
Hari itu kebetulan bapaknya tania libur kerja , tania merengek minta main ke kolem renang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah , tadinya aku gak mau ikut , karna adek tiyo masih umur 2 bulan , kasian kalau harus di bawa main , tapi bapaknya tania memaksa , tidak ada kejadian aneh disana , tania berenang dengan bapaknya . Dan aku duduk santai di saung yang sudah tersedia di arena itu . Kami pulang sore kebetulan cuaca saat itu mendung , sepulangnya dari kolem renang tania senang sekali .
"Ntar kalau papah libur kita kesan lagi ya mah" oceh nya sambil terus melahap sosis bakar yang di beli saat perjalanan pulang
"Iya kak" jawab ku sambil tersenyum
Tibalah adzan magrib berkumandang , dan ntah kenapa setiap abis magrib tania gak mau diem , nakal nya minta ampun , ada aja yang dia buat , di larang malah makin menjadi . Kali ini dia tertawa cekikikan , saat aku melaksanakan sholat magrib sedang suami pergi ke mushola untuk sholat berjamaah .
"Kakak apa apaan sih kamu ketawa begitu , berisik nak ini udah magrib , yuk sholat sama mama" ucapku berharap tania berhenti berulah nakal
"Aku kuntilanak xixixixi" jawabnya sambil menyeringai
"Taniaaaa" teriaku karna kesal dengan ulah anak itu
"Mau kamu jadi kuntilanak beneran ?" ucapku kesal karna bukan hanya tertawa tania juga memukul adiknya
Berhenti tertawa tapi malah aku di buatnya makin kesal karna dia menjambak rambutku dan memukulku , ntah kenapa pukulan nya bgitu sakit , menendang kesana kemari , semua kena amukannya , neneknya kakeknya semua kena , bukannya kalah dengan anak kecil tapi masa iya kita mau bales lagi memukul balik tentu itu tidak mungkin . Ku pegang kedua tangannya dan aku cubit walaupun tak tega hanya berharap agar ada sedikit rasa jera dan takut tapi bukannya takut , tania malah makin tertawa cekikikan seolah olah dia gak merasakan sakit pada cubitanku , aku terbawa emosi hingga beristighfar , barulah aku ingat dan berpikir apakah ini bukan tania anaku yang sesungguhnya .
Ku pegang kepalanya ku benamkan di dadaku , tangannya masih ku pegangi dengan sebelah tanganku , dan tangan ku yang satunya kugunakan untuk mengusap wajahnya ku bacakan ayat kursi , alhamdulillah tania kembali dia pun menangis .
"Sakit mah ampun mah" racaunya saat menangis akupun melepaskan tanganku
Malam nya dia kembali datang tertawa di atas atap rumahku , kulihat tania tertidur pulas begitu juga dengan suami ku , mungkin mahluk itu marah hingga anak bungsuku yang kena imbasnya .
Secangkir kopi panas kusuguhkan untuk suamiku . ya bginilah rutinitasku setiap pagi . Kulihat suamiku sedang asik duduk sambil fokus ke gamenya
Kebiasaan suami suami jaman sekarang kalau lagi fokus bgitu apalagi kalau bukan nge game , hufz kadang suka kesal sendiri , adakah yang sama denganku ? sementara tania dan adiknya masih terbuai di alam mimpi . Ingin bercerita tentang kejadian semalam pun rasanya enggan sekali , males rasanya bercerita sama orang yang lagi fokus maen game , pasti gak bakal di tanggapi .
Tapi aku harus cerita aku takut kejadian semalam berimbas pada si bungsu , kata orang bayi itu gampang sekali di ganggu mahluk tak kasat mata .
"Aa ???" panggilanku terhadap suami yang sudah memberikan ku 2 orang anak yang sangat lucu dan menggemaskan . Karna anak yang pertama bukan anak dari suamiku yang sekarang , tapi alhamdulillah suamiku menyayangi nya juga seperti anak kandungnya sendiri .
"Iya neng kenala ?" jawabnya tanpa melirik ke arahku dan tetap fokus ke gamenya
"Semalam aa denger gak , ada suara orang ketawa , di atas genteng dan semalam pas aa ke mushola tania..." belom selesai aku berbicara dia sudah duluan memotong nya
"Udahlah jangan ngomong yang enggak enggak , gak ada apa apa lagian anak anak juga gak kenapa kenapa , yang begituan gak usah di pikirin"
jawabannya sambil terus fokus ke gamenya , aku jadi males buat berdebat , aku masuk ke dalam rumah ku liat ke kamar dua malaikat kecil itu masih tidur , biarkan sajalah gak usah di bangunin dulu , itung itung irit keuangan karna tau sendiri kalau tania udah bangun dia tidak lagi lucu tapi menggemaskan , bangun tidur bukannya mandi terus sarapan tapi malah lari ke warung . Kulihat jam di atas sudah menunjukkan pukul 7 pagi , kulihat suamiku masih saja asik dengan game nya .
"Aaaaaaaaaa udah jam tujuh...!!!!!" teriaku saking keselnya
"Iya neng aa berangkat kerja dulu" jawabnya sambil menyeruput kopi yang mungkin sudah dingin , begitulah kalau sudah maen game jadi lupa segalanya .
Jam 9 si bungsu mulai terbangun dan mulai rewel , kebetulan neneknya lagi gak ada karna ada panggilan ngurut . emak ku itu tukang urut panggilan jadi jarang ada di rumah , anak pertama ku juga jarang ada di rumah dia biasanya nginep di rumah bu lurah . Jadi hanya ada aku , tania dan si bungsu adek tio yang di rumah . Saat mulai rewel begini membuatku kebingungan .
Sampai sore ketika suamiku pulang anak bungsuku masih rewel tapi kali ini makin parah , dia menangis gak berhenti berhenti . Saudara saudara ku yang rumahnya bersampingan dengan rumahku pun berdatangan .
"Kenapa dengan adeknya ???" tanya abah usup sambil menghampiri ku yang sedang menggendong tiyo
"Gak tau ini dari pagi rewel terus" jawab ku sembari terus menimang nimang anak bungsuku berharap dia berhenti rewel
"Dah di bawa ke tukang urut belom ???" tanya mak ami sambil menjulurkan tangannya untuk mengambil tiyo dan menggendongnya
"Belum.." ucapku sambil terus mengusap ngusap punggung anak bungsuku itu , sementara tania dia sedang asik dengan dunianya
"Astaghfirullah.." ucap abah usup ketika mengusap pucuk kening putra bungsuku dia terlihat panik
"Kenapa bah ?" aku melihat abah usup sedikit panik ntah kenapa
"Suamimu kemana ?" tanya abah usup
"Lagi jemput tukang urut bayi bah emang ada apa ?" tanyaku keheranan
Cepat suruh balik lagi , aku akan panggil bang rohmat kesini...!!" ucapnya seraya melangkah keluar terlihat sekali dia panik dan buru buru menyusul bang rohmat yang rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumah kami .
Akupun menghubungi suamiku agar kembali pulang tanpa harus membawa tukang urut bayi , suamiku pun pulang dan tak berselang lama abah usup pun datang dengan di dampingi bang rohmat .
"Asalmuallaikum...!!!!!" salam bang rohmat
"Walaikum salam" jawab kami serempak
bang rohmat mendekati putra bungsuku dia mulai membacakan ayat ayat suci Al Qur'an . tak berselang lama tiyo berhenti menangis .
"Alhamdulilah semuanya kembali normal" kata bang rohmat
"Adek tiyo di ganggu kuntilanak bukan cuma satu tapi 2 sekaligus . Yang satunya bawaan dari arena kolem renang yang satunya entah darimana" katanya menjelaskan
Pas magrib kali ini suamiku tidak pergi ke mushola dia menjalankan ibadah sholat maghrib di rumah ,
tania pun tidak bersikap aneh , aku juga bingung sikapnya berubah kalau bapaknya gak ada , tapi kalau bapaknha ada ya biasa saja layaknya anak kecil seumuran dia .
"Mah adek tiyo kenapa ? adek tiyo takut kuntilanak ya mah ?" tanyanya memudar kan lamunanku
"Iya.. makanya kakak jangan ketawa begitu lagi ya , kasian kan adek tiyo nya nangis terus" jawabku sambil mengelus pipinya
"Emang kalau kakak ketawa , kuntilanak nya datang ya mah ?" anaku ini emang bawel banget , aku menghembuskan nafas kasar bingung mau jawab apa
"Mah kakak gak takut kok sama kuntilanak , kan kuntilanak cantik mah" ocehnya lagi , suamiku hanya tersenyum menurut nya hal itu biasa saja , wajarlah anak umur 6 tahun ngomong ngelantur kayak gitu , dia gak tau apa yang terjadi saat dia gak ada di rumah . Kulihat tania tersenyum menyeringai ke arahku seperti senyuman mengejek .
Tak terasa sudah setahun aku dan anak anak tinggal di kampung karna sebelumnya aku tinggal merantau ikut suami di tangerang . Dan setelah adek tiyo lahir kami menetap di kampung dan suami pun alhamdulillah langsung dapat kerjaan di sini . Ocehan para tetangga tentang tania tidak begitu ku hiraukan walaupun agak sedikit kesal ketika mereka mencemooh putri cantik ku itu , ada yang bilang
"Teh anak mu itu cantik.. tapi sayang kenapa sifatnya begitu beda sama anak anak seumuran dia"
aku hanya tersenyum getir senyum yang di paksakan
"Teh anak mu itu aneh coba deh kamu obatin kasian takutnya sampe gede nanti begitu terus"
Aku pun cuma menjawab dengan senyuman kali ini senyuman manis agar mereka tidak tersinggung , walaupun sebenarnya aku yg tersinggung .
"Teh bener coba deh obatin takutnya dia idiot !"
Kalau mau di ladenin mungkin sudah terjadi perang dunia ke 4 , aku coba menentralkan hatiku wajar mereka bicara seperti itu , mereka tidak tau apa yang putriku alami waktu tinggal di tangerang , biarlah mereka mau bicara apa toh yang tau putriku cuma aku ibu kandungnya , aku yakin putriku tidak sakit apalagi idiot seperti yang mereka bilang , justru putriku gadis kecil yang pintar .
Dia selalu jadi juara di setiap perlombaan , dia juga jadi juara satu di perlombaan model anak anak . Dulu guru les nya yang di tangerang selalu memuji tania , katanya tania anak yang berbakat , cepat tanggap . Guru ngajinya juga memujinya , katanya tania pintar belajar ngajinya pun cepat mengerti gak susah ngajarin anak seperti tania . Tentang sifatnya yang seperti itu aku yakin akan menghilang dengan sendirinya .
Waktu menunjukkan pukul 15.00 sore waktunya suamiku berangkat kerja . Sekarang bagian ship 2 jadi suami berangkat jam 3 sore pulang jam 11 malam .
"Pah... papah mau kerja ya ? pulangnya malam ya pah ? tania mau nungguin papah aja ah bobonya !" racau nya seraya naik kepangkuan papahnya , ya dari kecil tania sangat dekat dengan papahnya . Anak secantik dan sepintar itu masa di bilang anak idiot .
"Iya nak papah pulang malam , tania jangan nakal yah , kan kasian mamah !" ucap suamiku seraya mengecup pipi putri cantiku itu
"Si kaka mana neng ?" tanya suamiku
"Lagi di rumah temennya bentar lagi juga pulang" jawabku seraya memberikan tas pada suami ku tas yang selalu dia bawa saat kerja .
Tak berselang lama suamikupun berangkat kerja . Kita liat apa yang terjadi setelah papahnya pergi . Aku melirik ke arah tania , aman masih seperti biasa gak ada yang berubah . Tiba tiba... degh aku liat tania sudah tak ada di tempat , kemana gadis kecil itu .
"Mah... aku mau mandi...!!!"
Tiba tiba dia datang dari belakang ku , sedikit kaget Tapi aku buru buru menenang kan hati dan pikiran ku , sudah biasa seperti ini seharusnya aku sudah gak aneh lagi .
"Ya udah ayok mandi mumpung adek tiyo masih tidur yuk mamah mandiin" kata ku seraya mengusap pucuk kening putri cantiku itu
"Gak usah mah , tania mau mandi sendiri biar cantik" ucapnya sambil menuju kamar mandi
"Ya sudah mandi yang bersih ya sayang biar cantik" ucapku tapi tak ada jawaban ya sudahlah .
Aku pun duduk duduk di luar waktu nya bersantai mumpung anak bungsuku sedang terlelap tidur dan tania sedang asik mandi .
" Mah mau kelapa gak ?"
__ADS_1
Aku di kagetkan dengan kedatangan anak pertama ku , namanya topan dia anak laki laki yang manis berhidung mancung dengan warna kulit sawo matang beda dengan tania , tania gadis kecil dengan berkulit putih , mata sipit , dan hidung pesek tapi cantik menurut mamahnya , topan datang bersama temannya yaitu rudi anak pemilik kebun yang berada di samping rumahku .
" Ya mau lah.. mau ngambil kelapa ya" ucapku sambil tersenyum
"Iya nih teh..." ucap rudi temennya topan seraya berjalan ke kebun yang di samping rumahku
Ku lirik kedalam rupanya tania sudah selesai mandi , dia sudah memakai baju , dia memang gadis kecil yang mandiri dia sudah bisa memakai baju sendiri , ku perhatikan terus gerak geriknya , kali ini dia mengambil makeup yang sudah di sediakan neneknya , neneknya tau tania senang sekali berdandan , sudah ku larang jangan membelikan makeup karna tania masih kecil tetep saja di belikan , katanya gak tega kalau tania ngerengek minta di beliin makeup .
Ku perhatikan dia , memang sangat pandai sekali dia ber make up , aku pun mungkin kalah . Tak berselang lama dia keluar memakai rok levis , kaos warna pink , dan sendal ber hak tinggi warna silver , yang di belikan oleh papahnya minggu kemarin , aku juga bingung kenapa suamiku membelikan tania sendal seperti itu , sendal yang bagiku mirip sendal biduan dangdut .
Bukannya sendal itu jelek , sendal itu bagus tapi menurutku sendal itu tidak cocok untuk anak seumuran tania , ngeri kalau liat tania pake sendal begitu , ngeri keseleo di larang pun percuma , apalagi kalau tania sudah bersikap seperti ini . Dia melenggang layaknya seperti model.. sambil menenteng tas kecil , tak lupa membawa kaca kecil dan tisu untuk mengusap keringat nya , atau mungkin merapikan bedaknya , mirip seperti sisi yang di fim ganteng ganteng serigala . Aku tetap memperhatikan nya dia terus berjalan layaknya model menghampiri kaka nya yang sedang bersama temannya di kebun .
"Hai kak rudi..!!!" ucapnya sambil tersenyum tersipu malu
Deghz... jantungku terasa mau copot , apa lagi ini .
"Iya tania , jangan kesini banyak nyamuk" jawab rudi tapi matanya melirik ke topan , sambil menyikut tangan topan anak laki laki ku . Mungkin rudi merasa aneh dengan sikap tania .
"Mah coba ajak tania.. topan malu tau...!! udah dandan nya begitu seperti tante girang aja" omel anak lelaki ku yang terlihat kesal dengan tingkah adik perempuan nya itu
"Ya mau gimana lagi kan kamu udah tau adik kamu itu begitu , bilang aja ke temen kamu kalau itu bukan tania" ucapku seraya menghembuskan nafas kasar , aku udah capek harus teriak teriak toh tania gak bakal dengar
"Teman ku mana ngerti mah" ucapnya sambil berlalu pergi
Masa bodo lah aku pun dah capek .
Sebentar lagi magrib ku lihat tania sedang asik bersantai , dia bersandar di bantal yang di susun 3 , tangan mungil itu mengurut ngurut keningnya .
"Kak kamu gak ngaji ? kenapa sayang ? kepalanya sakit apa pusing ?" tanyaku sambil mencoba mengusap kepala putri kecilku itu
"Tania lagi males ngajimah , tania lagi mikir"
Aku tersenyum mendengar jawabannya . anak sekecil itu apa yang di pikirkan ?
"Emang kakak lagi mikirin apa ? kakak mau beli apa ? nanti kalau papah pulang , mamah ngomong sama papah" ucapku sambil tersenyum
"Aku gak mau apa apa , aku lagi mikir gimana caranya biar bisa fitnah kamu ke papah"
Deghz... aku kaget mendengar jawaban dari putri kecilku itu bagaimana bisa anak kecil seperti tania berpikiran jauh seperti itu .
keesokan harinya...
"Neng... kamu kemarin nendang rania terus kamu cubit juga ! jangan begitu donk neng , kalau anak nakal cukup di bilangin , di nasehatin bukan malah di tendang dan di cubit , kayak bukan ke anak aja"
Pagi pagi begini aku sudah kena omel suamiku , ada apa lagi ini , siapa juga yang menendang dan mencubit tania , ku hampiri suamiku karna aku gak terima di tuduh seperti itu .
"Aa denger dari siapa neng nendang dan nyubit rania ? gak mungkin lah aku ngelakuin hal seperti itu"
Tania yang ngadu ke aa kalau kakinya sakit gara gara kemarin kamu tendang , paha nya juga sakit karna di cubit . jangan kasar begitu donk neng sama anak kecil" terlihat sekali raut kesal di wajah suamiku
"udah lah a.. percuma neng jelasin juga , aa gak bakal percaya , yang jelas neng gak ngelakuin itu semua , coba lihat di pahanya ada bekas nyubit gak ?" ucapku mencoba menjelaskan pada suamiku
Ada ada saja pagi pagi begini bukannya dapat sarapan malah dapat omelan . Ini semua gara gara tania eh bukan semua ini gara gara dia yang ada dalam tubuh putri cantiku itu , awas saja kau , baiklah mulai sekarang aku ikutin permainan mu .
"Pah... kakak takut di siksa mamah.." racaunya sambil naik ke pangkuan papahnya
"Ya sudah sini papah gendong kakak" ucap suamiku seraya berdiri hendak menggendong putri kecilku itu
"Tuh kan neng.. anakmu jadi ketakutan begitu !" ucap suamiku masih dengan nada kesal
Saat dalam keadaan di gendong papahnya , wajah putriku berpaling menghadapku dia tersenyum sambil menjulurkan lidahnya seperti mengejeku . Siapa yang gak kesal melihat tingkahnya . Akhirnya aku sengaja membuat dia takut berharap dia tau aku gk bakal diam saja . Ku jawab saja dengan nada menakut nakutinya .
"Iya mamah akan menyiksamu nanti kalau papah berangkat kerja , akan mamah ikat tangannya trus mamah lempar ke kali"
Tania mulai merengek manja ke papahnya , aku gak tau dia takut beneran atau pura pura takut . biarkan saja lah . aku tak menghiraukan nya lagi biar saja dia dengan papah terus , sementara aku harus segera mengerjakan pekerjaan rumah , sebelum adek tiyo bangun .
"Mah... pengen bakso bang kumis... kakak tadi sampe nelen ludah ngeliat orangorang makan bakso mang kumis" rengek tania dengan pasang muka melas .
"Ya udah kak ayok kita ke depan ke rumah bang kumis , kita beli bakso , tapi kan kakak blom makan nasi dari pagi" ucapku sambil menggandeng tangan tania
"Kakak lagi gak mau makan nasi mah.. kakak pengen bakso !" rengek nya lagi masih tetap memasang muka melas
"Baiklah... tunggu bentar mamah ambil uang dan gendong adek tiyo dulu ok" ucapku sambil tersenyum
"Oce mah" ucapnya dengan semangat
Melihat tania makan bakso kayaknya enak banget , aku jadi ngiler di buatnya .
"Kak... mamah nyicipin donk dikit , boleh ya ?" ucapku dengan penuh harap
"Gk mau mamah... mamah beli aja sendiri"
Sudah ku duga begitu jawaban nya , entah mirip dengan siapa putriku ini , dia sangat pelit sekali padahal aku dan papahnya gak mempunyai sifat pelit kayak bgitu . Pantas saja jarang ada yang mau berteman dengannya , kalau dia punya makanan maka dia akan menjilati semua makanannya , pas di tanya "kenapa semua nya di jilatin ?" eh dengan santai dia jawab "biar gak ada yang minta jajanan kakak" .
Daripada ngiler akupun memesan semangkuk bakso lagi tentu saja ini buatku , baru saja baksonya datang tiba tiba...
"Mah kakak minta yang kecilnya ya.. kakak masih lapar" memasang muka melas lagi .
Kulihat mangkuknya sudah tandas tak tersisa , cepet banget anak itu makan , mungkin beneran lapar.. ku beri lagi 4 butir bakso yang kecil kecil , tak berselang lama bakso nya pun habis ,
"Buset tania lapar apa doyan ?" ucap bang kumis sambil tersenyum
"Mah... kakak mau lagi baksonya... kakak masih lapar !" Ucapnya dengan nada melas
"Ya ampun kakak masa blom kenyang juga.. gak usah nambah lagi takutnya nanti kamu muntah !" jawab ku dengan nada sedikit kesal
"Hiks hiks hiks ya udah aku jilatin aja mangkuknya.."
racaunya sambil menangis dan menjilati mangkuk bekas bakso yang sudah tandas isinya
"Udah si mba kasih aja mungkin benar tania masih lapar" ucap bang kumis seraya membereskan mangkuk bakso
"Ya udah bang kasih satu mangkok lagi" ucapku pada bang kumis
"Yang pedes lagi ya bang kumis" ucap tania semangat .
Ya dia memang pencinta pedas , tiap makan juga harus ada sambel . Aku juga aneh , masih kecil tapi kuat sama rasa pedas . Akhirnya tania makan lagi satu mangkok bakso dan lagi lagi abis tak tersisa . Ku lihat perutnya masih sama aja kecil gak buncit , kadang suka berpikir kemana larinya itu makanan yang dia makan .
"Mah kita ke warung ma ijem yuk.. kakak pengen minum es , pedes mah" ucapnya lagi
"Ya udah ayok"
Sesampainya di warung ma ijem .
"Mah kakak pengen mie hiks hiks hiks" pintanya sambil menangis
"Ya ampun kak tadi kan abis makan bakso.. mamah gak ada lagi uangnya" ucapku dengan nada kesal .
Masa udah makan bakso 2 mangkuk lebih sekarang minta makan mie . Aku takut dia kekenyangan dan muntah .
"Tapi kakak kan blom makan nasi mah hiks hiks hiks.. nggggggg" ucapnya lagi , kali ini tangisannya kenceng
"Udah si mba turutin saja , gak papa kok ngambil dulu , bayarnya ntar kalau papahnya udah gajian"
ucap ma ijem sambil tersenyum
"Ya udah iya ma.. bikinin mie nya tapi yang kecil aja yang mie gelas takutnya gak abis , soalnya tadi baru aja makan bakso , gak papa kan ya kak mie nya yang kecil aja yah ?" ucapku sambari membelai rambut putri kecilku itu
"Iya mah.. tapi kakak pengen makan mie nya pake nasi" ucapnya sembari mengelap sisa sisa air mata di pipinya
"ya sayang nanti mamah ambilin nasinya ke rumah"
__ADS_1
Tania pun makan dengan lahap.. mie dan nasi habis tak tersisa .
Beberapa menit kemudian..
"Mah kakak pengen seblak yang pedes" pinta nya lagi
"Gak kak.. kamu dari tadi udah makan ini itu , kali ini gak boleh , nanti aja kalau mau seblak agak sorean"
ucapku kali ini aku bersikap cuek aku gk akan perduli walaupun anaku itu nangis nangis minta seblak . Tapi kali ini dugaan ku salah tania gak nangis tapi dia ngelempar lempar sendal orang orang yang ada di warung ma ijem .
"Tania apa apaan sih kamu , jangan begitu , nanti ma ijem marah" ucapku
"Makanya beliin seblak kalau gak di beliin aku lempar lagi nih sendalnya"
Aku orangnya gak mau pusing , apalagi aku lagi menggendong anak bungsuku , aku takut sendal yang tania lempar kena anak bungsuku . Akhirnya aku yang ngalah . Seblakpun jadi , tania makan dengan lahap sampai seblak itu habis tak tersisa .
"Kecil kecil tapi makannya banyak ya , kayak orang kesurupan" ucap ma ijem
Akhirnya kami pun pulang ke rumah . Tak berselang lama suamiku pun pulang .
" Horee papah pulang... papah tau gak tadi mamah jajan bakso sama seblak eh kakak gak di bagi , cuma di kasih kuah seblaknya doang dikit"
Deghz... tiba tiba saja aku kaget mendengar penuturan putri kecilku itu ke papahnya yang baru pulang kerja .
"Cie yang baru jajan , gak inget ma aa" goda suamiku seraya menghampiri ku .
Ku cium takjim punggung tangannya .
"Aa ini kebiasaan pulang kerja bukannya ngucap salam , malah langsung ngeledekin istrinya"
"Iya iya deh... assalamualaikum.."
"Dah telat aa" ucap ku seraya menghembuskan napas kasar
"Neng.. tadi tania bilang neng.." belom sempet melanjutkan perkataannya aku sudah menjawab nya duluan
"Iya neng denger bocah kecil itu ngomong apa ke aa , percuma juga neng jelasin , toh aa juga gak bakal percaya , daripada neng capek capek jelasin tapi gak di anggap mending aa tanya aja sendiri ke bang kumis bener gak tania makan bakso 2 mangkok , terus tanya ke ma ijem apa yang di lakukan tania , jangan lupa tanya lagi ke ma ijem bener gak tania makan mie sama nasi abis itu makan seblak lagi , biar semuanya jelas" ucapku mencoba menjelaskan pada suamiku berharap kali ini dia percaya
"Ya udah.. jangan di bahas lagian kalau benar begitu , bagus donk berarti itu tandanya anak kita sehat , kita gak perlu lagi beli vitamin penambah nafsu makan , iya kan ? aa mau mandi dulu yah" ucap nya seraya pergi ke kamar mandi .
Bisa bisanya dia berucap begitu , katanya bagus ?
apanya yang bagus coba , ampun ternyata anak sama bapam sama aja anehnya .
Hari sudah menjelang sore tapi tania belom juga pulang , entah kemana anak itu mainnya . Ku liat suamiku sedang duduk duduk santai sambil memainkan game nya , apalagi kalau bukan maen game . Ku hampiri dia ku duduk di sampingnya berharap kali ini dia mau mendengarkan keluh kesah ku .
"Aa.."
"Iya.. ada apa ?" masih tetep fokus ke game nya
"Neng mau bicara"
"Iya bicara saja , aa dengarkan" ucap nya masih sama tetep fokus ke game nya
"A ntar magrib aa gak usah sholat di mushola ya ?"
Suamiku langsung menatapku , kedua alisnya bertaut seolah olah dia merasa bingung dengan perkataan ku .
"Maksd neng aa pura pura ke mushola , terus aa ngintip keadaan rumah dari balik pintu , supaya aa tau kelakuan tania , kalau gak ada aa . Lagian neng gak mau aa salah paham terus sama neng , aa selalu berpikir selama ini neng bohong , makanya neng minta kali ini aja aa percaya sama neng ,
dia itu masih ada di tubuh anak kita"
"Baiklah neng.. nanti magrib aa akan ikuti saran dari neng"
"Alhmdulilah a.. makasih sudah mau ngertiin neng"
Tak berselang lama tania pun pulang , dia tersenyum dengan begitu riang dan duduk berkumpul bersama kami , celotehan nya mengundang tawa kali ini aku yakin ini adalah anaku karna kali ini sifatnya seperti halnya anak kecil pada umumnya .
Magrib pun tiba.. suara adzan berkumandang begitu merdunya . Suamiku berangkat ke mushola tapi kali ini dia hanya pura pura , saat aku mulai beranjak mengambil wudhu tiba tiba...
"Argggggggggg hahahaha..."
Suara jeritan tania sembari tertawa
"Aw... sakit aku bales kamu ya" kali ini suara anak pertama ku
"Bodo amat hahaha.. wew wew dasar kaka jelek"
"Udah udah jangan berisik.. gak enak di dengar tetangga , magrib magrib pada berisik aja" kali ini terdengar suara emak ku
"Mau aku pukul ya dasar nenek nenek peot jelek hahahaha" ucap tania lagi masih tetap sambil tertawa
Aku segera menyelesaikan aktivitas wudhu ku
"Ada apa ini ?" tanya ku , ku lihat tania sedang lompat lompat di kasur sambil memegangi bantal
"Anak mu ini loh , kalau magrib kebiasaan , berisik terus" ucap emakku
"Iya nih mah , tania tuh kalau magrib aja nakal nya minta ampun , aku aja di cubitnya , mau aku bales takutnya dia nangis" ucap anak pertama ku itu
"Tania sayang yuk sini , jangan berisik.. jangan nakal , tania kan cantik.." aku mencoba merayu nya dengan lembut berharap dia bakal nurut
"Apa lu jelek.. dasar mamah jelek kayak g***h hahaha" racaunya seraya melempar kan bantal pas kena mukaku
Untung adek tiyo sedang di gendong neneknya
"Taniaaaaaaaaaaaaa...." emosiku pun meluap
"Taniaaaaa mamah bilangin papah yah" teriakku berharap dia takut
"Gak takut gak takut wew... sini kalau berani kita main pukul pukulan , biar aku tonjok dadanya biar m*t*"
Papah nya pun tiba tiba datang dari balik pintu dan teriak
"Taniaaaa.. kamu nakal yah"
Mulut tania ternganga mungkin dia kaget atas kemunculan papahnya yang secara tiba tiba . Dia langsung menangis..
"Itu pah tadi mamah ledekin aku , terus jaka juga nendang kaki aku hiks hiks hiks"
Akting lagi dia
"Ya udah kakak jangan nakal ya , kalau kakak nakal papah bakal pergi , papah kerja ke kota aja biar kakak tinggal sama mamah aja" ucap suamiku seraya menghampiri putri kecilku itu
"Iya pah kakak janji gak nakal lagi hiks hiks" racaunya sambil duduk di pangkuan papahnya .
Begitulah suamiku dia gak bakal tega ngeliat anaknya menangis , apalagi tania anak kesayangan nya . Malam pun tiba . Ku lihat tania dan suamiku sudah tertidur pulas , adek tiyo pun sama dia sudah tertidur , tiba tiba...
"Krettt... krettttt.. kretttt..." suara seperti seseorang mencakar dinding
"Pletak... pletakkk..." suara itu berasal dari atap rumahku yang beratap genteng..
"Sreakkkk... sreakkkk.." suara seperti suara ayam terbang
Bulu kudukku meremang.. ku mencoba membangun kan suamiku tapi nihil dia tidak bergeming sedikitpun . Tiba tiba saja...
Aku mendengar suara cekikikan di atas atap rumahku lalu berpindah ke samping rumahku , suara itu begitu jelas . Kucoba lagi membangun kan suamiku tapi tetep saja nihil , ku peluk erat tubuh mungil sibungsu , aku takut jika hal buruk terjadi pada anak bungsu ku itu , karna bayi rentan dengan hal berbau mistis .
Ku baca ayat ayat Alquran berharap dia segera pergi . Tak berselang lama suara itu sudah tak terdengar lagi , alhamdulillah... ya mungkin dia sengaja mengganggu ku karna dia marah atas apa yang terjadi saat magrib tadi .
Itulah terakhir dia datang mengganggu ku , sekarang bulan suci , alhamdulillah dia gak pernah datang lagi . Tania pun biasa saja , tidak ada yang aneh lagi dalam dirinya . Dia bersikap layaknya anak kecil seumuran dia , mudah mudahan dia sudah pergi untuk selamanya...
__ADS_1