
Sebulan telah berlalu setelah kepergian Riyan. Dan ternyata, sampai saat ini kehidupannya masih baik-baik saja. Dulu, ketika ia berpikir setelah tidak lagi bersama Riyan, kehidupannya akan memburuk. Namun, ternyata semua dugaannya itu salah. Bahkan kini, ia sudah lebih bisa menikmati waktu dan merasa benar-benar mencintai dirinya sendiri.
Meisya berdiri di balkon apartemennya. Menatap keindahan alam yang begitu memanjakan mata. Menyapukan penglihatannya pada pepohonan yaang begitu terawat di sekeliling apartemen.
Allah benar-benar baik dalam memberikan nikmat pada seluruh ciptaan-Nya. Hanya dirinyalah yang tidak pandai mensyukuri nikmat itu, hingga nyaris membunuh dirinya sendiri karena tidak bisa menerima takdir yang sudah di garis kan Tuhan untuknya.
"Serius amat, sampai aku salam ga kamu balas." Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Meisya menoleh. Matanya terbelalak saat melihat Gio sudah ikut berdiri di sampingnya.
"Aku pikir kamu masih di tempat kerja." Ucapnya.
"Ada banyak hal yang perlu kita siapkan." Jawab Gio. Ia sudah membalik tubuhnya menghadap ke arah Meisya. menatap gadis yang sebentar lagi akan ia nikahi itu, dalam-dalam. Secepat ini kah hatinya beralih pada gadis lain? Setelah sekian purnama berusaha keras menghapus Aira dari hati nya.
"Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada calon istri ku." Ujar Gio.
Mata Meisya semakin terbelalak. Pipi putih nya segera berubah warna karena kalimat singkat Gio. yah, merah, semerah tomat di kulkas nya.
"bagus dong. Bukan nya memang harus seperti itu? Lupakan milik orang, dan ayo kita saling memiliki." Ujar Meisya lalu tertawa geli, namun, rona merah di wajah cantik nya masih terlihat begitu jelas. "Ayo, calon pengantin di larang berduaan di tempat tertutup, nanti khilaf." Sambungnya sambil melangkah keluar dari balkon untuk mengambil tas kecilnya.
Gio pun tertawa kecil dengan kalimat yang baru saja terucap dari bibir Meisya. Laki-laki yang masih terlihat mengenakan stelan kantor itu, ikut melangkah keluar dari dalam apartemen calon istrinya.
"Ambil baju pengantin atau ngecek hotelnya?" Tanya Meisya sambil melangkah mengikuti Gio menuju lift.
"Makan dulu, next minum obat." Jawab Gio, lalu meraih tangan Meisya dan membawanya masuk ke dalam lift menuju lobi apartemen.
"Jangan baperin aku. Aku tuh cepat jatuh cinta loh. Dan kalau aku sudah jatuh cinta pada seseorang, akan sangat sulit bagi orang itu untuk kembali terlepas dari genggaman aku. Aku egois banget, Gio." Ucap Meisya
"Aku suka itu." Jawab Gio acuh., tanpa berniat melepaskan genggamannya di tangan Meisya. Laki-laki itu tersenyum karena calon istrinya itu terus saja menatap wajahnya. "Gimana? Sudah jatuh cinta padaku belum? Ini sudah sebulan loh, move on dong." Kali ini dirinya lah yang sudah menatap lekat ke arah Meisya.
"Dasar!" Ucap Meisya.
Dentingan lift terdengar, menandakan bahwa kotak besi yang sedang membawa mereka, sudah tiba di lantai yang mereka tuju. Keduanya lantas keluar dari sana, masih saling menggenggam menuju mobil yang sedang terparkir di pelataran.
__ADS_1
Jangan khawatir tentang apapun yang terjadi dalam hidup. Allah tidak pernah salah memilihkan seseorang untuk hadir dalam hidup kita. Bahkan jika pun nanti seseorang itu hanya sekedar singgah tetap saja masih ada kebaikan yang bisa kita petik dari pertemuan itu.
****
Jika di Singapura, Meisya sedang berbahagia karena menyiapkan pernikahannya. Di Indonesia, Riyan pun sama bahagia nya setelah sebulan berlalu. Meskipun masih terlihat batas di antara keduanya, Zahra tetap melakukan tugas nya sebagai seorang istri dengan baik.
Terluka tidak membuatnya membenci orang lain. Sejak awal dia sudah menyadari jika luka yang dia terima karena kesalahannya sendiri.
"Assalamualaikum."
Ucapan salam dari pintu kamar yang di biarkan terbuka, membuat Zahra menoleh. Senyum hangat yang selalu saja membuat jantungnya berdebar, nampak terlhat dari ambang pintu kamar tidurnya. Dengan hati-hati Zahra beranjak dari atas lantai yang beralaskan permadani di dalam kamar itu, lalu melangkah menuju laki-laki yang masih menatapnya dari ambang pintu kamar tidur mereka.
"Wassalamu'alaikum, Mas.' Jawabnya sambil mengulurkan tangannya dan menyalami punggung tangan suaminya itu takzim. "Ini apa, Mas?" Tanya Zahra heran saat Riyan mengulurkan sebuah paket berwarna cokelat ke arahnya.
Riyan menggeleng.
"Aku ga tahu, itu dari Singapura, Meisya yang mengirimnya." Jawab Riyan merasa tidak enak. Ingin sekali ia menyembunyikan amplop itu, tetapi sejak awal ia tidak ingin terperangkap dalam kebohongan. Meskipun nanti akan menyakiti Zahra, tetap saja ia harus terbuka dalam hal apapun.
"Aku buka ga apa-apa, kan?" Tanyanya,.
Riyan kembali mengangguk.
"Aku mandi dulu." Pamitnya. Ia lalu memberanikan diri membawa Zahra dalam pelukan. Mengecup puncak kepala istrinya itu berulang kali. Tak lupa pula mengusap lembut perut istrinya yang mulai terlihat. Setelah melakukan itu, Riyan lantas melangkah menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi. Ini pertama kalinya ia memberanikan diri melakukan hal se intim itu setelah pertemuan mereka sebulan yang lalu.
Zahra yang di perlakukan seperti itu, hanya bisa mematung di tempatnya, sambil menatap punggung kokoh Riyan yang baru saja menghilang di balik pintu kamar mandi.
Gemercik air di dalam kamar mandi mulai terdengar. Zahra menutup pintu kamar tidurnya, lalu melangkah menuju ranjang untuk membuka amplop yang di kirimkan Meisya untuk suaminya. Bukan suaminya, tetapi suami mereka. Dengan dada yang terus berdebar, Zahra membuka kotak itu dengan hati-hati.
Meskipun berulang kali ia menguatkan hati dan menyerahkan semua yang terjadi dalam hidupnya pada sang pemilik takdir, tetap saja mendapati sesuatu seperti ini, membuat jantungnya seakan ikut keluar dari tempatnya.
Dengan hati-hati, Zahra menarik isi dari dalam kotak berukuran sedang itu, satu per satu.
tangan Zahra bergetar saat melihat gaun kecil lengkap dengan sepatu dan aksesoris nya. Tidak lupa ia mengambil kartu yang menempel di plastik yang membungkus gaun kecil itu.
__ADS_1
"Aku suka keponakan ku perempuan."
zahra tersenyum bersama air mata yang menetes di sudut matanya.
"Alhamdulillah, aku ikut bahagia, Mbak. Tidak, aku bahkan tidak pernah lupa menyebut nama mu di setiap sujud ku, Mbak." Lirih Zahra saat melihat sebuah undangan pernikahan yang begitu mewah dan bertuliskan nama Meisya di sana.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Riyan khawatir. Saking takutnya terjadi sesuatu pada Zahra, ia melangkah keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk putih yang melilit di tubuh nya.
"Mbak Mei akan menikah, Mas." Zahra mendongak, menatap laki-laki yang sedang berdiri menjulang di hadapannya. Beberapa saat kemudian, matanya terbelalak karena melihat Riyan hanya mengenakan handuk putih.
"Ada apa dengan wajah mu? Kenapa merah begitu?" Tanya Riyan sambil tersenyum geli.
Zahra hendak beranjak dari atas ranjang tempat dia duduk, namun, tubuhnya segera di hadang oleh tubuh tinggi Riyan.
"Dasar mesum!" Zahra mendorong tubuh yang hanya berlilitkan handuk itu dengan sekuat tenaga, lalu keluar dari dalam kamar untuk memberitahukan kabar bahagia yang di kirim Meisya hari ini.
Jangan takabur atas apapun yang ada pada diri kita. Allah adalah pengatur terbaik. DIA adalah perencana sistematis yang tidak akan bisa di lampaui oleh manusia. Yah, DIA-lah maha segalanya.
*****
~ TAMAT~
*NoteAuthor
Bonus chapter nanti akan berisi tentang kehidupan Meisya setelah menikah dengan Gio yaa...
Dan kelanjutan dari ini juga ada di nupel baru ku..
~ Langit Senja Di Ujung Samudra ~
Masih ingat kan scane Ayura dan Samudra, anak angkatnya Meisya dan Gio di nupel ku Wanita kedua. Langit Senja Di Ujung Samudera kelanjutan dari kisah mereka. Nanti akan aku kabari di sini kalau sudah publish.
Terimakasih untuk sumbangan vote, gift, like dan komentar positifnya. Love sekebun buat kalian semuanya.
__ADS_1