
Gawan baru kembali dari Glambir . Tadi , kami sedang seru bicarakan tentang cara memikat wanita . Terdengar penuh godaan indah . Aku sungguh ingin tahu skema jitu mendapat perempuan . Hanya , selama ini bibirku kelu . Artinya tak punya keberanian .
Sekarang baru pukul 10 malam , selesai kuantar gawan . Pintu kos kubuka dan tanpa sengaja , sepucuk surat datang padaku . Masih berdiri dan hati hati , kubuka pelan surat itu . Sela intipan alisku , hatiku tak henti berdoa . Takutku , ini surat hantu . Atau cuma tipuan iseng yang kawan layangkan .
Seperti pernah dialamiku , saat itu baru pulang sekolah . Kudapati di keranjang sepeda , sebuah kertas rapih . Dan ditulis pula sebaik mungkin . Aku sampai percaya itu tulisan fatma . Yah , dia gadis tercantik disekolahku . Walau coklat kulitnya . Cepat kubuka , dan pelajari pesan sedalam mungkin . Oh , pujiku padamu Tuhan ! benar . Ini surat fatma !
Alhasil kucabut sepeda dan meluncur melompati gerbang . Sampai di tempat perjanjian , alamat jelas tak salah . Surat nya mengatakan "hai sayang . Datanglah kesini . Aku tunggu loh !
Dan usai kutunggu , tidak ada apapun selain lingkungan kos penuh pria . Sampai sore baru kudapat kejutan monyet . "Ah , sialan !" umpatku . Mereka memainkan aku . Rupanya itu tulisan rombeng . Siapa yang kutemui ? bukan perempuan . Melainkan pria berambut ikal dan baju sepaha ketat .
Sejak itu tak pernah kutulis surat . Belum mau ku buang ke sampah , pintu diketok dari luar , kubuka dan gawan berdiri menyambar masuk . Suratku diambilnya . Tak sempat kumaki , ia lebih dulu merobek kertas . Membacanya seperti pembuka panembrama . Ah , gila dia . Tiba tiba kesalku hilang . Itu bukan surat tipuan , sebab isinya mengatakan "budeku menyuruh kami datang ke rumahnya . Lokasi itu tidak jauh , mungkin hanya butuh tiga jam naik motor" . Singkat dan cepat sampai , tentu dengan tidak menaati lalu lintas .
Singkat cerita , shubuh kami sampai . Motor kumbang gawan mulai kempot . Bensin habis , untung kami sampai ke desa . Lokasi cukup tertinggal , tidak ada program pembangunan disini . Jadi , masih banyak mess tua bekas belanda . Cepat ku ketok pintu , tidak peduli orang rumah melunjak bangun . Jam baru menunjukkan pukul 5 . Artinya , kami tak istirahat . Oh , tulangku serasa mendingin . Hawa memang sebeku itu .
Bude rupanya segera buka jendela . Dia senang sekali sambut kami , "pasti ada udang di balik tempe . Ada niat ingin dia embat sekaligus" pikirku . Ternyata dugaanku keliru , ia dengan kulit merah berseri , menyilahkan kami untuk bersantai . Gawan keluar ke surau, sementara aku menetap disini . Karena saya nonis (non islam) , tidak perlu lama . Pagi pun tiba , bude suruh kami mengambil barang pesanan ke kota seberang . Biasanya dia tidak begini . Tugasku sering di suruh bersihkan barang antik , beliau suka menjual kemudian mengolektor ulang benda kuno itu .
Mobil melompat sampai ke kota seberang . Bangunan toko itu mirip cafe di kohln , jerman . Seperti perintah budeku , kami lengkapi catatan barang dan sekotak kardus penuh benda sepuh kami bawa . Perempuan itu berbaju jas putih , dengan rok kelabu berbunga . Sekali kuperhatikan kalung yang mendekap leher . Akalku menduga "dia seorang peramal"
Mengapa kuduga begitu ? liontin yang dipakainya berukir pentagram . Ingin rasanya minta diramal , lamunanku terbuyar , gawan memanggilku . Maka kudatangi dia dan mobil segera loncat masuk jalan. Selama perjalanan berlangsung , bayang wanita itu terus berdansa . Aku harus tahu benarkah ia gipsy ?
Malam tiba dengan bude yang memasukan barang kuno ke lemari kaca . Katanya kemudian , kami jangan sentuh pernak pernik itu bahaya . Menurutnya , setiap benda prasejarah punya kekuatan mistik . Tentu dibalik siapa empunya . Aku cuma terkikik pelan .
Menjelang jam 9 malam . Kumatikan tombol lampu , selimut baru mulai kutarik . Tiba tiba terdengar olehku , suara sepatu berlari kencang . Sigap tubuhku terangkat bangun . Jauh mataku mengamati gorden itu bertiup liar dan getaran kaca kian hebat . Kusiapkan tongkat kasti , kemudian tanpa kuduga jendela terbuka keras dan gawan menerobos masuk jendela kamarku ! "sialan kambing ini" maki hatiku .
"Hai ! Kau kenapa seperti dikejar anjing ?" tanyaku
Dia cukup tertawa senang dan semakin buat wajahnya seperti buaya darat . Dengan pelan dan waspada , pria itu lempar mata kiri kanan . Seakan takut ada yang mengintip celananya .
“Tadi , ku dilempar batok gayung sama orang . Aku ketahuan mengintip anaknya lewat jendela !” itu katanya
Aku cuma tertawa mengibakan .
"Apa yang akan kau buat dengan tingkah itu ?" tanya balik
Gawan hanya bingung .
Kami sulit dekati perempuan . Bukan masalah fisik , soal cara berpenampilan . Ini bukan soal tampan atau siapa paling kaya . Tapi , keberanian dalam mendekati . Sayang , aku tak bernyali . Seketika kudapatkan ilham . Segera kubisiki gawan , ia mengangguk tanpa melihat . "Ah , si buaya ini mulai menjadi" pikirku . Apa yang selanjutnya kami lakukan ?
Malam itu kuputuskan datang ke toko antik . Toko budeku ber barter tadi . Keadaan kota sepi , sedikitnya hanya suara gemuruh petir . Hujan akan datang . Sementara itu kami seperti anak tersesat . Dan apa yang kami lakukan hampir menyesatkan diri . Meramal ! suatu kekunoan sakti yang masih diakui akal primitif itu aku .
Papan kayu bercat hijau tanah itu . Dikelola baik seorang peranakan belanda . Pikirku toko tidak buka . Pasalnya , papan close tertulis "harap pulang , bila kami tidak beroperasi , di jam dua pagi" . Kutepis nyamuk yang terus ******* kulit . Gawan mengerat jaket , ia peluk tubuhnya sendiri . Seperti rindu pelukan sang kekasih .
Tiba tiba muncul bunyi mesin mobil . Kami tengadah kepala bersamaan , nampak volkswagen putih menunggu di sebelah jalan . Hendak menyeberang . Lampu sen padam , sekian lama mobil pun mati . Disana hening beberapa waktu , hingga tidak lama keluar wanita berbaju kantor . Dia terlihat membakar amarah . Wanita itu kesulitan , tanpa pikir panjang kami datang kesana .
Makin mendekat dan semakin dekat . Akhirnya ku tahu dia pemilik toko schoone de bloom . Itu yang kucari , perempuan itu masuk ke mobil . Sementara kami dorong sekuat kuda , biar mobil mau jalan . Tidak perlu berlama lama . Maka sampailah mobil pada bibir bengkel , mesin utama tersendat . Menurut pemilik toko antik , dia sudah jarang bersihkan busi .
Pada malam dingin itu , mobil selesai dibereskan . Sebagai ucapan terima kasih . Kami diberi izin untuk main ke rumahnya . Dengan senang hati kuikuti , rumah itu cukup besar dan lebar . Banyak kayu jati dicat gelap , sebuah paviliun terlihat jauh di seberang lorong . Lapisan tiang pondok , dibalut kain merah anggur . Kurasa , wanita itu suka nuansa romantikan . Masuklah kami ke ruang tamu . Keadaan ruangan masih tenang dan hening , kecuali perutku yang keroncongan . Sementara itu , mbak peramal izin naik ke tangga . Dia hendak berganti pakaian , dalam bayanganku terlukis ia keluar berpiyama coklat marun dan merayu kami dengan mantra . Renunganku terpecah . Gawan menepuk bahuku , ia bilang
"Sehabis ini kau harus buktikan ucapanmu . Kalau kau berbohong , ku ketapel bokongmu !"
Sialan , dia . Pikirnya aku ini bualan ? asal kau tahu gawan markusen . Sudah dua kali ku buka buku metafisik dan berguru logika . Sihir itu hanya kekuatan besar kecilnya kemampuan . Tergantung , seberapa kuat kepercayaan orang itu . Sihir hanya bisa bekerja bila ruh menyatu dengan energi sekitar .
Terdengar langkah semakin dekat . Perempuan itu rupanya telah berganti baju , hanya gaun malamnya yang menutupi kulit mulusnya . Kawanku seperti takut bicara , maka kutengahi perkara kecil ini . Dengan pelan dan takut menyikut perasaan , kami utarakan niat sesungguhnya . Tidak sekian lama , kudapati wanita 30 an itu tertawa melebar . Seketika gurat sumringah berganti mencekam , seperti induk bebek ia awasi kami sebelum mencaplok .
“Itu urusan mudah , kalian hanya perlu sedikit usaha dan tentunya stage to act . Panggung untuk aksi”
Bersamaan kami saling menatap . Dan , antara aku dengan gawan sama sama pilon . Atau tidak tahu ?
“Apa maksudmu ?”
Perempuan itu memintaku menyerahkan telapak tangan . Maka , kusodorkan dengan gugup dua belah tangan . Masih kuamati , dan menunduk pelan . Sambil curi pandang . Dagu wanita itu sedikit terangkat , perlahan keringat merembes dari pelipisku . Apa hendak dia perbuat ?
Tidak sekian lama kudengar mulutnya seperti berkomat kamit . Seakan ada dinamit yang berusaha menghimpit . Sementara kawanku , hanya mencuri lirikan mata . Apa pula akan terjadi padaku ?
Nampaknya mantra baru saja di rapalnya . Kemudian dikembalikannya , tanganku . Dan perempuan itu mendengus singkat . Angkat tubuhnya berlalu dari kami . Tanpa perlu lama , datanglah ia bawa sekotak kayu . Segera kami sejajari dengan berdiri , ia menatap kami bergantian .
“Seperti kubilang tadi . Sebelum kalian terjun melakukan ritual , pergilah ke seberang sungai dan pakailah benda ini” katanya seperti maha guru .
Kami ikuti apa perintahnya , selepas itu dia berikan tudingan jari ke kotak .
“Jangan kau buka sebelum purnama” cukup itu yang dikatanya pada kami . Dan kami segera pergi dari tempat itu
Sampai di rumah bude . Kami tidak langsung menutup selimut , jam telah melesat pukul 4 . Shubuh hanya tinggal menghitung . Ah , apa isi sekotak kayu ini ? tidak ku tahu. Sedang gawan tanpa ku izinkan pergi keluar kamar . Tiba tiba ia masuk bawa sesuatu , kuamati hati hati . Astaga.... sebuah buku dalam kain hitam dibawanya , perlahan gawan berbisik padaku "aku ambilkan ini untukmu . Siapa tahu berguna , sudah tertulis di kitab ini . Ada bermacam macam kekuatan alam , salah satunya cara ampuh memikat wanita"
Darimana dia dapat buku itu ? Setelah di perinci . Rupanya , secara diam diam gawan ambil dari kardus budeku . Ah , dasar kadal kau gan" kataku tertawa .
Selang mendekati jam 6 , kami sibuk pelajari mantra . Dalam buku tergambar sebuah ilustrasi bulan sabit dengan manusia bertubuh setengah hewan . Pada halaman selanjutnya , kami temukan hal lebih menganehkan lagi . Tersemat sobekkan kertas bertulis "ne te tais la magnifico" . Aku tak mengerti apa artinya ? gawan pun demikian .
__ADS_1
Hanya sebuah petunjuk berada tepat pada bagian utuh kertas . Disana , tergambar tangan membuka dengan dua garis mata bertanduk . Kemudian , setelah kuperlukan waktu meneliti . Makhluk aneh ini , seakan meminta pencerahan dari apa yang diperolehnya melalui hubungan persaudaraan . Makin kubuka halaman semakin bingung pula akalku . Oh , god , tolong sedikit saja kasih aku petunjuk . Apa sudah benar yang kami lakukan ini ?
Hari pun melampaui masa lewat . Malam ini setengah satu dini hari , kami telah berada di bibir sungai . Nampak olehku , langit sedang kelabu . Jauh di seberang sana hanya pohon besar semakin tinggi dan semakin rindang . Gawan telah bersamaku , dia sudah berada dalam posisi bersemedi . Tanpa sekali pun tahu mantra . Buku berkulit rusa itu telah menggeletak . Tepat di tengah kami memutarinya .
Seperti sudah dianjurkan perempuan itu . Kami buka perlahan kotak , dan terlihat sebuah cincin permata emas . Secara pelan pelan, ku gapit bulatan cincin . Kemudian kawanku membuka buku , masih duduk bersila saling menghadap . Kurasakan suasana tegang kian menjalar . Seperti ada ranting mengikat kencang punggung kami .
Hingga anjuran itu terpenuhi benar . Gawan secara pelan mulai merapal ajian dari buku , mendadak kurasakan suasana mulai berkabut . Dan seperti ada hujaman tombak angin , kulit tangan seakan tertarik sengatan . Sengatan itu berasal dari cincin ? makin lama cincin seakan bertambah berat . Dan benar saja , dapat kurasakan jepitan tanganku melepuh . Cincin menjadi panas . Sekuat mungkin kutahan dan biarkan gawan baca rapalan kitab .
Keadaan belum tenang . Malah tubuhku seakan bergoncang dalam posisi bersila . Gelegar itu kian menggempur . Kini dapat kulihat seberkas lesatan api berdansa , masuk tertarik ke dalam cincin . Dan seketika badanku kaku kemudian kami bersamaan terpental . Tanah bergema akibat pukulan tubuh kami dan aku tak sadarkan diri .
Bangun bangun kurasakan sinar matahari mulai melilit kulit . Setelah tersadar , ku gapai tanah di sekelilingku . Ternyata belum pindah . Kami masih di tepi sungai penuh rumput tinggi . Ku tengadah kepala , sadar kawan ku menghilang . Maka kupusatkan mata ke sekitar , sekian menit kucari . Tidak ku dapatkan dimana gawan .
Selang bingung hebat . Muncul suara erangan , sigap kupaling leher mencari cari bunyi itu kembali ketika kuberhenti bawah pohon . Secara pelan kuangkat dagu ke langit langit . Kudapati gawan tersangkut di dahan pohon . Cepat kubantu dia turun , dan katanya semalam itu gawan merasa kitab itu mendorongnya sampai langit . Mudahnya , kawanku melambung ke udara . Hingga dia menyusruk ke pohon ! sejak hari itu selesai sudah kupelajari kitab misterius itu . Apa yang dituliskan dalam buku hitam , bermaksud mengikat kami kepada persaudaraan . Usai dibacakannya mantra oleh gawan . Mulai malam purnama , cincin akan kupakai . Sedang kawanku , mendapat kebahagiaan
Dia baru mendapat pacar . Gadis itu tidak lain mantan ketua osis semasa sekolah dulu . "Buku aneh itu benar berkhasiat" pikirku , kami tak bakal akhiri masa kesepian ini , alias tidak bisa hidup tanpa wanita . Tujuanku pertama tama adalah bertemu fatma . Siapa tahu , ia tidak segan menerimaku ? Perjalanan kutempuh dengan sepeda kumbang . Dekat gerbang masuk rumahnya , kutekan bel tanda tamu datang . Hingga tidak lama , kutemukan dari jauh muncul pria berbaju hitam . Celananya biru gelap , jeans itu berkerut pada bagian pinggang . Dari cara jalan , sepertinya ia preman . Dihampirinya diriku oleh pria itu . Tanpa sopan ia memberiku teguran bernada keras .
“Pergi ! Atau kau kuremuk sampai patah !” katanya mengancam dengan sekepal tangan diangkat tinggi tinggi . Belum sempat kupukul balasan , terdengar olehku derum mesin mobil . Dan melalui arah perumahan , datang sebuah cadillac gelap beratap terbuka . Mobil terbuka itu datang semakin mendekat .
Setelah kuperhatikan , seorang wanita berbaju merah muda . Terusan rok sepinggang ke bawah . Datang mendekati kebisuan kami . Kacamata kucing itu setengah diangkat , dan dari balik intipan . Ia awasi kami seperti baru masuk taman kanak kanak .
“Eh , nona sudah pulang” kata si botak berbadan besar . Seakan takut dimakan hidup hidup .
“Hai kau !” panggil perempuan itu padaku . Pelan kuangkat sepatu dan melompat datanginya .
“Sedang apa berdiri di rumahku ? Ingin mencuri ?” tanya dia . Kuacung dua jari dan sebisaku tersenyum kuda .
“Apa kau lupa padaku ? aku kan pernah satu kelas denganmu” kataku
Dan seketika aura magis yang melingkupinya . Terganti muka berseri seri bahagia . Mungkin hanya baginya . Sedang aku merasa terhina .
“Sini , kau lebih dekat lagi” ajaknya
Sekarang ia berlaku seperti sosiolog menguji hewan berakal manusia . Sial.... apa dia sungguh fatma ?
Pasalnya gadis ini bukan berkulit hitam lagi . Melainkan sehalus beledu . Hanya pada bagian bibir yang memudahkanku mengenalnya . Fatma telah berubah .
“Ah , rupanya kau ben , mari kita masuk . Sudah lama bukan , tidak terjadi obrolan di antara kita ?” katanya lembut mempesona . Lebih lagi , aku ingin segera menikahinya .
“Tidak , mungkin lain kali” kutolak ajakannya
"Tidak guna basa basi . Kuberitahu maksudku..." pikirku
Sebelum sepatuku selesai mendekatinya , lamat tubuhku tercekat bisu . Dari sini kutemui semacam asap muncul menguap nguap. Rupanya berasal dari kulitnya . Seakan ada yang membakar pori pori tubuhnya dari dalam . Apa ini ? terdengar suara bude mengetuk pintu . Bicaranya, seakan mendekat lapisan pintu .
“Benny ! buka ! itu temen kamu belum dikasih minum !” kata budheku
“Apa pikirmu dia onta ?” sengaja tak kuacuhkan panggilannya . Tidak lama , terdengar langkah kakinya pergi . Hush.... legahku duduk di kursi rotan , inilah saatnya kuberitahu apa yang terjadi pada kawanku .
Sore itu rumah dalam suasana sepi . Gawan kembali membawa kunci cadangan . Tanpa kutahu , ia masuk ke kamar dan membuka buku hitam itu , kemudian berjalan keluar menuju dapur . Sambil duduk anteng , ia tidak sengaja menemukan ilustrasi mengerikan . Disana digambar sebuah kerangkeng besi dengan tengkorak terbakar api .
Seketika ia membaca apa yang menjadi penjelasan "siapa pun yang menyetujui pengikatan . Atau perjanjian buku gelap , maka dia sudah memasukan tubuhnya kepada persembahan terakhir . Dibunuh dalam perjanjian !"
Ketika itu gawan merasakan dua tangannya seperti memanas . Dan rasa panas itu semakin menusuk tulang , hingga pada akhirnya ia ambil air kemudian basahi sekujur tubuhnya . Hingga munculah asap mengepul dari dasar kulit , gawan mengerang tinggi . Dia banting barang dapur kemudian lari kesetanan . Tibalah aku kesana datang menolong . "Gila..." pikirku . Apakah aku akan sama seperti gawan ? Mengalami the cursed devils book ?
Enam bulan berlalu cepat. Keadaan kawanku pulih dengan luka sedikit gosong pada tangan hingga tengkuk . Luka itu membentuk kebiruan hitam , seperti di pukul bandit . Malam ini aku sudah bernjanji pada wanita , dia tidak lain calon tunanganku fatma . Sudah rapih dan tertata , baju sampai celana putihku , kuizin keluar pada kawan ku .
Selesai mengunjungi Latin quarter kuantar fatma sampai rumahnya . Gadis itu masih berbunga bunga , akibat pemberian cincinku . Dia tadi selesai kulamar , kami akan segera menikah . Hal ini belum kubicarakan bersama budeku . Ah , biarkan dulu . Siapa tahu kami tidak bisa berlama lama ?
Pulang ke cabin kudapati pintu melowong . Segera kumasuk tanpa permisi , belum sampai badanku menembus pintu kamar . Dari atas ranjang kudapatkan gawan duduk membisu , pelan kulangkahkan kaki kesana . Suasana hening seketika berubah menjadi penuh kewaspadaan .
Pelan pelan sepatuku melangkah makin dekat , hingga di tengah jalan . Terdengar olehku suara tawa makin membesar , suara itu kian berat dan serak . Gesit wajahku terangkat naik , di atas dipan gawan menyeringai . Bentuk wajahnya makin melebar dan kulit yang melapisi pipinya mengeluarkan bau asap membusuk .
"Pergi kau setan ! pergi !" teriaku berusaha mempastur diri . Sembari membentuk salib .
"Braaak !" kuambil lampu tidur dan melemparnya sekeras tenaga kesana . "Rasakan !" teriaku . Pada akhirnya langkahku sulit kugerakan ! secara perlahan dapat kurasakan kakiku tidak lagi memijak tanah !
Tubuhku melayang seperti menggapai gapai udara . Masih terbang di langit langit kamar , sosok gawan berganti menjadi makhluk mengerikan ! wujud dari setan itu berupa manusia berkepala serigala . Sebuah tanduk melengkung di kedua wajahnya mengeluarkan api .
“Hai kau benny ! waktumu sudah habis... kau akan masuk ke dalam perutku !” sosok seram itu hilang seiring tawanya yang makin senyap . Seketika aku terjatuh menghantam lantai . Dan tidak sadarkan diri .
Perlahan kubuka mataku hati hati . Kurasakan sesuatu menempel ke kulit , basah dan seperti lap wastafel . Segera kukocok mata , benar saja . Di depanku duduk perempuan memeras kencang lap .
Rupanya fatma datang kesini . Dia merawatku sedari shubuh , kawanku memberitakan kejadian itu . Ia berkata , keadaanku penuh keringat dan tergeletak mencium lantai . Seketika gawan lari menelepon bude , kemudian di putuskan fatma datang menyembuhkanku . Dialah satu satunya orang dekatku .
Seperti apa kejadian sesungguhnya . Tidak dapat kuberitahu pada mereka . Kami sedang diincar kanselir buku gelap . Makhluk itu seseram siberus atau moloch , ini sungguh edan ! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pernjanjian . Gila kau ben !
Akhir pantekosta 1986 . Tepat di hari minggu kami selesai pulang ke jakarta . Gawan tidak ikut , karena hanya kami berdua yang merasakan bulma . Bulan madu hanya berdua . Benar , kami baru menikah . Aku telah setia kepada satu perempuan , tepatnya fatma .
__ADS_1
Gadis itu makin cantik saja , dengan bando mendekap rambut coklatnya . Hari berjalan seperti kereta kuda , tidak disangka isteriku di terima kerja . Dan aku dapatkan tugas meliput ke bandung .
Kebetulan nanti malam kami akan segera kembali ke kota kembang . Fatma sedang bersihkan barang keperluan , sibuk menulis bahan berita . Tiba tiba tanganku tidak bisa di gerakkan . Pensil terjatuh dan keanehan serasa menjalar masuk menusuk kulit . Pelan kuangkat telapak tangan dan mengamatinya . Membolak balik . Rasa sengatan itu kembali , cincin sialan ini semakin memanas . Jariku seperti terbakar sundutan rokok !
Cepat cepat kutarik benda pencelaka ini , segera mungkin kulempar cincin ke lantai . Dan tanpa kutahu , perlahan lahan cincin itu hilang tak berwujud . Apa itu ? aku bingung . Tidak lama suara isteriku memanggil terdengar , kuloncat turun kursi dan menuju kamarnya .
Fatna ku dapatkan berdiri menatapku nyalang. Tiba tiba ia keluarkan sesuatu dari balik bungkusan kain lusuh . Dadaku berdentum seketika , benda itu tidak lain adalah buku setan !
Isteriku menyeretku kencang ke ruang tengah . Masih dengan tudingan keras , ia acung kencang buku berkulit bau itu .
“Katakan ! darimana kau dapati benda ini !” marahnya menulikan telingaku . Sebisa mungkin kutahan amarah , kubicarakan seluas dan sejujur mungkin yang terjadi padaku . Juga terhadap kawanku gawan .
Tidak lama Ratna menatapku gamam , matanya sembab . Ia lari masuk lorong , segera kukejar . Dan ia memukulku tepat pada pipi , kutahan rasa sakitku . Fatma mencengkeram bajuku keras .
“Kau tidak tahu ? apa yang hendak dilalui setelah buku itu ? tahu tidak ?”
“Aku sungguh tidak mengerti sayang" bujukku menundukkan kepala .
Isteriku pelan meraih daguku dan melihatku seperti menahan luapan emosi . Tapi , dia tahan .
“Pernah kau baca ben ?” kini suara itu lembut merasuki . Cukup kusetujui anggukan .
“Ne te tais la magni fico ...” kalimat itu meluncur turun dari bibirnya . Seperti siulan yang memberahikan telinga . Keringatku tidak lagi tertahan , kusapu pipiku berulang kali . Dengan gugup kutanya isteriku
"Darimana ia tahu itu ?"
“Tidak usah kau ungkit , soal asalku tahu kitab tersetan ini !”
“Bicaralah fatma , kau sudah isteriku , aku hanya menurutimu ...” kalahku . Ia kembali melihatku mengiba .
“Sudah kau pelajari betul , apa arti bait pertama ?” kujawab gelengan . Perempuan itu semakin menahan kemarahan .
“Ne tais mengartikan jangan diam . Artinya ... hidupmu takkan pernah dibiarkan tenang ! sudah kau mengerti ? sudahkah ben !” sekali lagi ia ulangi itu . Aku diam . Dan kemudian menatapnya semu .
“Tidak , sayang” jawabku
Tanpa menggubris takutku . Fatma menjelaskan seperti siulan gerbong tak berujung
“Dahulu di zaman templar , mereka gunakan kitab ini untuk menyembunyikan arti ketakutan dan histeria masa . Mengapa begitu ? Jawabannya ialah para pekerja timah tidak biarkan templar memahami medan bertempur sebaik mungkin . Jadi , seorang kanselir tangan sihir... menuliskan salinan kekejian dari pembantaian rakyat di tanah jarahan . Itu sungguh kekejaman melampaui asosial . La magni fico mengisyaratkan keterbalikan dari semua itu . Yang mana , sihir digunakan membalas balik apa yang melawan . Dan membalas sebaliknya apa yang mereka lawan ! sebaik apapun kau pelajari sihir . Sihir hanya akan balik menyerangmu !” terjang kalimatnya menembusi telingaku . Sekarang aku tahu jawaban yang tidak pernah kami temukan . Selama mempelajari kitab setan .
Hatiku sungguh terpukul gung , berarti mantra itu akan berbalik melakukan serangan . Mereka menuntut hasil jarahan , dimana posisi kami seperti pembuat timah yang dibenci templar . Mobil berjalan menelan kabut malam . Jalanan dusun terasa makin sunyi mencekik . Sekali kali kudengar burung terbang memukul sayap , seakan mereka tengah menghadang kami .
Sampai halaman budeku suasana bertambah mencekam . Rumah kayu itu makin meriyut menunduk , penerangan lampu kuning meredup dari kejauhan . Isteriku melangkah lebih dulu , sedang aku setia menunduk wajah . Pintu terbuka dengan kekosongan ruangan . Tidak satu pun manusia menyambut , samar di tengah keheningan . Muncul suara pipa mendesis , seperti air mancur yang hendak jebol .
Tanpa menunggu kehati hatian . Kami lari menuju lorong menurun . Dan benar saja , disana sambungan pipa meluluh lantah dan pecah . Seseorang menjebolnya . Apa sesungguhnya niatnya ?
Masuk ke jenjang basemant . Keadaan ruang bawah tanah lebih kacau , banyak meja berjungkiran . Selebih itu barang barang dalam kaca hancur tidak tersisa . Kami terpaku pada tempat , jauh depan ruangan perapian . Duduk seseorang memegang erat pinggiran sofa . Sedetik berlalu , kami sadari siapa orang itu . Gawan , tubuhku segera melaju kearahnya , isteriku secara kurang ajar mencegahku .
“Jangan kesana !” teriaknya melebihi lengkingan trumpet sumbang .
Tidak pernah kami tahu apa yang bakal di hadapi . Kawanku meraung dengan tubuh terangkat ke atas , kedua tangan itu mencakar dan seketika punggung itu melayang makin tinggi . Tangan tangan itu menjalar meminta pertolongan , isteriku tidak memberiku izin menolong . Sial ! teriakan itu berubah menjadi raungan berat dan semakin berat . Pita suaranya makin membesar , begitu pun tubuhnya .
Kini kulihat tangan kecil itu kian membentuk lemak . Gawan makin memadat , otot otot lehernya mengeras . Dan kian membuat tubuhnya tambun . Dua belah pipinya makin membulat , punggung kecil itu secara pelan pelan menumbuhkan sayap kelelawar !
Telinga sampai hidungnya semakin lancip . Muncul kedua taring menjulang ke atas . Seiring wajahnya berubah menjadi kalong raksasa . Sekujur tubuhnya melayang dengan bulu bulu lebat dan kasar . Sementara itu kami setia terpana , makhluk itu berhasil merasuki gawan . Kini kami harus bersiap !
Isteriku mengeluarkan kitab setan dan kemudian cepat cepat mencari halaman penangkal . Sampai tidak ada satu pun ramuan penakluk , artinya gawan takkan menjadi manusia lagi . Ia akan mengamuk sampai desa ! Bila kami tidak segera membunuhnya .
Fatma terus berpikir keras dan keras . Pada akhirnya ia memutuskan untuk membakar kitab ! Perapian padam dan aku mencari buffet . Korek api tidak kutemukan , hingga kemudian ku rogoh kencang kedua saku . Sebatang gas api kecil kutemukan , dengan cepat dan terburu ketakutan . Kitab itu kami bakar , tapi tetap tidak hangus .
Jilatan api melemah . Terdengar oleh kami lolongan gawan seperti serigala . Makhluk itu terbang menerjang kesana kemari , kami tiarap ke bawah kolong kolong meja . Serangan terus meluncur , suara sayap itu makin kencang dan menghancurkan separuh almari !
Keadaan makin kacau . Basemant tersambar api sana sini . Sedang isteriku sudah gosong setengah wajahnya , ia menatih tubuh ke balik lemari . Dan membongkar meja kemudian sebuah obeng diambil . Sekencang mungkin ia coba memecah gerendel , hingga pada akhirnya lemari hitam itu hancur terbuka . Tanpa persiapan dan aba aba , fatma naik ke atas kursi kemudian menyemprot keras tabung pemadam . Makhluk itu merintih keras .
Tanpa diketahui kami . Rambatan api yang menyerang kalong raksasa , semakin menambah kekuatan makhluk itu . Terpaksa kuambil kapak dan melakukan serangan balik , sial ! dia berhasil menghindar dengan tubuh raksasa .
Kulit berbulu gersang itu mengepak sayap tinggi , sampai kurasakan kitab terjatuh dan tersambar api . Kitab perlahan menyusut makin kecil dan setelahnya muncul caplokan taring . Kitab hangus terbakar .
Manusia kalong terpekik dan kemudian serangan kembali dilancarkan . Melalui mata reptilnya , muncul tembakan api kearah kami . Fatma sudah hangus setengah dari gaunnya , rambut coklatnya menghitam terjilat api .
Seketika kami keluar dari lorong dan mengambil senapan di ujung pintu . Benda berbahaya ini sengaja di sediakan kami , guna mencegah maling masuk . Segera kutarik pelatuk , tepat di tengah ruangan . Makhluk itu menerjang turun , seketika aksinya gagal dan sebaliknya . Tubuhnya hancur meledak , akibat lesatan mesiu membakar rongga mulutnya .
Kalong besar terjatuh dan terbanting . Isteriku jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuhku , keadaan kami compang camping . Akibat serangan liar makhluk itu .
Waktu mendekati pagi dan keadaan pulih ke semula . Kecuali jasad temanku yang berubah makin menyusut di telan pasir lantai . Hingga tidak diketemukan kerangka sedikit pun . Fatma kupeluk erat dan menciumnya . Kini kami sadari kekuatan hitam hanya akan menghancurkan siapa pun itu . Tidak ada kejahatan dapat dikendalikan , bila apa yang mengendalikan . Jahat pula .
Polisi datang mengusut dengan kasus telah terjadi perampokan . Sengaja tidak kami jelaskan , mereka akan mengira semua adalah kegilaan . Keadaan penuh wartawan . Isteriku masuk mobil lebih dulu . Sementara aku berdiri di samping mobil , rokok kunyalakan . Dan sejenak menebar pandang di shubuh petang itu .
__ADS_1
Tidak jauh dari tempatku berdiri , muncul bayangan dua perempuan mengawasi . Mereka tersenyum puas . Dan seketika suara sayap kelelawar kembali kudengar . Kemana budeku ?