Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 40. Keputusan


__ADS_3

Sama halnya dengan Indonesia, di Singapura tepat di mana Meisya berada, pagi kembali menyapa. Kurang lebih empat hari sudah berlalu tanpa Riyan, dan waktu masih terus berjalan seperti biasanya.


Sedih? Tentu saja. Bohong jika dirinya tidak sedih atas kepergian laki-laki itu. Akan tetapi, ia berusaha perlahan untuk mengobati kesedihan nya itu, karena apapun yang ia rasakan saat ini, Riyan tidak akan pernah kembali lagi padanya.


Sebuah kafe yang berada di lantai bawah apartemen menjadi tempat favoritnya selama berada di Singapura. Entahlah, menikmati waktu sendiri, dan berusaha menghapus nama Riyan dari dalam hati, memang begitu sulit dilakukan. Akan tetapi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, ia tetap harus berusaha melakukannya.


"Hai..."


Suara yang tidak lagi asing di telinganya, membuat Meisya berpaling dari pemandangan indah di luar sana. Ia lalu menatap laki-laki yang kini sedang berdiri di samping meja tempat ia berada sambil tersenyum hangat ke arah nya.


"Eh, Hai." Balas nya.


"Boleh duduk di sini?" Tanya Gio masih belum memalingkan tatapannya dari wajah cantik Meisya.


Meisya mengangguk mengiyakan.


"Kafe ini bukan milikku, dan kamu bebas duduk di mana saja." Jawab nya lalu tertawa kecil, membuat Gio ikut tersenyum.


Lelaki itu lantas menarik sala satu kursi di depan Meisya, dan duduk di sana. Setelah duduk di depan Meisya, Gio lantas mengangkat tangannya dan meminta seorang pelayan untuk menerima pesanannya.


"Mau aku pesankan sarapan?" Tanya Gio.


"Aku udah sarapan bareng Mommy di atas tadi." Tolak Meisya.


Gio mengangguk mengangguk mengerti. Setelah menerima pesanannya, pelayan kafe tersebut kembali melangkah menjauh dari tempat ia dan Meisya duduk.


"Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Gio kembali memulai percakapan.


"Alhamdulillah masih bisa bertahan." Jawab Meisya tertawa kecil. Namun, beberapa saat kemudian senyum di bibirnya seketika menghilang berganti wajah sendu.


"Mei, jika aku berniat ingin memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman, apa kamu akan memberi ku kesempatan?" Tanya Gio blak-blakan.

__ADS_1


Meisya tertawa dengan pertanyaan Gio.


"Aku serius, dan sudah membicarakan tentang ini pada kedua orang tuamu." Ucap Gio, lagi.


Meisya terdiam beberapa saat. Namun, saat ia ingin kembali berbicara seorang pelayan datang dan menyajikan sarapan di meja mereka.


"Terimakasih." Ucap Gio pada pelayan yang kembali berlalu dari tempat nya. "Kamu tidak harus memberi keputusan saat ini juga. Ini hanya keputusan ku. Aku sudah mendengar banyak tentang mu dari Riyan dan dari kedua orang tuamu. Hari ini aku hanya ingin mengutarakan keputusan ku." Sambung Gio.


"Sarapan dulu, Gio." Jawab Meisya. Melirik sepotong roti lapis yang ada di atas meja, lalu kembali menatap laki-laki di hadapannya itu.


Gio mengangguk, lalu memulai sarapannya. Sedangkan Meisya kembali menatap keluar kaca besar kafe yang menampakkan pemandangan indah di depan sana. Jalanan yang masih begitu lenggang, juga pemandangan sungai yang begitu memanjakan mata.


Cukup lama ia memikirkan tentang kalimat yang terucap dari bibir Gio. Meraba ke dasar hati, apakah masih ada tempat untuk lelaki lain di sana. Yah, benar-benar bodoh hati nya ini. Bagaiman bisa masih menyimpan nama yang sudah di pastikan tidak akan pernah kembali lagi dalam hidupnya. Bagaiman cinta ini masih di miliki oleh seseorang yang tidak akan pernah bisa ia miliki sampai kapan pun?


"Setelah beberapa tahun tinggal di sini, ini pertama kalinya ada orang yang menemani ku sarapan." Ucap Gio dengan senyum hangat yang terus ia pamerkan sejak berada di sini. "Mungkin saja kamu bersedia menemani ku makan sian, makan malam, dan mungkin terlelap setelah kelelahan bekerja?" Imbuhnya .


Meisya kembali menatap wajah Gio lekat-lekat. Mencari keraguan di mata laki-laki itu, namun, hanya kesungguhan yang ia lihat di sana.


Gio segera menggeleng. membuat Meisya terkejut.


"Bagaimana bisa kamu mau menerima wanita yang masih menyimpan nama laki-laki di dalam hati nya?" Tanya Meisya.


"Yang terpenting wanita itu bukan milik orang lain." Jawab Gio. "Melupakan seseorang yang pernah di cintai, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Jika kamu bersedia, aku akan membantu mu melupakan Riyan perlahan-lahan." Sambungnya.


"Dan kamu meminta bantuan ku untuk melupakan Aira, iyakan?" Tebak Meisya.


Gio tertawa.


"Tebakan mu benar dan salah. Aku bilang kan tadi, tidak masalah jika wanita itu masih menyimpan nama seseorang di hatinya, yang terpenting adalah dia bukan milik orang lain. Dan aku pikir, tidak ada salahnya jika kita memulai hubungan itu." Ujar nya.


Meisya mengangguk paham. Yah, bukankah lebih baik belajar mencintai seseorang yang juga berusaha mencintai kita, dari pada terus terjebak dalam perasaan yang tidak seharusnya masih terus di pertahankan?

__ADS_1


"Kalau begitu bilang pada kedua orang tuamu untuk datang ke Singapura. Katakan pada mereka, kamu sudah menemukan tambatan hati dan siap menikahi nya.: Ujar Meisya.


Kali ini Gio yang di buat terkejut dengan kalimat Meisya.


"Akan lebih baik berjuang, sudah berada dalam hubungan yang sah" Ucap Meisya lagi. "Hanya tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Yah, aku hanya tidak mau menjaga jodoh orang lain untuk yang kedua kali nya." Sambungnya sambil tertawa lucu dengan kalimatnya sendiri.


"Baiklah. Pernikahan sepertinya jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali. Ujar Gio.


Keduanya lantas tertawa dengan keputusan yang mereka ambil hari ini.


"Awal hubungan kita, hari aku mau menawarkan diri untuk mengantar mu cek up. Ujar Gio lagi.


"Bukan ide yang buruk. Sepertinya aku tidak hanya mendapatkan calon suami, tetapi sopir gratis." Jawab Meisya lagi-lagi sambil tertawa.


Setelah keputusan singkat itu, keduanya beranjak meninggalkan kafe dan kembali naik ke lantai atas di mana tempat tinggal keduanya berada.


"Ini juga sebagai awal yang baru untuk berjuang bersama." Gio mengangkat tangan Meisya yang sudah berada dalam genggamannya.


Wanita cantik itu hanya tertawa lucu dengan tingkah Gio. Laki-laki yang sudah lebih dari tiga bulan ini menjadi orang kedua yang ia andalkan setelah Riyan.


"Kali ini aku membiarkannya." Jawab nya.


Setelah tiba di pintu apartemen masing-masing, Gio melepaskan genggamannya dari tangan Meisya.


"Katakan pada kedua orang tuamu tentang ini, dan aku pun akan melakukan hal yang sama." Ujar Meisya sebelum membuka pintu apartemen miliknya.


"Tentu saja. Mungkin besok mereka sudah berada di sini." Jawab Gio yakin. "Sana masuk dan bersiap. Aku antar kamu ke rumah sakit." Sambungnya.


Sebelum berlalu dari sana. Meisya kembali tersenyum ke arah Gio seraya mengucapkan terimakasih atas kebaikan laki-laki itu.


Jika kita tidak berusaha melakukan sesuatu, maka selamanya kita akan terus berada di situasi itu. Itulah yang langsung terpikir di otak Meisya saat Gio menawarkan satu hubungan.

__ADS_1


__ADS_2