Ku Terima Hinaan Kalian

Ku Terima Hinaan Kalian
Ku Terima Hinaan Kalian | 43


__ADS_3

Ku Terima Hinaan Kalian | 43


Aalis menerima surat yang baru saja ia terima dari urusan gurunya. Aalis bisa bernapas lega karena gurunya dan kakanya Drake sampai di Kerajaan yang menjadi tempat tinggal mereka sekarang dengan selamat.


Baris demi baris surat itu telah Aalis baca. Terjadi masalah ditengah jalan, saat itu rombongan gurunya telah melewati daerah kekuasaan Groft. Rombongan gurunya di serang oleh sekelompok pemberontak.


Ketika sebuah panah melayang ke arah kuda Drake, lalu seorang pria datang menghalau serangan. Pria itu mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang dikirim oleh Putra Mahkota Jackson untuk menjaga Drake dan sang ayah secara rahasia.


Aalis tertegun. Kenapa Jackson repot-repot mengirim penjaga untuk menjaga gurunya? Mungkinkah Jackson mengkhawatirkan keselamatan Gurunya, atau Jackson hanya ingin memastikan gurunya selamat.


Apapun alasan nya untuk kali ini Aalis akan berterima kasih pada Jackson. Jika pria itu tidak mengirimkan penjaga rahasia makan gurunya dan kakaknya pasti akan mengalami kesulitan.


"Sadie." Aalis memanggil sadie yang berada di luar kamar nya. "Siapkan bahan-bahan untuk membuat cemilan, aku akan ke dapur sebentar lagi."


"Baik, Permaisuri."


Sebagai ucapan terimakasih nya, Aalis akan membuatkan kue untuk Jackson. Ia tahu kue itu tidak seberapa dibandingkan apa yang dilakukan oleh Jackson. Pria itu sudah menyelamatkan nyawa dua orang penting dalam hidup nya.


Setelah beberapa saat, Aalis melangkah ke dapur. Ia mulai membuat kue dengan bahan-bahan yang telah di sediakan sebelum nya.


Meski Aalis adalah seorang wakil Jendral yang terus berperang dalam hidupnya, ia tidak terlalu asing dengan dapur. Karena selama di medan perang ia benar-benar harus berhati hati dengan makanan yang ia makan.


Dan ketika berada di istana ia akan mempraktekkan buku resep yang ditinggalkan ibu nya.


Keringat muncul di dahi Aalis, tangan nya cepat cepat mengelap keringat itu agar tidak jatuh ke makanan yang ia buat.


Beberapa saat kemudian Aalis merasa puas melihat hasil masakan yang sesuai dengan yang ia inginkan. Aalis menyajikan kue itu di atas piring, lalu ia juga membuatkan teh hijau yang di berikan oleh Drake.


Semuanya sudah siap, Aalis membawa kue dan teh buatan nya menuju ke ruang kerja Jackson.


"Apakah Yang Mulia ada di dalam?" tanya Aalis pada penjaga yang ada di depan pintu.

__ADS_1


"Ada, Yang Mulia Permaisuri."


"Aku akan masuk."


"Baik, Permaisuri." penjaga itu membuka pintu untuk Aalis.


Ini adalah pertama kalinya Aalis mendatangi tempat kerja Jackson. Ia melangkah masuk dengan niat yang tulus. Langkah nya terhenti, tubuhnya menegang, mata nya tidak berkedip saat ia melihat Jackson tengah berpelukan dengan seorang wanita.


Tangan Aalis mengepal kuat. Hati nya mendadak menjadi sangat sakit. Wanita itu lagi-lagi membalik tubuhnya. Ia segera keluar dari sana.


"Masuk dan berikan ini pada Yang Mulia Putra Mahkota." Aalis menyerahkan nampan yang tadi ia pegang pada Sadie.


Seperti biasanya, Sadie melakukan perintah Aalis tanpa banyak bertanya. Wanita itu masuk ke dalam sana dan menemukan apa yang majikannya tadi lihat. Jadi, apakah ini alasan majikan nya keluar lagi.


Sadie memaki Jackson di dalam hati nya. Pria ini benar-benar tidak menghargai usaha majikannya yang telah membuat Kue.


Jackson menyadari keberadaan Sadie, ia langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Berlia.


"Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba di perintahkan Yang Mulia Permaisuri untuk mengantarkan kue dan teh ini." Seru Sadie.


"letakkan saja di atas meja." titah Jackson.


Ia tidak ingin terlalu banyak mengartikan pemberian dari Aalis. Ia takut jika itu akan membuatnya sakit hati jika ia tahu ada alasan di balik pemberian itu.


"Silahkan dinikmati, Yang Mulia. Saya akan segera undur diri." Sadie menunduk hormat lalu pergi setelah menunggu beberapa saat.


"Maafkan aku, Kak. Aku pikir pelayan Permaisuri akan salah paham atas apa yang ia lihat tadi." Seru Berlia. Dirinya sudah bisa mulai menerima Aalis sebagai istri dari kakaknya itu.


"Tidak perlu dipikirkan. Yang Mulia Permaisuri tidak akan peduli tentang hal itu." Jackson melangkah kembali ke meja kerjanya.


Tadi Berlia hampir jatuh ketika mencoba mengambil buku, ia dengan sigap menangkap tubuh Berlia. Jackson tidak tahu seperti apa yang terlihat tadi, tapi ia tidak begitu peduli. Lagipula hal seperti itu tidak akan berpengaruh untuk Aalis.

__ADS_1


Berlia tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali mencoba mengambil buku yang ingin ia baca. Dan berhasil, ia tidak terjatuh kali ini. "Aku akan meminjam buku ini kak, setelah selesai aku akan mengembalikan nya pada mu."


"Baiklah." Jackson membalas singkat.


Jangankan satu buku, ia akan meminjamkan semua buku nya untuk Berlia. Ia tahu adik nya itu menyukai pengetahuan, buku menjadi salah satu yang disukai oleh Berlia selain bela diri.


"Kalau begitu aku permisi."


"Aku tidak bisa mengantar mu."


"Aku mengerti." Berlia tersenyum lalu keluar dari ruang kerja Jackson.


Sejak beberapa hari lalu Berlia memang datang mengunjungi Jackson, tapi hal itu bukan untuk motif pribadi nya, melainkan untuk membicarakan mengenai bencana alam yang terjadi.


Sebelumnya Berlia telah pergi ke tempat yang terkena banjir. Ia menjadi sukarelawan di sana. Membantu para korban banjir yang mengalami masalah kesehatan.


Berlia juga telah memikirkan cara untuk menanggulangi banjir. Ia telah memikirkan rencana, tapi belum matang. Setelah matang ia akan bicara lagi dengan Jackson.


Setelah Berlia pergi, Jackson hanya tinggal sendiri. Ia melihat ke arah meja lain di tengah ruangan. Ada kue dan teh yang dibawa pelayan Aalis disana. Kebaikan Aalis yang tiba-tiba membuat ia curiga.


Jackson mengabaikan kue dengan bau menggoda itu. Ia kembali tenggelam dalam pekerjaan nya.


Ruang kerja Jackson besar dan mewah. Di dalam sana terdapat beberapa rak buku raksasa dengan beberapa perabotan seperti kursi dan meja untuk Jackson bekerja.


Di sana juga ada kursi untuk menyambut tamu. Di belakang meja kerja Jackson ada sebuah lukisan besar yang tergantung di sana. Di sebelah kiri meja kerja Jackson terdapat tempat meletakkan pedang.


Sementara itu Aalis telah kembali ke kediamannya. Suasana hati nya yang sedikit membaik hari ini kembali menjadi buruk.


Apa yang ia lihat tadi hampir sama persis seperti apa yang didalam mimpinya. Yang ia lakukan juga sama dengan wanita yang dikhianati oleh kekasih nya. Ia berbalik dan pergi.


Saat ini Aalis juga menginginkan minuman yang bisa membuat ia mabuk. Ia benar-benar tidak menyukai perasaan yang ia rasakan saat ini. Terlalu menyakitkan.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Kenapa rasanya se sakit ini saat melihat Yang Mulia Putra Mahkota bersama wanita lain. Tidak, aku tidak mungkin menyukainya." Aalis menyangkal perasaan nya sendiri.


Dada Aalis semakin sesak. Ia jelas-jelas membenci Jackson, lalu bagaimana bisa ada perasaan ini.


__ADS_2