
"Ngapain sih , ke sini ?" Protes rifa padaku , ketika aku membawanya ke tempat yang menurutnya tidak layak dijadikan lokasi ngedate . Tempat yang oleh sebagian besar anak anak di sekolah kami dianggap tabu untuk ditongkrongi .
"Biar seru ! nggak asyik ah , pacaran di taman sekolah melulu . Basi !" bandelku kumat . Aku tak peduli rifa suka atau tidak .
"Tapi aku takut zal"
"Alaahh...tenang saja ! Setan di sini udah kenal aku kok" sesumbarku
Sejak ku amati lokasi ini berada di belakang sekolah , tepat disamping gudang . Menurutku tempatnya asyik . Banyak pohon rindang yang menaungi bangku bangku yang mulai berlumut . Halamannya juga tertata rapi . Namun , kenapa anak anak pada enggan ke sini ? dasar pengecut !
"Zal ! Badanku merinding semua nih" kata rifa
"Idih.. belum diapa apain juga ?" Aku mencoba bercanda
"Udah ah . Aku mau ke kantin dulu . Mau minum apa ?" kata rizal
"Aku ikut !" minta rifa ketakutan
"Gak usah . Aku nggak lama kok , buat kamu pop soda aja ya ?" Tanpa menunggu persetujuan rifa , aku berlari menuju kantin .
Sebelumnya , aku tidak merencanakan pertemuanku dengan rifa di tempat ini . Semua hanya serba kebetulan aja . Sore ini aku dan tim basket latihan untuk persiapan tournament antar sekolah bulan depan . Kebetulan lagi , pacarku rifa si anak mading mengadakan rapat mingguan .
Ketika aku kembali dengan dua kaleng minuman dingin di tangan , rifa sudah tidak ada ke mana dia ? Kusapu pandangan sekeliling , mencari sosok rifa , namun , tidak ada tanda keberadaannya .
Setelah puas melototi tempat di mana rifa tadi kutinggalkan , mataku kemudian tertuju pada mobil ambulans tua yang selalu terparkir di belakang perpustakaan . Bodynya yang karatan terkesan angker . Umurnya hampir 1 abad . Entah kenapa feelingku mengatakan rifa ada di dalam mobil itu .
Setelah lari aku mendatangi ambulans tua , benar saja rifa sedang duduk di salah satu sisi jok belakang .
"Lho , kok malah ngumpet di sini ? Helloooo..." kataku
Tapi rifa hanya diam
"Rif... rifa !" Kuguncang bahunya pelan dari belakang .
"Ngapain di sini ?"
Rifa gelagapan , seperti baru bangun dari tidurnya .
"Zal , tadi liat cewek pirang gak ?" kata rifa
Aku mengernyitkan dahi , heran . Cewek pirang ? pirang dari mana ?
"Ngawur ah . Paling yang kamu lihat tadi itu si juleha . Rambutnya kan sekarang disemir pirang" aku berkekeh .
"Serius zal . Aku gak bercanda" kata rifa
"Whatever you say lah . Nih , minum dulu" jawabku sambil memberi kaleng minuman
"Yuk ah . Cabut ! Peluit Coach sudah melengking tuh" Aku meraih tangan rifa .
"Habis ini kamu langsung pulang aja mungkin aku agak sore"
"Eh, tunggu dulu zal" kata rifa
"Apalagi sih ?" jawabku
"Tuh ! dia lagi di sisi koridor ujung ruang lab . Dia lagi melambaikan tangan padaku" kata rifa
"Siapa ?" jawabku
"Itu ! si cewek pirang" kata rifa
Aku mengikuti arah telunjuk rifa , ke ruang lab biologi . Kosong ? Tiba tiba ada angin dingin menyergap wajahku . Bulu kudukku seketika merinding aneh .
Sejak sore itu rifa jadi doyan nongkrong di ambulans tua . Baik bersamaku atau sendirian . Nyalinya sudah besar sekarang . Namun , perasaanku jadi ganjil . Rifa seperti terobsesi dengan ambulans , bertemu dengan teman bule entah dari mana ?
"Kamu kok jadi terobsesi gini sih ? Mau cari inspirasi untuk cerpen?" kataku
"Siapa yang terobsesi ? Aku cuma penasaran ingin ngobrol sama nancy . Habis kalau kuajak dia ngomong selalu tersenyum . Siapa tahu setelah berteman english ku jadi lancar . Lagian dia kelihatannya ramah , kok cuma masih malu" jawab rifa
"Jadi namanya nancy ? gak bercanda kan ?" kataku
Rifa menggeleng . Wajahnya 2 kali lebih serius .
__ADS_1
"Sayangnya , kalau ada kamu dia gak mau muncul"
segala kicauan rifa tentang nancy memang tak ku tanggapi serius .
"Sudahlah.. kamu semakin membuatku bingung" jawabku
"Kamu selalu tidak percaya ceritaku" kata rifa sambil merajuk
"Sebelum aku melihat nancy mu , aku selamanya tidak akan percaya" jawabku
"Oke kalau begitu , nanti malam temani aku di sini Jam 23.00 teng" kata rifa
Rifa benar benar sudah gila
Malam ini , pukul 23.00 lebih beberapa menit , kami sudah berada di sekolah . Tepatnya di belakang sekolah , tempat ambulans tua bercokol . Menurut rifa , nancy akan datang . Namun , kenapa mesti selarut ini ?
Gedung sekolah terlihat 2 kali lebih horror , fiturnya yang megah menampilkan sisi aristokrat yang ganjil .
Konon bangunan ini bekas peninggalan belanda tahun 1942 . Setelah Indonesia merdeka , gedung ini berubah menjadi kantor bupati , dan kemudian di alih fungsikan untuk gedung sekolah hingga saat ini .
"Kamu yakin dia akan datang ?" tanyaku tak yakin
"Dia berjanji akan datang malam ini . Dan akan ku buktikan ke kamu , kalau nancy bukan teman khayalan" jawab rifa
"Jangan nyesel lho , kalo nanti dia naksir sama aku" sempat sempatnya aku bercanda . Rifa hanya mencibir
Rifa berjalan ke depan , langkahnya cepat menuju ambulans tua yang malam ini terlihat semakin angker di mataku . Ketika sampai , rifa langsung masuk . Aku ragu entah kenapa aroma yang keluar dari ambulans tua membuatku merinding . Aku menangkap ada bau belerang bercampur dengan amis darah .
Aku mengamati tubuh ambulans . Kondisinya yang sudah tua membuatnya berderit saat dinaiki rifa . Ketika angin malam berembus pelan , bau belerang dan amis darah kembali menyeruak . Seketika kepalaku pusing dan perutku mual . Apa sih yang membuat rifq betah di sini ? Tubuhku masih bersandar di badan ambulans ketika tiba tiba aku mendengar suara cekikikan . Darahku terkesiap . Aku melongok ke dalam . Cahaya lampu yang bersinar redup masuk lewat kaca depan mobil , membuatku dapat melihat sosok rifa . Deggg...
Aku tercekat ternyata rifa tidak sendirian . Dia bersama seorang gadis pirang yang sedang tertawa . Gadis itu mengenakan gaun panjang layaknya noni belanda . Mereka duduk di jok dekat pengemudi .
Apakah dia yang bernama nancy ? kapan dia datang ?
Dan... Masya Allah ! Wajah itu sangat mengerikan .
Separuh wajahnya sudah tidak utuh... Mata dan pelipis kanannya robek sampai dagu , hingga tengkorak wajah terpampang dengan jelas . Namun , rifa sepertinya tidak menghiraukannya . Atau ? Apakah dia tidak menyadari makhluk seperti apa yang diajaknya bicara .
"Rifa !" Aku spontan berteriak
Bule itu.. oh wajahnya sungguh mengerikan . Dia menatapku tajam . Mata kelabunya bersorot tidak suka dengan kehadiran ku . Bibirnya menyunggirkan seringai . Aku mencium aroma maut disana . Walau takut , kuberanikan diri masuk ke dalam ambulans , menyongsong rifa . Namun , tiba tiba bule itu lenyap dari pandangan ku . Ke mana perginya ? Jantungku serasa copot menyadari itu .
"Kita pulang sekarang . Hentikan kekonyolan ini . Kita dalam bahaya," jantungku berdetak dua kali lebih cepat . Keberanianku menguap .
"Nancy , Deze Voorstellen..(perkenalkan ini) nancy ! Nancy , te waar jij ? (Di mana kamu Nancy?)" kata rifa mencari nancy
Aku tertegun . Sejak kapan rifa bisa bahasa belanda ? Namun , aku tak punya waktu untuk bertanya . Segera kutarik lengan rifa keluar ambulans . rifa berusaha berontak , tapi genggaman ku lebih kuat . Tubuh mungilnya terpaksa mengikuti lariku .
"Rifa , dengar ! nancy atau siapapun namanya . Yang jelas dia bukan manusia . Ayo ! Kita pulang !" kataku
Keesokan siangnya sekolah menjadi gempar . Rifa kesurupan . Tadi pagi aku sudah memperingatkan dia agar tidak main ke ambulans tua lagi . Namun , dia tetap nekat . Aku tak habis pikir , apakah dia tidak merasa ada sesuatu yang ganjil dengan nancy ?
Ya.. Setelah kejadian tadi malam aku sadar , ada misteri yang tersimpan di dalam ambulans . Aku tidak bisa mencegah rifa , latihan basket menyita perhatianku . Jadwal tournament yang sisa dua minggu , mengharuskan tim kami berlatih intensif .
Menurut cerita Ira , teman sebangkunya , setelah kembali dari kebun belakang sekolah , tiba tiba rifa histeris ketakutan dan kemudian jatuh pingsan . Dia kemudian dibawa ke ruang uks . Namun , setelah siuman . Rifa kembali histeris . Yang membuat kami heran dia tiba tiba bisa berbahasa belanda . Terbawa rasa khawatir , aku menyongsongnya .
"Niet..! wees nie..!" (Tidak. .! Jangan..!) rifa berteriak histeris . Matanya yang merah dengan pandangan yang kosong , Bergidik aku melihatnya .
"Rif.. sadar , rif.. istigfar.." ira mencoba menenangkan rifa
"Neeeee...Ik nee willen.." (Tidak... aku tidak mau) teriaknya kini berbingkai tangis pilu
"Astagfirullah . Bagaimana ini ?" Ira panik.
"Niet doen..! gaan..!"(jangan! pergi!) rifa tiba tiba bangkit mencoba untuk keluar , tetapi aku dan ira , mencoba menahan tubuhnya agar tidak membuat kehebohan ke seantero sekola .
15 menit kemudian , pak ustadz rivan datang . Rifa masih berteriak histeris , Di luar pintu uks anak anak sudah menyemut . Petugas TU sibuk menghalau mereka . Semoga saja ustadz rivan bisa menyadarkan rifa . Aku lantas keluar , menuju toilet .
Ketika sampai di sana , langkahku tertahan . Aku seolah kehilangan napas . Di pojok toilet yang sepi aku melihat sosok nancy tengah menyeringai ke arahku . Wajahnya yang rusak menatapku garang .
Nancy diapit pasangan setengah baya . Laki laki dan perempuan yang berpakaian seperti di zaman koloni belanda . Mungkin itu orang tua nancy , Wajah keduanya tak kalah hancur dan bengis . Pandangan mereka memancarkan amarah . Nancy menunjukku wajahku .
"Vader . Zijn wij actieplan de dader vernielen !"(papa. Dia orang yang merusak semua rencana kita)
__ADS_1
"Deugniet oorspronkelijke bevolking !"(Pribumi Bangsat!)
Aneh . Aku kok bisa mengerti apa yang mereka maksud ? Ketiga mahkluk menyeramkan itu kemudian mendekatiku .
Nancy dan si nyonya berlomba menggapai leherku dan bahuku . Tuan besar malah mengacungkan sepucuk pistol ke arahku sambil memuntahkan makian .
"Verduiveld Deugniet ! Jij,ik meisje alles actieplan vernielen"(Bangsat keparat . Kau telah merusak rencana putriku)
"Niet doen ! Geen ik . Elkaar niet willen kennen"(Jangan ! bukan aku . Aku tidak tahu)
Aneh , Tiba tiba lidahku lentur mengucap kalimat dalam bahasa belanda .
Sebelum mereka meraih leherku aku sudah keluar dari area toilet sambil teriak histerisv. Di belakang nancy berusaha mengejarku . Herannya , teman temanku tidak ada yang melihat sosoknya . Hanya rifa dan aku .
"Niet..! Wees nie..!"(Tidak..! Jangan..!)teriakku
Aku berusaha lari menyusuri koridor sekolah . Setelah capek berlarian , aku kemudian jatuh pingsan dalam rangkulan teman teman yang mengejarku .
"Nancy adalah putri tunggal dari willem van verth , seorang asistent resident her hoofd der affleeling atau asisten kepala daerah sewaktu zaman pemerintah kolonial belanda di sini . Dia bersama orang tuanya dibunuh ketika pejuang Indonesia memberontak . Dia sempat melarikan diri . Namun , mereka berhasil menemukannya sedang bersembunyi di mobil ambulans , di samping gedung keresidenan yang sekarang menjadi gedung sekolah kita . Di dalam mobil tua itulah dia dibunuh . Wajahnya robem terkena sabetan mandau (salah satu senjata tradisional dari kalimantan barat) milik sala seorang pejuang . Konon , arwahnya tidak terima dan terus bergentayangan di sekitar gedung hingga kini" jelas rifa panjang lebar .
Begitu seram , aku sampai merinding mendengarnya . Malam ini , pasca kejadian itu , aku sengaja datang ke rumah rifa . Mau melihat kondisinya .
"Cerita pak hamid , tukang kebun sekolah yang telah bekerja kurang lebih 30th , lain lagi . Kalau di malam malam tertentu , beliau kerap melihat sosok lelaki besar berpakaian kolonial belanda berjalan tegap melintas di antara pilar gedung sekolah . Pak hamid juga sering mendengar tangis yang memilukan di malam jumat dan kerap mencium semilir harum bunga kamboja dari ambulans" aku ikut bercerita . Kisah itu aku dengar sendiri dari pak hamid pasca kerasukan yang dialami rifa .
"Awalnya aku tidak menyangka nancy adalah arwah penasaran . Namun , ketika kedua orang tuanya mendatangiku , semua menjadi jelas . Rupanya arwah tuan dan nyonya van verth memintaku untuk bertukar posisi dengan anaknya . Mereka mau meminjam jasadku untuk tempat bersemayam nancy , biar roh nancy bisa tetap hidup . Dan untuk itu aku harus mati . Ketika aku menolak , tiba tiba saja wujud nancy berubah . Parasnya yang semula cantik , seketika berubah menyeramkan . Sikapnya yang manis tiba tiba menjadi buas . Dia marah karena aku berani menolak permintaannya . Dia menganggap aku orang pribumi yang tak tahu diri . Dari situ aku sadar , mereka bukan manusia" kata rifa
"Untung ada ustadz rivan yang membantumu" jawabku
"Zal..ustadz rivan memang berhasil mengusir nancy dari tubuhku . Namun , ia tidak bisa melepaskan rohnya yang kerap mengintaku" kata rifa
"Apa maksudmu ?" Bulu kudukku spontan berdiri mendengar kalimat barusan .
"Sebelum nancy mendapat teman baru di ambulans , dia tetap mengikuti ke mana pun aku pergi" jawab rifa
"Rifa...kamu jangan bercanda" jawabku
Tiba tiba rifa menatapku ganjil . Aku terkediap . Matanya kini berubah menjadi kelabu . Itu mata nancy
"Rifa , ka.. kamu kenapa ?" Teriaku panik
"Rifa ? Ik naam is nancy , deugniet oorspronkelijke bevolking !"(rifa ? namaku nancy , pribumi bangsat)
Rifa melotot marah ke arahku . Parasnya menjadi 2 kali lebih pucat . Rambut hitamnya berubah menjadi pirang , serupa nancy . Wajahnya tidak utuh . Sebelum tangan putih keraput itu mencekik leherku , napasku sudah sesak , lalu aku berlari keluar memberi tahu keluarga rifa . Kemudian Paman hamdan (ayah rifa) mengajakku ke pendiaman ustadz syauqi .
Setelah Aku , paman hamdan dan juga ustadz syauqi sampai di rumah rifa , kemudian usdadz syauqi hanya tersenyum . Entah aku tidak tahu apa yang membuat usdadz syauqi tersenyum . Jelas jelas itu membuatku ketakutan , tak ada yang menggembirakan .
Ustadz syauqi hanya mengusap wajah rifa dengan air yang sudah di bacakan ayat suci Al-qur'an .
Aku melihat bibi dela , ibu rifa yang tak sanggup melihat putrinya seperti itu sempat pingsan tak sadarkan diri . Sedangkan paman hamdan kebingungan harus melakukan apa ? Dan begitu juga kedua adiknya yang menangis melihat ibu dan kakaknya seperti itu .
Setelah ustadz syauqi mencoba menenangkan dan mengusir arwah nancy dari tubuh rifa .
Akhirnya dia sadar , setelah ustadz syauqi membacakan aya suci Al-qur'an .
"Berdo'alah dan jangan tinggalkan kewajibanmu , hanya Allah yang bisa menyelamatkan dirimu dari gangguan mereka" ujar ustadz syauqi .
Lalu ustadz syauqi memberi selembar kertas yang di dalamnya tertulis doa doa . Setelah itu ustadz syauqi berpamitan pulang karena sudah larut malam .
Keesokan harinya rifa menemuiku saat aku sedang istirahat di kantin . Wajahnya begitu terlihat gembira , mungkin dia sudah sehat dan baik baik saja .
"Aku hanya ingin mengatakan jangan bawa aku ke sana lagi zal.." Katanya dengan di iringi tertawa kecil
Aku yang mendengarnya hanya tersenyum .
Di pojok kantin aku dan rifa tiba tiba mematung karena melihat sosok nancy yang berusaha mendekati kami . Namun , seperti ada tembok yang menghalangi sosok nancy ke arah kami .
"Aku menghafalkan doa yang di berikan ustadz syauqi tadi malam , Aku membacanya saat aku merasa ketakutan" ujar rifa dengan nada berbisik
"Bolehkah aku juga iku menghafalnya ?" Kataku
"Tentu saja" kata rifa dengan mengeluarkan selembar kertas yang diberi ustadz syauqi tadi malam .
Lantas aku segera membacanya , namun , rifa selalu mencoba untuk mengajakku teryawa agar aku gagal fokus dengan apa yang aku baca .
__ADS_1
Setelah Memenangkan lomba tournament , aku dan rifa pindah sekolah karena takut arwah nancy akan mengikuti kita . Walaupun arwah nancy tidak bisa mendekati kami , namun , hampir setiap hari ada saja murid yang kerasukan . Jadi itulah sebabnya kami memutuskan untuk pindah sekolah .