Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 25. Kehidupan Baru


__ADS_3

Satu hati, dua cinta. Seperti itu kah? Dan sepertinya jika seperti itu, akan menjadi mustahil rasanya untuk meraih bahagia.


Pesawat yang akan terbang menuju Bandara Udara Changi Singapura baru saja lepas landas. Di dalam kabin kelas bisnis, Meisya duduk sambil menatap pemandangan di bawah sana. Semakin tinggi pesawat yang sedang ia tumpangi, semakin kecil pula terlihat bangunan yang berdiri di bawah sana. Sentuhan hangat di jemarinya membuat gadis itu tersadar dari lamunan. Ia menoleh, menatap tangannya yang sedang di genggam dengan erat, kemudian mengalihkan tatapannya pada seseorang yang juga sedang menatapnya hangat.


Senyum di bibir tipisnya langsung mengembang. Beberapa saat kemudian, kepalanya sudah tersandar di bahu laki-laki itu.


Riyan Hermawan. Cinta pertama dan terakhir, itulah yang ia tanamkan sejak lama. Sebelum Zahra, gadis manis yang begitu baik, hadir di tengah kehidupannya bersama Riyan.


"Aku harap setelah ini, kamu akan benar-benar hidup bahagia. Begitu banyak orang yang ingin melihat kamu bahagia, Mei. Termasuk aku."


Kecupan manis berulang kali mendarat di puncak kepalanya. Meisya tersenyum saat mendengar kalimat itu dari bibir Riyan.


"Hanya ada kita, Yan." Jawabnya.


Hening mengambil alih. Tidak ada jawaban dari laki-laki yang kini sudah merangkul dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kehidupan baru hanya ada kita berdua, dan anak-anak kita." Ucap Meisya lagi.


"Iya." Jawab Riyan singkat. "Tidurlah, aku akan selalu ada di sini menemani kamu." Sambung nya.


Meisya pun menurut, dan mencoba untuk segera terlelap dalam pelukan suaminya itu.


Pesawat mulai berada di atas ketinggian. Riyan masih mendekap bahu Meisya untuk memberikan kehangatan pada istrinya itu. Selimut putih yang menutupi tubuh, sesekali ia perbaiki agar istrinya tetap hangat.


Allah maha besar atas segala yang di miliki oleh manusia. Begitu besar kuasaNya, hingga hanya dalam waktu satu bulan dia harus mengalami rasa sedemikian rupa untuk seseorang yang dia tinggalkan di sana.


Cinta yang sejak dulu hanya milik Meisya, dalam waktu singkat sudah menjadi milik Zahra sepenuhnya. Namun, inilah dia yang hanya bisa menjadi seorang pecundang. Sama seperti ketika dua bulan lalu dia memutuskan menikah dengan Zahra, padahal saat itu, hati dan cintanya masih sepenuhnya milik Meisya.


Entahlah kehidupan seperti apa yang sedang ia jalani ini. Takdir macam apa yang sedang Allah gratiskan untuk hidupnya ini?


Berulang kali Riyan mengecup puncak kepala Meisya, sembari memohon maaf atas cinta nya yang sudah berpaling untuk orang lain. Meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan hingga membuat wanita yang sekian tahun menemaninya, harus mengalami hal tragis seperti hari ini.


*****


Hampir dua jam berada di dalam pesawat, kini pesawat yang membawa sepasang suami istri itu sudah mendarat dengan selamat di bandara Changi Singapura. Setelah hampir dua jam ponselnya di nonaktifkan, kini Riyan segera mengaktifkan benda pipih itu dan segeralah menghubungi sepupunya yang memang ia mintai bantuan untuk datang menjemput dirinya dan Meisya di sini.


"Kamu di mana, Gio?" Tanyanya ketika seseorang sudah menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Aku di ruang tunggu penumpang, Bang." Jawab Gio di ujung sana.


Riyan segera mengakhiri panggilan, dan mendorong kursi roda yang sedang di duduki Meisya keluar dari sana menuju tempat Gio sedang menunggu mereka.


Tidak membutuhkan waktu lama, kini Riyan sudah bertemu dengan adik sepupunya yang memang sudah lama tinggal di Singapura. Keduanya berpelukan hangat. Gio pun tak lupa menyalami Meisya sambil menyebutkan namanya untuk memperkenalkan diri pada istri kakak sepupunya itu.


"Kata Papa, kalian tinggal di apartemen ku aja. Di sana ada unit yang kosong, dan bertepatan dekat dengan rumah sakit juga. Tante El sudah menghubungi Mama dan memberitahukan tentang kedatangan kalian di sini, sekaligus meminta bantuan agar Papa menyediakan tempat yang baik buat kalian." Ujar Gio sambil mendorong barang bawaan milik Riyan dan Meisya menuju mobilnya.


"Ibu menghubungi Tante Adel?" Tanya Riyan tidak percaya. Pasalnya, sampai pagi ini ketika ia meminta izin untuk pergi sekaligus restu atas pernikahannya dengan Meisya, wanita yang menjadi cinta pertamanya itu masih enggan menjawab dan terkesan acuh padanya.


"Iya. Tadi Mama telepon dan bilang begitu. Tante El pun meminta aku menyiapkan kendaraan buat kalian selama di sini." Jawab Gio.


Riyan dan Meisya bertatapan.


"Orang tua mungkin akan kecewa pada anak-anaknya, tapi tidak akan membenci, walau kesalahan yang di lakukan anak-anaknya sangatlah besar. Percaya padaku, Bang." Ujar Gio.


Lelaki yang baru mengetahui permasalahan yang menimpa Riyan pagi ini dari sang Mama, menepuk pelan bahu sepupunya itu. Ia lalu mulai memasukkan barang-barang milik Riyan dan Meisya ke dalam bagasi mobil yang sudah dia siapkan untuk Riyan gunakan selama berada di Singapura.


Riyan mengangkat tubuh Meisya dari atas kursi roda, lalu membawa istrinya itu masuk ke dalam mobil. Sedangkan Gio, masih berdiri sambil memegang pintu mobil, agar sepasang suami istri itu bisa leluasa masuk ke dalam mobil itu.


"Kamu belum nikah, Gio?" Tanya Riyan.


"Move on sudah, Bang." Jawab nya terkekeh.


Riyan pun ikut tertawa. Apakah benar melupakan akan sulit? Semoga saja Allah akan memudahkan sama seperti ketika Allah menghadirkan rasa itu.


"Kamu masih berhubungan dengan Abidzar?" Tanya Riyan.


Gio kembali menggeleng.


"Aku takut akan semakin cinta dengan istri nya." Jawab Gio lagi-lagi sambil tertawa.


Meisya yang memang sudah mengenal keluarga besar Riyan, tahu siapa yang sedang menjadi perbincangan mereka saat ini.


"Dia sedang hamil." Ucap Meisya menimpali. "Beberapa bulan yang lalu, dia datang memeriksa kehamilannya padaku." Sambungnya.


"Wah tocker banget si Abidzar." Ujar Gio tertawa. Berusaha menutupi rasa tidak nyaman di hatinya.

__ADS_1


"Aira memang sangat cantik." Ucap Meisya lagi. Kali ini, Gio tidak menanggapi dan hanya terus berkonsentrasi dengan kemudi di tangannya.


"Om Alfaraz dan Tante Zyana memang lagi manen cucu." Ujar Meisya lagi.


"Kalian gimana? Belum berniat kasih aku keponakan?" Tanya Gio.


"Nanti juga Allah akan kasih kok. Tunggu waktu yang tepat aja. Iya kan, Yan?" Tanya Meisya.


Riyan segera mengangguk mengiyakan.


Jarak yang di tempuh dari bandara menuju apartemen milik Gio, memang cukup jauh dan membutuhkan waktu yang lumayan lama, hingga mereka bisa sampai ke apartemen itu.


Riyan kembali melakukan hal serupa. Memeluk tubuh Meisya dan membawa istrinya itu menuju kursi roda yang sudah tersedia di luar mobil. Sedangkan Gio kembali menahan pintu mobil untuk memberikan akses pada Riyan keluar dari dalam mobil itu.


"Ini tidak permanen kok." Ujar Meisya. Gadis itu tersenyum pada Gio yang sedang menatapnya prihatin. "Mungkin empat sampai lima kali terapi, semuanya akan kembali normal." Sambungnya.


Gio mengangguk paham. Siapakah dirinya yang hanya seorang pebisnis dan tidak tahu menahu tentang dunia kesehatan. Berbeda dengan sepasang suami istri di hadapannya ini yang sama-sama berprofesi sebagai dokter.


*****


*NoteAuthor


Aku mau rinci lagi silsilah keluarga mereka yaa...


Anisa dan Dimas : Kisah mereka di novel Everything About You. Mereke berdua punya anak, Zia dan Zidan.


Kisah Zia dan Alard di Novel yang yang berjudul : Eliziane mereka berdua punya anak tiga, Kenan, Kean dan Eliana.


Kisah Zidan dan Farah di novel yang berjudul : Berbagi Cinta Wanita Kedua. Di novel itu ada empat season.. Season dua kisah anak-anaknya Zidan dan Farah , yaitu Adelia dan Gerald orang tuanya Gio dan Gia, dan kisah Alfaraz dan Zyana, orang tuanya Danira, Nadira dan Abidzar.


Season 3, kisahnya si Danira dan Arion, Nadira dan Arga, Abidzar dan Aira. Di sana juga termasuk kisah patah hati nya Gio.


Season 4. Kisahnya anak-anak Danira, Nadira dan Abidzar yaitu Azam, Daniza, Daren, Aidar, Aiman, dan Ayura. Nah di cerita Ayura itu ada sepenggal kisah Gio dan Meisya.. Jadi kalau ada yang sekiranya penasaran, boleh mampir ke sana 😁😁


Kisah Kenan, Eliana dan Kean juga si kembar Rianti dan Riana ada di novel Menggenggam Janji yaa...


Oh iya satu lagi lupa, anak ke tiga dari Danira dan Arion ngga sempat aku buatin kelanjutannya di Wanita Kedua, jadi aku buat kisah tersendiri di cerita yang berjudul Kebaikan Sebuah Pernikahan, masih on going yaa. Aku masih dalam tahap buat kerangka season duanya kisah anak-anak Alfan dan Kia.

__ADS_1


Yuk mampir 😁😁


__ADS_2