Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 39. Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Riana melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk memperkenalkan Fikri pada Ayah nya. Gadis itu terus berkonsentrasi dengan kemudi di tangannya.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil itu. Fikri sesekali melirik ke arah Riana yang sama sekali tidak pernah melirik ke arahnya walau sekilas. Permintaan atasan sekaligus pemilik hotel tempat ia bekerja, masih terus terngiang-ngiang di otaknya.


"Apa yang membuat mu tidak ingin menikah?" Tanya Fikri memberanikan diri.


"Jika sendiri kita merasa baik-baik saja, mengapa harus terjebak dalam hubungan yang bisa saja rumit." Jawab Riana. Ia melirik laki-laki yang baru saja memulai percakapan dengannya.


Fikri tersenyum.


"Tidak semua pernikahan itu rumit, Riana." Jawabnya.


"Dan tidak ada rumah tangga yang akan selalu baik-baik saja, Fikri." Sela Riana.


Fiki mengangguk membenarkan. Meskipun ia belum pernah berada dalam hubungan itu, namun, ia tahu siapapun manusia akan selalu menemui masalah dalam hidupnya. Entah dia sudah menikah atau belum, pasti akan menemui ujian hidupnya.


"Rumit dan tidaknya suatu masalah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kamu mau dengar kisah ku sedikit?' Taya Fikri.


Riana tidak menjawab, namun, ia tidak keberatan jika Fikri menceritakan sesuatu yang bisa mnemani mereka dalam kemacetan jalanan Jakarta.


"Aku pernah jatuh cinta dengan seorang gadis dan berniat menikahinya. Namun, ternyata dia sudah memilih melabuhkan hatinya pada seseorang. Setelah dua tahun bersama laki-laki itu, Allah kembali merubah suratan takdir gadis itu, dengan memanggil kekasih nya. Calon suaminya meninggal dunia setelah mereka merencanakan pernikahan. Aku berpikir, akkan ada kesempatan bagiku untuk kembali melanjutkan rasa ku yang masih belum terhapub sepenuhnya untuk gadis itu. Namun, lagi-lagi Allah berkata lain. Ia kembali menghadirkan laki-laki lain untuk gadis itu. Dan saat itu, aku tidak lagi berharap dan percaya jika dia memang tidak di takdirkan untuk ku."


Fikri tersenyum sambil menatap mobil-mobil yang sedang melaju di depan mobil yang sedang membawanya entah ke mana.


"Itulah salah satu alasan mengapa aku tidak mau menaruh rasa pada laki-laki. Belajar dari kisah rumah tangga adik sepupuku. Cinta memang tidak tahu harus pada akhirnya harus berlabuh pada siapa. Bahkan hubungan yang sudah di bangun bertahun-tahun atas dasar cinta, tidak bisa menjamin akan sesurga. Dan aku tidak ingin menghabiskan waktu ku untuk sesuatu yang belum tentu menjadi milik mu." Jawab Riana.

__ADS_1


"Untuk itu jangan mencintai seseorang melebihi cinta mu pada diri sendiri hingga melampaui cintai mu pada pemilik kehidupan." Ujar Fikri membuat Riana terdiam.


Perdebatan di antara keduanya berakhir saat mobil yang tadinya melaju di jalanan, mulai memasuki pelataran rumah sakit.


Riana masih tetap kekeuh dengan keputusannya yang ingin sendiri, meskipun Fikri berulang kali menegaskan, jika pernikahan tidak seburuk yang di pikirkan Riana.


Mungkin benar, jika pernikahan akan memiliki ujian nya masing-masing. Namun, yakinlah rumit atau tidaknya suatu hubungan tergantung dari kita sendiri bagaimana menyikapinya. Dan yang paling penting adalah, tetap berprasangka baik terhadap apapun yang Allah takdirkan untuk kita.


Begitulah yang di percaya Fikri. Jika dulu, ia begitu berharap Zahra akan menjadi bagian dari kisah hidupnya, dan ketika kenyataan tidak yang terjadi tidak sesuai yang diharapkan, dia tetap percaya Allah adalah sebaik-baik pengatur rencana. Dan Allah pasti sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang sedang ia harapkan.


"Dokter Kean sudah tiba, kan?" Tanya Riana pada asisten sang Ayah.


"Iya, Mbak." Jawab gadis berseragam serba putih itu. Ia lalu mempersilahkan dua orang yang ada di depan meja kerjanya untuk masuk ke dalam ruang kerja atasannya.


"Ingat yang aku katakan tadi di cafe!" Ucap Riana memperingati.


"Assalamualaikum." Ucap Fikri saat memasuki ruangan Kean.


Lelaki paruh baya yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di atas meja kerja, mengangkat wajahnya lalu tersenyum hangat saat melihat putrinya masuk bersama seorang laki-laki asing namun memiliki tata krama yang baik.


"Laki-laki yang tepat." Ucap Kean seakan begitu bersemangat menyambut putrinya yang datang ingin memperkenalkan seseorang padanya.


Riana hanya tersenyum menanggapi kalimat yang baru saja terucap dari bibir sang Ayah, seraya berdo'a di dalam hati jika laki-laki paruh baya yang kini sudah beranjak dari kursi kerja, tidaka akan terlalu kecewa dengan kelakuannya hari ini.


"Mari, Nak, silahkan duduk." Ajak Kean pada Fikri yang masih berdiri canggung di dekat pintu masuk.

__ADS_1


"Terimakasih, Dokter." Jawab Fikri sambil mendekat untuk menyalami punggung tangan Kean.


"Panggil Om saja." Jawab Kean sambil menepuk bahu Fikri.


"Ayah.." Riana ingin segera mengakhiri pertemuan itu, sebelum Ayah nya akan semakin nyaman dengan laki-laki yang sudah memilih duduk di depan nya. Tidak bisa di pungkiri, Fikri adalah laki-laki yang cukup menyenangkan. Ia yang notabene sulit berteman, begitu cepat dekat dengan laki-laki yang kini memulai percakapan dengan sang Ayah.


"Jadi gini, Yah.. Sebenarnya Nana datang untuk memberitahukan jika Fikri belum ingin menikah." Ucap Riana pelan.


"Ngga gitu, Nana. Bukan tidak ingin menikah, aku hanya ingin mendapat restu dari orang tua mu dulu, barulah mengutarakan niat ku." Ujar Fikri menjelaskan, membuat bola mata Riana membesar. Dan tunggu, dari mana laki-laki itu tahu nama panggilan dari orang-orang terdekatnya?


"Fikri..


Fikri segera menggeleng tegas, dan itu berhasil membuat RIana terdiam. Ia lalu beralih menatap laki-laki paruh baya yang sedang menyimak pembicaraannya dengan Riana.


"jadi begini, Dok. Eh, maksud saya om. Maksud kedatangan saya kemari, tidak hanya ingin memperkenalkan diri, tapi juga ingin meminta restu untuk niat baik ku yang ingin melamar Riana." Ucap Fikri yakin. "Saya belum mengenal Riana, karena kita memang belum lama bertemu. Dan maksud kedatangan saya hari ini, untuk meminta izin agar bisa mengenal Nana lebih dekat." Imbuhnya.


Riana terdiam tanpa kata. Tidak tahu apa yang harus ia katakan tentang Fikri hari ini. Padahal, mereka sudah membicarakan tentang tujuan dari pertemuan pagi in.


"JIka kamu berniat menikah dengan putri ku, maka secepatnya nikahi dia. Kalian akan punya waktu saling mengenal setelah menikah., dan itu jauh lebih baik. Niat baik jangan di tunda, dan menjalani hubungan setelah pernikahan akan menjauhkan Nana dari fitnah." Ujar Kean.


Riana semakin terkejut. Keadaan yang sedang ia hadapi pagi ini, benar-benar di luar rencana. Laki-laki yang sudah kembali mengobrol akrab dengan Ayah nya ini, mengkhianati nya.


"Fikri..


"Aku yakin, Riana. Pertimbangkan percakapan kita di mobil tadi." Sela Fikri cepat membuat Riana kembali terdiam.

__ADS_1


Ingin menjaga perasaan sang Ayah, Riana memilih untuk tidak lagi membahasnya, dan menunggu mereka keluar dari ruangan ini. Yah, menunggu waktu yang tepat untuk mengacak-acak wajah Fikri.


__ADS_2