
Ku Terima Hinaan Kalian | 26
"Kurang ajar! Beraninya dia mempermalukan Putra ku!"
Di kamarnya, Selir Agung Dhyanda meraung marah. Dari awal ia sudah tidak menyukai Aalis, dan kini kebencian itu semakin bertambah.
"Lalu, apa yang Ayah mu katakan?"
Ia beralih pada putranya yang sedang duduk dengan dengan wajah berantakan.
"Ayah mengatakan tidak bisa mengubah perintahnya, Bu. Aku memang tidak bisa menggeser posisi Putra Mahkota itu, tapi aku bisa melakukan pemberontakan."
Selir Agung Dhyanda mengerutkan kening nya, alis nya bersatu. Ia sedikit tidak paham dengan ucapan sang Putra, namun kembali ia mengerti apa yang dimaksudkan.
"Ya, ibu akan mendukung mu. Tidak peduli apa yang akan terjadi pada kerajaan ini."
Kemudian, senyum mengembang di wajah keduanya. Pangeran Caesar yang berambisi untuk menjadi Raja di kerajaan ini dan tentu akan memiliki Aalis.
Setelah ia menjadi Raja, ia akan membuang semua orang-orang yang sudah meremehkan nya. Dan Selir Agung Dhyanda, seperti nya wanita itu bagaikan kacang yang lupa kulit nya.
Karena kekuasaan membuat nya gelap mata. Ia lupa, siapa dulu yang membantunya hingga dirinya dapat hidup dengan nyaman dan menyandang status Selir Agung kerajaan nya.
Tiba-tiba, ada seorang pelayan yang mengetuk pintu dimana tempat mereka berada.
"Ada apa?"
Pangeran Caesar membukakan pintu dan bertanya dengan datar pada pelayan yang berdiri di hadapan nya saat ini.
"Ada kiriman surat untuk Pangeran."
Pelayan itu menunduk hormat seraya memberikan apa yang ada dalam genggaman nya. Lekas, Pangeran Caesar meraih kertas itu.
Selembar kertas kosong. Namun, Pangeran Caesar tidak bod*h dirinya tahu bagaimana cara agar tulisan itu muncul. Tentu saja dengan api.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Pelayan itu pun melangkah pergi. Dan dirinya kembali masuk dengan membawa selembar kertas itu.
__ADS_1
"Apa yang kau bawa, Putra ku?"
Selir Agung Dhyanda bertanya sambil melihat ke arah kertas yang di pegang oleh Putranya.
"Kiriman surat, Bu."
Lalu, ia mengambil lilin. Kertas itu ia panaskan di atas api, perlahan tapi pasti. Kertas kosong itu mulai memunculkan tulisan di dalam nya.
Pangeran Caesar membaca isi surat itu, dan Selir Agung Dhyanda mendengarkan apa isi surat tersebut.
Seketika wajah keduanya di buat terkejut dengan isi surat itu.
"Beatrix dan Anson masih hidup?"
Selir Agung Dhyanda sungguh tidak menyangka, sahabat nya itu masih hidup. Ya, isi surat itu mengatakan dimana keberadaan mantan Ratu Beatrix dan mantan putra Mahkota Anson.
Selain itu, surat itu juga mengatakan. Bahwa Putra Mahkota Jackson adalah reinkarnasi seorang Dewa, dan Aalis adalah reinkarnasi seorang Iblis.
Mereka benar-benar dikejutkan dengan kenyataan itu. Awalnya keduanya tidak percaya, tapi setelah mengingat kejadian sebelum kini keduanya percaya.
Sudah beberapa kali Pangeran Caesar ingin melukai Putra Mahkota Jackson, begitu pun dengan Selir Agung Dhyanda. Namun, selalu gagal dan gagal.
Keduanya memang menginginkan kemat*an Putra Mahkota Jackson, tapi untuk Aalis. Pangeran Caesar ingin memiliki nya tanpa harus memb*nuhnya.
Mereka juga tentu saja tahu dimana letak Pedang Pemb*nuh Jiwa itu. Pedang itu tertanam di gunung iblis.
Sangat sulit untuk melewati jalan yang akan di tempuh. Namun, sesulit apapun mereka akan tetap berusaha. Dan, langkah awal yang akan mereka ambil adalah menemui Beatrix dan Anson.
Kini rencana mereka yang sempurna akan semakin sempurna dengan adanya pedang pemb*nuh jiwa itu.
"Baiklah, kita hanya harus bersikap seperti biasa."
Malam menyapa. Bulan bersinar di langit dengan ditemani bintang yang menghiasi langit malam. Di taman kediaman itu ada sepasang manusia yang saling menggengam tangan dengan ekspresi yang berbeda.
Sang pria terlihat senang namun berbeda dengan sang wanita yang terlihat kesal.
"Sampai kapan anda akan memegang tangan ku, Yang Mulia."
__ADS_1
Nada kesal terdengar jelas dalam perkataan Aalis. Namun, sepertinya Putra Mahkota Jackson mendadak tuli. Ia tidak memperdulikan apapun yang wanita di samping nya katakan.
Ia tersenyum menawan. "Aku tidak ingin melepaskan nya. Bisakah kau pindah ke kediaman ku sekarang juga?"
"Tanggal pernikahan belum di atau, Yang Mulia. Jangan membawaku seakan aku wanita murahan."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Aalis. Kau tahu seberapa bernilai dirimu untuk ku."
"Aku mual mendengar ucapan mu. Lepaskan tangan ku sekarang juga. Aku lelah dan ingin istirahat." seru Aalis.
"Aku akan mengantar mu masuk. Dan ya, aku juga akan berada di paviliun mu sedikit lebih lama."
"Aku ingin istirahat, apa kau tidak mendengar ucapan ku tadi?!"
"Aku mendengar nya. Tidak apa-apa kau beristirahat. Aku akan menemani mu."
Aalis tidak tahu jika Putra Mahkota Jackson sangat tidak tahu malu. Ia dengan terang-terangan tidak ingin diganggu oleh pria itu, tapi pria itu tetap ingin berada di dekat nya.
"Terserah kau saja." Aalis kemudian melangkah, tapi tangan nya masih tertahan oleh Putra Mahkota Jackson.
"Tunggu aku, Calon istriku." Putra Mahkota Jackson mengedipkan sebelah mata nya pada Aalis.
Aalis memutar bola mata nya. Ia tidak percaya reputasi Jackson di luar sana yang tidak pernah terdengar bersama seorang wanita.
Kenyataan nya saat ini lidah Jackson sangat pandai menggoda nya.
"Kenapa harus aku? Di dunia ini kau bisa memilih wanita mana pun. Aku bahkan tidak pantas bersanding dengan mu."
Tiba-tiba saja Aalis mengatakan hal itu.
"Kau menilai dirimu sendiri terlalu rendah. Bagi ku hanya kau yang pantas untuk ku. Aku tidak menginginkan wanita lain, karena aku hanya menginginkan diri mu. Dan kenapa itu kau, hatiku terarah pada mu." Jackson berbicara dengan seluruh kejujuran yang ia miliki.
Setelah nya hening, hanya mata mereka yang saling menatap. Satu dengan ketulusan dan satu dengan ketidak percayaan. Aalis sudah tersakiti se demikian rupa, ia menjadi sangat sulit untuk mempercayai orang lain.
Aalis melepaskan genggaman Jackson dari tangan nya, lalu ia mulai melangkah hendak meninggalkan Jackson.
Akan tetapi, Jackson menangkap tangan nya dengan cepat, menyentak nya sedikit dan semua terjadi. Entah kapan Jackson menarik cadar nya. Dan pria itu saat ini sudah mencium nya.
__ADS_1
Ini adalah ciuman pertama nya. Dan pria pertama yang melakukan nya adalah Jackson.