
Sore yang begitu indah. Usai shalat ashar, Zahra duduk di teras depan sambil memandangi pepohonan rindang yang menjadi penyejuk di panti asuhan itu. Sesekali, tatapannya tertuju pada dua buah buku rekening dengan saldo yang fantastis untuk ukuran wanita seperti dirinya, lengkap dengan dua buah ATM di tambah lagi satu buah kartu kredit. Entah siapa di antara Ibu mertuanya atau Riyan yang meletakkan ini di dalam koper nya.
Otaknya di penuhi banyak tanya, namun, ia begitu enggan untuk menanyakan hal ini pada Ibu mertuanya walau hanya melalui telepon. Entahlah, bukan ingin melupakan keluarga itu. Ia hanya ingin benar-benar mengembalikan semua ke tempat semula sebelum ia hadir di antara hubungan Riyan dan Meisya.
Sebulan telah berlalu setelah kepergian Riyan. Bukan hanya kali ini ia menatap buku rekening atas nama dirinya itu setelah shalat. Berusaha mencari jalan untuk sesuatu yang bukanlah miliknya itu agar kembali pada keluarga Riyan, tapi dia pun bingung bagaimana cara melakukannya.
Kini, Zahra mulai kembali menjalani kehidupannya seperti saat dulu belum bertemu dengan laki-laki yang membuat dirinya merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan.
Mulai kembali menikmati perjalanan hidup seperti dulu, saat belum merasakan sakit ketika bagaimana rasanya mau tidak mau harus merelakan orang yang di cintai pergi bersama wanita lain.
Meskipun berulang kali ia meyakinkan hatinya jika dengan cara melepaskan Riyan adalah jalan menuju kehidupan baru yang jauh lebih baik, tetap saja jika kembali mengingat wajah laki-laki itu, rasa yang sedang ia usahakan untuk terhapus, akan kembali menguasai seluruh hatinya.
"Ngapain di sini?" Tanya seorang wanita berhijab panjang, sambil membawa tubuhnya dan duduk di samping Zahra.
"Lagi mikirin ini dan itu, Bu." Jawab Zahra.
"Mikirin apa?" Tanya wanita itu lagi.
"Bu, Ara pengen ke pesantren nya Umi. Bisa ga?" Tanya Zahra.
Wanita paruh baya itu menoleh, menatap putrinya dengan kening mengkerut.
"Maksud kamu ke pesantren nya Rahmat?" Tanya wanita paruh baya itu lagi, dan Zahra mengangguk mengiyakan.
"Palembang jauh, Nak. Kenapa tidak di sini saja, temani Ibu dan adik-adik mu." Pinta wanita itu.
__ADS_1
Zahra tertunduk dalam.
"Bu, ini tadi pas Zahra membongkar isi koper, ada dua buku rekening atas nama Zahra di sana. Kartu kredit juga. Zahra ngga tahu, siapa yang menyimpan dua rekening dengan jumlah yang begitu banyak ini di dalam koper." Zahra.
Wanita yang biasa di panggil dengan nama Amina itu terdiam bingung.
"Bisa ga, Ara titipkan ini ke Ibu, dan Zahra pergi ke pesantren nya Kak Rahmat?" Tanya Zahra.
Ibu Amina belum menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa tentang rencana putri asuh nya itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya.
Zahra segera mengangguk.
"Ada apa dengan pernikahan kalian?" Tanya Ibu Aminah lagi.
"Zahra berusaha merebut sesuatu yang bukan milik Zahra, Bu." Jawab nya merasa bersalah.
"Maksudnya apa?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
Lagi-lagi Zahra menggeleng. Ibu Aminah menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha untuk memaklumi Zahra yang masih enggan berbicara tentang kehidupan pribadi putri nya itu.
"Dalam sebuah hubungan, bagi sebagian orang cinta tidak akan datang begitu saja, Nak. Perlu perjuangan agar orang yang kita inginkan bisa mencintai kita." Ujar Ibu Aminah.
"Bu, Zahra sudah berjuang untuk mendapatkan cinta dari nya. Bahkan Zahra sudah mengikhlaskan untuk menerima menjadi istri kedua, namun, mereka tetap tidak bisa menerima kehadiran Zahra." Lirih Zahra. "Benar kata Ibu dulu, Hubungan itu ibarat sehelai tali yang tidak akan pernah tegak tanpa dua orang yang memegangnya, dan jika salah satunya lelah, maka berakhirlah hubungan itu. Untuk itu, Zahra memilih berhenti berjuang, karena Zahra tahu hubungan ini tidak akan pernah sampai ke titik terbaik. Di dalam hidup Mas Riyan, bukan hanya ada Zahra yang harus dia perjuangkan, tetapi juga ada Mbak Mei." Imbuhnya.
__ADS_1
Ibu Aminah menatap sedih putrinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang manusia biasa selain percaya jika apapun yang terjadi hari ini, semata datang nya dari Allah.
****.
Jika di Indonesia Zahra masih di liputi rasa sedih sekaligus rasa bersalah, berbeda dengan Meisya yang kini berada di Singapura.
Sebulan telah berlalu. Bahagia? Tidak! Selama sebulan ini, bahagia yang dulu sudah tercatat rapi di angan nya, sampai detik ini tak kunjung dia rasakan. Bukan, bukan karena Riyan tidak lagi memperlakukan dirinya dengan baik, justru sebaliknya. Semenjak mereka tiba di sini, Riyan bahkan jauh lebih menyayangi nya lebih dari yang dulu. Namun, entah apa yang membuatnya hingga merasa ada sesuatu yang hilang dari mereka.
Sekuat tenaga Riyan berusaha membuat keadaan mereka sama seperti dulu, akan semakin banyak pula rasa yang mengganggu di hatinya.
"Kamu harus minum obat, Mei. Terapi ngga akan berguna kalau kamu seperti ini." Pinta Riyan memohon sambil membawa segelas air putih dan beberapa butir obat menuju ranjang mereka.
Meisya masih tidak ingin menjawab. Gadis itu hanya menatap jendela yang terbuka lebar di dalam kamar itu, hingga membuat tiri putih yang menggantung di sana, di terbangkan oleh angin yang langsung masuk ke dalam kamar mereka.
"Kamu benar-benar bukan lagi Riyan yang dulu." Ucap nya, membuat Riyan lagi-lagi menghembuskan nafas kasar. Bukan kali ini saja kalimat itu terdengar dari bibir Meisya.
"Aku harus apa, Mei? Katakan apa yang harus aku lakukan agar kita kembali seperti dulu. Tolong jangan seperti ini." Mohon Riyan. Ia membawa nampan yang berisi sebelas air dan beberapa butir obat ke atas nakas di samping tempat tidur, lalu kembali duduk di atas ranjang yang sama di mana Meisya berada.
Meisya masih belum menoleh, dan hanya menutup bibirnya rapat-rapat.
"Apa Ibu menghubungi dan memarahi mu? Katakan padaku, biar nanti aku sendiri yang akan berbicara dengan Ibu." Pinta Riyan lagi..
Kali ini kepala Meisya menggeleng bersama air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Lalu apa, Mei. Apa aku kembali berbuat salah? Apa aku menyakitimu lagi?" Tanya Riyan beruntun. Sudah sebulan sejak mereka tiba di sini, namun, Meisya semakin hari semakin membuatnya bingung.
__ADS_1
"Kamu tidak lagi mencintai ku, Yan." Ucap Meisya lirih dengan air mata yang masih terus jatuh di wajah cantiknya.
"Apa yang harus aku lakukan agar bisa membuktikan jika kamu penting dalam hidup aku? Apa pengorbanan ku selama ini masih belum cukup untuk membuktikan hal itu?" Tanya Riyan lagi. "Meisya, ayo kita memulai hidup di sini. Benar-benar hanya ada kita berdua." Bujuk nya lagi. Ia meraih tangan Meisya dan mengecupnya berulang kali. Akan tetapi tangan yang baru saja ia kecup, di tarik kembali oleh pemiliknya.