Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 29. Kabar Bahagia Tapi Menyedihkan


__ADS_3

Tiga bulan sudah berlalu setelah kepergian Riyan ke Singapura. Namun, hati nya masih sama. Hati yang sedang ia usahakan untuk melupakan, justru semakin mencintai laki-laki itu. Entah takdir apa yangs Edang Allah persiapan untuk nya, sehingga membuatnya harus tersiksa dengan kehadiran laki-laki itu di hatinya.


"Mbak Zahra kenapa pucat sekali?" Tanya Anisa. Gadis cantik berhijab itu, mendekati wanita yang sudah dua bukan ini menempati asrama tempat dirinya berada.


"Aku baik-baik saja, Nis." Jawab Zahra pelan. Senyum manis di bibirnya terlihat, sambil menatap wajah cantik Anisa dengan begitu lekat.


Yah, gadis di hadapannya ini sangat cantik. Tidak hanya wajahnya yang cantik, tetapi hatinya juga. Pantas saja, Kakak sepupunya begitu menginginkan gadis ini.


"Nis.." Panggil Zahra.


"Iya, Mbak?" Tanya Anisa.


"Jika ada seseorang yang berniat baik, jangan menolaknya. Jika jawaban mu hanya karena belum siap, maka kamu salah besar. Karena sampai kapan pun, kita tidak akan pernah benar-benar siap menerima sesuatu. Yang perlu kita lakukan hanyalah, berusaha melapangkan hati menerima semua ketetapan Allah." Ujar Zahra.


Anisa yang tidak mengerti arah pembicaraan Zahra, hanya terdiam di atas tempat duduk nya.


"Kamu percaya kan jika Ayah dan Ibu mu begitu menyayangi mu?" Tanya Zahra.


"Tentu saja, Mbak." Jawab Anisa. Tiba-tiba rasa rindu pada dua orang itu, kembali menyeruak.


"Apa kamu tidak ingin menanyakan laki-laki seperti apa yang di siapkan perang tuamu, padamu?" Tanya Zahra lagi.


Anisa hanya terdiam. Membahas tentang perjodohan itu dengan orang lain, sedikit membuatnya tidak nyaman.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menanyakan masalah pribadi mu." Ujar Zahra.


Anisa menggeleng.


"Sama seperti Mbak Zahra, aku pun pergi ke tempat ini untuk menemani hati. Mencari jalan terbaik dari permasalahan yang sedang ku hadapi, dengan mendekatkan diri pada Allah." Jawab Anisa lugas.

__ADS_1


Zahra tersenyum, kemudian mengangguk mengerti. Yah, semua orang di dunia sedang bertarung dengan masalah mereka masing-masing. Dan kita sebagai penonton, tidak boleh berlebihan dalam memberikan pendapat. Mengapa? Karena hanya sebagai penonton, dan bukan pemerannya.


Tidak jauh berbeda dengan dirinya. Mungkin di luar sana, banyak yang menghakimi tentang hubungannya dengan Riyan. Namun, orang-orang itu pun hanya menjadi penonton, bukan pemeran sama seperti dirinya. Tidak ada yang lebih tahu tentang sesuatu yang sedang terjadi, selain orang itu sendiri.


"Mbak ke kamar mandi dulu, ya." Pamit Zahra.


Anisa mengangguk sambil terus menatap lekat wajah pucat Zahra. Dia tahu, wanita yang sudah dua bukan berada di tempat nya ini, tidak sedang baik-baik saja.


Dan dugaannya benar, baru saja beberapa langkah, Zahra langsung ambruk di atas lantai.


"Mbak.." Teriak Anisa terkejut. Gadis cantik berhijab itu, langsung beranjak dan melangkah cepat menuju Zahra yang tidak lagi sadarkan diri.


Tanpa membuang waktu, Anisa meminta beberapa santri yang berada di asrama itu untuk memberitahukan apa yang terjadi pada pemilik pesantren. Sedangkan yang lain, membantunya membopong tubuh Zahra menuju tempat tidur.


Beberapa saat kemudian, Hanifah dan seorang dokter umum perempuan tiba di asrama di mana Zahra berada.


Anisa meminta para santri untuk kembali ke kamar masing-masing, dan memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa Zahra.


"Sepertinya pasien ini sedang hamil muda. Tapi alangkah baiknya untuk langsung memeriksa kan diri ke dokternya langsung di rumah sakit terdekat." Jawab Dokter itu.


Hanifah terdiam beberapa saat. Berbeda dengan Anisa, raut terkejut di wajah cantik nya tidak bisa ia sembunyikan.


"Nanti akan saya buatkan resep vitamin. Untuk selebihnya, nanti minta langsung ke dokter ahlinya ya, Ustadza." Ujar dokter itu lagi.


Hanifah mengangguk sambil menatap sedih adik sepupunya. Bagaimana nanti jika Zahra mengetahui apa yang sedang ia alami. Suaminya sudah memilih pergi dan memilih hidup berbahagia dengan wanita lain, sedangkan dia sedang mengandung anak laki-laki itu..


Setelah berpamitan pada Anisa, dan menitipkan Zahra pada hadis itu, Hanifa kembali melangkah keluar dari asrama putri, untuk mengantarkan dokter yang baru saja membantu memeriksa Zahra.


Beberapa saat kemudian, Rahmat datang untuk memindahkan Zahra ke rumah pribadi kedua orang tuanya, atas perintah sang Abi, agar Zahra bisa beristirahat dengan baik. Umi Kalsum pun tidak lupa langsung mengabari adiknya mengenai keadaan Zahra.

__ADS_1


****


Di kediaman Kenan, Eliana terdiam tanpa kata di atas sofa mewah di rumah nya. Kabar yang ia terima dari Ibu nya Zahra membuat hatinya semakin sedih.


Bukan karena keadaan Zahra yang sudah jauh dari hidupnya. Tetapi karena ia tidak memiliki kekuatan untuk menentukan ke mana arah kehidupan putranya, hingga harus mengorbankan Zahra dan cucunya.


Kenan yang sejak kepergian Riyan selalu siap sedia membantu istri nya, juga terdiam tanpa bisa melakukan apapun. Seharunya, kabar itu menjadi kabar bahagia di dalam keluarga nya. Namun, kini mendengar kabar kehamilan Zahra, justru semakin membuat mereka semakin sedih kala mengingat kehidupan mantan menantu mereka itu.


"Jangan, Sayang." Cegah Kenan saat Eliana hendak menuliskan pesan untuk putranya.


"Dia harus tahu, Bang. Aku ga jadi ibu mertua yang tidak adil. Riyan harus tahu bagaimana keadaan Zahra saat ini." Mohon Eliana agar di beri izin untuk memberi tahu tentang keadaan Zahra pada putra mereka.


Kenan kembali menggeleng.


"Kamu akan kembali merusak hubungan yang sedang di usahakan Riyan kembali membaik." Cegah nya.


"Aku hanya akan mengatakan, Zahra hamil dan baik-baik saja." Pinta Eliana lagi.


Kenan menghembuskan nafasnya perlahan. Melihat permohonan di mata istrinya, membuat nya tidak sampai hati terus menahannya..


Setelah mendapat izin dari Kenan, Eliana segera menuliskan pesan untuk Riyan. Sama seperti yang ia katakan pada Kenan tadi, bahwa ia hanya akan memberi tahukan kabar kehamilan, dan meminta putra nya itu untuk tidak khawatir karena Zahra baik-baik saja.


Eliana begitu terkejut saat pesan yang di kirimkan, langsung di jawab oleh putranya. Namun, jawaban yang ia terima justru semakin membuat hatinya sedih.


"Sayang..." Kenan meraih ponsel yang ada di tangan istrinya, dan membaca balasan pesan itu dengan seksama.


"Kenapa dia menyentuh Zahra jika memang hanya ingin hidup dengan Meisya. Seharusnya dia tidak menawarkan diri dan menikah dengan Zahra." Ucap Eliana sedih.


Kenan menarik tubu Eliana, lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Kita hanya perlu membuka hati untuk menerima semuanya, Sayang. Akan ada hak baik dari kejadian ini. Aku percaya, Zahra tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Gadis itu memilih berpisah, agar kita semua tidak terus terjebak dalam masalah yang rumit ini berlarut-larut." Bujuk Kenan.


Eliana mengangguk mengerti, namun, air mata nya tidak berhenti mengalir membasahi pipinya.


__ADS_2