Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 32. Memilih Melepaskan Untuk Bahagia


__ADS_3

"Kalian mau ke mana?" Tanya Gio heran. Laki-laki yang sudah rapi dengan stelan kantornya itu, menatap heran pada sepasang suami istri yang sudah berdiri di depan apartemennya.


"Mau ke apartemen kamu." Jawab Meisya.


"Ada apa? Apa kamu sakit?" Tanya Gio.


Meisya menggeleng...


"Tolong antar kan kami ke Bandara." Pinta Meisya.


Gio menatap ke arah Riyan yang sejak tadi terdiam tanpa kata.


"Kalian mau pulang? Bukannya kamu masih butuh perawatan?" Tanya Gio.


"Riyan ada keperluan sebentar di Indonesia." Jawab Meisya.


Gio melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu mengangguk.


Setelah mendapat persetujuan dari Gio, Meisya kembali ke apartemen nya dan Riyan untuk mengambil copet yang berisi pakaian suaminya itu. Riyan dan Gio pun ikut melangkah mengikutinya dari belakang.


Gio yakin ada yang sedang terjadi di antara dua orang ini. Namun, ia enggan untuk menanyakan masalah apa. Karena memang itu bukan lah urusannya.


"Biar aku aja." Pinta Riyan. Laki-laki itu mengambil alih koper yang ada di tangan Meisya, dan menariknya keluar dari sana. Sebelah tangannya terulur, meminta tangan istrinya untuk ia genggam.


Meisya tersenyum, dan langsung memeluk lengan Riyan. Keduanya melangkah keluar dari ruangan itu, menemui Gio yang sedang berdiri di depan apartemen mereka.


****


Mobil yang di kendarai Gio, terus melaju di jalanan Singapura menuju Bandara. Meisya menyandarkan kepalanya di bahu Riyan. Tangan mereka saling bertautan, dan itu tidak lepas dari perhatian Gio melalui kaca spion yang ada di dalam mobil itu.


Cinta memang tidak harus memiliki, namun, tetap saja tidak bisa memiliki orang yang di cintai itu, rasanya sakit. Akan tetapi, dia sinilah letak pengorbanannya.

__ADS_1


Apa seperti ini yang di rasakan Zahra saat mengikhlaskan Riyan untuk nya? Apakah sesakit ini rasanya, saat Zahra melepaskan Riyan untuk nya?


Meisya semakin mengeratkan pelukannya di lengan Riyan, membuat si empunya menoleh menatap wajah yang sedang tersandar di bahu nya.


"Kita masih punya kesempatan, Mei. Aku masih di sini, kamu masih boleh untuk tidak melanjutkan keputusan mu ini." Ujar Riyan. Ia tahu, Meisya sedang tidak baik-baik saja dengan kepergiannya ini.


Meisya segera menggeleng.


"Aku hanya ingin memeluk mu seperti ini untuk yang terakhir kalinya." Jawab Meisya.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Gio sudah terparkir di area parkiran Bandara.


"Aku tuh udah seperti sopir aja." Ujar Gio membuat Meisya tertawa. Berbeda dengan Riyan yang hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat. Ini keadaan yang paling ia benci saat akan berpisah dari Zahra, dan keadaan itu kembali terulang untuk yang kedua kalinya.


"Mei..


"Ayo.." Meisya menarik Riyan masuk ke dalam bandara. Gio yang sudah tahu bahwa sepasang suami istri di hadapannya ini sedang tidak baik-baik saja, meskipun ia tidak tahu masalah seperti apa yang sedang menimpa keduanya, ia memilih untuk ikut masuk ke dalam dan mengantar Riyan.


Mencegah hal-hal buruk terjadi, akan lebih baik dari pada mengobati hal buruk yang sudah terlanjur terjadi.


"Sampaikan maaf ku padanya." Ucap Meisya.


Riyan tidak menggeleng.


"Aku yang salah. Aku yang membawa keadaan menjadi seperti ini. Maka yang seharusnya meminta maaf itu, bukan kamu, tapi aku." Jawab Riyan sambil menakup kedua belah pipi Meisya. Memandang lekat wajah yang mungkin setelah ini tidak akan bisa lagi ia pandang. "Aku akan datang ke rumah Om Erland dan Tante Friska. Meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menjaga putri mereka." Sambung Riyan.


Meisya mengangguk.


"Kamu hati-hati." Jawab nya..


Setelah berpamitan dengan Gio, Riyan mulai melangkah menjauh dari tempat dua orang itu berdiri menuju terminal keberangkatan.

__ADS_1


Setelah tubuh Riyan tidak lagi terlihat, Meisya segera berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu. Air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya. Meskipun hatinya tidak lagi sesakit dulu ketika Riyan mengatakan akan menikahi orang lain, tetap saja air mata nya tidak bisa ia tahan dan begitu saja membasahi pipi nya.


Gio yang sedang mengikuti Meisya dari belakang, tidak bisa melakukan apapun dan hanya terus mengikuti wanita itu dari belakang hingga keduanya tiba di area parkiran di mana mobil mereka terparkir.


"Apa kamu tidak ingin menanyakan apa yang sedang terjadi di antara kami?" Tanya Meisya setelah mobil yang di kendarai Gio mulai melaju meninggalkan Bandara.


Gio menggeleng.


"Masalah dalam hidup ku sudah terlalu banyak." Jawab nya sambil tertawa kecil.


Meisya ikut tertawa dengan butiran air mata yang masih jatuh membasahi pipi.


"Kamu tahu, cara move on yang paling baik adalah nikmati dulu rasa sakitnya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan atau seberapapun waktu yang dibutuhkan. Tapi harus selalu ingat, jangan membuat diri sendiri sakit. Karena pada akhirnya kamu akan mati rasa terhadap orang itu, dan kamu akan lupa rasa sakit yang kamu alami karena dia. Semua pasti sembuh, hingga kamu berada dititik dimana kamu hanya mendengar namanya saja udah gak tertarik. Segala apapun yang menyangkut dia udah malas banget buat tau." Ujar Gio.


Meisya memalingkan wajahnya, menatap pemandangan sungai dengan hati yang terus berdenyut, sakit.


"Percaya padaku, setelah ini kamu akan berterima kasih pada dirimu karena sudah memilih hal yang benar. Tidak semua hak yang singgah, akan menetap." Ujar Gio lagi membuat Meisya mendengus.


"Kamu tuh, ngomongnya udah kayak orang pernah ngerasain aja." Jawab Meisya.


Gio tertawa mendengar kalimat penuh kekekalan itu.


"Mau mendengarnya?" Tanya nya. "Kata orang, jika kita mendengar kesakitan orang lain, itu akan sedikit mengurangi kesakitan yang kita rasakan. Karena sat itu kita akan berpikir, oh sepertinya Allah masih sayang padaku karena ternyata masih ada orang yang jauh tidak beruntung dari ku." Ujar Gio.


Meisya menatap sendu kaki-laki di sampingnya, di ikuti air mata yang semakin membanjiri wajah cantik nya.


"Aku tahu dia bukan lagi milikku, tapi aku tetap bersikeras membantah hal itu. Aku tahu, di hatinya bukan lagi tentang ku, namun, aku terus memaksa memiliki hatinya hanya untuk ku." Jawab Meisya.


"Dan kini kamu sadar, sesuatu yang di paksakan itu pasti hasilnya hanya akan semakin menyakiti, untuk itu kamu memilih untuk melepas nya hari ini. Iya kan?" Tebak Gio.


Meisya kembali berpaling. Benar, itulah yang dia rasakan hari ini.

__ADS_1


"Benar. Aku memilih melepaskan agar nanti bisa meraih bahagia ku sendiri." Jawab nya.


"Tenang saja, Meisya. Waktu pasti akan menghapus nya perlahan." Ucap Gio lagi.


__ADS_2