Kumpulan Cerita Horor

Kumpulan Cerita Horor
Episode 06


__ADS_3

Kisah mistis nyata ini terjadi pada tahun 1980 , yang diceritakan kembali oleh salah satu korban rumah sakit ghaib ini , kisah ini terjadi dikota S (inisial)


Pak dalang (nama samaran) , itulah nama orang yang menceritakan kisah mistis nyata ini . Beliau berprofesi sebagai tukang memandikan jenazah disalah satu rumah sakit swasta dikota S .


Di tahun 1980 kota S masih sepi tidak seramai sekarang , pak dalang asli dari kota S , lahir dan besar dikota S . Memandikan jenazah adalah profesi sehari hari pak dalang , setiap saat beliau selalu siap dipanggil pihak rumah sakit untuk memandikan jenazah , entah waktu tengah malam atau subuh beliau slalu profesional dgn pekerjaannya . Tidak pernah mengeluh selalu siap setiap saat , karena yg namanya orang meninggal datangnya tiba tiba , sudah sering dia memandikan jenazah tengah malam , dan tidak ada perasaan rakut sama sekali . Karena pak dalang sudah 12 tahun berprofesi sebagai tukang memandikan jenazah , jadi baginya memandikan jenazah hal yang biasa saja , beda dengan kita yg tidak pernah memandikan jenazah , apalagi tengah malam pasti merinding banget ya .


Suatu hari diwaktu menjelang senja , pimpinan rumah sakit tempat ia bekerja mendapat panggilan telefon dari salah satu rumah sakit milik daerah yang intinya meminta tolong untuk meminjamkan tukang memandikan jenazah kerumah sakit tersebut . Karena magrib itu rumah sakit milik daerah tersebut salah satu pasiennya ada yang meninnggal , dan orang yang biasa memandikan jenazah dirumah sakit tersebut sedang cuti karena sakit .


Singkat cerita pak dalang setelah sholat magrib langsung melaksanakan perintah pimpinannya , beliau meluncur kerumah sakit yg sudah disebutkan oleh atasannya tadi , dengan menaiki sepeda ontel yang tiap kali dikayuh slalu bunyi


"Krengkit...krengkitt.."


Ya maklumlah sepeda tua inventaris dari rumah sakit tempatnya ia bekerja , sudah 9 tahun sepeda itu setia mengantarkan pak dalang kemana saja . Jalanan sepi sunyi dan gelap , kanan kiri jalan raya berdiri kokoh pohon pohon asem yg umurnya kira kira sudah 20 tahunan . Tahun 1979 jalan raya tersebut belum dipenuhi lampu lampu penerangan jalan seperti sekarang ini , hanya lima kali ia bersimpangan dengan pemotor atau mobil , dan sesekali suara burung hantu dari kejauhan mengiringi perjalanannya . Dia terus mengayuh sepedanya , makin lurus semakin gelap dan semakin sepi.....


Pak dalang pun heran , makin lurus jalanan makin sepi sunyi tidak berpapasan dengan pengguna jalan lainnya sama sekali , hanya suara burung hantu yang masih terdengar ditelinganya , dan sesekali dari jauh terdengar suara lolongan anjing liar yang melengking nyaring . Tahun 1980 kota S memang masih sepi , kanan kiri jalan raya masih banyak kebun kebun yang tak terurus yang ditumbuhi pohon pohon bambu liar yg rimbun, menambah suasana sepanjang jalan raya tersebut terasa seram , tak ada lampu penerangan jalan , yang ada rimbunnya pohon bambu yang sesekali mengeluarkan suara karena tiupan angin malam yang membuat batangnya saling bergesekan dan menimbulkan suara suara seperti jeritan jeritan lirih .


Tak terasa rumah sakit yang dituju nya sudah terlihat oleh mata pak dalang , seketika itu ia mengentikan kayuhannya sambil matanya fokus menatap kedepan memastikan bahwa bangunan dari kejauhan tersebut adalah rumah sakit yang dituju , setelah mata pak dalang memastikan bahwa bangunan dikejauhan tersebut rumah sakit , dia melanjutkan mengayuh sepedanya . Kali ini kayuhannya lebih cepat dan bersemangat , supaya lekas sampai dirumah sakit tersebut . Difikirannya pak dalang cuma satu , yaitu menyelesaikan tugasnya dari atasannya sesegera mungkin lalu pulang . Kedua kakinya terus mengayuh dan mata pak dalang tetap fokus kedepan dengan kepala agak mendongak karena letak bangunan rumah sakit tersebut didataran agak tinggi (bukit kecil) , meskipun jaraknya masih agak jauh tapi samar samar dari kejauhan nampak jelas bahwa bangunan besar tersebut adalah rumah sakit .


Akhirnya sampailah dia didepan pintu gerbang rumah sakit tersebut , halaman rumah sakit itu sangatlah luas tapi sangat sunyi , teras rumah sakit hanya diterangi lampu bholam , karena dulu lampu neon belum populer . Pak dalang menuntun sepedanya dan memarkirkan disamping mobil jenazah yang sudah ada disitu dari tadi , ia melangkahkan kakinya keteras rumah sakit tersebut sambil matanya tak henti hentinya melihat sekeliling dengan raut wajah agak bingung , karena dalam hatinya berkata rumah sakit sebesar itu kok sepi . Dia mendekat ke ruang resepsionis yang bersebelahan dengan teras rumah sakit tersebut , berharap ada penjaga yang bisa memberi petunjuk dimana jenazah yang akan dimandikannya .


Lega hati pak dalang ternyata ada wanita yang menjaga ruangan tersebut , dan tidak pakai lama ataupun basa basi pak dalang langsung bertanya kepada wanita yg jaga ruangan resepsionis tersebut , kira kira usianya 25 tahun .


"Selamat malam bu , saya mau tanya pasien atas nama pak Subaro yang tadi meninggal berada diruangan sebelah mana ya ? karena saya tadi disuruh kesini untuk memandikan jenazahnya?" kata pak dalang


Wanita itu masih membelakangi pak dalang , dia tidak membalikan badannya sama sekali , karena wanita tersebut sedang sibuk mencari arsip dilaci meja tulis kayu jati , sambil duduk , tiba tiba wanita itu bicara dengan nada pelan dan agak lirih .


"Bapak lurus saja terus , lalu belok kiri , lewati kamar mayat , jenazahnya ada diruangan sebelah kamar mayat"


"Terimakasih bu" Ucap pak dalang semangat .


Tanpa pikir panjang pak dalang langsung bergegas melangkah masuk kelorong rumah sakit , dan sepanjang lorong tersebut hanya diterangi lampu bholam .

__ADS_1


Ia terus melangkah sesuai arahan wanita penjaga tadi , lorong tersebut nampak panjang , sampai pak dalang melambatkan langkah kakinya , karena bingung dia belum menemukan juga belokan kekiri , dan matanya masih tetap fokus memandang kedepan , sesekali dia menengok sekeliling lorong rumah sakit tersebut yang semuanya terlihat hitam gelap gulita , hanya lorong rumah sakit yang diterangi lampu bholam . Pada saat ia akan melangkahkan kakinya lagi , tiba tiba dari arah belakang ada suara pintu dibuka


"Kreekk !!" suara pintu itu mengagetkan pak dalang


Karena sebelah kanan lorong tersebut adalah kamar kamar pasien yang terdapat banyak pintu , sedangkan sebelah kiri lorong rumah sakit tersebut adalah tanah lapang yang gelap gulita . Spontan pak dalang menoleh ke belakang , ke arah suara tersebut berasal , baru menoleh ke arah pintu yang dibuka , orang yang baru keluar dari ruangan tersebut sudah jauh jaraknya dengan pak dalang .


"Pak ! pak dokter ! tunggu pak , saya mau tanya !" kata pak dalang memanggil dengan suara keras sambil agak berlari , tapi aneh nya jaraknya masih tetap jauh meskipun dia berlari pelan mengejar dokter misterius tersebut yang hanya berjalan cepat . Laki laki misterius itu sepertinya seorang dokter , karena berpakaian serba putih layaknya seragam dokter , akhirnya orang tersebut menghilang dari pandangannya pak dalang , lenyap ditelan kegelapan lorong rumah sakit yang minim pencahayaan , hanya lampu lampu bholam lima watt yang masih setia menemani pak dalang disepanjang lorong rumah sakit tersebut , akhirnya ia berhenti mengejar laki laki tersebut dan kembali berbalik arah untuk kembali ke titik tadi saat ia terhenti sejenak , sambil melangkah dia sesekali menengok ke pintu pintu kamar rumah sakit yang kesemuanya tertutup rapat yang ada disebelah kiri sepanjang lorong rumah sakit , dengan rasa penasaran dan juga harapan , ia berhenti disalah satu depan pintu kamar rumah sakit tersebut yang semua pintunya terbuat dari kayu jati tebal bercat warna putih usang . Berharap ada orang didalam kamar rumah sakit tersebut untuk ditanyai sebagai penunjuk arah , begitu kamar rumah sakit tersebut dibuka pelan pelan , ia kaget , diatas ranjang yang terbuat dari besi hanya ada...


Kain kafan yang atas bawahnya sudah diikat tetapi tidak ada jenazahnya , kain kafan tersebut bentuknya memanjang , kalau dilihat dari kejauhan persis seperti pocong yang sedang berbaring diatas ranjang ranjang tersebut . Untuk memastikannya lagi pak dalang melangkah lebih dekat keranjang ranjang besi itu , ternyata memang benar penglihatannya , yang diatas ranjang tersebut semuanya hanya kain kafan yang sudah dipocong atas bawah nya , dikamar pasien tersebut ada empat ranjang besi dan kesemua ranjang tersebut diatasnya ada kain kafan yang sudah dipocong tetapi tidak ada jenazahnya . Bergegas ia melangkah keluar dari ruangan tersebut , dengan cepat tangan kanan nya meraih daun pintu , ketika tangannya akan memutar daun pintu tiba tiba dari luar ada orang yang mengetuk ngetuk pintu tersebut


"Tok ! tok ! tok !!", suara itu berulang ulang beritme lambat .


Spontan sekujur badan dia berubah jadi kaku , mematung didepan pintu , matanya melotot kaget memandangi pintu tersebut yang sepenuhnya terbuat dari kayu jati tanpa celah , dan tangannya masih kaku memegang erat daun pintu , sejenak suasana hening suara ketukan pintu berhenti , dia sedikit lega . Tapi ketika pak dalang akan menghela nafas tiba tiba terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar


"Tokk !! Tok !! Tok !! Tok !! Tok !!" kali ini suaranya lebih keras dan beritme cepat


Suasana hati pak dalang pun kembali tegang , kali ini tangannya lebih erat memegang daun pintu dan seluruh badannya direbahkan kepintu tersebut dengan maksud untuk menahan pintu jikalau ada dorongan dari luar , diotaknya semakin berfikiran yang macam macam , tapi ia berusaha tenang dan dia memulai membaca ayat kursi , perlahan suara ketukan pintu itupun berhenti tak terdengar lagi , setelah pak dalang menunggu sejenak memastikan sudah tidak ada yang mengetuk lagi , ia memberanikan diri membuka pintunya sedikit sambil menjulurkan kepalanya keluar menengok kanan kiri , dan alhamdulillah disekitar pintu tidak ada siapa siapa . pak dalang pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar pasien tersebut secara perlahan . dia melanjutkan perjalannannya yang tadi , dilorong rumah sakit yang cahayanya redup sambil mulutnya komat kamit membaca doa doa yang ia bisa , setelah kejadian tadi wajah dia terlihat tegang .


Aneh , masih melangkah sebentar kira kira 20 meter dari kamar pasien tadi , didepan nampak ada belokan lorong ke kiri , pak dalang pun dalam hatinya heran


"Aah mungkin itu perasaanku saja karena aku kurang istirahat" kata hatinya lagi mencoba menenangkan dirinya sendiri .


Maklum ia sudah dua hari ini bergadang , karena mendapatkan panggilan memandikan jenazah tengah malam berturut turut , dan dirumah sakit tersebut adalah panggilan ketiga dalam seminggu terakhir ini untuk memandikan jenazah dimalam hari .


Akhirnya sampai juga dia diruangan yang tadi diarahkan oleh wanita penjaga yang ada diruang resepsionis depan , untuk memastikannya pak dalang berdiri melangkah sejenak , disamping sebelah kanannya ada pintu yang ukurannya lebih besar dari pintu pintu yang lainnya , kira kira tinggi pintu tersebut tiga meter , berbentuk pintu kembar yang masing masing pintunya lebar dua meter , jadi lebar keseluruhannya empat meter , pintu tersebut nampak menyeramkan berpolitur warna coklat tua . Ia memutar badannya kekanan jadi sekarang posisinya dia berhadap hadapan pas dengan pintu besar tersebut yang terbuat dari kayu jati tebal , dia perlahan lahan mendongakan kepalanya ke atas , dan berhenti mendongak , ketika matanya menemukan tulisan


"KAMAR MAYAT"


Diatas pintu tersebut , akhirnya hati pak dalang yakin bahwa ruangan yang ada disebelah kamar mayat tersebut adalah ruangan yang ada jenazahnya yang harus segera dimandikan , dia segera melangkah keruangan tersebut berharap tugas atasannya malam itu cepat selesai . Pelan pelan pak badru membuka pintu tersebut sambil dalam hatinya mengucapkan salam , setelah ia masuk ruangan tersebut , ternyata diatas tempat tidur yg terbuat dari beton yang masih berwarna alami semen , adaa..


Ada tubuh telanjang dada yang bawahnya cuma memakai sarung motif kotak kotak , perlahan pak dalang mendekati mayat itu untuk memastikan bahwa kondisi mayat tersebut sudah siap untuk dimandikan , sebenarnya dalam hatinya merasa tidak nyaman dengan ruangan itu , karena pencahayaannya kurang terang seperti lampu lima watt , padahal ruangan tersebut lumayan luas , jadi diruangan itu cahaya disekitarnya remang remang . Hanya pencahayaan dibagian mayat dan sekitar mayat yang lumayan terang , karena lampu bholam diruangan tersebut letaknya pas diatas badan mayat , sedangkan sudut sudut ruangan tersebut gelap tak terkena pencahayaan .

__ADS_1


Seperti biasa sebelum dia melaksanakan ritual memandikan mayat tak lupa ia baca baca doa terlebih dulu . Disampingnya berdiri ada gentong tanah liat agak besar yang berisi air , gentong tersebut bertumpu pada meja yang terbuat dari semen bersebelahan dengan tempat si mayat terbaring . Dengan segera pak dalang mengayunkan gayungnya melakukan siraman pertama kepada si mayit tersebut . Tangan kanan memegang gayung sedangkan tangan kirinya mengusap usap muka simayat yang seorang laki laki berkumis kisaran umur 55 tahun . Mata pak dalang tetap fokus memandangi wajah simayat tersebut memastikan semua bagian kepala sudah bersih . Ketika dia sedang fokus memandikan tubuh mayat tersebut , tiba tiba dari pojok belakangnya dia berdiri tepatnya disebelah kiri , ada suara tokek yang berbunyi sangat nyaring .


Pak dalang sedikit dikagetkan suara tokek tersebut yang tiba tiba berbunyi nyaring dibelakangnya. Seketika itu pula tangannya sejenak mematung diatatas jenazah tersebut , semakin lama suara tokek tersebut semakin dekat ditelinga sebelah kirinya .


"Tokkee..!! tokkee..!! tokkee..!!" Berulang ulang suara tersebut masuk ketelinganya pak dalang . Dia masih berdiri mematung, telinganya mengawasi suara tokek tersebut , yang makin lama ritmenya semakin cepat , kepala yang dari tadi tertunduk mematung dengan kedua mata sedikit panik . Akhirnya dengan sigap kepalanya terangkat lurus langsung menoleh kebagian kiri pojok belakang ruangan tersebut yang gelap gulita , dan anehnya ketika dia menoleh kebelakang dan melemparkan pandangannya kesudut ruangan tersebut , suara tokek itu langsung berhenti , padahal tadi suaranya jelas banget seperti ada dibelakang pas kepalanya .


Meskipun dengan mata sedikit ketakutan , ia agak lama menatap sudut ruangan tersebut , demi menghilangkan rasa penasarannya . Dan suara tokek itu pun sudah tak bersuara lagi . Pak dalang melanjutkan kembali aktivitasnya , berharap malam itu tugasnya segera selesai .


"Pak !!!" tiba tiba dari belakang sebelah kanan suara itu muncul dengan kerasnya , sampai badan pak dalang merajuk .


Spontan ia berdiri mematung menahan takut , dengan sekujur badan agak gemetar dan terlihat peluh keringat mengalir dari kedua sisi wajahnya .


"Bapak siapa ?" tanya pak dalang memberanikan bertanya setelah tadi mematung sejenak dengan posisi masih menghadap kemayat yang sedang dimandikannya . Bibirnya agak bergetar kedua matanya panik ketakutan , sepertinya ia ingin lari saja dari ruangan tersebut tetapi kedua kaki terasa kaku serasa kaki terbuat dari semen cor .


"Hentikan pak , aku belum mati , tolong aku pak" Jawaban memohon suara pelan nan lirih itu terdengar jelas ditelinga kanan pak dalang , dia merasa sepertinya ada mulut yang mendekat kebagian belakang telinganya , suara laki laki itu sangat jelas meskipun lirih dan pelan .


"Tolong jangan ganggu saya , saya hanya menjalankan pekerjaan saya saja" timpal pak dalang dengan bibir gemetaran , dan badan masih kaku mematung , dia belum berani menengok kebelakang siapa gerangan suara laki laki itu yang jika didengar dari suaranya laki laki tersebut kisaran umur 55 tahun .


"Tolong pak , saya ingin pulang , antarakan saya pulang pak" Rengean suara laki laki tersebut sambil menangis sedih .


"Tolong pak , antarkan aku pulang , aku belum mati" Sepertinya suara laki laki itu tidak peduli dengan permintaan pak dalang untuk tidak mengganggunya .


Suara itu terus merengek seperti itu sampai pak dalang tak kuat sendiri karena suara pelan tersebut terdengar dibelakang telinganya pas . Pada saat hatinya sedang tegang tegangnya ingin lari , tiba tiba tangan sebelah kiri mayat yang sedang dimandikannya itu mencengkram pergelangan tangan kanannya pak dalang . Spontan dia merajuk langsung lari sekuat tenaga meninggalkan mayat yang ada didepannya itu . Untungnya cengkraman tangan mayat itu bisa lepas , sehingga pak dalang bisa lari dari tempat itu .


Ia merasa lega sudah meninggalkan ruangan itu , dia tak peduli tugasnya belum selesai , yang ada difikirannya cuma satu , keluar dari rumah sakit tersebut dan pulang . Setelah dengan sigap menutup rapat pintu ruangan tersebut , ia lari secepat mungkin menyusuri lorong rumah sakit yang remang remang . Ketika dia hampir sampai diteras luar rumah sakit tiba tiba pintu keluar yang terbuat dari teralis besi yang letaknya diantara teras dalam dan teras luar tertutup dengan sendirinya otomatis pak dalang tidak bisa keluar dari rumah sakit tersebut , padahal teras bagian luar sudah didepan matanya . Kedua tangannya mencoba membuka pintu teras tersebut dengan sekuat tenaga , tetapi sia sia saja . Wajahnya semakin panik dan sekujur tubuhnya mandi keringat .


Ketika kedua tangan pak dalang sedang sibuk membuka pintu besi teras tersebut , tiba tiba dari arah belakang ada suara wanita


"Bapak mau kemana ? bapak sudah masuk kesini tidak boleh pergi"


Sontak pak dalang mematung sejenak , perlahan membalikan badannya , ternyata suara wanita itu adalah wanita yang jaga diruang resepsionis yang berpakaian suster serba putih , mata pak dalang melotot panik , dan punggungnya semakin rapat ditempelkan kepintu besi yang ada dibelakangnya , badannya menjadi kaku , wanita tersebut ternyata tidak punya mata , dan dari kedua lubang matanya dipenuhi belatung sampai meluber keluar berjatuhan kebawah , kali ini pak dalang sudah tak kuat lagi , ia seketika itu juga pingsan ditempatnya ia berdiri .

__ADS_1


Singkat cerita ia tersadar dengan sendirinya setelah air hujan pagi itu mengguyur badannya , ternyata dia sedang tertidur diatas lahan bekas rumah sakit tua yang hanya tersisa pondasi pondasinya saja , sedangkan atap dan temboknya , 85% sudah roboh semua . Begitu ia sadar , dia langsung beranjak berdiri dan lari menghampiri sepedanya yang ada disebelahnya yang hanya terpisah delapan meter dari tempatnya ia pingsan .


Setelah sampai didepan rumah , dengan wajah lelah dan belum sempat masuk kedalam rumahnya , ia ditanyai tetangga sebelahnya selama tiga hari kemana saja kok tidak kelihatan , pak dalang pun kaget ternyata dia baru sadar sudah meninggalkan rumahnya selama tiga hari , padahal ia merasa cuma semalam dirumah sakit ghaib tersebut .


__ADS_2