
Ku Terima Hinaan Kalian | 39
"Makanlah sarapan mu."
"Ya."
Kedua nya kembali melanjutkan sarapan mereka. Setelah itu, Putra Mahkota Jackson pergi ke ruang pemerintahan untuk menyelesaikan masalah Selir Agung Dhyanda yang telah wafat dan mengurus keluarga nya.
Sedangkan Aalis ia mengurusi sedikit pekerjaan nya. Ia tidak peduli dengan kemat ian Selir Agung Dhyanda, lagi pula ia tidak terlalu mengenal wanita itu.
Beberapa saat kemudian, Jackson kembali menemui Aalis, ia telah selesai dengan urusan nya. Sekarang ia bisa melakukan kegiatan lain bersama dengan Permaisuri nya.
Putra Mahkota Jackson tidak mengenakan pakaian Pangeran, ia hanya mengenakan pakaian bangsawan kelas menengah. Begini lah cara ia berkeliaran di tengah rakyat Groft.
"Sudah siap?" Jackson berdiri di belakang Aalis yang tengah mengenakan gaun dengan bahan kain kualitas sedang. Rambut Aalis di biarkan tergerai dengan beberapa aksesoris yang membuat nya tampak begitu cantik.
Aalis membalik tubuh nya lalu tersenyum pada Jackson. "Sudah, ayo pergi."
Putra Mahkota Jackson menggenggam tangan Aalis. "Ayo." lalu ia melangkah bersama Aalis.
Mereka menaiki sebuah kuda, lalu setelah sampai di tengah ibukota, keduanya berjalan kaki. Di belakang mereka ada Axela yang berjaga-jaga.
Waktu berlalu, Aalis dan Jackson telah mendatangi banyak tempat. Kini mereka berada di sebuah restoran untuk mengisi perut yang sudah mulai kelaparan. Restoran yang mereka datangi adalah restoran milik Putri Berlia. Restoran dengan harga mahal yang hanya bisa di datangi oleh bangsawan kelas atas.
__ADS_1
Namun, hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa restoran itu milik Berlia. Saudari Jackson itu sengaja merahasiakan kepemilikan restoran itu, tidak ada alasan khusus dibalik ke rahasia itu.
Walaupun Berlia memiliki sifat sombonk dan suka mencemooh. Tapi orang-orang terdekat nya tahu, bagaimana kebaikan Berlia di balik sifat sombonk yang ia tunjukan.
"Restoran ini sangat terkenal di Groft. Wajar saja mereka mematok harga mahal untuk satu menu, rasa nya benar-benar di luar dugaan." Aalis menyukai makanan yang ia pesan.
Jackson tersenyum kecil. "Kau ingin koki restoran ini dipindahkan ke kediaman mu?"
"Waw, kau benar-benar seorang Putra Mahkota yang berkuasa. " Aalis mencibir Jackson.
Jackson terkekeh geli. "Kau menyukai masakannya, jadi akan lebih baik jika koki restoran ini pindah ke kediaman mu. Aku bisa membicarakan nya dengan pemilik restoran ini."
"Hanya untuk kesenangan ku, aku harus membuat orang lain kehilangan kesenangan mereka. Tidak, aku tidak akan menerima hal seperti itu." balas Aalis.
Suara keributan menghentikan pembicaraan Aalis dan Jackson. Mereka yang tengah berada di lantai dua restoran melihat ke arah jalan, di mana ada seorang pria mabuk yang menendang seorang gadis kecil yang tengah seorang laki-laki yang lebih kecil darinya.
Aalis tidak bisa melihat hal seperti ini. Ia segera berdiri dari tempat duduk nya dan berlari.
Aalis melayangkan tendangan nya saat pria itu ingin menendang si gadis kecil lagi. Hanya dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian.
Pria yang ditendang Aalis menatap Aalis marah. "Berani sekali kau ikut campur dalam urusan ku!" raung pria itu murka.
Dua anak kecil yang tadi dipukul oleh si pria kini berlindung di balik Aalis. "Dasar pengecut. Kau hanya berani menyiksa anak kecil! Lihat bagaimana aku akan memberimu pelajaran!" Aalis maju lagi, ia menyerang pria itu hingga si pria terkapar di lantai.
__ADS_1
Jackson merasa de javu, ia melihat Aalis lagi-lagi berdiri membantu orang yang dianiaya. Wanita nya memang memiliki hati yang baik, meskipun keras di medan perang. Tidak peduli jika tindakan nya sendiri akan membahayakan nyawanya.
"Apa yang kalian semua lihat! Hajar wanita itu!" titah si pria mabuk.
Melihat ada lima pria bertubuh kekar hendak mendekati Aalis, Jackson segera maju. Ia mengalahkan lima orang itu hanya dengan beberapa pukulan.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Aalis pada sepasang anak kecil di depan nya. Hatinya terluka saat melihat memar di wajah keduanya.
"Terimakasih telah membantu kami, Nona. Namun, apa yang Anda lakukan telah membuat kami kehilangan tempat tinggal." Si gadis kecil kini terlihat makin sedih.
Ia bertahan di pukuli karena ia tidak punya pilihan lain. Pria yang memukulo nya adalah paman nya. Selama ini ia tinggal di tempat pamannya karena ia dan adiknya tidak memiliki rumah.
Kedua orang tua nya juga sudah tiada sejak tiga tahun lalu.
Si gadis kecil membawa adik nya pergi, meninggalkan Aalis yang bingung. Apakah ia baru saja melakukan kesalahan?
Seorang wanita mendekati Aalis lalu menceritakan tentang dua anak yang wanita itu kenali. Dari sana Aalis tahu bahwa hidup sepasang anak kecil itu lebih menyedihkan dari yang terlihat.
Perasaan Aalis menjadi tidak tenang. Perasaan itu masih ada meski ia telah meninggalkan pasar.
"Aku ingin membangun tempat tinggal bagi anak-anak yang tidak memiliki orang tua dan tempat tinggal. Apakah bisa?" tanya Aalis.
"Mari kita lakukan seperti yang kau inginkan." Jackson tersenyum pada istri cantiknya. Ia akan memberikan izin pada Aalis untuk melakukan apapun yang membuat Aalis senang.
__ADS_1
Perasaan Aalis menghangat. Ia merasa beruntung karena menyadari lebih cepat betapa baik nya seorang Jackson. Jika itu sedikit lebih lama, mungkin ia benar-benar akan melihat Jackson dimiliki oleh wanita lain.