Ku Terima Hinaan Kalian

Ku Terima Hinaan Kalian
Ku Terima Hinaan Kalian | 35


__ADS_3

Ku Terima Hinaan Kalian | 35


"Aku pergi, Ibu."


"Hati-hati, Putra ku."


Pangeran Caesar memacu kuda nya. Ia mulai meninggalkan kediaman Selir Agung, tekad nya untuk menghancurkan Putra Mahkota Jackson benar-benar kuat. Apalagi setelah ia melihat bagaimana Jackson berbahagia atas pernikahan nya.


Kebencian yang di timbun semakin tinggi, dan ia akan menemui Anson. Mantan Putra Mahkota Menzel, yang akan membantu nya untuk menghancurkan Jackson.


Malam yang sepi dan dingin, tak menyurutkan tekad Pangeran Caesar untuk terus berkuda. Dengan beberapa prajurit yang ia bawa, ia terus melangkah.


Sementara itu, di kediaman Selir Agung Dhyanda. Setelah ke berangkatkan Putra nya, ia memutuskan untuk masuk kembali.


Langkah nya terhenti, saat mendapati Ratu Eliosia yang berdiri tak jauh dari nya. Ia mengerutkan kening heran, untuk apa Ratu Eliosia menginjakkan kaki di kediaman nya.


"Ada apa gerangan Yang Mulia Ratu kemari?"


Sangat jelas, nada tidak suka Selir Agung Dhyanda lontar kan pada Ratu Eliosia.


'Plakkkk!


Tepat saat Selir Agung Dhyanda berdiri beberapa centi. Ratu Eliosia menampar nya, ia memegangi wajah nya yang terasa panas, serta perih. Bahkan bekas kemerahan membekas di wajah nya.


"Kau ingin memb*nuh Putra ku? Langkahi dulu mayat ku!"


Ratu Eliosia berseru dengan amarah yang memuncak. Ia benar-benar marah, akan apa yang di lakukan Selir Agung Dhyanda. Wanita itu benar-benar tidak tahu cara berterimakasih dengan benar.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu. Setelah pesta selesai, Ratu Eliosia memutuskan untuk menemui Selir Agung Dhyanda. Berpikir wanita itu sedang sedikit kesal karena se harusnya yang menikah adalah putra nya dan ini adalah hari berbahagia mereka.


Namun, ternyata tidak sesuai dengan rencana, yang pada akhirnya putra nya lah yang menikah.


Langkah tegas dan anggun itu terus melangkah, para pelayan kediaman Selir Agung menunduk hormat saat sang Ratu melewati mereka.


"Dimana Selir Agung?"


Ratu Eliosia bertanya pada seorang pelayan yang sedang melakukan pekerjaan nya.


"Menjawab Ratu. Selir Agung sedang berada di halaman belakang kediaman."


Ratu Eliosia mengangguk. Ia kembali melangkah, ia datang sendirian tanpa ada satu pun pelayan yang ikut dengan nya. Mungkin akan berbahaya, namun entahlah.


Langkah nya tiba-tiba terhenti saat mendengar percakapan antara Selir Agung Dhyanda dan Pangeran Caesar.


"Baiklah putra ku, ibu selalu mendukung mu."


"Ya, Bu. Aku tidak sabar untuk segera melihat mayat Jackson."


"Dan ibu menantikan wajah sedih Eliosia seperti beberapa tahun lalu."


Lalu kedua nya tertawa bahagia. Ratu Eliosia yang mendengar nya paham apa yang ke-dua orang itu maksudkan. Tangan nya mengepal kuat, hingga buku-buku jari itu terlihat memutih.


Ia masih diam dan mendengar kan semua yang mereka bicarakan. Dan ada bagian yang membuat Ratu Eliosia bingung, apakah ia tidak salah mendengar.


"Tidak peduli dia reinkarnasi Dewa Jackson ataupun apa."

__ADS_1


Dewa Jackson, benarkah putra nya adalah reinkarnasi seorang Dewa. Dalam hati nya, Ratu Eliosia begitu bersyukur. Ia ingat, ia sering menyembah Dewa Phoenix saat mengandung Jackson.


Tak lama setelah pembicaraan itu, Pangeran Caesar pergi dengan beberapa prajurit. Selir Agung Dhyanda berbalik dan melangkah pergi meninggalkan halaman belakang kediaman nya.


Dan saat ia bertanya dengan mengejek, kemarahan Ratu Eliosia semakin meningkat. Ia layangkan tamparan untuk Selir Agung Dhyanda, dengan kemarahan yang tak terbendung lagi.


"Bagaimana jika aku memb*nuh mu sekarang!"


Dengan berani, Selir Agung Dhyanda mengeluarkan belati yang selalu ia simpan di balik gaun nya. Dengan cepat Ratu Eliosia menghindar.


Kemampuan bela diri kedua nya setara, dulu ketika mereka masih bersahabat. Mereka sangat menggemari bela diri.


Pertarungan sengit terjadi antara Ratu Eliosia dan Selir Agung Dhyanda. Selir Agung Dhyanda terus menghunus kan senjata nya pada Ratu Eliosia yang tak membawa apapun.


Ratu Eliosia masih terus berusaha mengelak, namun karena ia tidak membawa senjata. Beberapa kali kulit nya tergores belati itu dan mengeluarkan d*arah.


Belati yang sudah di lumuri oleh racun itu terasa panas saat meninggalkan luka di kulit Ratu Eliosia. Tanpa membutuhkan waktu lama, Ratu Eliosia tumbang di bawah kaki Selir Agung Dhyanda.


Selir Agung Dhyanda tersenyum licik, ia begitu senang. Tanpa di duga, ia akan menghabisi Ratu Eliosia sekarang. Dan itu adalah impian nya.


"Selamat tinggal, Eliosia!"


Dengan kaki yang menginjak leher Ratu Eliosia yang tak berdaya, Selir Agung Dhyanda mengangkat belati nya dan bersiap untuk menghujam Ratu Eliosia dengan belati itu.


Dan!...


"Dhyanda!"

__ADS_1


__ADS_2