Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 28. Mencari Ketenangan Jiwa


__ADS_3

Dua bulan sejak kepergian Riyan ke Singapura. Kini, Zahra mulai kembali mengumpulkan kepingan hati yang sudah di patahkan oleh laki-laki itu. Tidak, bukan di patahkan oleh laki-laki itu, tapi di patahkan oleh harapannya sendiri yang terlalu tinggi berharap pada manusia. Saat Riyan mengatakan tidak ingin melepaskan dirinya, saat itu juga tumbuh sebuah harapan yang akhirnya mematahkan hatinya sendiri.


Bodoh memang. Sejak dulu dia selalu mengingatkan hatinya agar jangan menaruh harapan pada siapapun, selain kepada Allah, karena pasti akan menyakitkan. Namun, karena rasa cinta yang entah mengapa begitu cepat tumbuh mekar di dalam hati nya, kini ia harus menerima kesakitan itu. Dan hari ini, ia masih harus berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan kembali hati yang telah patah itu. Berusaha untuk kembali mencari ketenangan jiwanya yang sudah dua bulan ini rapuh.


Pemandangan indah di tengah kota Palembang, begitu memanjakan mata. Cahaya lampu yang menghiasi jembatan yang berada di tengah-tengah kota Palembang, nampak begitu indah.


"Ini namanya jembatan Ampera, Ra." Suara lembut itu menyadarkan Zahra dari lamunan.


"Indah ya, Kak." Jawab Zahra.


Rahmat mengangguk membenarkan. Jembatan ini memang ikon dari kita Palembang. Jembatan yang membentang di sungai Musi itu, akan terlihat jauh lebih indah jika di lihat di malam hari.


"Jangan pernah menyesali sebuah peristiwa dalam hidupmu, termasuk seseorang yang Allah hadirkan untukmu. Karena Allah tidak mungkin mempertemukan dua orang atau lebih tanpa alasan dan tujuan. Bisa jadi dia yang merubah hidupmu, atau sebaliknya kamu yang merubah hidupnya. Tapi yang pasti setiap seseorang yang Allah hadirkan selalu memberikan kita pelajaran, baik yang tetap tinggal ataupun ia yang hanya sekedar singgah." Ujar Rahmat berusaha meyakinkan Zahra, agar adik sepupunya itu tahu jika semua hal yang terjadi dalam hidup, sudah di rencanakan dengan sangat baik oleh Allah.


"Aku yang salah, Kak. Dia sudah berusaha yang terbaik untuk tidak menyakiti siapapun. Tapi aku yang menyakiti diri ku sendiri dengan harapan ku." Jawab Zahra sambil melemparkan pandangannya jauh ke luasnya sungai.


"Ayo, Umi dan Abu pasti sudah menunggu kedatangan kita." Ajak Rahmat. "Nanti jika ada waktu luang, aku bakal ajak kamu ke tempat ini lagi. Kita mampir ke sini. Aku bakal ajak kamu ke Benteng Kuto, kita makan pempek di sana." Imbuhnya.


Zahra mengangguk semangat. Sepertinya, ia akan kembali mendapatkan ketengan jiwanya di sini. Yah, dia tidak salah memilih untuk datang ke tempat ini. Selain Palembang masih nampak begitu indah dengan pemandangan kota yang asri, juga karena ia memiliki keluarga yang luar biasa di sini.


Lelaki tampan yang memiliki nama panjang Rahmat Hidayatullah itu mengajak Zahra untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju pondok pesantren yang akan di tinggali Zahra selama di Palembang.


Zahra pun patuh. Setelah beberapa saat menikmati indahnya malam di ibu kota Sumatra Selatan itu, ia ikut masuk ke dalam mobil milik Rahmat dan meninggalkan jembatan itu menuju pesantren.

__ADS_1


Mobil mulai melaju meninggalkan tempat persinggahan mereka. Hening mengambil alih mobil, tidak ada lagi suara yang terdengar di sana. Hanya suara gemuruh mesin yang terdengar dengan jelas.


Rahmat pun tidak bersuara untuk mengorek lebih banyak informasi tentang permasalahan yang sedang menimpa adik sepupunya ini. Akan tetapi, ia sudah mengetahui inti dari permasalahan yang sedang di hadapi Zahra, dari adik ibu nya di panti asuhan di Bogor.


Bukan karena tidak peduli pada masalah Zahra, akan tetapi ada batas yang tidak boleh di langkahi oleh nya, walaupun keduanya masih memiliki ikatan kekeluargaan yang begitu dekat.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Rahmat mulai memasuki gerbang pesantren. Seorang wanita paruh baya yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan putra dan keponakannya, segera melangkah keluar dari rumah nya, untuk menyambut Zahra yang baru saja tiba.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" Tanya Umi Kalsum setelah memeluk tubuh keponakannya yang sudah lama tidak bertemu.


"Alhamdulillah. Allah masih memberi Zahra kesehatan, Umi." Jawab Zahra.


"Ayo masuk." Ajak wanita paruh baya itu sambil merangkul pundak keponakannya.


"Wah Zahra sudah besar ya sekarang." Hanifah yang baru saja membantu menidurkan putranya, ikut memeluk tubu Zahra.


"Iya, Mbak. Sudah lama ya kita tidak bertemu." Jawab Zahra setelah pelukan mereka terlepas.


Zahra lalu beralih menyalami punggung tangan laki-laki paruh baya yang mereka sebut dengan panggilan Abi. Kemudian berpindah kada suami Fatimah. Zahra mengatupkan kedua tangannya di dada, dan lelaki yang sudah jauh lebih tua dari nya itu, melakukan hal yang sama pula.


Keluarga itu menyambut kedatangan Zahra dengan sangat ramah. Bahkan, mereka membicarakan banyak hal, sehingga membuat gadis itu melupakan sejenak kesedihan yang sedang di alaminya.


Peran keluarga dalam hidup memang begitu di perlukan. Terbukti, saat ini ketika semua mulai terasa begitu berat, perlahan mulai terasa biasa saja karena bertemu dengan keluarga Rahmat.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak akan tinggal di rumah ini?" Tanya Umi Kalsum pada keponakannya.


Zahra mengangguk membenarkan. Kedatangannya ke pesantren ini, bukan hanya untuk menenangkan hati, tetapi juga ingin kembali belajar ilmu agama di tempat ini, agar pikirannya akan selalu bisa berpikir jernih walau seberapa berat masalah yang sedang dia hadapi.


"Apa kamu akan nyaman di sana, Nak? Tanya laki-laki paruh baya yang sedang duduk di hadapan Zahra.


"Iya Abi. Sepertinya, dengan keramaian akan membuat Zahra merasa lebih baik. Belajar bersama mereka dan masih banyak hal positif lain yang ingin Zahra lakukan bersama dengan mereka..


Meskipun sedikit berat hati, sepasang suami istri itu akhirnya menyetujui permintaan Zahra yang ingin tinggal di dalam asrama putri.


"Nanti, Mbak akan antar kamu ke sana. Oh iya, di sana ada calon istrinya Rahmat, tapi gadis itu tidak tahu jika laki-laki yang sedang di jodohkan dengannya adalah Rahmat." Ujar Hanifah menjelaskan... "Namanya Anisa." Sambungnya.


Zahra mengangguk mengerti. Sejenak ia menatap Rahmat yang masih diam di tempat duduknya. Padahal yang sedang menjadi bahan pembicaraan di dalam ruangan itu, adalah laki-laki itu.


"Tapi karena ini sudah malam, kamu nginap aja di sini. Besok baru Mbak antar kamu ke sana." Ujar Hanifah lagi.


Setelah beberapa saat berbincang di ruangan itu, Umi Kalsum meminta putri nya agar mengantar Zahra ke kamar untuk beristirahat. Karena memang hari semakin malam. Belum lagi, Zahra memang harus beristirahat karena lelah setelah penerbangan dari Jakarta ke Palembang.


****


* Note Author


Yang penasaran sama kisah nya Rahmat dan Anisa, yuk mampir ke nupel bestie aku, Syitahfadilah yang berjudul Istikharah Cinta ♥️

__ADS_1


__ADS_2