
Mobil yang di kendarai Riyan mulai melaju perlahan meninggalkan Villa yang menyimpan kenangan indah bagi Zahra. Wanita yang baru beberapa jam lalu melepas kegadisannya itu, terus tersenyum degan pipi memerah kala mengingat kejadian semalam.
"Kamu ngga sedih? Sebentar lagi aku akan tinggalin kamu, Ra." Ucap Riyan lirih.
Senyum di wajah cantik Zahra, juga rona di pipi istrinya itu membuat hatinya merasa tidak nyaman. Bagaimana bisa, Zahra terus tersenyum bahagia sementara tinggal beberapa jam lagi mereka akan berpisah.
Mendengar pertanyaan lirih dari bibir Riyan, seketika senyum di wajah Zahra menghilang. Berganti wajah tegas, yang selama ini tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun.
"Jika nanti telah kembali ke Jakarta, jangan memperlihatkan raut wajah seperti ini pada Mbak Meisya. Aku akan marah pada mu, Mas. Jangan sakiti dia lagi." Ujar nya tegas.
"Ra, aku akan ninggalin kamu setelah mengambil kesucian mu, apa kamu akan tetap baik-baik saja?" Tanya Riyan.
"Aku hanya menunaikan kewajiban ku, Mas. Dan kamu pun hanya mengambil hak kamu, hanya itu! Aku akan lebih sedih, jika mendapati diriku masih dalam keadaan suci, padahal aku sudah menikah. Aku merasa menjadi wanita yang tidak di inginkan oleh suamiku, dan itu menyakitkan. Jauh lebih sakit, saat merelakan kamu pergi bersama wanita yang seharusnya berada di sisi mu sejak dulu." Jawab Zahra. "Aku akan baik-baik saja. Dengan menyerahkan itu, aku merasa tidak lagi memiliki hutang atas pernikahan kita." Imbuhnya.
Riyan tidak menjawab. Lelaki itu bahkan tidak sanggup walau hanya untuk menatap wajah Zahra, ketika istrinya itu berbicara. Entah mengapa, setiap kali mendengar kalimat yang keluar dari bibir istrinya ini, ia semakin merasa menjadi laki-laki pecundang.
"Ngga usah masuk. Mas langsung balik aja." Zahra menahan tangan Riyan yang hendak membuka pintu mobil dan berniat keluar dari sana.
"Ra, aku mau bertemu Ibu. Aku ingin meminta maaf pada beliau karena harus memperlakukan kamu seperti ini." Ujar Riyan memohon. Namun, Zahra menggeleng...
__ADS_1
"Pulanglah, Mas. Ibu, biar aku yang menjelaskan padanya tentang semua yang terjadi di antara kita." Jawab Zahra. "Pulanglah." Pintanya lagi kemudian membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.
Tapi bukan Riyan jika akan melepaskan wanita yang dia cintai itu, begitu saja. Ia menarik tubuh Zahra lalu memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat.
"Terimakasih untuk hadiah perpisahan yang begitu istimewa."Ucapnya.
Zahra menarik tubuhnya lalu menatap Riyan sambil tersenyum.
"Jangan mengingat apa yang terjadi semalam adalah sebuah hadiah perpisahan. Aku tidak mau Mas akan terus mengenangnya. Anggap saja, itu sesuatu hal yang biasa saja yang memang harus di berikan seorang istri pada suaminya. Setelah bertemu Mbak Mei, lupakan apapun yang terjadi di sini. Tinggalkan semua itu di sini, jangan membawanya lagi. Mulailah menjalani kehidupan baru bersama Mbak Mei. Aku akan jauh lebih bahagia, jika Mbak Mei akan kembali bahagia seperti dulu. Melihat hubungan kalian akan kembali seperti dulu sebelum aku hadir, akan membuat pengorbanan ku hari ini tidak menjadi sia-sia."Ujar Zahra panjang lebar.
Riyan hanya bisa terdiam, sambil menatap wajah cantik istri nya itu dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Dadanya seakan mau pecah, setiap kali melihat Zahra berusaha menguatkan hati, walau ia tahu wanita yang ada di hadapannya ini sama terlukanya dengan Meisya.
Beberapa saat mobil yang baru saja mengantarkan dirinya itu, masih belum juga bergerak. Lelaki yang berada di dalam nya, hanya kembali membuka kaca jendela mobil dan menatapnya sendu.
"Aku mencintaimu, Zahra. Sangat mencintai mu." Ucap Riyan lagi.
"Aku tahu. Pergilah. Tinggalkan rasa cinta itu di sini, biar aku yang menjaganya." Jawab Zahra.
Dengan berat hati, Riyan akhirnya mulai melajukan mobilnya meninggalkan jalanan di mana Zahra berada.
__ADS_1
Setelah mobil milik Riyan menghilang di ujung jalan, tubuh Zahra ambruk di sisi jalan itu. Beberapa Minggu ini, ia berusaha menguatkan kakinya hanya agar terlihat baik-baik saja. Namun, hari ini, semuanya terasa begitu berat. Hatinya remuk, jiwanya terkoyak. Inti tubuhnya masih terasa perih karena ia memasrahkan sesuatu yang paling berharga di tubuhnya, pada seseorang yang juga berharga dalam hidup nya.
Katakanlah dirinya begitu bodoh, namun, itulah yang ingin dia lakukan. Bukan hanya karena ingin menunaikan kewajiban seorang istri terhadap suaminya, namun, ia memang ingin memberikan itu pada seseorang yang ia anggap berharga.
Cukup lama Zahra menangis di sana, sambil memukul-mukul dadanya karena menahan sesak. Ini adalah hal terberat setelah Rayan pergi. Beberapa tahun bersama Rayan, ia tidak sampai seterluka ini karena di tinggal pergi oleh laki-laki itu. Bukan karena ia tidak mencintai Rayan, namun, sejak dulu seluruh keluarga sudah tahu jika Rayan tidak akan berumur panjang karena sakit yang di deritanya.
Namun, berbeda dengan Riyan. Saat laki-laki itu menyatakan ingin menikah dengannya, perasaan cinta yang baru mulai tumbuh mekar di hati. Perlakuan Riyan yang begitu baik terhadap dirinya, semakin memupuk rasa cinta itu. Dan kini, ia harus merelakan laki-laki yang dia cintai, hidup bahagia bersama wanita lain yang memang lebih berhak mendapatkan cinta Riyan dari pada dirinya.
Setelah puas menangisi dirinya, Zahra beranjak dari atas aspal itu. Beberapa orang yang melewati jalan, menatap heran padanya. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Wajah dan pakaiannya ia rapikan. Lalu dengan hati-hati, Zahra menarik koper menuju jalanan kecil yang akan membawanya ke panti asuhan yang sudah lama ia tinggalkan.
Kehidupan baru tanpa Riyan akan ia mulai dari sini. Menghapus perlahan-lahan, cinta yang sudah terlanjur tumbuh mekar di dalam hatinya. Mulai menghapus dua nama yang memang hanya Allah beri waktu untuk singgah, bukan untuk menetap di hidupnya.
Meskipun itu tidak muda, namun, tidak ada yang mustahil. Cinta tidak akan salah pada siapa dia berlabuh. Namun, terkadang kita juga harus bisa menggunakan logika untuk berpikir, jika cinta itu memang tidak di takdir kan kita miliki, maka kita pun harus berbesar hati merelakan nya untuk pergi bersama cinta yang seharusnya.
***
*NoteAuthor
Maaf jika membuat kalian kecewa dengan plot nya. Tapi ceritanya memang seperti ini, dan semua akan bahagia di akhir cerita. Protagonis wanita dalam kisah ini, adalah Zahra. Tapi bukan berarti Meisya Antagonis. Tidak yaa, aku tidak menciptakan tokoh jahat dalam novel ini. Jadi tetap ikuti saja sampai ending cerita. Seperti novel ku yang lain, konflik nya tidak akan banyak, dan setelah semua selesai ceritanya pun selesai 🤗❤️
__ADS_1