
Zahra terbaring di atas ranjang. Wanita cantik itu mengelilingi ruangan berwarna putih itu dengan pandangannya. Lalu kemudian berpindah pada tiga orang yang sedang menunggu nya di ruangan itu.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Kak?" Tanyanya pelan saat tatapannya sudah tertuju pada punggung tangan miliknya yang masih tertancap selang infus.
"Ini pilihan paling baik, Ra. Akan lebih aman di sini dari pada di pondok." Jawab Rahmat.
Anisa melangkah mendekati Zahra yang terlihat ingin bangun dari pembaringan, dan membantu wanita yang masih terlihat kemas itu duduk di atas ranjang pasien..
Rahmat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kembali memastikan jika laki-laki yang kata sang Abi melaku pesan beberapa saat yang lalu sedang dalam perjalanan, sudah tiba di rumah sakit ini.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian pintu ruangan di mana mereka berada, di ketuk dari luar. Rahmat melangkah menuju pintu, dan membukanya perlahan. Jika saja, sang Abi tidak mengajarkan tentang etika dan ilmu agama padanya, sudah di pastikan jika laki-laki yang kini berdiri di hadapannya, akan meredakan pukulan karena sudah menyakiti adik nya.
Di atas ranjang, Zahra terdiam dengan jantung yang tiba-tiba berdetak tidak karuan, saat melihat seseorang yang tidak pernah lagi ia harap kembali, sudah berdiri di ruangan yang sama dengannya.
"Kami pulang, Ra." Pamit Rahmat. Sejujurnya ada rasa tidak nyaman saat melihat Riyan berada di sana, namun, kembali mengingat nasehat Umi dan Abi nya, ia berusaha untuk biasa-biasa saja.
"Kak...
"Dia ingin melihat mu, Ra. Jika hari ini belum waktunya untuk membicarakan karena keadaan kamu yang belum memungkinkan, maka biarkan dia ada di sini. Dia masih berhak tahu atas keadaan kamu." Sela Rahmat. Ia tahu jika adik sepupunya ini merasa tidak nyaman, namun, keadaan ini pun tidak bisa di hindari.
Setelah mempersilahkan Riyan masuk, Rahmat mengajak Anisa dan kakak perempuannya pulang.
Pintu ruang perawatan Zahra kembali tertutup rapat. Dan tiga orang yang sejak pagi menemaninya di sini, sudah tidak terlihat lagi.
Riyan menatap wajah yang begitu ia rindukan dan berusaha ia haus dari ingatan, dengan begitu lekat. Ingin segera melangkah cepat, dan membawa wanita yang terlihat begitu pucat dan kurus itu ke dalam pelukannya. Mengecup berulang kali kepala yang masih tertutup hijab itu. Namun, sungguh, ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Tidak, ia tidak bisa bahkan hanya melangkah mendekati Zahra.
__ADS_1
Rindu yang menggebu, terhalang rasa bersalah yang menumpuk di hati Riyan. Selama di Singapura, dia hanya fokus pada kesehatan Meisya, bahkan berusaha menghapus tentang Zahra dari dalam hati, meskipun itu adalah usaha yang sia-sia, karena pada akhirnya Meisya pun menyadari jika dirinya sudah tergantikan oleh Zahra dan mengikhlaskan Riyan untuk pergi menjemput cintanya.
"Apa kabar, Mas. Mbak Mei bagaimana kabarnya?" Tanya Zahra memulai percakapan.
"Tidak ada yang baik-baik saja, Ra. Dia, aku dan kamu sedang tidak baik-baik saja." Jawab Riyan.
Zahra memalingkan wajahnya, mengusap air mata yang begitu lancang keluar tanpa permisi dari sudut matanya.
"Lalu Mas tiba-tiba berada di sini, bagaimana dengan Mbak Mei di sana?" Tanyanya lagi.
Riyan menggeleng. Sungguh dia tdak tahu apa yang sedang terjadi dengan wanita itu di sana. Namun, yang pasti itu bukanlah hal baik.
"Meisya pasti sedang menangis sama seperti yang kamu lakukan di pinggir jalan waktu itu." Jawab Riyan.
Air mata di waja Zahra semakin banyak, hingga membuat wanita itu tidak lagi memperdulikan nya.
Riyan menggeleng.
"Aku tidak pernah meninggalkan dia. Aku tidak pernah berniat kembali meskipun hati dan jiwa ku sudah sepenuhnya di milik oleh mu. Tapi, Meisya lah yang meminta ku pergi dan ingin mencari bahagianya tanpa aku." Jawab nya jujur.
Zahra menarik nafasnya. Bersiaha untuk tetap tenang menghadapi situasi, walau dadanya seakan mau pecah. Kepalanya terasa berdenyut karena bingung dengan keadaan rumit yang tak kunjung usai di antara mereka.
"Jangan membahas ini dulu. Aku ke sini, karena mendengar kamu sedang tidak baik-baik saja." Ujar Riyan sambil melangkah mendekati ranjang di mana Zahra berada. Menarik satu buah kursi yang tersedia di sana, lalu duduk dengan diam.
Zahra hanya bisa memerhatikan wajah tampan yang nampak lelah itu dengan lekat. Entah mengapa hubungan rumit yang terjalin antara dirinya dengan laki-laki ini tidak mau terurai, padahal ia sudah berusaha melepaskan diri selama tiga bulan ini. Ikhlas meminta laki-laki ini pergi jauh dari kehidupan nya, agar keadaan yang menguras emosi dan air mata, akan kembali ke tempatnya semula. Dia hanya akan kembali sendirian seperti dulu, dan Riyan bisa kembali melanjutkan impian bersama wanita yang seharusnya.
__ADS_1
Laku, apa yang sedang ada di hadapannya ini? Sungguh, ini begitu membingungkan.
"Aku hanya ingin menjalani apapun yang Allah sediakan, Ra. Bersikap seperti air di sungai, yang pasrah saja ke mana arus akan membawanya." Ujar Riyan. Ia memberanikan diri meraih tangan Zahra yang sedang tertancap selang infus, dan menatap sendu tangan pucat itu. Bagiamana bisa ia begitu serakah dan terbuai oleh hasrat dan membawa Zahra pada keadaan ini?
"Aku benar-benar brengsek ya, Ra. Menanamkan benih, lalu meninggalkan nya begitu saja." Ucapnya pelan..
Zahra terkejut mendengar kalimat itu.
"Apa Mas sudah tahu tentang kehamilan ku?" Tanya Zahra.
Riyan mengangguk, tapi tetap tertunduk menatap tangan Zahra tanpa berani menatap wajah wanita itu.
"Jangan bilang karena itu Mas meninggalkan Mbak Meisya sendirian?" Tanya Zahra sambil menarik tangannya yang sedang berada dalam genggaman laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Riyan terdiam.
"Katakan, Mas!" Ucap Zahra tegas.
"Ibu mengirim pesan ke ponsel ku, dan memberitahu tentang keadaan kamu. Dan Meisya yang membuka pesan itu." Jawab Riyan jujur.
Zahra terdiam tanpa kata. Bagaiman bisa ia kembali menzalimi kaum nya seperti ini...
"Di sini banyak yang menyayangi ku, Mas. Tapi di sana, Mbak Mei sendirian." Lirih nya. Rasa bersalah semakin menghantam dada saat mendengar alasan Riyan berada di sini, karena kehamilannya. "Keadaan ku ini bukan lah salah kamu, Mas. Aku yang meminta hak itu, dan kamu tidak perlu bertanggung jawab atas keinginan ku sendiri." Ucapnya lagi.
Riyan mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan hal itu pada Meisya tentang kehamilan kamu, Zahra. Sudah, nanti kita bicarakan lagi. Kamu butuh istirahat. Ayo berbaring." Bujuk Riyan agar Zahra menyudahi pembahasan yang tidak akan pernah ada habisnya ini.
Zahra hanya bisa menarik nafasnya, dan kembali menghembuskan nya perlahan. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tetap tenang dan terkendali.