
Ku Terima Hinaan Kalian | 42
Sudah satu minggu berlalu. Jackson tidak pernah mendatangi Aalis lagi hingga hari ini. Pria itu masih marah karena Aalis menemui Caesar.
Ia juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh kedua nya ketika mereka bertemu. Memikirkan hal itu hanya ingin membuat Jackson meledak.
Jackson tidak akan begitu marah jika Aalis belum menerima nya sebagai suami, tapi masih berhubungan dengan Caesar di belakang nya itu telah membakar jiwa nya.
Jackson mengalihkan kemarahan nya pada salah satu Jendral terbaik di Groft yang menjadi teman berlatih nya.
Jenderal itu terjatuh di tanah dengan ujung pedang Jackson yang berada di depan leher nya. Di latihan pagi ini Jendral tersebut kalah lagi, pria itu memang tidak pernah bisa menang jika melawan Jackson.
Dari arah belakang Jackson, ada Berlia yang bertepuk tangan. Wanita itu mengulurkan tangan nya pada sang Jendral. "Kau harus berlatih lebih baik lagi, Jenderal."
Jenderal tersebut telah berdiri di depan Berlia. "Terima Kasih, Putri."
"Berikan pedang mu pada ku." Berlia membuka tangan nya.
Jenderal tersebut segera menyerahkan pedang nya seperti yang Berlia minta. Ia keluar dari arena bertarung Putra Mahkota nya.
Sudah cukup lama bagi kedua nya tidak berlatih bersama, mungkin Berlia merindukan kebiasaan nya dengan sang kakak.
"Aku dalam suasana hati yang tidak baik, Berlia. Mungkin kau akan terluka." Jackson memperingati Berlia lebih dahulu.
Berlia terkekeh kecil. "Kalau begitu lampiaskan amarah mu, Kak. Bertarung lah dengan ku."
"Kau dengan gaun mu? Jangan bercanda."
"Kenapa? Aku merasa baik-baik saja dengan pakaian ku."
__ADS_1
"Baiklah. Jika kalah jangan menangis."
"Kapan aku pernah menangis kalah dari mu?" Berlia bergerak maju menyerang Jackson.
Jackson tidak pernah membedakan apakah lawan nya seorang wanita ataupun pria, ia tetap menggunakan kekuatan yang sama.
"Kemampuan bertarung mu semakin baik, Berlia." Jackson memuji Berlia yang berhasil menghalau berbagai serangan dari nya.
Berlia tersenyum sombong. "Tentu saja. Aku Berlia." ia mengayunkan pedang nya lagi ke arah Jackson. Wanita ini menyerang Jackson dari segala arah. Kaki dan tangan nya bergerak se irama.
Sejak kecil Berlia tidak memiliki cita-cita bisa bermain pedang, tapi karena ia menyukai kakak Putra Mahkota nya maka ia melakukan hal-hal yang juga di sukai kakak nya itu, meskipun mustahil untuk rasa suka nya.
Ia tidak peduli jika tangan nya yang halus menjadi kasar karena terlalu sering memegang pedang. Ia tidak peduli mendapatkan beberapa luka padahal sebagai seorang perempuan ia harus menjaga kulit nya agar tetap mulus.
Namun, siapa yang menyangka jika pada akhirnya apa yang ia lakukan tidak membuat Jackson tertarik pada nya sedikit pun. Meski begitu Berlia tidak berhenti berlatih meski ia patah hati.
Ia jadi menyukai seni beladiri dan ingin lebih mendalami nya lagi. Setidaknya itu akan berguna untuk dirinya sendiri.
Jackson dan Berlia masih bertarung, tidak mau mengalah satu sama lain.
Tanpa mereka sadari dari atas Aalis tengah memperhatikan keduanya. Jadi ini alasan kenapa Jackson tidak pernah menemui nya lagi beberapa hari ini? Jackson sibuk dengan Berlia. Bagus sekali.
Semakin Aalis memperhatikan Jackson dan Berlia, ia semakin marah, tapi ia tidak mengakui bahwa asal kemarahan nya itu karena kebersamaan Jackson dan Berlia.
Ia hanya kesal karena sikap Jackson yang berubah pada nya, pria itu mengabaikan nya.
Jika memang pada akhir nya keberadaannya dianggap tidak ada, untuk apa Jackson harus mempersulit posisi nya dengan menjadikan ia Permaisuri dan Ratu berikutnya kerajaan ini.
"Benar-benar pasangan serasi." Aalis mendengus kasar. Ia segera membalik tubuh nya dan pergi dengan perasaan tidak senang.
__ADS_1
Sampai di kediaman nya, Aalis mendudukkan diri nya di kursi. "Tinggalkan aku sendiri!" Aalis memerintah kan Sadie untuk keluar dari kamar nya.
"Baik, Yang Mulia." Sadie segera melakukan perintah dari majikannya.
Ia tidak tahu kenapa suasana hati Permaisuri nya menjadi buruk ketika melihat Putra Mahkota nya bersama dengan adiknya dari Selir Kehormatan.
Sadie yakin tidak mungkin Permaisuri nya cemburu. Pasti ada masalah lain.
Di dalam kamar, Aalis mencoba untuk memenangkan diri nya. Namun, bayangan Jackson bersama Berlia semakin membuat nya kesal. Ia tahu Berlia menyukai Jackson, wanita itu pasti sedang mencoba untuk merayu Jackson.
Memikirkan tentang hal itu hati Aalis memanas.
Selama beberapa hari ini Aalis merasa ada yang kurang dalam keseharian nya. Biasanya Jackson akan mengunjungi nya entah itu pagi, siang atau malam.
Namun, selama tujuh hari Jackson tidak mengunjungi sedikit pun. Ia pikir Jackson benar-benar sibuk, jadi ia berniat untuk mengunjungi Jackson, siapa yang menyangka jika ia menemukan Jackson tengah bersama dengan Berlia.
Jackson pernah mengatakan pada nya bahwa Jackson menyukainya karena ia adalah petarung yang hebat.
Melihat hal itu Aalis tersenyum masam. Mungkin Jackson juga mengatakan hal yang sama pada Berlia.
Ia melihat bagaimana kemampuan Berlia saat bertarung dengan Jackson. Dan ya, ia harus mengakui bahwa Berlia pandai dalam seni bela diri.
Seperti nya Jackson sudah bosan bermain-main dengannya, jadi Jackson kembali pada Berlia.
Hati Aalis semakin sakit. Perasaan seperti ini begitu akrab untuk nya, ia benar-benar ingin marah. Kenapa ia harus mencari pria yang bahkan tidak ingat untuk mengunjungi nya.
"Berhenti memikirkan nya, Aalis. Dia tidak pantas sama sekali." Aalis mengocehi diri nya sendiri yang menjadi tidak masuk akal sekarang.
"Persetan dia bersama siapa sekarang. Itu bukan urusan mu."
__ADS_1
Kepala Aalis seperti akan pecah. Bibir nya berkata untuk berhenti memikirkan Jackson dan Berlia, tapi otak nya terus saja terpaku pada dua orang itu.
Membuat hati nya terus saja menderita kesakitan." Apa yang salah dengan mu, Aalis! Kenapa kau bertingkah seperti ini." Aalis memarahi dirinya sendiri.