
Ku Terima Hinaan Kalian | 23
Keberuntungan Aalis hari ini membuat Aalis menjadi pusat kebencian para pejabat yang menghadiri pertemuan itu. Mereka merasa dunia tidak adil, apalagi bagi mereka yang berniat memberikan putri mereka pada Putra Mahkota Jackson.
Apa yang telah Aalis lakukan dikehidupan wanita itu sebelum nya? Mungkin kah ia pernah menyelamatkan sebuah kerajaan hingga di kehidupan ini ia mendapatkan keberuntungan yang tidak masuk akal.
Karena pertemuan sudah selesai Raja, ratu dan para selir meninggalkan aula. Para pejabat tinggi pun mulai membubarkan diri mereka.
Putra Mahkota Jackson berjalan menghampiri Aalis.
"Aku akan mengantar mu istirahat."
"Tidak. Aku bisa sendiri."
"Ayolah, Aalis. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai calon suami mu. Memastikan kau aman sampai kau ada di sebelah ku di atas altar pernikahan." Putra Mahkota Jackson lalu tersenyum manis.
Istri para pangeran lain dan para pelayan wanita yang masih muda terpesona oleh senyum itu. Untuk pertama kalinya mereka melihat senyum Jackson.
Hanya karena seorang Aalis. Putra Mahkota Jackson dapat menunjukkan senyum itu. Di belakang kedua nya berdiri Pangeran Caesar.
Ia menatap jijik kakak nya, bagaimana mungkin karena wanita buruk rupa itu kakak nya bisa tersenyum. Ia berjalan menghampiri keduanya, dan tiba-tiba menarik cadar yang menutupi wajah Aalis hingga semua orang bisa melihat wajah itu.
Semua orang terpaku, seakan jantung mereka berhenti berdetak. Siapakah yang ada di hadapan mereka saat ini, Dewi kah ia?
__ADS_1
Kulit nya begitu mulus, putih, cerah. Memiliki hidung yang mancung, bibir yang mungil berwarna merah muda. Serta mata yang se tajam Phoenix dengan iris berwarna biru yang se tenang laut.
Mereka bagaikan melihat jelmaan Dewi. Rumor yang mereka dengar dari para prajurit kini tidak berlaku, banyak yang mengaguminya tetapi banyak juga yang membenci nya.
Pangeran Caesar masih dengan keterkejutan nya diam tidak berkutik. Putra Mahkota Jackson segera merebut kembali cadar itu dan memakaikan di wajah calon istrinya.
Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, dan yang boleh menyaksikan kecantikan itu hanya dirinya seorang. Kini mereka paham mengapa Putra Mahkota Jackson memilih Aalis untuk dijadikan istri.
"Bersikap sopan lah pada calon kakak ipar mu, Pangeran Caesar."
Putra Mahkota Jackson segera membawa Aalis pergi meninggalkan tempat itu. Dalam hati, Aalis masih kesal pada Jackson yang menghalangi nya untuk pergi.
Sopan? Ia pikir Jackson juga sama buruk nya dengan Caesar. Ingin rasanya ia memaki orang yang sedang menarik nya ini.
Sedangkan Pangeran Caesar. Ia mengepalkan tangan nya kuat, menatap tajam punggung Putra Mahkota dan Aalis yang pergi.
"Kau boleh pergi."
Aalis tak menatap Jackson saat mengatakan hal itu. Jackson mengerutkan kening, ada apa dengan wanita yang ada di hadapannya ini.
"Ada apa dengan diri mu? Apa ada yang salah?"
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas apapun. Aku lelah."
__ADS_1
Ia berjalan meninggalkan Jackson. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba saja Jackson menariknya. Dan dirinya jatuh pada pelukan pria itu.
"Jangan seperti itu, katakan pada ku. Apa yang membuat mu marah?"
Dengan lembut Jackson bertanya. Ia mengelus pucuk kepala Aalis dengan sayang, menyalurkan kehangatan lewat pelukan.
"Mengapa kau mengikat ku dengan pernikahan? Aku ingin bebas, aku tidak ingin ada konflik harem istana."
Aalis tentu saja tahu bagaimana kejam nya Ratu Beatrix yang ingin mengamankan posisinya sebagai Ratu. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi di kehidupan nya.
Jackson tersenyum. Ternyata itu yang membuat Aalis kesal padanya.
"Istriku hanya akan ada satu, dan itu adalah diri mu. Aku tidak akan pernah mengambil selir."
"Aku tidak percaya."
"Aku akan membuktikan nya dengan pernikahan kita. Tidak akan pernah ada wanita lain di hatiku, hati ini hanya akan diisi oleh dirimu seorang."
Hati Aalis sedikit tersentuh. Ratu Alarice -- Ibu Aalis di Kerajaan iblis telah memasang segel di hati Aalis agar wanita itu tidak merasakan cinta lagi.
Namun, sepertinya itu tak akan bertahan lama. Aalis tersentuh akan ucapan Jackson, segel itu terlihat ada garis garis retakan.
Aalis merasa bingung dengan perasaan nya. Sebelum nya ia merasa marah pada Jackson tapi, entah perasaan apa yang tiba-tiba bersemayam di hatinya.
__ADS_1
Ia langsung melepaskan pelukan itu dan masuk ke kamar yang telah di sediakan untuk nya istirahat.
Setelah memastikan Aalis aman. Jackson melangkah pergi dari paviliun itu untuk kembali ke kediamannya.