
Malam yang indah di area. Shalat subuh berjamaah di mushala pondok pesantren baru saja usai. Riyan dan Rahmat duduk bersilah di teras mushala yang dengan dua cangkir teh lengkap dengan cemilan sambil berbincang banyak hal.
Riyan merasa harus menjelaskan apa yang sedang menimpa nya. Sebab saat ia tiba di rumah sakit tiga hari yang lalu, Rahmat seakan marah dengan kehadiran nya. Bukan ingin membela diri, ia pun mengerti apa yang membuat kakak sepupu dari istrinya itu marah terhadap dirinya
Ini malam ke tiga Riyan berada di Palembang. Ibu dan Ayah nya sudah lebih dulu pulang ke Jakarta setelah ia dan Zahra keluar dari rumah sakit. Sedangkan Riyan memilih untuk menghabiskan beberapa hari di pondok untuk mendekatkan diri pada keluarga Zahra dan Tuhan nya. Di depannya, Rahmat sedang menyimak dengan seksama setiap kalimat yang terdengar dari bibir Riyan.
"Di saat kamu menyakiti ketulusan seseorang terhadapmu, maka ingatlah bahwa kamu sendiri sedang mulai melangkah untuk tersakiti akibat perbuatan sendiri. Orang yang menyakiti diawal cerita akan menemui kesakitan pula diakhir cerita. Takdir dari-NYA selalu adil dan tidak meninggalkan hal terburuk untuk orang-orang yang bersabar." Ujar Rahmat setelah beberapa puluh menit hanya menjadi pendengar setia dari setiap kalimat penjelasan yang terdengar dari bibir Riyan. "Benar kata Zahra. Kalian bertiga sama-sama punya andil dalam kesakitan yang kalian rasakan beberapa bulan ini. Zahra berharap akan bisa bersama mu, dan bersedia Ikhlas menjalani walau hanya menjadi yang kedua, padahal dia tahu hal itu pasti akan menyakitinya. Berbeda dengan Meisya, dia tidak mau berbagi dengan siapapun dan hanya ingin memiliki kamu seorang diri. Padahal dia tahu, hati kamu sudah terbagi. Dan kamu, ingin memiliki keduanya. Yang tidak kamu ketahui adalah, mungkin kamu bisa berbuat adil terhadap keduanya, namun, apa mereka akan merasa adil? Rasa keadilan bagi setiap orang berbeda-beda, Riyan." Sambung Rahmat.
Riyan terdiam beberapa saat. Berusaha mencerna kalimat panjang lebar yang baru saja di utarakan oleh Rahmat, lalu kemudian mengangguk mengerti.
"Selalu berdo'a dan minta pada Nya agar selalu memberikan yang terbaik. Karena tidak ada yang paling baik dan adil dalam menentukan nasib umat-Nya, salin sang pemilik umat itu." Ucap Rahmat lagi.
Menjadi yang kedua dalam hubungan orang lain memang tidak mudah. Ada sebagian orang yang tidak sengaja masuk, dan ada yang menang sengaja ingin merusak hubungan itu. Namun, yang pasti, setiap niat dan perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal.
"Aku yakin, adik ku tidak berniat menyakiti siapapun termasuk Meisya. Dia hanya berusaha memperjuangkan cinta nya. Aku pun tidak bisa menilai cinta yang dia miliki untukmu itu salah, karena biar bagaimana pun, dia di kamar dan di nikahi secara baik-baik oleh mu. Dan tugas nya hanya mengabdikan diri dan mencintai mu sepenuh hati, sama seperti yang dia lakukan sebelum kamu pergi. Aku bahkan sempat memarahinya karena sudah merendahkan harga diri dengan meminta mu menyentuh nya, padahal dia bisa membatalkan pernikahan kalian setelah tiga bulan tanpa nafkah batin dari mu. Tapi, setelah Zahra menjelaskan, aku kembali berpikir bahwa yang dia lakukan itu tidak salah. Kamu juga mencintainya, dan berhak atas nya." Ujar Rahmat, membuat Riyan semakin terdiam tanpa kata.
"Terkadang cinta memang bisa membawa masukan sampai ke titik terbodoh. Bahkan ada yang rela membunuh dirinya sendiri, hanya karena cinta. Dan beruntung, Zahra masih memiliki iman dan cinta yang begitu besar untuk Allah, hingga membuatnya tetap bertahan walau dalam situasi menyakitkan."
__ADS_1
Rahmat terus bercerita, menanggapi penjelasan Riyan tentang masalah rumit yang menimpa pernikahan adik sepupunya.
"Apapun itu, yang pasti kita sebagai manusia tidak bisa menghakimi seseorang atas kesalahannya. Karena seburuk-buruknya kesalahan, pasti akan ada alasan di balik itu. Dan kita masih manusia biasa yang kapan saja bisa melakukan kesalahan. Toh, dari sanalah kita akan belajar untuk terus memperbaiki diri." Ucap Rahmat lagi dan di angguki oleh Riyan.
****
Di asrama putri, Zahra sedang merapikan pakaian nya dan di masukkan satu per satu ke dalam koper. Seorang gadis berhijab yang sudah dua bulan ini menjadi sahabat terdekatnya, juga sedang membantu Zahra merapikan pakaian nya.
"Nis, cobalah beri kesempatan pada kedua orang tua mu untuk menjelaskan alasan mengapa mereka mencarikan jodoh untuk mu. Kamu tahu, terkadang laki-laki yang di pilihkan orang tua karena agama nya, pasti akan mencintai istrinya dengan baik. Mungkin bukan saat ini, tapi nanti kamu akan merasakannya sendiri." Ujar Zahra sambil merapikan pakaiannya ke dalam koper.
Zahra menggeleng.
"Pernikahan kami tidak mudah. Aku hanya terus berpasrah, jika dia jodoh yang di takdir kan untuk ku, cepat atau lambat pasti akan kembali." Jawab Zahra. "Begitu juga dengan mu, Nis. Kemana pun kamu pergi, cepat atau lambat Allah pasti akan tetap mempertemukan kalian." Sambungnya.
"Entahlah, Mbak. Saya masih perlu berpikir untuk hal ini. Aku benar-benar harus mempersiapkan diri sebelum melangkah ke arah yang lebih jauh, karena pernikahan butuh persiapan yang matang." Jawab Anisa.
Zahra menggeleng tidak setuju.
__ADS_1
"Tidak ada yang benar-benar siap, Nis. Kita tidak akan pernah bisa menebak, ujian apa yang sedang Allah siapkan untuk pernikahan kita. Kamu tahu, aku pun dulu sempat berpikir seperti itu. Namun, setelah tiga bulan ini, aku merubah pikiran. Sejatinya, tidak ada manusia yang benar-benar bersiap atas sesuatu yang sedang Allah rencanakan. Kita boleh berencana, kita boleh mempersiapkan diri dengan baik, namun, Allah tetaplah menjadi pemilik mutlak atas kenyataan yang akan kita jalani. DIA akan tetap menjadi pemilik takdir kehidupan kita." Ujar Zahra. "Setalah aku kembali ke Jakarta besok, coba pertimbangkan perkataan ku ini. Kamu tidak akan tahu laki-laki itu baik atau tidak, sebelum kamu mengenal nya. Berikan di kesempatan. Berikan kedua orang tua mu kesempatan untuk memberitahu seperti apa laki-laki yang mereka pilihkan untuk mu. Ingat kata ku, sejauh apapun kamu pergi, jika dia di takdirkan untuk mu, maka Allah akan tetap mempertemukan kalian." Tegas Zahra.
Anisa mengangguk. Entahlah, biar nanti urusan perjodohan itu akan ia pikirkan nanti.
"Istirahat yuk, Mbak. Besok Mbak akan menempuh perjalanan yang cukup panjang." Ajaknya agar Zahra segera menyudahi ceramah nya.
Zahra tersenyum lalu mengangguk.
"Eh, tapi Mbak akan tidur di sini? Bukannya suami Mbak ada di pesantren ini?" Tanya Anisa beruntun.
"Khusus malam ini aku akan tidur di sini. Toh, setelah ini kami akan tidur di kamar yang sama sampai dengan batas waktu yang tidak di tentukan." Zahra tertawa kecil dengan ucapannya.
*****
*Note Author
Yang penasaran sama kisah nya Rahmat dan Anisa, boleh mampir ke nupel bestie ku, Istikharah Cinta ♥️
__ADS_1