Ku Terima Hinaan Kalian

Ku Terima Hinaan Kalian
Ku Terima Hinaan Kalian | 40


__ADS_3

Ku Terima Hinaan Kalian | 40


Aalis dan Jackson telah kembali ke istana. Se pulang nya dari pasar, Aalis memutuskan untuk menemui Ratu Eliosia. Ia sedikit terkejut mengenai keadaan Ratu Eliosia yang di beritahukan oleh suami nya.


Namun, begitu kesal juga kepada Jackson. Mengapa pria itu memberitahu nya di waktu yang begitu terlambat? Menantu macam apakah ia?


"Bagaimana keadaan ibunda? Maaf, aku baru datang."


Terlihat sangat penyesalan di wajah Aalis. Dan semua yang ada di kamar Ratu bisa melihat nya. Putri Berlia begitu benci dan muak pada Aalis, ia mencibir wanita itu.


"Ck. Perkataan yang membosankan. Katakan saja kau tidak ingin kemari."


Seketika Aalis langsung memasang wajah datar mendengar perkataan Putri Berlia. Bukan apa, Putri itu tidak menyukai Aalis karena sudah merebut Kakak Putra Mahkota nya. Semenjak ada Aalis, sudah jarang kakak nya itu berlatih berpedang bersama nya.


"Putri Berlia, kau tidak boleh seperti itu. Dia kakak mu juga, dan Permaisuri. Tidak perlu meminta maaf, aku baik-baik saja."


Ratu Eliosia bersuara pelan sambil tersenyum menatap Permaisuri Putra nya dan putri nya itu. Ia tidak ingin ada perselisihan antara Aalis dan Berlia.


Aalis kembali tersenyum menatap Ratu Eliosia. Sedangkan Putri Berlia, ia mengepalkan tangan nya kuat. Sekarang, tidak hanya kakak Putra Mahkota nya yang Aalis rebut, tapi ibunda Ratu nya juga.


Putri Berlia tidak bisa membiarkan ini. Ia pergi meninggalkan kamar Ratu Eliosia dengan amarah di dada nya. Ratu Eliosia bisa melihat kemarahan itu di wajah putri nya.


"Racun Dandelion?"


Aalis bergumam pelan, akan tetapi ucapan nya masih bisa terdengar jelas oleh Ratu Eliosia.


"Apa maksud Permaisuri?"


"Ibunda, mengapa racun ini belum di bersihkan?"


Aalis menatap khawatir pada Ratu Eliosia. Ia melihat luka bekas sayatan pedang di pergelangan tangan kiri Ratu Eliosia. Di luka itu sedikit terlihat berwarna kuning jika di perhatikan.


"Racun Dandelion?"

__ADS_1


"Racun itu memang menyebar lama ibunda, namun jika sudah sampai pembuluh darah bisa menyebabkan kemat ian mendadak yang tidak diketahui penyebab nya. "


Rupanya, Selir Agung Dhyanda sudah memperkirakan semuanya. Jika ia tewas, Ratu Eliosia akan tetap tewas. Benar-benar sahabat yang begitu pengertian, bahkan ma ti pun ia membawa sahabat nya.


"Axela!"


Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada mertua nya, Aalis memanggil Axela untuk datang. Tanpa membutuhkan waktu lama, Axela tiba. Untuk pertama kali nya setelah sekian lama, Axela kembali menunjukkan wujud nya di depan orang lain selain Aalis dan Jackson.


"Axela menghadap, Permaisuri."


Junjungan nya hanya Aalis dan Jackson. Tak peduli walaupun orang di samping Aalis adalah wanita nomor satu di negeri ini. Ia hanya akan menyapa Aalis.


"Cepat periksa racun ini. Bukan kah ini racun Dandelion?"


Mendengar perkataan Aalis yang sedikit panik. Axela segera memeriksa luka yang ada di pergelangan tangan kiri Ratu Eliosia. Dari luka itu, Axela beralih memeriksa luka-luka lain yang ada di tubuh Ratu Eliosia.


"Anda benar, Permaisuri. Dan yang paling parah adalah di pergelangan tangan ini. "


Setelah selesai memeriksa, Axela memberitahukan nya pada Aalis.


Ratu Eliosia yang memerhatikan Axela sejak kedatangan wanita itu. Kini, pandangan nya teralihkan. Ia tertegun, menatap kesungguhan di wajah Aalis yang begitu khawatir akan keadaan nya.


Axela mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil yang ia simpan di balik gaun hijau nya. Ia tetes kan cairan hijau yang sedikit kental dan pekat itu ke luka di seluruh tubuh Ratu Eliosia.


Tiba-tiba, kepala Ratu Eliosia terasa berat. Ia berusaha membuka mata nya, namun pandangan nya mulai kabur. Dan perlahan ia tak sadarkan diri.


"Racun nya sudah di detoksifikasi, Permaisuri. Ini adalah salah satu pengaruh yang di tunjukan oleh tubuh Ratu."


Axela kembali menjelaskan, setelah melihat Ratu Eliosia tertidur.


"Baiklah, terimakasih."


Kini Aalis sedikit lega. Ia tidak perlu mengkhawatirkan Ratu Eliosia lagi. Racun itu sudah di detoksifikasi, dan akan sembuh dalam beberapa saat lagi.

__ADS_1


"Sama-sama, Permaisuri."


Axela kembali menghilang bagaikan hembusan angin. Jejak nya begitu tak terlihat dan sangat sulit di tebak.


Disisi lain.


Putra Mahkota Jackson kini sedang duduk di taman Lavender bersama adik nya, Putri Berlia. Tidak sengaja ia berpapasan dengan adik nya itu ketika keluar dari ruang kerja Ayah mereka.


"Ku lihat kau membenci istri ku. Kenapa adik? Apakah kau tidak bisa berdamai dengan nya?"


Putra Mahkota Jackson bertanya pada Putri Berlia. Ia usap lembut surai hitam adik nya itu.


"Untuk apa berdamai dengan manusia tirani seperti nya! Membuang waktu ku!"


Putri Berlia kesal ketika Kakak nya itu membahas Aalis.


"Apa maksud mu mengatakan nya manusia tirani?"


Putra Mahkota Jackson heran, ia menaik kan sebelah alis nya. Tidak paham dengan ucapan adik nya.


"Ia pantas mendapat julukan itu, kak. Kau tau seluruh negeri tahu, diri nya adalah wakil jendral wanita yang kejam. Ia tak pandang bulu akan musuh nya itu."


Putra Mahkota Jackson mengulas senyum tipis nya. Kini ia paham mengapa sikap adik nya seperti itu. Ia juga tahu, diri nya sudah lama tidak berlatih pedang bersama Putri Berlia. Pasti gadis itu kesal.


"Kakak mu ini juga tak pandang bulu di medan perang. Apa kakak mu ini juga manusia tirani? Seperti nya kami berdua memang manusia tirani?"


Seketika raut wajah Putri Berlia yang begitu kesal dan enggan menghadap ke arah kakak nya bingung. Lantas, ia berbalik dan menghadap ke arah kakak nya.


"Berdamai lah dengan Permaisuri, adik ku. Aku yakin, kau orang yang baik."


Ia kembali berbicara tenang dan lembut. Lalu bangun dari duduk nya, dan pergi meninggalkan adik nya dengan sejuta kebimbangan.


Putri Berlia berpikir. Apakah yang ia ucapkan dan cap kan pada Aalis itu salah. Bisakah ia berdamai dengan istri kakak nya itu?

__ADS_1


"Hagh...! Aku tetap tidak menyukai nya. Bagaimana bisa kakak memaksa ku."


Ia bangun dari duduk nya. Berjalan pergi meninggalkan taman Lavender itu dan menuju ke kediaman nya. Ia akan memikirkan lagi ucapan kakak nya itu.


__ADS_2