
Kita tidak akan bisa meminta orang lain untuk tetap menyukai kita. Yang perlu kita lakukan adalah, terus melakukan sesuatu yang menurut kita baik. Karena sebaik apapun kita, akan selalu salah bagi mereka yang membenci.
Malam yang baru untuk Zahra. Kini, ia di kelilingi orang-orang yang begitu menyayangi nya dengan tulus. Tidak hanya itu yang membuatnya bahagia malam ini. Menatap wajah cantik yang sedang tertera di layar ponselnya, jauh lebih membahagiakan dari pada kehadiran Riyan dan kedua mertuanya di Palembang.
"Tidak ada yang menang dan kalah di antara kita, Zahra. Aku sampai berpikir untuk membangun rumah bersamamu dan Riyan, namun, hatiku kembali meminta agar jangan melakukan hal itu. Aku masih belum seikhlas kamu dalam hal berbagi, untuk itu aku merelakan Riyan bersama mu."
Suara dari layar ponsel milik Riyan yang ada di tangan Zahra kembali terdengar.
"Aku minta maaf, Mbak. Sungguh, aku tidak pernah berpikir untuk meminta Mas Riyan kembali karena kehamilan ku ini." Jawab Zahra.
"Aku tahu, dan aku percaya gadis seperti apa yang di cintai oleh laki-laki yang juga ku cintai. Kamu hanya ingin menunaikan kewajiban mu, dan Riyan harus memberimu nafkah itu. Pernikahan kalian resmi, tidak hanya di mata agama tapi juga tercatat resmi di negara. Biarkan saja apa kata orang tentang mu, dan tetaplah menjadi seorang Zahra yang membuat ku sadar jika sesuatu yang di paksakan itu bukanlah cinta tapi Obsesi." Ujar Meisya. "Maaf dulu sempat membuat kamu gunjing oleh perawat di rumah sakit." Sambung nya merasa bersalah.
Zahra mengangguk mengerti.
"Aku pantas menerimanya." Jawab nya. "Mbak ngga sendirian, kan di sana?" Tanya Zahra.
"Setelah Riyan tiba, Mommy dan Daddy ku langsung terbang ke Singapura." Meisya menyoroti dua orang berharga dengan kamera ponselnya.
"Alhamdulillah." Ucap Zahra.
Kini, wajah cantik Meisya kembali terlihat di layar ponselnya.
"Aku tahu besar cinta kamu untuk Riyan, sama besarnya dengan cinta yang aku punya. Jadi aku tidak akan khawatir melepaskan dia." Ujar Meisya.
Zahra terlihat mengangguk. Meskipun sampai malam ini, ia belum memutuskan atas hubungannya dengan Riyan.
"Aku akhiri ya. Jaga kesehatan kamu dan juga keponakan ku." Ucap Meisya lagi. Dan lagi-lagi Zahra mengangguk. Kali ini matanya sudah berkaca. Senyum di wajah Meisya membuat hatinya sedikit merasa lebih baik.
__ADS_1
"Aku menyebut mu di setiap sujud ku, Mbak Meisya. Semoga kelak, Allah akan menghadirkan seseorang yang hanya akan mencintai mu seorang. Mungkin kedepannya, nama kamu akan tetap tersimpan rapi di hati Mas Riyan, dan aku tidak keberatan akan hal itu. Aku menganggapnya sebagai kompensasi atas apa yang sudah aku lakukan." Ujar Zahra tulus.
Meisya kembali tersenyum manis di layar ponsel milik Riyan.
"Kalau begitu aku tutup. Ingat, kembalilah bersama Riyan. Jangan sia-siakan pengorbanan ku ini." Pamitnya sambil tertawa. Tak lupa pula ia mengaminkan kalimat yang baru saja terucap dari bibir Zahra.
Beberapa saat kemudian, panggilan video itu berakhir. Zahra kembali menyerahkan ponsel yang ada di tangannya ke arah Riyan.
"Kamu mau ikut aku ke Jakarta?" Tanya Riyan setelah menerima ponsel dari tangan Zahra.
Zahra menatap ibu mertuanya yang sedang menatap penuh harap, kemudian mengangguk mengiyakan. Awalnya ia masih ragu memantapkan hati untuk kembali, namun, setelah mendengar penjelasan Meisya beberapa saat yang lalu, akan jahat dirinya jika menyia-nyiakan pengorbanan wanita itu. Meisya sudah berkorban demi dirinya, dan ia tidak boleh menyia-nyiakannya.
Eliana segera menghambur dan memeluk menantunya itu.
"Terimakasih sudah memberi kami kesempatan secepat ini. Ibu berpikir, Riyan masih perlu perjuangan agar mendapat maaf dari mu." Ujar Eliana setelah melepaskan pelukannya di tubuh Zahra.
Eliana mengangguk membenarkan.
Setelah beberapa saat berbincang hangat di ruangan itu, Eliana dan Kenan berpamitan pulang ke pondok pesantren milik keluarga Rahmat. Sebelum mengikuti keluarga besar itu kembali ke pondok, Eliana berulang kali mengingatkan putranya agar merawat Zahra dengan baik. Kenan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan istrinya itu.
Setelah kepergian kedua mertua juga keluarga yang lain, Zahra memilih untuk berbaring di atas ranjang, dan meminta Riyan untuk istirahat juga. Dia tahu laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu, juga lelah atas apa yang mereka alami selama ini.
Riyan pun mengerti dengan Zahra yang belum ingin terlalu membuka hati padanya. Ia melangkah menuju sofa yang tersedia di sana, lalu duduk di sana sambil mengamati wanita yang sudah membelakanginya.
Ada banyak hal yang ingin dia sampaikan, namun, melihat keadaan Zahra, semua kembali tertekan di otak nya. Biarlah, ia akan menunggu sampai di mana takdir ini akan membawanya. Jika memang Zahra yang ditakdirkan Allah untuknya, maka ia akan memilih bersabar dan menunggu sampai kapan Zahra akan kembali seperti biasanya.
Beberapa saat terdiam di atas sofa, tanpa melakukan apapun, Riyan akhirnya memilih berbaring di sana. Tidak membutuhkan waktu lama ia pun terlelap.
__ADS_1
Beberapa saat membelakangi Riyan, Zahra perlahan kembali membalik tubuhnya. Menatap laki-laki yang begitu ia rindukan dari atas ranjang tempat ia berbaring.
Beberapa saat ia terdiam. Apakah sudah benar rasa bahagianya malam ini? Apa ia sedang tidak berbahagia di atas penderitaan Meisya? Dan masih banyak hal lain yang begitu ia takutkan.
"Mbak Mei, aku akan meminta pada Tuhan ku untuk memberikan bahagia yang kekal untuk mu bahkan jika bahagia ku sebagai gantinya." Gumamnya.
Cukup lama ia berbaring sambil menatap wajah Riyan yang begitu tenang dalam lelapnya. Hingga beberapa saat kemudian, mata yang sedang ia perhatikan terbuka perlahan dan ikut menatap ke arahnya.
"Kenapa belum tidur? Kamu butuh banyak istirahat." Ujar Riyan dari atas sofa tempat dia berbaring.
Zahra menggeleng.
"Apa aku tidak berdosa jika ingin bersama mu, Mas?" Tanyanya.
Riyan terdiam beberapa saat. Pertanyaan yang sama pun terus menghantui hati dan pikirannya. Apakah ia tidak berdosa pada wanita yang sedang jauh di sana, jika memiliki keinginan untuk melanjutkan hidup bersama wanita yang kini sedang menatap nya lekat.
"Aku sudah menyakitinya. Aku sudah menyakiti mu. Meisya sudah merelakan semuanya dan meminta ku pergi dari kehidupannya agar bisa bersama mu. Dosa atas kesalahan itu, biarlah aku yang akan menanggung nya." Jawab Riyan. "Aku ingin meminta mu kembali, bukan karena ingin bertanggung jawab dengan janin yang kini berada di dalam kandungan mu, tapi karena memang hati ini sejak awal pernikahan kita, sudah menjadi milik kamu." Ujarnya lagi.
"Kita pulang besok kan, ke Jakarta?" Tanya Zahra.
Riyan tersenyum, lalu mengangguk dengan semangat.
****
*NoteAuthor
Tiga Bab cukup ya, kita lanjut besok lagi 🥰
__ADS_1
Maaf jika alur kisah ini mengecewakan kalian semuanya. Mulai besok kita akan bahas kisah manis Meisya dan Gio ya 😁