Kita Bukan Madu

Kita Bukan Madu
Bab 23. Pertama Dan Terakhir


__ADS_3

"Kenapa di sini?" Tanya Riyan heran saat Zahra memintanya berhenti di sebuah villa yang ada di puncak.


"Aku lelah, dan ingin beristirahat. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan." Jawab Zahra.


"Tapi panti asuhan kurang dari satu kilo meter lagi, Ra. Kita lanjutkan aja." Riyan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Bentar lagi magrib, Mas. Dan aku juga ngga enak sama Ibu kalau kita ganggu istirahat mereka." Jawab Zahra memberi alasan.


Riyan mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil, lalu melihat sebuah bangunan berlantai dua di hadapannya.


"Kamu bohongin aku. Katanya kamu ingin bertemu teman di sini, tapi keliatan nya ga ada siapa-siapa di sini." Ujar Riyan.


Zahra melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh, lalu membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.


"Hanya kali ini, Mas. Setelah ini, aku tidak akan pernah merepotkan Mas Riyan lagi." Ujarnya lalu turun dari dalam mobil.


Riyan mengirup udara di sekitarnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan kembali udara itu dengan perlahan. Dadanya berkecamuk, jantungnya berdetak tidak karuan. Apa sebenarnya yang sedang di inginkan Zahra, sehingga memintanya menginap di tempat ini berdua. Zahra sengaja mengukur waktu agar mereka tiba di tempat ini saat hampir malam. Riyan terus menatap gadis yang masih berstatus sebagai istrinya itu terus melangkah menuju pintu Villa. Sedangkan dirinya masih terdiam di dalam mobil.


"Ayo, Mas. Kamu akan ketinggalan waktu Magrib loh. Apa sih yang kamu takutkan? Yang seharusnya takut itu aku, karena besok kita akan berpisah." Ujar Zahra dari depan pintu yang sudah terbuka lebar. Gadis itu lalu masuk ke dalam, dan Riyan pun akhirnya menurut keluar dari dalam mobil dan ikut masuk ke dalam Villa.


"Villa ini emang ga ada penghuni nya, Ra?" Tanya Riyan.


"Ada, hantu." Jawab Zahra. Gadis cantik itu lalu tertawa geli karena melihat suaminya cemberut dengan humor garing nya.


"Aku serius." Ujar Riyan.


"Kita shalat dulu, baru kita bicara. Aku akan bicara banyak hal tentang aku, Rayan, dan Mbak Nana. Aku akan membicarakan betapa baiknya dua orang itu padaku, biar kamu malu sekalian." Ujar Zahra.


Riyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ini Villa pemberian Rayan pada ku loh, Mas. Tapi melalui Mbak Nana, dan aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu saat aku menceritakan akan meminta pisah dari mu." Ujar Zahra lagi.


"Aku bisa kok memberikan Villa seperti padamu." Riyan tidak aku kalah dari mendiang adiknya.


Zahra yang sedang melangkah di depan, tiba-tiba menghentikan langkah, kemudian membalik tubuhnya dan menatap Riyan dengan lekat.


"Mas mau memberikan apa saja yang aku minta?" Tanya Zahra.

__ADS_1


"Tentu saja. Apa saja, selagi aku bisa memberikan nya, pasti akan aku berikan." Jawab Riyan yakin.


"Boleh ngga aku meminta cincin pernikahan ini? Tenang aja, aku tidak akan mengenakannya lagi, dan hanya akan menyimpan nya." Tanya Zahra.


"Tentu saja. Hanya itu?" Jawab Riyan.


"Satu lagi, tapi nanti setelah kita shalat Isya berjamaah." Jawab Zahra sambil tersenyum senang.


*****


Shalat magrib telah usai. Kini Zahra tengah menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Riyan.


"Ra, kapan kamu bertemu Rayan?" Tanya Riyan sambil duduk di meja kecil di depan Zahra yang sedang mengaduk masakan di atas kompor.


"Tiga tahun yang lalu. Aku sedang temani Bapak di rumah sakit dengan penyakit yang sama, jantung. Bedanya, Bapak baru mendapatkan penyakit itu di usia senja beliau." Jawab Zahra.


"Kamu cinta sama dia?" Tanya Riyan lagi, dan tanpa ragu Zahra mengangguk mengiyakan.


"Seumur hidup, aku tidak pernah bertemu keluarga sebaik keluarga mu. Di rumah sakit yang menjadi tempat perpisahan kami, di situ juga awal dari hubungan kami terjalin. Namun, begitulah bukan pertemuan namanya, jika tidak menemui perpisahan." Jawab Zahra.


"Mbak Nana jahat, dia hanya menyediakan makanan tidak enak ini untuk mu." Ucap Zahra lagi.


"Dia masih belum mau berbicara dengan ku." Jawab Riyan sendu. "Seluruh keluarga ku marah, karena aku memulai mu, Ra." Sambungnya.


"Makanya jangan melukai gadis cantik seperti ku." Ucap Zahra. Ia lalu mengusap kepala Riyan. "Makan yuk, semoga ga ada racunnya karena aku ikut makan." Sambungnya lagi lalu tertawa.


Setelah makan malam yang hangat itu, keduanya duduk di ruang TV seperti sepasang suami istri yang bahagia. Tertawa dengan lelucon receh yang mereka ciptakan. Bercerita banyak hal tentang kehidupan keduanya sebelum menikah dan masih banyak hal lain yang mereka lakukan di sana.


Hingga akhirnya, waktu Isya pun datang. Untuk sesaat, Zahra masih nampak begitu tenang dan melaksanakan shalat dengan khusyuk seperti biasanya. Namun, setelah empat rakaat itu usai, ia mulai terlihat gelisah.


"Apa yang ingin kamu minta setelah shalat Isya?" Tanya Riyan setelah Zahra mencium punggung tangannya takzim. Keduanya masih duduk di atas sajadah. Hingga beberapa saat terdiam, Zahra meraih tangan suaminya itu, lalu menempelkan tangan hangat itu ke pipinya.


"Mas, aku ingin menjadi istri sepenuhnya untuk mu malam ini." Ucap Zahra yakin.


Riyan menarik tangannya dari genggaman Zahra, lalu menggeleng.


"Aku tidak berhak atas mu." Ucapnya.

__ADS_1


"Tapi aku berkewajiban menyerahkannya untuk mu." Jawab Zahra.


Riyan memegang kedua bahu Zahra lalu menatap gadis yang entah kapan mulai ia cintai itu, dengan lekat.


"Aku tidak mau merusak mu, Ara. Persembahkan pengabdian mu itu pada orang yang pantas mendapatkannya. Aku tidak pantas atas itu semua." Mohon Riyan.


Zahra melepaskan mukenah yang menutupi kepalanya. Rambut panjang yang tersembunyi di balik jilbab kini terlihat dengan jelas. Riyan beranjak dari atas sajadah, namun, Zahra segera menahannya.


"Mas bertanya apa yang aku minta, kan? Ini lah permintaan ku untuk yang terakhir kalinya. Malam pertama dan terakhir." Ujar Zahra.


Riyan kembali duduk bersimpuh di hadapan Zahra, hingga beberapa saat kemudian ia menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapannya. Berulang kali mencium kepala istri keduanya itu. Menghirup dalam-dalam wangi dari rambut panjang yang pertama kalinya ia lihat.


"Aku takut akan semakin melukai mu, Ra." Ucap Riyan dengan tubuh bergetar karena menangis. Entah malaikat apa yang Allah titipkan di tubuh gadis ini, hingga begitu berbesar hati atas apa yang sedang terjadi di antara mereka.


"Bacakan do'a itu di atas kepala ku, Mas." Pinta Zahra lagi. "Beri aku kesempatan untuk menyempurnakan agama ku." Sambungnya.


Riyan melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik itu dengan lekat, seakan ingin merekam dengan baik, wajah gadis yang telah ia lukai, namun, masih bersedia melakukan kewajibannya.


Ciuman pertama kalinya terasa di kening Zahra. Gadis itu menutup matanya, menikmati gelenyar aneh yang menjalar di tubuh nya karena kecupan itu. Beberapa saat mereka berpandangan, keduanya lalu beranjak dari atas lantai dan pindah ke atas ranjang besar yang ada di ruangan itu.


"Biar aku yang melakukannya." Cegah Riyan saat Zahra hendak membuka kancing terusan yang ia kenakan.


Setetes air mata mengalir di sudut mata Zahra. Perih begitu terasa di inti tubuhnya saat pertama kali mempersembahkan mahkota yang ia jaga selama dua puluh enam tahun hidupnya.


Riyan tidak jauh berbeda dengan Zahra. Selama penyatuan itu, tak henti-hentinya ia mencium wajah cantik Zahra, sambil mengucapkan kata maaf berulang kali. Meminta maaf karena tidak bisa menahan hasratnya untuk menyentuh gadis yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.


Setelah selesai malam pertama itu, Zahra kembali menguatkan hati dan tubuhnya dan bersiap bangkit dari atas ranjang untuk membersihkan diri. Namun, Riyan menahan tubuh mungil itu, dan membawanya masuk ke dalam pelukan.


"Malam ini, menangis lah pelunakan aku. Keluarkan semua air mata yang terus kamu sembunyikan, hanya agar aku dan keluarga ku merasa baik-baik saja." Ujar Riyan.


Zahra diam, dan hanya melingkarkan tangannya di tubuh Riyan. Selimut putih yang menutupi tubuh keduanya, semakin ia peluk erat.


"Aku ngga akan menangis di malam pertama ku." Jawab Zahra tersenyum sambil mendongak menatap Riyan.


Riyan mengecup bibir tipis yang baru sara ia nikmati itu berulang kali, membuat si empunya semakin tersenyum.


"Ini adalah kenangan paling indah yang akan aku simpan, Mas. Mas Rayan percaya kamu adalah orang yang tepat, maka aku pun tidak akan ragu akan hal itu" Ucap Zahra membuat Riyan semakin mengeratkan pelukannya seakan tidak rela jika malam ini adalah malam pertama sekaligus terakhir untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2