Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 22. 48 Hours With You


__ADS_3

Setelah semalaman tidak bisa terlelap, kini Zahra bersiap melakukan kewajiban pada sang pencipta. Beranjak dengan hati-hati dari atas ranjang yang sudah satu bulan ini ia tempati, agar tidak sampai mengganggu laki-laki yang masih terlelap di sampingnya.


"Kita shalat bareng ya?"


Lelaki yang dia pikir sedang terlelap, kini sudah ikut duduk di atas ranjang besar itu.


"Boleh kan? Untuk yang terakhir kalinya." Ujar Riyan lagi.


"Kita masih punya waktu dua hari, Mas. Dan selama dua hari ini, aku benar-benar masih ingin menjadi istri mu. Di imami shalat oleh mu dan menyiapkan segala keperluan mu." Jawab Zahra. Entah mengapa, berulang kali ia meyakinkan hati atas pilihannya ini, namun, tetap saja, ketika mendengar kata terakhir kalinya begitu mengganggu.


"Iya, besok aku masih tetap menjadi imam mu ya." Riyan tersenyum. Senyum yang terlihat samar di dalam kamar yang remang.


Melihat senyum di wajah Riyan, Zahra pun ikut tersenyum. Ia kemudian lebih dulu beranjak dari atas ranjang. Menyalakan lampu utama di dalam kamar itu, kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Di atas ranjang, Riyan terus mengikuti tubuh istrinya itu hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah menunaikan kewajiban kepada sang pemilik kehidupan, Riyan menggenggam tangan Zahra, lalu mengajak gadis yang masih berstatus sebagai istrinya itu menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang keluarga.


Zahra pun tidak menolak setiap perhatian kecil yang Riyan tujukan padanya. Untuk yang terakhir kalinya, mungkin kalimat inilah yang mendorong Zahra agar membiarkan tangan Riyan menggenggam tangannya.


Saat tiba di ruang keluarga, Eliana menatap putra dan menantunya itu sendu. Kesedihan di wajahnya, masih terlihat jelas, walau pun Zahra sudah berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Kita sarapan dulu." Ajak Kenan.


Eliana beranjak dari atas sofa, lalu melangkah menuju dapur. Mengusap kepala menantunya sebentar, tapi mengabaikan putranya begitu saja.


"Ibu menyayangi mu, Mas. Tenang aja, tidak ada di dunia orang tua yang akan membenci putranya." Ucap Zahra menyemangati.


Riyan mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Terimakasih, Ara." Ucapnya.


Keduanya lalu melangkah menuju ruang makan yang sama, untuk sarapan.


Seperti biasanya, Riyan menarik kursi dan meminta Zahra duduk di sana. Melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan selama seminggu setelah pernikahan mereka. Seminggu yang begitu indah, sebelum kemudian kejadian tragis itu terjadi dan membawa hubungan mereka ke jurang perpisahan.


"Ra...


Kalimat Eliana terputus, karena mendapat gelengan kepala dari Kenan.


"Kita sarapan dulu, Sayang." Ucap Kenan pada istrinya.


Eliana menoleh sebentar, dan kembali melanjutkan sarapannya.


"Sarapan yang banyak." Eliana menuangkan nasi ke piring Zahra.


Eliana menarik tangannya, lalu bersiap memakan sarapannya tanpa suara.


Zahra mengambil piring kosong yang ada di depan Riyan, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk yang ada di atas meja itu. Dan semua yang di lakukan Zahra saat ini, semakin membuat hati Eliana bagikan di remas kuat.


Sekuat apa hati gadis yang ada di hadapannya ini, sehingga dalam keadaaan seperti ini, masih terlihat baik-baik saja.


Dulu saat ia mendapati Ardi mengkhianatinya, bahkan hanya untuk menyebut nama laki-laki itu, ia begitu enggan melakukannya. Namun, Zahra bahkan masih menyiapkan segala keperluan putranya sampai hari ini. Padahal semua orang yang ada di rumah ini tahu, perpisahan keduanya akan tetap terjadi.


"Kamu juga makan, Nak." Ucap Kenan pada Zahra, setelah menantu nya itu menyediakan makanan untuk Riyan.


"Iya, Ayah." Jawab Zahra.


Keempat orang itu pun mulai memakan sarapan mereka tanpa minat. Bukan tidak mensyukuri nikmat lah, namun, mengingat keadaan seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi, membuat semuanya terasa hambar. Makan dengan macam menu di atas meja, terlihat tidak lagi menggiurkan.

__ADS_1


***


Sarapan yang begitu hening telah berakhir. Kini, Eliana duduk di atas sofa sambil menggelengkan wajahnya di dada bidang Kenan. Entahlah, setelah puluhan tahun meneguk bahagia, ini pertama kalinya kesedian kembali menyelimuti hatinya. Mengingat gadis yang begitu di sayangi oleh seluruh keluarga akan pergi dari rumah ini, rasa tidak rela semakin membuat hatinya merintih ingin menahannya agar tidak pergi.


Beberapa saat kemudian, Zahra dan Riyan kembali turun menuju ruang keluarga. Bedanya kali ini, ada satu buah koper yang sudah berada di tangan Riyan, yang tidak lain adalah milk Zahra.


"Kamu benar-benar akan pergi, Ra?" Eliana menarik wajahnya dari dada Kenan, lalu menatap menantunya dengan sendu.


"Bogor ga jauh kok, Bu. Zahra juga kan masih kerja di rumah sakit, nanti akan cari waktu untuk mampir kemari. Atau kita bisa janjian ketemu di luar." Jawab Zahra masih dengan senyum di wajahnya.


Eliana tidak lagi menahan. Ia tahu, ini adalah satu-satunya jalan agar Zahra tidak lagi terjerat dalam luka yang di ciptakan oleh putranya sendiri.


"Pastikan dia tiba dengan selamat. Jika terjadi apa-apa dengannya, Ibu tidak akan mau memaafkan kamu." Ancam Eliana.


Riyan diam tanpa suara. Jika saja ia bisa memilih, maka ia akan memilih Zahra. Namun, Meisya sangat membutuhkan dirinya.


"Zahra pamit ya, Bu." Zahra mengulurkan tangannya untuk menyalami kedua mertuanya dengan takzim. Riyan pun melakukan hal yang sama pada kedua orang tuanya walaupun masih nampak jelas kekecewaan di wajah kedua orangtuanya itu.


Setelah selesai bersalaman, Riyan kembali meraih tangan Zahra dan menggenggamnya sambil melangkah menuju mobil.


"Kurang dari empat puluh delapan jam, Ra." Lirih Riyan saat ia membantu Zahra masuk ke dalam mobil.


Zahra tidak menanggapi. Ada banyak yang ingin ia lakukan untuk Riyan di sisa waktu yang ada, akan tetapi keraguan masih saja menahannya untuk jangan melewati batas. Saat meminta waktu pada Meisya, ada banyak rencana yang ia siapkan, akan tetapi sekarang ia mulai ragu untuk merealisasikan rencana itu.


Mobil milik Riyan telah meninggalkan pelataran rumah. Meninggalkan sepasang suami istri yang ia kecewakan, sambil berpelukan di ambang pintu rumah. Menangisi gadis tak bersalah yang sudah ia lukai dengan begitu dalam.


Cinta tak harus memiliki. Mungkin kalimat inilah yang di percaya Zahra, hingga memilih keputusan ini untuk hubungannya dengan Riyan. Memilih untuk mengutamakan perasaan wanita lain, dari pada perasaan nya sendiri. Memilih untuk tidak egois, karena ada wanita lain yang lebih membutuhkan kasih sayang seorang Riyan, dari pada dirinya.


Ternyata benar, salah satu cara yang ampuh untuk terbebas dari penderitaan adalah dengan cara melepaskan. Belajar mengikhlaskan, karena semua memang hanyalah titipan. Seiring berjalannya waktu, Allah pun akan ikut megambil rasa yang di titipkan padanya, sama seperti Dia mengambil laki-laki di sampingnya ini dan membiarkannya untuk wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2