
Meisya Menggenggam erat ponsel milik Riyan yang baru saja ia gunakan untuk membalas pesan dari Ibu mertuanya. Anggap saja ia begitu lancang karena berani membuka pesan dan membalas pesan di ponsel suaminya.
Yah, benar kata orang-orang. Lebih baik kita tidak melajukan hal sembarangan. Melewati batas pada milik pribadi seseorang, karena jika kita mendapati sesuatu yang kurang baik di dalam nya, pasti kita sendiri yang akan terluka. Jika Zahra sedang hamil, itu berarti selama ini Riyan membohonginya.
Sejak dulu dia tidak percaya jika tidak akan ada nafkah batin untuk Zahra. Yah, itu hak yang mustahil di tahan oleh pasangan halal yang setiap hari tidur di dalam kamar yang sama.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Meisya masih berdiri di depan jendela kamar dengan tirai yang di ajarkan terbuka. Menatap jalanan yang masih di penuhi lalu lalang kendaraan, sambil menggenggam erat ponsel Riyan.
"Dokter kan sudah memperingati agar jangan dulu menggunakan kakimu, sebelum benar-benar sembuh, Mei." Riyan meletakan nampan berisi air putih dan beberapa butir obat untuk Meisya di atas nakas, lalu melangkah mendekati istrinya itu.
"Yan.." Meisya membalik tubuhnya, lalu menatap wajah Riyan dengan lekat.
"Ada apa?" Tanya Riyan lembut. Laki-laki itu semakin memangkas jarak, mendekati istrinya yang masih berdiri di pinggir jendela kamar mereka.
"Aku tahu mengapa sampai saat ini kamu tidak pernah menyentuh ku." Ucap Meisya.
"Pernikahan kita tidak sah di mata agama. Aku berniat, setelah kamu benar-benar sembuh, aku akan kembali melamar mu dengan baik pada Om Erland dan Tante Friska." Jawab Riyan.
Meisya kembali membalik tubuhnya, lalu menatap lalu lalang kendaraan di bawah sana.
"Jangan melakukan nya lagi." Ucap Meisya pelan.
"Jangan membahas ini, Mei. Aku sudah memantapkan pilihan. Ayo aku bantu minum obat, lalu istirahat. Sebentar lagi aku mau ke tempat kerja." Ujar Riyan. "Ngga usah mikir macem-macem. Biar aku yang mengurus semuanya. Ibu, Ayah, Om Erland dan Tante Friska akan datang ke Singapura, dan kita akan melangsungkan pernikahan yang sebenarnya di sini." Sambung Riyan.
__ADS_1
Meisya tidak menjawab. Ia hanya patuh, dan melangkah perlahan menuju ranjang. Entah karena hatinya yang sudah terlalu lelah untuk marah tentang kenyataan yang ia terima hari ini, ataukah ia mulai sadar, sekuat apapun ia menahan Riyan di sini, tidak akan pernah ada lagi bahagia yang dulu ia angan-angankan.
Setelah membantu Meisya duduk di atas ranjang, Riyan bergegas mengambil nampan yang ia letakkan di atas nakas, lalu kembali naik ke atas ranjang di mana Meisya berada.
Dengan hati-hati, Riyan membantu istrinya itu meminum setiap butir obat yang sudah ia siapkan, lalu kembali meletakkan nampan yang ada di pangkuannya, ke atas nakas di samping ranjang.
"Kamu istirahat, aku mau siap-siap ke tempat kerja. Nanti siang aku balik lagi." Riyan membantu Meisya berbaring nyaman di atas ranjang.
Meisya mengangguk, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Yan.." Tahan Meisya di tangan Riyan, saat laki-laki itu hendak beranjak dari atas ranjang.
"Hm..." Riyan mengusap rambut Meisya, sambil menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh istrinya itu.
Meisya menutup matanya. Menikmati usapan lembut di puncak kepalanya.
Riyan menghentikan usapan lembut nya di puncak kepala Meisya, lalu menatap istrinya itu dengan hangat.
"Tante El merindukan mu, Yan." Ucap Meisya lagi.
"Ibu menelpon?" Tanya Riyan sambil melihat ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.
"Enggak kok." Jawab Meisya.
__ADS_1
"Uda ga apa-apa. Tante Riska dan Om Erland juga pasti sangat merindukan kamu. Nanti juga mereka akan ke sini. Makanya kamu cepat sembuh, biar kita benar-benar akan menikah seperti yang sudah kita rencanakan dulu." Ujar Riyan. Ia lalu kembali beranjak dari atas ranjang untuk bersiap berangkat ke tempat kerja..
"Zahra hamil." Ucap Meisya sontak membuat langkah kaki Riyan terhenti. "Ibu baru saja mengirim pesan pada mu." Sambungnya tak kuasa menatap wajah Riyan.
"Mei...
"Pergilah, Yan. Kita tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Dan aku, tidak akan pernah benar-benar bahagia selama ada wanita lain yang terluka. Mungkin aku bisa egois mengenai Zahra, tapi tidak dengan darah daging mu." Ujar Meisya lagi.
"Itu pilihannya, Mei. Dan aku di sini, adalah pilihan ku." Riyan kembali melanjutkan langkahnya. Kabar bahagia yang baru saja di ucapkan Meisya, memang begitu mengganggu. Namun, semua itu sudah menjadi pilihan Zahra.
"Sejak kapan kalian membohongi ku? Tidak bukan kalian, tapi kamu. Sejak kapan kamu meniduri nya?" Tanya Meisya. Anggap saja dia bodoh karena masih ingin mencari tahu sesuatu yang akan semakin menghancurkan hatinya.
"Aku tidak ingin membahas sesuatu yang tidak perlu di bahas. Di sini, di tempat ini aku hanya ingin mengurus tentang kita berdua." Ujar Riyan.
"Dasar pengecut. Kamu pecundang, Riyan. Kamu benar-benar laki-laki jahat." Maki Meisya kesal.
"Itu kamu tahu. Kamu tahu aku brengsek sekarang. Aku benar-benar jahat karena meninggalkan Zahra setelah puas meniduri nya semalaman. Aku benar-benar brengsek karena tetap memilih pergi setelah menikmati suci tubuhnya. Apa kamu tahu semua yang aku lakukan itu demi siapa? Demi kamu. Aku ke tempat ini semua demi kamu. Aku rela ikut terluka batin karena sudah memperlakukan Zahra dengan hina, hanya demi kamu." Kesal Riyan.
"Kalau begitu pergilah. Temui dia. Kita tidak akan pernah bahagia seperti dulu. Cinta di antara kita sudah terhapus oleh mu. Aku tidak lagi memiliki tempat istimewa di hati mu, Yan. Pulang lah, dan sampaikan maaf ku padanya karena sudah menahan mu terlalu lama di sini." Meisya membalik tubuhnya. Menarik selimut hingga menutupi kepala, kau tersedu di sana.
Riyan tidak jadi meninggalkan kamar itu. Mengambil ponsel yang tergeletak di atas ranjang, kemudian menghubungi seseorang dan meminta maaf untuk datang terlambat.
Setelah meletakkan kembali ponselnya, Riyan ikut merangkak naik ke atas ranjang, dan berbaring di samping Meisya. Memeluk tubuh yang sedang bergetar di bawa selimut itu, dengan sangat erat.
__ADS_1
Entah benar atau tidak yang di ucapkan Meisya, yang pasti ia pun tidak sampai hati meninggalkan wanita ini sendirian di sini.
"Kamu tahu, aku sudah menyakiti kalian berdua. Aku sudah menyakiti mu karena menikahi Zahra. Aku menyakiti Zahra dengan memilih datang bersama mu ke tempat ini. Dan hari ini, aku takut akan kembali melukai mu jika pergi dari sini." Ucap Riyan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Meisya yang berbalut selimut.