Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 33. Pulang


__ADS_3

Hampir dua jam waktu yang di habiskan Riyan di dalam pesawat dari Singapura menuju Indonesia. Kini, ia sudah berada di tanah kelahirannya, tepatnya di salah satu Bandara internasional di Jakarta. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya hari ini, termasuk kedua orang tuanya.


Ini begitu mendadak. Entah pesan apa yang di kirim oleh sang ibu di dalam ponselnya hingga membuat Meisya memutuskan untuk memintanya pergi dari kehidupan wanita itu.


Setelah dua jam di nonaktifkan, Riyan kembali mengaktifkan ponselnya itu. Meskipun ia yakin pesan itu tidak akan ada lagi di dalam ponsel itu, ia tetap memeriksa nya. Sama seperti dugaannya, Meisya telah menghapus pesan yang di kirimkan oleh sang Ibu padanya.


Riyan terus melangkah keluar dari gedung Bandara sambil menarik koper kecil yang berisi pakaiannya. Tujuannya bukan rumah kedua orang tuanya, namun, rumah kedua orang tua Meisya. Entah lah, sampai detik ini, ia merasa masih bertanggung jawab penuh atas kehidupan wanita itu.


"Om Erland." Ucap Riyan terkejut saat mendapati laki-laki yang memiliki profesi yang sama seperti dirinya itu, sudah berdiri di pintu keluar Bandara.


"Mei sudah menelpon Om. Dan meminta bantuan untuk menjemput mu di sini." Ujar laki-laki itu. Meskipun raut kekecewaan nampak begitu jelas di mata tuanya, namun, senyum hangat tetap terlihat di bibirnya.


"Maafkan Riyan, Om." Ucap Riyan penuh rasa bersalah.


"Kita masih manusia. Dan manusia adalah tempatnya salah." Jawab laki-laki itu. "Ayo, Meisya meminta Om untuk mengantar kamu ke panti asuhan tempat gadis itu berada." Sambungnya.


Riyan mencelos mendengar kalimat yang baru saja terucap dari bibir laki-laki di hadapannya ini. Jika ia bisa meminta pada sang kuasa, ia akan memberikan apa saja yang ada di hidupnya, menukar sebuah kebahagian untuk Meisya. Ia akan melakukan apa saja, agar Allah memberikan kehidupan yang penuh bahagia untuk wanita itu.


"Ayo." Ajak Erland lagi.


Riyan mengangguk patuh, lalu melangkah mengikuti laki-laki yang seharusnya menjadi Papa mertuanya itu dari belakang.

__ADS_1


Rezeki, maut dan jodoh. Tiga takdir ini tidak akan ada yang bisa menebaknya. Sungguh, selama tiga bulan ini, ia sama sekali tidak pernah lagi memikirkan kehidupannya bersama Zahra. Ia hanya akan terus memaksakan agar tetap bersama Meisya, dan memberikan bahagia seperti yang sudah ia janjikan dulu pada wanita itu.


Namun, semua yang ada benaknya selama ini justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang sedang ia hadapi saat ini. Meskipun ia belum tahu pasti apakah Zahra akan bersedia menerimanya kembali, tapi bertemu kembali dengan wanita itu, sama sekali tidak lagi terlintas di benaknya selama tiga bulan ini.


"Ibu." Riyan semakin terkejut saat mendapati kedua orang tuanya juga sedang berada di parkiran Bandara.


"Om Erland dan Tante Friska datang ke rumah dan mengatakan kamu sedang dalam perjalanan pulang ke sini." Ujar Eliana menjelaskan mengapa dirinya sudah berada di Bandara. "Apa Meisya sudah baik-baik saja?" Tanya nya.


Riyan menggeleng.


"Dia masih butuh banyak istirahat. Dokter menyarankan untuk jangan dulu menggunakan kakinya berlebihan." Jawab Riyan jujur. Ia tertunduk dalam, meras bersalah pada kedua orang tua atas p yang dia lakukan hari ini. "Apa kita akan langsung ke panti asuhan?" Tanya nya lagi.


"Zahra tidak berada di sana. Ayah sudah datang ke panti, namun Zahra sedang berada di rumah tantenya di Palembang." Jawab Eliana.


"Kak Riska dan Kak Erland pulang aja dulu. Aku dan Bang Ken akan menjemput Zahra ke Palembang, nanti kalau kami sudah di Jakarta, aku akan mengerti Kakak." Ujar Eliana.


Friska mengangguk mengerti. Lagi pula, Palembang memang sangat jauh.


Erland dan Friska akhirnya berpita untuk pulang lebih dulu. Sedangkan Riyan dan ibu nya masuk ke dalam mobil lalu ikut meninggalkan tempat itu, menuju perusahaan di mana Ayah nya berada.


Di dalam perjalanan, Riyan terus berkonsentrasi dengan kemudi di tangannya. Mobil yang terus melaju di jalanan itu, nampak begitu hening. Ibu dan anak itu hanya teru menikmati keterdiaman mereka tanpa ada yang berinisiatif memulai pembicaraan.

__ADS_1


Selama tiga bulan, ini pertama kalinya mereka kembali bertemu dan bis berkomunikasi. Selama Riyan memilih pergi ke Singapura, Eliana sama sekali tidak pernah menghubungi putranya ini. Kecuali beberapa jam yang lalu untuk memberitahukan tentang kehamilan Zahra. Kalau pun ada yang ingin ia lakukan untuk putranya ini, ia langsung menghubungi orang yang ingin ia mintai tolong, tanpa berbicara terlebih dahulu dengan Riyan.


"Bu, apa Ayah tidak akan marah lagi?" Tanya Riyan saat mobil yang dia kendarai sudah berhenti di pelataran kantor milik sang Ayah.


"Masih. Terlebih saat mendengar Zahra hamil. Ayah bahkan tidak memperdulikan tubuhnya yang begitu lelah, dan langsung berangkat ke Bogor untuk menemui Zahra. Namun, kata Ibu panti, sudah dua bulan ini Zahra berada di Palembang." Jawab Eliana. "Jadi, jika Ayah masih memarahi mu, maklumi saja. Tidak ada orang tua yang tidak kecewa jika mendapati putra yang begitu dia percaya, melakukan hal seburuk itu. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajari kalian menjadi orang yang serakah." Sambungnya.


Riyan menarik nafasnya yang begitu berat. Ini sulit untuk ia lalui, namun, benar kata sang Ibu tentang dirinya yang serakah. Ia ingin memeluk keduanya di dalam tangannya, padahal dia sangat tahu itu hal yang tidak mungkin di lakukan oleh laki-laki yang masih minim tentang agama seperti dirinya.


Mungkin ia bisa berbuat adil jika menyangkut keuangan. Berapapun uang yang di butuhkan Zahra dan Meisya, mungkin akan mudah untuk dia penuhi. Tapi tidak dengan perasaan keduanya.


"Itu Ayah sudah menunggu. Ayo turun." Eliana menunjuk seseorang yang sedang berdiri di pintu utama perusahaan.


Meskipun jantungnya terus berdebar seakan ingin melompat keluar dari tempatnya, Riyan tetap memaksakan langkahnya mengikuti sang Ibu menuju seseorang yang sedang menunggu kedatangan mereka.


"Kan aku bilang biar nanti aku jemput." Eliana sudah masuk ke dalam pelukan Kenan.


Riyan menatap hubungan kedua orang tuanya yang tidak pernah mendapatkan masalah besar selama pernikahan. Hubungan keduanya masih sama seperti saat mereka masih mudah dulu.


"Kamu nyetir sendiri ke Bandara?" Tanya Kenan masih dengan raut wajah khawatir. Ia lalu merangkul pundak istrinya itu, dan membawanya masuk ke dalam.


Riyan hanya bisa diam, sambil mengikuti kedua orang tuanya dari belakang. Terlihat jelas jika sang Ayah masih marah dengannya. Kekecewaan di wajah yang begitu mirip dengannya itu, masih begitu jelas terlihat.

__ADS_1


Namun, benar kata sang Ibu. Kemarahan itu salah hal yang wajar, dan dia pun harus siap menerima nya.


__ADS_2