
Ku Terima Hinaan Kalian | 44
Malam menyapa, saat ini Aalis berdiri di taman kediaman nya hingga larut. Ia sudah di peringat kan oleh para pelayan nya, tapi ia bersikeras tetap berdiri di sana. Kulit nya kini terasa sangat dingin. Ia seperti membeku oleh udara malam ini.
"Yang Mulia, Ayo masuk. Udara malam ini lebih dingin dari sebelumnya. Anda akan jatuh sakit. " Sadie mengkhawatirkan Permaisuri nya itu.
"Langit malam ini sangat gelap, Sadie. Apakah mungkin sebentar lagi akan turun hujan?" Aalis mengabaikan permintaan Sadie agar ia segera masuk. Sebalik nya ia menatap langit tanpa niatan untuk masuk sama sekali.
Seolah langit merestui, hujan turun dengan deras nya. Menyerbu tubuh Aalis hingga wanita itu basah sepenuh nya.
"Yang Mulia, ayo kembali ke dalam. " Sadie berlutut di belakang Aalis. Ia benar-benar tidak ingin permaisuri nya jatuh sakit, begitu juga dengan lima pelayan Aalis yang lain.
Hal yang mereka takut kan selain Aalis jatuh sakit adalah hukuman dari Jackson karena mereka lalai menjaga Aalis.
Namun, Lagi-lagi Aalis tidak mengindahkan ucapan Sadie. Ia berdiam diri di bawah hujan. Menikmati apa yang ia sukai tapi tidak di sukai oleh tubuh nya.
Suasana hati nya menjadi lebih baik sekarang, hujan telah mengusir semua rasa sedih di dada nya.
Ia tersenyum, menengadah kan wajah nya ke langit. Membiarkan rintik hujan memberikan sentuhan di wajah indah nya.
Lima belas menit telah berlalu. Hujan masih sama deras nya, dan Aalis masih tidak bergeser dari tempat nya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Permaisuri?!" Suara marah itu bercampur dengan suara hujan.
Semua pelayan yang mendengar suara itu merasa terkejut. Kali ini pasti mereka akan mendapat kan hukuman lagi. Entah berapa cambukan yang akan mereka terima nanti.
__ADS_1
Jackson mendekati Aalis, ia melepaskan jubah nya dan menutupi tubuh Aalis. "Apa kau sudah kehilangan akal?!" bengis Jackson.
Aalis membuka mata nya, ia menatap ke arah Jackson lalu tersenyum. Ia bukan bahagia di marahi, tapi ia merasa bahagia karena Jackson masih peduli pada nya.
"Anda disini, Yang Mulia. " Seru nya pelan.
"Kau benar-benar menguji kesabaran ku, Aalis!" desis Jackson. "Cepat masuk ke dalam!" Seru Jackson dengan wajah suram.
"Baik, Yang Mulia. " Aalis hanya ingin Jackson mendatangi nya. Dan kini pria itu telah berada di depan nya, tidak perlu bagi nya untuk terus berada di tengah hujan yang sekarang membuat tubuh nya mengigil pelan.
Lantai kediaman Aalis di basahi oleh tetesan air yang jatuh dari tubuh Aalis dan Jackson. Kini ke-dua nya sudah berada di kamar Aalis.
Para pelayan masuk ke kamar Aalis dengan membawakan handuk tebal untuk Aalis dan Jackson. Mereka semua seperti sedang berhadapan dengan maut.
Tubuh mereka gemetaran karena aura mengerikan dari Putra Mahkota mereka.
Aalis kali ini bisa melihat dengan jelas bagaimana keras nya Jackson jika itu menyangkut kesehatan nya. Aalis sangat tersentuh. Selama ini ia terlalu di butakan oleh kebencian dan kekesalan hingga tidak bisa melihat bahwa Jackson selalu memperhatikan nya.
Tanpa di perintahkan, kaki Aalis maju mendekati Jackson, lalu ia mencium bibir pria itu. Ia melakukan nya atas kesadaran nya sendiri.
Jackson membeku, tidak menyangka bahwa Aalis akan mencium nya. Waktu seolah kembali berhenti. Hanya suara hujan yang menemani keintiman mereka saat ini.
Segel di dalam hati Aalis kembali menyala, retakan yang sudah terjadi di sana semakin hebat dan akhir nya hancur membuat segel hancur.
Mantra penutup hati yang di gunakan oleh orang tua Aalis untuk membuat putri nya tidak bisa jatuh cinta kini telah rusak. Dan orang yang merusak nya masih orang yang sama dengan orang yang telah menyakiti putri nya.
__ADS_1
Hidup memang tidak pernah bisa di tebak. Mereka yang se harus nya tidak bertemu di kehidupan ini malah di pertemukan. Segel yang harus nya membekukan hati kini telah musnah karena cinta dari pria yang sama dalam kehidupan sebelum nya.
Di alam Iblis, Ayah dan Ibu Aalis menyaksikan bagaimana sekali lagi putri mereka jatuh pada Jackson. Kali ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Takdir telah mengikat putri nya dan Jackson di dua kehidupan.
Sekarang mereka hanya bisa berharap bahwa nasib putri mereka tidak akan se buruk sebelum nya.
Kembali ke dunia manusia. Jackson memegangi ke dua lengan Aalis lalu mendorong nya hingga ciuman mereka terlepas. Jackson tidak suka di permainkan oleh Aalis, apalagi jika itu menyangkut masalah hati.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Aalis?" Tatapan Jackson dalam dan penuh kecurigaan.
Aalis tidak mengerti maksud ucapan Jackson. Memang nya apa yang sedang coba ia rencanakan. Ia hanya mengikuti kata hati nya, bukan sedang menyusun siasat.
"Jangan pernah menguji kesabaran ku, Aalis. Aku mungkin tidak bisa mem bunuh mu, tapi aku bisa menghukum mu jika kau tidak segera menyadari posisi mu."
Jackson mengingat kan Aalis dengan serius. Bagi nya apa yang Aalis lakukan saat ini terlalu mencurigakan.
Aalis mengirimi nya makanan, mengunjungi nya, lalu mencium nya. Apakah saat ini Aalis ingin memperdaya diri nya agar ia lengah terhadap Caesar?
"Apa maksud ucapan mu?" Aalis benci hal-hal yang rumit. Ia yakin kemarahan Jackson pada nya pasti ada pemicu nya. Apa kesalahan yang ia lakukan pada pria di depan nya ini?
Se ingat nya ia tidak pernah membantah perintah Jackson. Aalis ingat betul, sikap Jackson berubah sejak beberapa hari yang lalu. Ia pikir mungkin ini ada hubungan nya dengan menghilang nya Caesar, jadi suasana hati Jackson tidak baik.
Namun, saat ini jelas bukan masalah itu yang memberi jarak antara ia dan Jackson.
Jackson bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih suka memendam dan mengambil tindakan. Saat ini tindakan yang ia ambil adalah memburu Caesar. Masalah bisa selesai hanya ketika ia berhasil menangkap pria itu lalu memb*nuh nya.
__ADS_1
"Pikirkan saja sendiri!"