Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 27. Berusaha


__ADS_3

"Katakan apa yang kamu ingin aku lakukan, agar kamu percaya jika aku berada di tempat ini hanya untuk kamu." Ucap Riyan. Sejujurnya ia semakin tidak nyaman dengan Meisya yang selalu saja mempermasalahkan apa saja di antara mereka.


"Apapun yang akan kamu lakukan kita tidak akan lagi sama. Kebaikan apapun yang kamu lakukan hari ini, itu tidak akan menghapus rasa mu untuk gadis itu." Ujar Meisya dengan nada suara yang mulai meninggi.


Riyan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu ini semua adalah kesalahannya, untuk itu ia memilih bersabar dengan sikap Meisya yang selalu saja menyudutkan dirinya.


"Apa kamu tahu arti dari kata berusaha? Aku sedang mengusahakan semua yang aku lakukan benar-benar hanya untuk mu. Aku mengorbankan segalanya, Mei, termasuk kedua orang tuaku. Apa kamu tahu bagaimana tersiksa nya aku mengingat janji yang tidak bisa aku tunaikan pada mendiang adik ku? Aku menyakiti wanita yang di cintai hingga di ujung nafasnya. Aku melukai gadis yang mati -matian dia jaga dengan seluruh cinta yang dia punya. Dan menurut mu itu masih belum juga cukup? Jika memang kamu tidak ingin usaha ku, lalu untuk apa kita di sini? Jika kamu memang tidak lagi menginginkan kehadiran ku, untuk apa kita membicarakan rencana dan memulai kembali di tempat ini." Lirih Riyan panjang lebar. Berusaha membuat Meisya mengerti, jika benar-benar menghapus rasa untuk Zahra, bukan lah hal yang muda baginya. Dia ingin Meisya mengerti dan memberinya kesempatan untuk kembali memulai ini. "Aku sudah melakukan semua yang seharusnya di lakukan oleh seorang suami untuk isterinya. Meskipun aku sudah menjadi suami yang gagal untuk wanita lain. Mengertilah, Mei. Jangan memaksa lebih dari ini" Imbuhnya sambil tertunduk dalam. Tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan, jika dirinya pun sedang mengusahakan yang terbaik untuk mereka berdua. Hanya untuk Meisya.


"Tapi aku selalu bersamamu! Aku sudah bersamamu sekian tahun, Riyan! Aku hanya ingin mempunyai kehidupan indah bersamamu, dan anak-anak kita nanti. Namun, lihatlah, aku menghabiskan begitu banyak waktu untuk berdiri bersama orang yang begitu mudah melabuhkan hatinya pada wanita lain. Apa menurut mu aku tak mau hal yang lain? Apa kamu pikir aku tak punya harapan lain untuk hidup ku? Bagaimana dengan pria lain yang jauh lebih baik dari mu? Aku pun ingin seseorang yang bisa membuat ku tertawa dan bahagia, sama seperti yang kamu lakukan saat bersama wanita itu. Bukan hanya kamu yang memiliki keinginan, Riyan. Tapi ku buang semua perasaan, keinginan, kebutuhan dan juga mimpiku. Aku tanam benih dan berdo'a agar terus tumbuh. Ku tanam seluruh benih cinta yang ku punya di dalam hatimu, dan menunggu mekar. Butuh bertahun-tahun lamanya membuat ku sadar, bahwa hati yang aku gunakan untuk menanam benih itu, bukan lagi sepenuh nya milik ku. Walaupun begitu, aku masih berusaha untuk tetap bertahan. Menggenggam tangan mu erat-erat, karena aku sangat mencintai mu. Ku pasrahkan semua dan mencoba menghapus segala keraguan yang mengganggu, karena aku berharap, kamu masih bisa menjadi milik ku sepenuhnya tanpa bayang-bayang wanita itu. Tapi kenyataannya, di mata mu hanya ada dia." Ujar Meisya panjang lebar sambil terus menatap wajah suaminya dengan mata berkaca.


Bukan tidak menghargai perjuangan Riyan hari ini, tapi wanita mana yang tidak sedih jika tubuh suaminya berada di sini, namun hati dan pikirannya sedang berada di tempat lain.

__ADS_1


Mendengar kalimat menyedihkan dari bibir Meisya, Riyan berusaha meraih tubuh yang semakin kurus itu, namun di tepis dengan keras oleh pemiliknya.


"Ayo kita mulai kehidupan baru hanya ada kita berdua." Bujuk Riyan.


"Sampai kapan pun, tidak akan pernah benar-benar hanya ada kita, Yan. Tetapi juga ada dia. Sekuat apapun aku menahan mu di sini, akan percuma jika hati mu masih tertuju padanya." Air mata yang menggenang di pelupuk mata Meisya, mulai jatuh membasahi pipinya.


"Mei..." Riyan masih berusaha meraih tubuh Meisya, meskipun berulang kali di tepis oleh gadis itu. Hingga akhirnya, ia berhasil membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukan. Berulang kali memohon maaf atas semua yang sudah terjadi di antara mereka. Yah, hubungan yang mereka bangun, sudah bertahun-tahun. Dan dengan jahatnya, ia menghancurkan hubungan. "Maafkan aku." Lirih Riyan.


"Aku harus apa, Mei. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa agar benar-benar hanya akan ada kita berdua. Dada dan otak ku seakan mau pecah, karena teringat dengan Ibu juga pada nya." Ucap Riyan sedih. Bukan inginnya, namun, sepertinya Allah sedang membalas semua kebodohan yang ia lakukan hampir tiga bulan yang lalu.


Sepertinya Allah sedang memberi nya pelajaran, agar di kemudian hari bisa berpikir dengan matang dahulu, sebelum kemudian mengambil keputusan.

__ADS_1


"Aku sedih banget, Yan. Kamu bahkan tidak bisa menutupi rasa rindu mu itu untuk nya. Dan itu menyakitkan. Kamu ada di sini bersama ku, tapi pikiran dan hati mu ada di tempat lain. Sudah sebulan ini aku melihat, ga ada yang berubah di antara kita. Kamu melakukan semua tugas mu, namun, itu hanya seperti sebuah tanggung jawab yang harus di lakukan oleh mu, bukan karena kamu benar-benar melakukanya dengan hati dan juga pikiran mu."Meisya berusaha melepaskan diri dari pelukan Riyan, namun lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Tolong bantu aku terlepas dari kehidupan mengerikan ini, Mei. Aku juga sakit. Hati ku sakit karena menyakiti dua wanita yang ku cintai sekaligus. Aku sakit melihat ku terluka seperti ini. Sama sakitnya saat aku memikirkan bagaimana kehidupan Zahra di sana setelah kepergian ku." Riyan mulai tersedu dalam pelukan Meisya.


Mendengar kalimat itu, Meisya tidak lagi bersuara atau berusaha melepaskan diri. Kini, ia sadar jika mereka bertiga sama terlukanya. Entah apa yang ia lakukan di masa lalu, sehingga harus menerima ujian sebesar ini.


"Aku mau istirahat, Yan." Ucap nya pelan.


Riyan melepaskan tubuh Meisya perlahan, lalu menatap wajah pucat istrinya itu dengan wajah yang sembab. Mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Meisya, sambil memohon maaf karena sudah membawa kekasihnya ini pada keadaan yang begitu menyakitkan hati.


Seharusnya sejak awal ia menegaskan menolak menikahi Meisya, meskipun itu menyakiti kekasihnya ini dulu. Akan tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Hari ini ia hanya perlu berusaha yang terbaik, dan berharap Allah pun akan memberikan jalan yang terbaik untuknya, untuk Meisya dan juga Zahra.

__ADS_1


__ADS_2