Riyan akan pergi?" Tanya Eliana setelah masuk ke dalam kamar milik Riyan dan Zahra.


Gadis yang ada di dalam kamar itu, segera melepaskan pakaian yang sedang ia masukan ke dalam koper, lalu menatap ibu mertuanya sambil tersenyum manis. Entah sudah berapa kali kalimat itu ia dengar keluar dari mulut ibu mertua nya ini. Bahkan sebelum malam ini, ia Ibu mertuanya ini selalu mengucapkan kalimat yang sama.


"Bisa nggak kamu tetap jadi anak Ibu, walau si bodoh itu tidak lagi berada di sini?" Tanya Eliana lagi.


Senyum manis di bibir Zahra, berubah menjadi tawa karena mendengar kata bodoh yang di ucapkan oleh Ibu mertua nya.


"Bu, jika Zahra tetap ada di sini, Mbak Meisya akan semakin jauh dari keluarga ini. Dia juga berhak mendapatkan kasih sayang sama dari Ibu dan Ayah." Jawab Zahra.


Melihat Ibu mertua nya duduk di atas ranjangnya, Zahra pun bangkit dari atas lantai, lalu melangkah menuju ranjang di mana Ibu mertuanya berada dan duduk di sana. Meraih tangan wanita baik itu, lalu menggenggam dengan erat.


"Jika nanti Allah memanggil Ibu lebih dulu, bagaimana cara Ibu menjelaskan pada Rayan di sana, jika kamu terluka di sini?" Eliana menatap Zahra dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipinya. Ingatannya kembali tertuju pada putranya yang telah pergi. Anak malangnya itu tidak meminta banyak hal, ia hanya ingin keluarga nya tetap menyayangi Zahra, walau dia sudah tidak lagi berada di sini.


"Kalau begitu biar Zahra yang akan menjelaskan padanya. Zahra sendiri yang akan mengatakan bagaimana beruntungnya Zahra karena di pertemukan dengan keluarga yang luar biasa ini." Jawab Zahra. Tangannya terulur, lalu mengusap lembur pipi Ibu mertuanya.


Eliana meraih tubuh menantunya itu, kemudian memeluknya dengan sangat erat dan menangis di sana. Rasa bersalah semakin membuat dadanya sesak.


Zahra tidak bisa melakukan apapun. Hanya mengusap lembut punggung ibu mertuanya itu, dan terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian, lelaki muda yang tadinya masih berada di kamar lain di rumah ini, sudah berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


Melihat putranya sudah berdiri di pintu kamar, Eliana segera beranjak dari atas ranjang itu dan berpamitan pada menantunya. Setelah itu, ia kembali melangkah keluar dari dalam kamar tanpa memperdulikan putranya yang terus menatapnya penuh permohonan.


Kecewa atas apa yang terjadi. Ia tidak menyangka, hal yang dulu di lakukan seseorang padanya, kembali di lakukan oleh putranya sendiri. Sakit, tentu saja sakit. Ia tahu, saat ini Zahra hanya sedang berpura-pura baik-baik saja, karena tidak ingin membuat masalah semakin rumit. Namun, ia tahu bagaimana sakitnya di perlakukan seperti itu oleh orang yang begitu di percaya. Dulu, lelaki itu saja belum sempat menikahinya, tapi membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk menyembuhkan luka karena pengkhianatan itu.


Setelah menutup pintu kamar, Riyan melangkah menuju ranjang di mana Zahra sedang duduk. Menatap wajah cantik istrinya itu dengan hati yang di penuhi rasa bersalah. Bibir tipis Zahra memang sedang tersenyum manis padanya untuk menutupi segala luka, namun, mata penuh kesedihan istri nya itu sama sekali tidak bisa menutupi.


"Aku ngga tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf pada mu, Ra." Riyan berdiri di hadapan Zahra dengan mata yang sembab.


Zahra mendongak, lalu kembali tersenyum.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, Mas. Mas liat sendiri kan, aku baik-baik aja. Dan yang lebih penting lagi, aku bisa kembali bekerja dengan nyaman di rumah sakit setelah kalian pergi." Jawabnya terkekeh. "Dokter Kean sudah menghubungi ku, dan meminta aku untuk kembali bekerja." Sambungnya.


"Ra, setelah ini carilah laki-laki yang baik. Laki-laki yang jauh lebih baik dari ku. Dan buktikan pada ku yang bodoh ini, bahwa kamu akan bahagia walau tanpa aku." Ujar Riyan..


"Tentu saja." Jawab Zahra. Tawa kecil kembali terdengar dari bibir Zahra. "Aku mau lanjutin pekerjaan ku. Besok Mas akan antar aku ke panti, kan?" Tanyanya.


Riyan mengangguk..


"Dua hari." Ucap Zahra kembali memastikan sambil tersenyum seakan perpisahan di antara keduanya tidak akan pernah terjadi, dan Riyan pun kembali mengangguk dengan mata uang mulai berkaca.


Karena tidak ingin ikut larut dalam kesedihan itu, dan menitikkan air mata di hadapan Riyan, Zahra segera beranjak dari atas ranjang, lalu kembali duduk di lantai yang beralaskan karpet dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2