Ku Terima Hinaan Kalian

Ku Terima Hinaan Kalian
Ku Terima Hinaan Kalian | 25


__ADS_3

Ku Terima Hinaan Kalian | 25


Di Kerajaan Langit.


Kejadian yang mereka hindari ternyata terjadi lagi. Dan kini, seorang Dewi sedang terduduk di tengah-tengah ruang tahta.


Ia adalah Dewi Roseanne, adik Putra Mahkota Jackson. Ia tertunduk, sedangkan di depannya sang Raja langit dan Ratu langit berdiri.


Keduanya tak habis fikir pada Putra putri mereka, mereka sebelumnya kecewa pada Jackson yang lebih memilih hidup di dunia fana hanya untuk mengejar cinta nya. Dan terbukti mereka terikat oleh takdir.


Dan kini, Roseanne pun sama. Ia menjalin hubungan dengan salah satu Pangeran Iblis.


"Kau akan di turunkan ke dunia fana!"


Perintah Raja langit mutlak. Roseanne mendongak kan kepada nya, ia sungguh tidak terima dengan keputusan ayahnya.


Sedangkan, Ratu langit. Ia hanya bisa diam, kecewa pada putri nya yang ternyata mengikuti jejak Putra pertamanya. Tapi, sebagai ibu ia juga sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam hatinya ia yakin, putri nya bisa melewati dunia fana dan akan kembali ke alam abadi.


"Tidak, Ayah. Bagaimana bisa! Ia masih hidup, dan akan melamar ku!"


Dengan berani. Roseanne mengajukan protes atas perintah ayah nya sang Raja langit.


Mendengar penuturan putri nya, Raja langit marah. Bagaimana bisa, Iblis menginjakkan kaki di daerah kekuasaan para Dewa.


"Lancang! Kau berani menyebutnya, Dewi Roseanne. Terima hukuman mu dan jalani."


Lalu, Roseanne di tarik para pengawal keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Tidak bisa, Ayah! Kumohon!"


Lalu, Roseanne di buang ke dalam lubang hitam dimana akan mengantarkan dirinya untuk menjalani hukuman di dunia fana.


Lubang yang sama, yang sebelum nya Jackson masuki. Roseanne akan di hidupkan kembali dan menjalani takdir yang telah di tentukan, ia akan melupakan segala yang terjadi saat dirinya menjadi Dewi.


Di sana ia akan menjalani kehidupan untuk menebus kesalahannya.


Di Paviliun Aalis.


"Apa kau tidak melihat Axela?"


Aalis cukup bosan berbicara dengan Sadie. Ia memanggil Axela, namun sepertinya wanita itu sedang sibuk dan tidak ada di samping nya.


Baru Sadie akan menjawab. Tiba-tiba sebuah suara menghentikan pembicaraan mereka.


"Selamat sore, Aalis."


"Selamat sore, Yang Mulia Ratu."


Aalis kembali menyapa wanita di hadapannya.


"Tidak perlu terlalu formal dengan ku. Panggil aku Ibu, bagaimana pun aku akan menjadi ibu mu."


Ratu Eliosia berbicara dengan senyuman yang mengihiasi wajah cantiknya. Dan senyumnya membuat pelayan yang ikut bersamanya terkejut, untuk pertama kalinya Ratu mereka menyapa seseorang dengan tersenyum.


Sedangkan Aalis. Mendengar penuturan Ratu Eliosia, tiba-tiba wajahnya terasa panas. Mungkin jika tidak di tutup cadar, Orang-orang dapat melihat wajah nya itu memerah.

__ADS_1


"Apakah dirimu tidak akan mempersilahkan ibumu untuk duduk?"


"Ah, tentu saja. Silahkan duduk i-ibu."


Ia sedikit malu saat mengatakan kata-kata terakhirnya.


Ratu Eliosia duduk. Para pelayan yang ikut dengan nya, menyajikan teko teh dan cawan kecil yang mereka bawa.


"Cobalah, kau pasti akan menyukainya."


Aalis meraih cawan kecil yang telah diisi teh oleh pelayan Ratu Eliosia. Menyesap dan meminum cairan kental berwarna hijau didalam cawan itu.


Bau bunga melati yang menyeruak dengan aroma teh yang khas, begitu terasa saat Aalis menyesap teh itu.


"Bagaimana?"


Aalis meletakkan cawan kecil itu kembali ke atas tatakan yang ada di meja. Ia tersenyum menatap sang Ratu. Entah perasaan apa, yang jelas dirinya merasa nyaman berada di sekitar Ratu dan merasakan kehangatan yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari Ratu Beatrix ataupun Selir lain.


"Aroma teh nya begitu khas dan bunga melati yang begitu menyeruak dalam penciuman. Serta rasa teh ini yang tidak hambar ataupun terlalu pahit. Aku suka, Bu."


Mendengar penuturan Aalis. Ratu Eliosia kembali mengulas senyum, hatinya merasa senang atas ucapan Aalis yang terdengar begitu tulus.


"Jika kau menyukainya. Pelayan akan mengantarkannya, kau bisa menikmatinya setiap sore."


"Terimakasih banyak, Bu."


Lalu, mereka melanjutkan dengan membicarakan hal ringan. Sesekali Aalis akan tertawa karena candaan yang diberikan Ratu Eliosia.

__ADS_1


Sadie yang melihat tawa Aalis, mengukir senyum haru dan bahagia. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang dapat membuat majikannya tertawa lepas. Tanpa beban, dan bukan sandiwara belaka. Sadie ikut senang atas kehidupan majikannya saat ini.


Begitu pun pelayan setia Ratu Eliosia. Wanita itu, kini bisa melihat wajah bahagia Ratu-Nya setelah kepergian Putri pertama nya beberapa tahun lalu.


__ADS_2