Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 41. Lamaran


__ADS_3

Setelah pembicaraan yang nyaris membuat jantungnya berhenti, kini Riana sedang menguliti Fikri dengan tatapan tajam nya. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada, sambil menatap tajam ke arah laki-laki yang masih saja terlihat tenang, padahal baru saja melempar bom atom ke dalam hidupnya.


Kini, setelah keluar dari ruangan sang Ayah, Nana mengajak Fikri untuk duduk sebentar di kantin rumah sakit, guna membahas semua yang terjadi di ruangan ayahnya pagi ini.


"Aku nyesal minta bantuan pada mu." Ujar Nana masih kesal. "Apa susahnya sih kamu berbohong? Aku hanya ingin meminta bantuan loh." Sambungnya.


Fikri menyeruput teh yang tersaji di hadapannya, lalu menatap Riana dengan lekat.


"Apa salahnya mencoba? Kamu tidak akan tahu keindahan apa yang ada di dalam pernikahan jika tidak mau melaluinya." Jawab Fikri lembut. Ia tahu, gadis seperti Riana yang merasa dirinya bisa melakukan apa saja tanpa bantuan orang lain, akan semakin menggila jika kekesalannya di ladeni.


"Pernikahan bukan untuk di coba-coba, Fikri. Aku tidak pernah mengatakan tidak ada kebaikan dalam pernikahan, namun, kebanyakan luka pun berasal dari sana." Jelas Riana. "Aku tidak siap membina rumah tangga." Sambungnya.


Fikri kembali tersenyum, lalu menatap wajah cantik Nana dengan hangat, membuat gadis itu segera memalingkan wajahnya. Selama ia hidup, ini pertama kalinya ia dekat dengan laki-laki, kecuali adik-adik sepupunya. Ia menanamkan kalimat lebih baik mencegah dari pada mengobati, di dalam hatinya. Lebih baik mencegah untuk tidak jatuh cinta, dari pada mengobati luka karena jatuh cinta.


"Ayo menikah dengan ku. Aku tidak akan menuntut mu untuk menjadi istri terbaik. Kita masih manusia biasa yang akan selalu melakukan kesalahan. Cukup niatkan di dalam hati jika pernikahan yang akan kita jalani nanti, memang semata-mata untuk beribadah kepada-Nya." Ujar Fikri


"Tidak semudah dibicarakan, Fikri." Jawab Riana masih kekeuh untuk tidak mau melanjutkan rencana Fikri.


"Ya sudah, itu berarti kamu harus memikirkan kembali cara untuk membohongi kedua orang tua mu, dan akui tidak akan mau terlibat." Jawab Fikri.


"kamu yang memulai kebohongan ini, Fikri. Dan kamu juga yang harus mengatakan sejujurnya pada Ayah ku." Tegas Riana.

__ADS_1


Fikri menggeleng.


"Aku tidak merasa membohongi siapapun. Aku serius ingin melamar mu. Dan jika kamu tidak mau menerima pinangan itu, maka kamu harus mencari kebohongan lagi. Aku tidak mau ikut campur dan mengecewakan kedua orang tuamu." Tegasnya.


Riana menghembuskan nafasnya frustasi. Selama ia hidup, belum pernah ia bertemu masalah seperti ini. Keputusannya yang ingin selalu menghindari hubungan dengan makhluk adam ini, sudah sangat tepat. Lihatlah, baru dalam waktu belum satu hari, laki-laki di depannya ini sudah mampu membuatnya sakit kepala.


"Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, aku permisi kembali ke hotel." Fikri melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia kemudian beranjak dari kursi yang ia duduki dan bersiap meninggalkan kantin rumah sakit itu, karena Riana masih saja diam.


"Kita nikah kontrak, bagaimana?" Tawar Riana.


Fikri yang sudah berdiri di depan Riana, menunduk dan menatap sendu wajah cantik itu.


"Kamu tahu Riana, berapa lama aku mengumpulkan keberanian ku untuk mengatakan hal ini pada mu. Aku memaksa diriku yang merasa rendah dengan status sosial kita, dan memberanikan diri berada di sini. namun, jika kamu masih tidak bersedia, maka aku tidak akan melanjutkannya. Maaf sudah begitu lancang mengutarakan isi hati ku." Jelas Fikri membuat Riana terdiam. "Aku permisi." Sambungnya sambil melangkah meninggalkan Riana yang masih duduk terpaku di tempat duduknya.


"Satu bulan." Ucap Riana lagi.


"Terlalu lama." Ujar Fikri membuat wajah bersalah Riana, berganti kesal. "Satu minggu." Ucap Fikri lagi sambil mengacungkan jari telunjuk. Senyum hangat kembali terlihat di wajah teduhnya, membuat Riana mendelik kesal.


"Dasar." Ucapnya kesal.


"Beri aku tumpangan lagi, ini sudah terlambat." Ujar Fikri saat melihat Riana sudah berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Ogah. Pergi sendiri, biar tahu rasa di marahin calon mertuamu." Riana melangkah cepat melewati Fikri begitu saja. Wajah cantiknya memerah setelah menyebutkan kata calon ibu mertua.


Fikri tidak melepaskan tatapannya dari wanita dengan terusan panjang itu sambil tersenyum hangat. Jantungnya berdebar tidak karuan.


"Heh, katanya tidak mau terlibat masalah yang rumit, tapi dia sendiri yang menawarkan pernikahan kontrak. Dasar wanita." Ucap Fikri tentu saja tidak bisa lagi di dengar oleh Riana.


****


Di sebuah rumah mewah peninggalan keluarga Hermawan, Zahra baru saja tiba. Setelah berbincang beberapa saat bersama Ayah dan Ibu mertuanya, kini Zahra sudah masuk ke dalam kamar yang tiga bulan lalu merupakan kamar penggantinya. Kamar yang menjadi saksi berapa banyak air mata yang ia keluarkan hanya agar tetap bersama Riyan Hermawan.


Setelah membersihkan tubuhnya yang begitu lemas, Zahra masih berdiri mematung di samping ranjang. Menatap sebuah pigura besar yang menggantung indah di atas kepala ranjang. Pigura yang berisi foto pernikahannya dengan Riyan kurang lebih empat bulan yang lalu.


Setelah puas melihat tampilannya yang begitu memukau saat pernikahan, namun, tidak diinginkan itu, Zahra merangkak naik dan berbaring di atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, ia pun terlelap. Entah karena tubuhnya yang begitu lelah, ataukah memang kamar ini adalah tempat ternyaman yang pernah ia gunakan.


Meskipun banyak duka di sini, namun, tidak bisa di bohongi jika kamar ini masih menjadi kamar yang paling ia rindukan selama kurang lebih tiga bulan ini.


Karena kepulangannya ke indonesia yang begitu tiba-tiba, membuat beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan, terabaikan begitu saja di Singapura. Hingga saat tiba di rumah kedua orang tuanya, Riyan memilih langsung melangkah menuju ruang kerja, dan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu


Kini, setelah urusannya dengan perusahaan di Singapura selesai, Riyan memilih untuk langsung menuju kamar untuk menyusul Zahra. namun, saat tiba di dalam kamar mewah itu, Riyan mendapati istrinya sudah terlelap dengan begitu tenang di atas ranjang mereka.

__ADS_1


Dengan perlahan, Riyan melangkah menuju ranjang di mana Zahra sedang terlelap, lalu membungkuk tepat doi kepala istrinya itu. Mengecup kepala rambut istrinya itu berulang kali. Wajah cantik Zahra pun tidak luput dari ciumannya. Entahlah, Zahra sudah halal untuknya, namun, hanya di saat seperti ini, ia berani melakukan hal-hal yang seharusnya sejak awal di lakukan olehnya sebagai seorang suami.


Karena tidak ingin mengganggu tidur lelap sang istri, Ia lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Perjalanan mereka hari ini cukup melelahkan, dan salah satu cara untuk mengurangi lelah itu adalah dengan menyegarkan diri.


__ADS_2