
Ku Terima Hinaan Kalian | 37
Kemat ian Selir Agung Dhyanda begitu menggemparkan istana pagi ini. Dan yang lebih parah nya Selir Agung tewas karena ulah nya sendiri.
Raja Wylus turun tangan dan langsung memenggal kepala Selir Agung Dhyanda. Selir Kehormatan Aghata melihat ke arah mayat Selir Agung Dhyanda.
Ia mengingat kembali bagaimana saat malam pertempuran itu terjadi.
Selir Agung Dhyanda menyeret tubuh tak berdaya Ratu Eliosia. Selir Kehormatan Aghata meringis melihat apa yang Selir Agung Dhyanda lakukan.
Sebenarnya, tanpa Selir Agung Dhyanda ketahui. Ia datang tidak seorang diri, ada Raja Wylus yang melihat semua ini dari belakang.
Awalnya Raja Wylus ingin menghampiri dan memarahi Selir Agung Dhyanda. Wanita itu sudah berani mencelakai istri kesayangan nya.
Namun, Selir Kehormatan Aghata yang bersama nya saat itu melarang. Ia yang menghampiri Selir Agung Dhyanda.
Selir Agung Dhyanda membawa tubuh tak berdaya Ratu Eliosia ke ruang bawah tanah yang ada di belakang kediaman nya. Selir Kehormatan Aghata sedikit terkejut melihat ada nya ruang bawah tanah di kediaman itu.
Di belakang, Raja Wylus tak kalah terkejut nya. Bagaimana bisa di istana nya ada ruang bawah tanah seperti itu.
"Selir Agung! Apa yang kau lakukan?!"
Selir Kehormatan Aghata membentak Selir Agung Dhyanda. Bagaimana tidak, begitu banyak senjata tajam di ruangan itu dan Selir Agung Dhyanda mengarahkan pedang pada leher Ratu Eliosia.
"Diamlah Aghata!!"
Selir Agung Dhyanda kembali membentak marah Selir Kehormatan Aghata. Tangan nya mengayun ke atas, siap untuk menghunus kan pedang itu ke leher Ratu Eliosia.
"Dhyanda!!!"
Trangggg!
__ADS_1
Pedang itu terlempar jauh, bersamaan dengan Selir Agung Dhyanda yang terjatuh. Ia menoleh dan melihat Raja Wylus yang ada di depan nya.
Raja Wylus menatap wajah pucat Ratu-nya. Amarah nya memuncak, ia menatap nyalang Selir Agung Dhyanda. Kemarahan begitu terlihat jelas di mata nya.
"Lancang! Kau berani menyentuh Ratu Ku!"
Raja Wylus meraung marah. Tak terima dengan keadaan Ratu Eliosia. Selir Agung Dhyanda benar-benar sudah membuat nya kehilangan kesabaran.
Dari awal ia tidak menyukai Dhyanda, hanya karena bujukan Ratu nya ia mau memper istri wanita itu. Kini kepercayaan nya pada Dhyanda sudah hilang seketika.
"Bu-bukan begitu, Yang-yang Mulia."
Tubuh Selir Agung Dhyanda bergetar ketakutan. Ia sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, diri nya semakin ketakutan tatkala Raja Wylus berjalan mendekat ke arah nya.
"Arrgghh!"
Raja Wylus menjambak kuat rambut Selir Agung Dhyanda. Wanita itu mendongak, merasakan sakit yang amat sangat karena tarikan di rambut nya yang begitu kuat.
Ia merasa rambut nya akan lepas dengan kulit nya dari kepala. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh nya. Tak hanya menjambak, Raja Wylus juga menginjak kak8 wanita itu. Hingga terdengar,
"Arrgh!"
Kaki Selir Agung Dhyanda yang patah terdengar begitu nyaring.
"Ampun, Maafkan aku. Yang Mulia."
Sekuat tenaga ia memohon pengampunan pada pria yang sedang menyiksa nya itu yang tak lain adalah suami nya sendiri.
"Tidak ada maaf bagi mu. Dan ingat, aku menikahi mu karena Ratu Ku. Aku tidak pernah mencintai mu sedikit pun, bahkan se ujung kuku pun!"
Hati Selir Agung Dhyanda benar-benar teriris, tak ada yang lebih menyakitkan lagi dari pengakuan suami nya itu. Bahkan rasa sakit di kepala dan kaki nya hilang setelah mendengar pengakuan itu.
__ADS_1
Raja Wylus tidak bohong. Ia memang tidak memiliki rasa terhadap wanita yang menjadi Selir Agung nya itu. Dalam pernikahan nya pun, ia hanya sekali meniduri wanita itu dan langsung memiliki Putra yaitu Pangeran Caesar.
"Hiks... Lepas, Yang Mulia."
Tak kuasa. Air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk mata nya, luruh seketika. Air mata itu sudah tak terbendung lagi, ia mengira suami nya sudah mulai mencintai nya karena pria itu begitu menyayangi Pangeran Caesar.
Tapi, nyatanya ia telah salah. Luka batin nya lebih besar dari luka fisik nya saat ini.
Dugh!
Raja Wylus menghempas kan kepala Selir Agung Dhyanda ke lantai. Kepala nya terbentur lantai, tiba-tiba sesuatu benda dingin itu menempel di wajah nya.
Ia lihat pedang yang tadi ia pegang kini berada di genggaman Raja Wylus, pedang itu menempel sempurna di wajah cantik nya.
"Tidak, Yang Mulia. Kumohon, jangan..."
"Bukankah ini alat yang akan kau gunakan untuk membu nuh Ratu ku? Maka rasakanlah!"
"Tidak! Arrghh!..."
Suara itu begitu kencang, hingga perlahan menghilang. Selir Kehormatan Aghata memejamkan mata nya sejenak. Menghela nafas berat dan kembali membuka mata nya.
Ia menghirup oksigen yang terasa berat. Ia tidak menyangka, Selir Agung Dhyanda akan berakhir seperti itu. Entah bagaimana Pangeran Caesar jika mengetahui keadaan ibu nya.
Mengingat Pangeran Caesar, Selir Kehormatan Aghata baru menyadari bahwa pria itu tidak terlihat sejak malam.
"Ibunda."
Selir Kehormatan Aghata menoleh. Dan mendapati Putri nya, Putri Berlia berjalan menghampiri nya. Ia mengulas senyum.
"Ada apa, Putri ku?"
__ADS_1
"Ibunda Ratu menanyakan Ibunda."
Mendengar penuturan putri nya ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju kediaman Ratu Eliosia.