
Memiliki hunian yang nyaman sudah pasti keinginan semua orang , walau itu hanya rumah sewaan , namun kenyataan sesuai kemampuan dan semua harus bersyukur saja agar semua dapat terasa nyaman , karena jika dilihat ke bawah masih banyak yan mungkin jauh lebih susah .
Tahun 1991 di kota BKN . Aku dan dua adik perempuanku tinggal di sebuah rumah sewaan kecil dan sangat sederhana , namun aku sangat bersyukur masih ada tempat tinggal , karena saat itu aku dan saudariku sedang menimba ilmu di tempat sekolah yang lebih baik dari sekolah yang ada di kampung ku . Aku sekolah di SMA 1 BKN , sementara adikku nining di SMP 1 dan susan di bangku sekolah dasar . Di kota itu kami hidup bertiga karena kedua orang tua kami berada di kampung .
Rumah itu terdiri dari satu ruang tamu ditambah ruang keluarga yang kecil , satu kamar tidur dan dapur , tanpa ada sumur juga WC , keperluan mck kami berada di belakang rumah pemilik sewaan yang lumayan jauhlah sekitar lima puluh meter dari rumah yang kami sewa . Dengan kondisi demikian sudah barang tentu sangatlah sulit buat kami , apalagi jika tengah malam hendak buang air kecil apalagi buang air besar , kami harus menguatkan mental pergi ke sumur dan WC yang berada dibelakang rumah pemilik sewa itu . Situasinya lumayan gelap dikelilingi pohon rambutan dan manggis yang rimbun , parahnya lagi pemilik rumah itu tidak memberikan penerang walau hanya lampu 5 Watt . Di rumah sewa itu , aku memiliki beberapa jeligen ember besar yang dapat dipergunakan untuk menampung air ketika hujan turun . Tidak ada pilihan buat kami selain tetap berusaha untuk bersyukur dan bahagia saja walau kondisi serba sulit .
Menyandang sebagai anak dari orang susah , apalagi jauh dari orang tua , kami berusaha menghemat dalam kebutuhan sehari hari untuk makan . Jauh bisa makan enak dengan lauk pauk yang beragam macamnya , bisa makan nasi dengan sayur saja kami sudah senang . Sayur favorit kami yaitu kangkung , karena sayur itu sayur yang paling murah hehehe .
4 hari sudah kami tinggal dirumah itu , semua terasa baik baik saja , hingga di hari ke lima tepatnya hari kamis dan malam jum'at . Pada kamis siang sepulang sekolah aku memasak untuk makan siang sekaligus untuk makan malam yang di bantu oleh ke dua adikku , saat itu ke dua adikku masih kecil mereka belum bisa memasak , jadi semua aku yang mengerjakannya . Setelah makan siang , sejenak kami istirahat dan setelahnya berencana pergi ke sumur hendak mencuci pakaian yang sudah menumpuk , maklumlah sudah empat hari tidak mencuci pakaian , selain sibuk sekolah juga ada rasa malas karena jauh ke sumur . Kira kira jam 3 sore aku dan kedua adikku bersiap hendak ke sumur , namun tiba tiba saja....
"Jelegeer...." terdengar suara petir menggelegar yang di iringi angin kencang , tak lama gerimis mulai turun .
"Kak sepertinya hujan" ucap adikku yang kecil yang bernama susan . Benar yang dikatakan susan jika saat itu hujan gerimis mulai turun , ditambah suasana diluar terlihat mulai gelap , walau saat itu barulah jam tiga sore .
''Ya udah dek gak usah nyuci dulu , lagian di sumur pasti gelap , sekarang masuk aja lagi kerumah dan tutup semua jendela'' jawabku dari dalam dan menyuruh agar masuk lagi ke dalam rumah yang saat itu sudah berada di depan rumah hendak ke sumur .
Akhirnya kami tidak jadi mencuci pakaian dan kembali masuk ke dalam rumah . Di dalam rumah kami berkumpul sembari membaca buku pelajaran saja . Waktu terus berjalan hingga tanpa terasa waktu sholat fardu maghrib tiba , suara adzan terdengar sayup berkumandang dari mesjid , kami melaksanakan sholat berjamaah di rumah itu , setelahnya kami makan malam , dilanjutkan dengan kembali belajar .
Diluar rumah terdengar hujan dari gerimis kini berubah menjadi deras , namun tidak di iringi petir , hanya sesekali terlihat kilatan cahaya petir saja .
''kak , kita nyuci dirumah aja gimana mumpung hujannya deras" kata nining mengutarakan idenya
"Iya juga dek , biar besok pagi tinggal jemur aja" jawabku dan setuju dengan idenya , lalu setelah memberesi buku pelajaran , kami mulai bersiap untuk mencuci di dapur .
Saat itu aku dan kedua adikku sangat senang dan semangat , mencuci pakaian , bahkan mengepel rumah , karena hujan semakin lama semakin deras , kami menampung air dengan semua tempat yang ada . Di saat kami sedang mencuci pakaian serta deras hujan , tiba tiba saja....
"Hihihihi...." samar terdengar suara tawa seorang perempuan yang tak begitu jelas dari arah mana , sejenak kami menghentikan kegiatan untuk memperjelas pendengaran , kami terdiam dan saling tatap saja .
"Mungkin kakak belakang rumah itu kak , mereka kalau ketawa emang gitu" celetuk nining kepadaku
”Bisa jadi dek , ya udah biarin aja'' jawabku . Lalu kami melanjutkan mencuci .
Malam itu di sekitar rumah terasa sangat sepi , mungkin para warga memutuskan untuk cepat tidur , karena derasnya hujan juga malam jum'at kliwon . Sedikit aku gambarkan situasi dan posisi rumah sewa kami . di sebelah kirinya berdampingan dengan 1 rumah , sementara di sebelah kanannya sebuah gang yang memisahkan dengan hamparan tanah kosong lumayan luas , di ujung tanah kosong itu terdapat sebuah rumah permanen kira kira 30 meter di belakang rumah permanen tersebut ada sebuah rumah , rumah panggung yang keseluruhannya terbuat dari kayu , rumah itu terlihat sudah sangat tua namun fisik bangunan rumah itu masih terlihat kokoh . Menurut cerita warga jika rumah itu sudah sangat lama kosong .
Di depan rumah tua itu tepatnya di sudut kanan depan terdapat sebuah kolam berukuran kira kira 16 meter yang seluruh permukaan kolam sudah tertutup dengan kangkung , dipinggir kolam yang dekat dengan rumah itu berdiri sebatang pohon rambutan yang lumayan rimbun . Suasana di area rumah itu sangat gelap karena tidak ada pencahayaan atau lampu , hanya sedikit bias cahaya lampu pijar dari belakang rumah permanen yang berada di depan rumah kosong itu .
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga ya dek" ucapku kepada adik adikku
Setelah semua selesai sejenak kami istirahat sembari minum teh panas .
"Oya dek di kolam yang di depan rumah kosong itu , kemarin kakak lihat banyak kangkungnya dan subur loh" ucapku ke nining , yang entah kenapa tiba tiba saja aku teringat dengan kangkung yang berada di kolam itu
''iya bener kak , gimana kita ambil saja yok malam ini , karena kalau siang malu sama orang" jawab nining pula yang sekalian memberi ide untuk memetik kangkung saat itu juga , dan tanpa berfikir aku langsung mengiyakannya .
''ayoklah dek kita ambil , kita berdua saja , biar susan dirumah sambil ngelap lantai agar cepet keringnya''
Akhirnya aku dan nining pergi mengambil kangkung yang berada di kolam depan rumah kosong itu . Sebenarnya jika memetik kangkung pada siang hari juga tidak masalah , tidak ada yang bakal marah , namun kami merasa malu saja , karena warga setempat tidak suka dengan kangkung air dan hanya kami yang mau memakannya karena yaaah buat kami saat itu yang penting gratis .
Di pinggiran kolam yang temaram , aku dan nining dengan segera memetik kangkung dan di masukkan kedalam karung kecil , karena memang kangkungnya banyak , tak memakan waktu lama karung itu hampir penuh dan kami akan memenuhkan karung itu sekalian . Tiba tiba saja...
"Kcepak , byuuur''
Aku menghentikan kegiatanku karena sedikit terkejut , aku mendengar suara kepakan air dari tengah kolam itu , hmm... mungkin ikan fikirku , lalu aku melanjutkan kembali memetik kangkung , namun baru saja beberapa petik tiba tiba saja...
''Kcepak ... byar ... byur"
Kali ini bukan sekedar suara kepakan air layaknya seekor ikan , tapi suara deburan air dari kolam itu hingga kangkung yang merambat memenuhi permukaan kolam tersebut bergoyang dan bergerak kuat , seakan ada sesuatu yang besar akan keluar dari dalam kolam . Sontak aku terkejut bahkan takut , reflek aku berdiri dan menarik tangan adikku nining berlari meninggalkan kolam itu , tak lupa tangan kiriku menarik karung yang berisikan kangkung itu pulang kerumah . Setibanya dirumah aku masuk lewat pintu dapur yang memang terbuka langsung menutup dan mengunci pintunya , dengan nafas tersengal sengal aku duduk di lantai dekat jendela yang mengarah ke rumah kosong itu .
"Ada apa kak kok seperti ketakutan begitu ?" tanya susan yang terkejut melihat kami berdua pulang dengan ketakutan .
Aku tak menjawab , sembari berusaha menenangkan diri aku mencoba mengintip dari celah jendela ke arah rumah kosong itu .
Astaghfirulloh... dari remang bias sinar lampu pijar itu aku melihat sosok hitam berkilat perlahan keluar dari dalam kolam naik ke darat , sosok hitam mengkilat itu berdiri tegak tak bergerak menghadap kedalam kolam .
"Auuuu.... guk... guk ..." terdengar suara anjing melolong bersahutan yang entah dari mana asalnya , bahkan terlihat olehku beberapa ekor anjing berdatangan sambil terus melolong mendekati sosok hitam yang berada di bawah pohon rambutan itu .
Dengan dada berdebar dan tubuh gemetaran , kedua mataku terus memandang ke arah sosok menakutkan dibawah pohon rambutan itu . perlahan sosok hitam itu bergerak dan cluuup .... sosok itu kembali masuk ke dalam kolam dengan melompat sehingga menimbulkan deburan serta percikan air deras ke atas menyiram gerombolan anjing di tepian kolam . Sesaat gerombolan anjing itu terus menyalak dan melolong membuat aku dan ke dua adikku bergidik ngeri mendengarnya . Lalu gerombolan anjing itu pergi entah kemana . Sungguh aku merasa ngeri melihat pemandangan tak lazim itu , jelas itu bukan manusia , karena sosok itu keluar dari dalam kolam serta masuk kembali kedalam kolam . Demikian fikirku berkecamuk .
''Kak ada apa disana ?" tanya nining pelan kepadaku
"Enggak ada apa apa dek , ayok cepat salin pakaian dan tidur saja , dah larut malam nih'' jawabku tak berniat untuk menceritakan apa yang aku lihat kepada kedua adikku , karena aku khawatir mereka akan ketakutan . Lalu kami memutuskan untuk tidur .
Seminggu kemudian.... sore itu kami tengah membersihkan pekarangan rumah , walau hanya sedikit masih ada sisa tanah di bagian belakang rumah yang sudah ditumbuhi rumput liar , dan rencananya akan kami tanami ubi kayu , terlihat di rumah tua itu ada beberapa orang pria tengah membersihkan rumah itu baik bagian dalam maupun pekarangannya , mungkin rumah itu akan di huni fikirku .
Benar saja dugaanku , beberapa pria yang berjumlah sepuluh orang itu menyewa rumah itu , mereka dari jawa yang bekerja sebagai pembuat interior rumah rumah mewah dan klasik , tepatnya ahli interior yang terbuat dari kayu . Mereka bekerja dari pagi dan pulang selepas maghrib .
__ADS_1
"Tinggal dimana dek ?" tanya salah satu dari mereka yang ternyata bernama mas warno
"Di rumah petak yang itu mas" jawabku sembari menunjukkan rumahku yang berada tak jauh dari rumahnya
"Oo tinggal dirumah itu , lah orang tuanya dimana dek ?" tanyanya lagi kepadaku
Singkat cerita aku ceritakan semua mengapa aku berada di kota BKN saat itu . Mendengar ceritaku , mereka terdiam dan salut karena di usia yang sangat muda bahkan masih tergolong anak anak kami berani jauh dari orang tua untuk bersekolah .
"Dek begini saja... kalau adek mau , kami kan bekerja berangkat pagi dan pulang malam , adek bantu kami masakkan nasi dan air minum juga bersihkan rumah ini , jadi kalau kami pulang sudah siap semua , karena kami pulang sudah capek jadi untuk masak itu sudah males , anggap saja rumah sendiri , jadi adek adek bisa makan sekalian disini'' ujar mas warno kepadaku menawarkan
Mendapat tawaran itu tanpa berfikir ini dan itu aku langsung mengiyakan , bahkan aku sangat senang karena jelas itu sangat membantu kebutuhan kami .
Ke esokan harinya , aku dan adik adikku mulai melaksanakan tugas , yakni membersihkan rumah itu dan memasak untuk mas mas jawa itu . Tidak terlalu sulit bagi kami , karena memasak hanya nasi dan lauk ala kadarnya saja tentunya mudah buat kami melaksanakannya dan semua itu tidak mengganggu aktivitas sekolah .
Hari kamis sore kira kira jam 5 sore . terlihat langit mendung , tanda hari akan turun hujan, benar saja tak lama kemudian terdengar suara petir kecil yang di ikuti turunnya hujan . Saat itu kami baru selesai membersihkan rumah yang rencana selanjutnya memasak . Aku memasak nasi dan adik adikku membersihkan sayur , kami bekerja sama agar pekerjaan cepat selesai dan kami bisa pulang kerumah sewaan lebih awal . Jam 6.30 wib , semua sudah selesai dan kami akan pulang , namun di luar terlihat hujan semakin deras bahkan petir mulai terdengar besar disertai kilatan kilatan menyilaukan .
"Hujannya deras kali dek , kita tunggu sajalah dulu disini sambil belajar" ujarku ke adik adikku yang memang kami membawa buku pelajaran tiap kali bekerja dirumah itu .
Setelah melaksanakan sholat maghrib dirumah , kami lanjutkan belajar sembari menunggu hujan sedikit reda baru kami pulang .
"Dok... dok.." disaat kami tengah belajar , terdengar suara ketukan di pintu depan sebanyak dua kali , mendengar suara ketukan itu segera aku meletakkan buku dan melangkah mendekati pintu dan membukanya , mungkin mas mas itu pulang fikirku .
Ceklek.... pintu aku buka dan wuuuuusss .... Angin sedikit kuat berhembus masuk kedalam, yaaah namanya juga diluar tengah hujan deras. Setelah aku buka pintu dengan lebar , namun di luar aku tidak mendapati sesiapapun .
''Mas... mas... sudah pulang ya ?'' panggilku , hening tak ada jawaban , hanya suara deru hujan yang deras terdengar kuat di atap seng rumah itu , lalu aku melangkah keluar hingga di tepi teras .
Kira kira tiga meter di depannya ada sebatang rambutan serta kolam yang dipenuhi kangkung liar , namun di tempat itu semenjak rumah Itu di huni oleh mas jawa tidak lagi gelap karena sudah terpasang lampu , dengan demikian saat itu aku dapat memandang ke segala arah dengan jelas . Tanpa sengaja aku memandang ke bawah pohon rambutan yang rimbun itu , disana aku melihat ada seseorang yang tengah berdiri mematung , aku fikir itu salah satu dari mas mas yang sudah pulang dari kerja dan menyapanya .
''Mas... mas ... masuk mas hujannya deras" panggilku kepadanya , namun seperti ia tak mendengar , sosok itu hanya diam tak menjawab .
"Guk... guk.. auuuu..." tiba tiba saja aku mendengar suara anjing menggonggong , bahkan saat itu mulai terlihat beberapa anjing liar mulai berdatangan masuk kepekarangan rumah mendekati kolam dimana sosok itu berdiri .
Deeegh... tiba tiba jantungku berdebar kencang serta bulu romaku seketika meremang , aku teringat kejadian seminggu yang lalu ketika mengambil kangkung dikolam itu , sadar dengan apa yang terjadi aku langsung balik kanan dan berlari masuk ke dalam rumah , bruaaak pintu aku tutup dan sekalian aku kunci . Melihat aku masuk dengan terburu buru bahkan menutup pintu dengan keras , tentu saja ke dua adikku terkejut dan bertanya .
"Ada apa kak kok berlari dan kuat kali nutup pintunya ?" tanya nining kepadaku
"Enggak apa apa dek , diluar banyak anjing'' jawabku singkat
Lalu kembali duduk berkumpul dan melanjutkan belajar bersama nining dan susan , walau hati dan fikiranku tak karuan . Waktu menunjukkan jam 9 malam . Aku semakin gelisah karena mas mas itu belum juga pulang , yang biasanya jam 8 malam mereka sudah pulang . hmmm... mungkin karena hujan , jadi mereka belum bisa pulang , fikirku .
Kami berkumpul di ruang keluarga , rumah itu memang lumayan besar , rumah itu terdiri dari empat kamar tidur , ruang tamu , ruang keluarga serta dapur . Rumah itu rumah panggung tapi posisi dapur di bawah atau berlantaikan semen , sehingga dari ruang keluarga ke dapur turun dengan menggunakan anak tangga yang terbuat dari kayu , kamar mandi hanya ada satu yang posisinya berhadapan dengan dapur .
"Ya udah bentar ya kakak ambilkan nasinya , susan belajar aja sama kak nining ya" ujarku kepadanya
Ceklek.... aku membuka pintu dari ruang keluarga ke dapur , perlahan aku membuka pintunya karena jujur ada perasaan ragu di hatiku , begitu pintu dapur terbuka aku mencium aroma menyengat dari ruang dapur , aroma bau amis yang entah apa , aku terus melangkah dan membuka pintu semakin lebar , pandangan mataku langsung aku tujukan ke atas meja makan dan segera mengambil satu piring dan memasukkan beberapa sendok nasi , sayur serta sepotong telor dadar , lalu dengan segera aku melangkah hendak kembali ke ruang keluarga , tiba tiba saja aku mendengar suara geraman serta dengusan kasar dari arah sebelah kiriku .
Reflek aku menolehkan wajah ke arah sumber suara , astaghfirulloh.... hanya istighfar yang dapat aku ucapkan dari bibirku , karena aku benar benar shok dengan apa yang aku lihat saat itu . Tepat di depan pintu kamar mandi yang terbuka aku melihat sosok hitam berkilat tengah berdiri menghadap ke arahku , sosok itu se ukuran tubuhku hanya mungkin lebih tinggi , karena tatapanku saat itu hanya sebatas lehernya , beruntung aku tidak sempat melihat wajahnya karena mungkin karena takut yang teramat sangat .
"Haaaaah..." kembali sosok itu bersuara tapi tidak menggeram , melainkan mendesis atau mendengus kasar .
Situasi yang sangat luar biasa menakutkan , yang bisa aku lakukan saat itu hanya berdo'a dalam hati tanpa dapat menggerakkan mulut apalagi tubuh , dalam hati pula aku berkata "paaaak tolong dayat pak"
Yaaah aku selalu berteriak meminta tolong kepada Allah juga bapakku di setiap aku berhadapan dengan hal demikian , entahlah bagai mendapat kekuatan jika aku berteriak meminta tolong kepada bapakku walau hanya di dalam hati . Benar saja, seketika tubuhku dapat aku gerakan dan segera aku berlari masuk kedalam ruang keluarga .
Setibanya diruang keluarga , dengan tangan gemetaran aku memberikan nasi yang aku bawa kepada adikku , beruntung kedua adikku tidak melihat sikapku yang saat itu tengah gemetaran karena ketakutan . Adikku susan langsung makan dan memang dia terlihat benar benar sudah sangat lapar .
Diluar rumah terdengar hujan masih deras walau perlahan mulai mereda , namun anehnya suara lolongan anjing itu masih terdengar , bahkan terdengar berada di kolong rumah , adik adikku sangat ketakutan , hingga susan menghentikan makannya dan beringsut mendekat kepadaku .
''Kak gimana nih , sebenarnya ada apa diluar ?" tanya nining dengan raut wajah pucat . Aku tak menjawab pertanyaannya , aku hanya berkata pelan ,
"Sekarang kita berdo'a aja mohon perlindungan dari Allah dek''
Lalu kami mulai membaca ayat ayat suci Al Qur'an yang kami hafal secara bersamaan
"Gludag... gludug...." disaat kami tengah membaca ayat suci Al quran tiba tiba saja di atas plafon rumah yang terbuat dari anyaman bilik bambu itu terdengar suara gaduh , dan seperti ada langkah kaki , kali ini adik adikku mulai mengeluarkan air mata , yaaah mereka mulai menangis karena ketakutan .
Aku sebagai saudara laki laki tentunya berusaha untuk menenangkan bahkan harus melindungi mereka , walau aku sendiri merasakan takut juga . Suara gaduh semakin parah , bahkan mulai terdengar suara suara seperti orang tengah mengobrol tak jelas dari dalam dapur , kali ini rasa takut berubah menjadi rasa emosi yang entahlah bercampur aduk , aku berteriak keras .
"Haiii dasar iblis , terkutuk kau... jangan ganggu kami , aku tidak takut sama kamu dan kamu akan menyesal jika terus mengganggu kami" demikian ucapku lantang . Mungkin sikapku demikian karena rasa takut yang sudah melampaui batas . Juga aku ingat pesan bapakku , jika diganggu sebangsa jin dan dibacakan ayat suci Al quran tidak pergi juga , maka maki saja dia . Demikian pesan bapak kepadaku .
Sejenak setelah aku memaki , masih terdengar suara gaduh bahkan suara tawa terkekeh , lalu hening tak terdengar lagi suara suara itu , berganti dengan aroma bau amis darah segar menyeruak di dalam ruang keluarga itu . Di luar terdengar hujan sudah berhenti , namun dengan berhentinya hujan , suasana terasa semakin hening .
''kak , hujannya sudah berhenti.... kita pulang aja yuk" bisik nining kepadaku . Mendengar nining mengajak pulang , sejenak aku hanya diam tidak menanggapi ajakannya , karena aku memastikan jika semua sudah aman . Dirasa situasi aman akhirnya aku berdiri dan mengajak kedua adikku pulang , yang terlebih dahulu membereskan buku pelajaran juga piring nasi yang baru dimakan sedikit .
Kami keluar dari rumah itu dan mengunci pintu , namun baru saja kami turun dari teras rumah , terdengar deru suara beberap unit sepeda motor datang serta cahaya lampu menyorot memasuki halaman rumah . yaaah itu rombongan mas mas Jawa datang , melihat mereka datang , kami mengurungkan langkah pulang untuk pulang , menunggu kedatangan mereka .
__ADS_1
Singkat cerita , setelah mereka masuk ke dalam rumah , aku menceritakan apa yang baru saja kami alami , mendengar ceritaku mereka terdiam dan saling pandang saja
"Sebelumnya mas minta maaf ya dek , kami tadi lembur , selain itu juga mau pulang gak bisa hujan deras" demikian ucapnya memberi alasan kenapa mereka lambat pulang .
''iya dek , sebenarnya kami juga tahu , sering ada yang datang mengganggu dirumah ini , cuma mas gak mau cerita sama adik adik , karena mas fikir adik adik cuma siang sampe maghrib saja dirumah ini , kalau mas kasih tahu nanti kalian takut" sambungnya lagi
''iya mas , tadi maghrib setelah beres beres rumah dan masak , kami mau pulang , tapi hujannya deras dan diluar banyak anjing.. jadi kami takut untuk keluar, akhirnya kami memutuskan nunggu mas pulang saja baru kami pulang mas'' jawabku menanggapi ucapan mas Warno.
"Ya udah sekarang adik adik boleh pulang ya diantar mas lihin" ucap mas warno kepada kami , lalu beliau menyuruh mas lihin mengantarkan kami , namun aku menolak karena sebenarnya rumah kami tidaklah jauh . Lalu kami pamitan pulang .
Hari selanjutnya kami seperti biasa sepulang sekolah mulai melakukan pekerjaan dirumah sewaan kami , dan setelahnya baru memulai memberesi rumah mas mas jawa itu , kami memang diberikan 1 kunci cadangan rumah agar mudah untuk masuk ke dalam rumah mereka .
Karena kejadian waktu lalu yang benar benar membuat kami shok , selanjutnya kami mengerjakan pekerjaannya dipercepat dan diupayakan sebelum maghrib sudah selesai agar kami dapat segera pulang ke rumah kami .
Sesuai rencana sebelum maghrib pekerjaan dirumah mas jawa selesai . Dirumah sewaan selepas waktu maghrib kami makan , lalu dilanjutkan dengan belajar hingga jam 9 malam , setelahnya kami memutuskan untuk tidur . Karena rumah sewa kami hanya ada satu kamar , kedua adikku tidur dikamar sementara aku tidur di ruang depan atau ruang tamu .
Sebelum tidur seperti biasa aku mematikan semua lampu dibagian dalam , tinggal lampu di teras depan dan belakang saja yang hidup , namun walau semua lampu di dalam di matikan tidaklah menjadi gelap gulita , karena bias sinar lampu dari celah ventilasi Masi masuk ke dalam , membuat suasana didalam hanya remang remang saja .
Setelah membaca do'a aku mulai memejamkan kedua mata, terasa lelah tubuhku hari itu , karena banyaknya kegiatan . Namun baru saja kedua mata terpejam , aku mencium sesuatu yang tidak sedap , bau menyengat menyeruak seakan memenuhi ruangan yang sempit itu seperti bau amis darah segar , tapi aku rasa ini lebih tajam .
Aku tak berniat untuk membuka mata walau saat itu aku belum tertidur , karena aku yakin akan ada sesuatu yang terjadi , benar saja sesaat kemudian samar aku mendengar suara nafas berat dan dengusan kasar , yang semakin lama semakin jelas terdengar mendekat olehku . Hatiku semakin tak karuan , dadaku berdebar semakin kencang , yaah seketika aku teringat sewaktu dirumah tua itu , awalnya mencium bau amis darah , yang akhirnya muncul mahluk menyeramkan di dekatku .
Seketika itu pula aku merasa suasana di ruang itu berubah menjadi sangat dingin bak diruang AC . Tak ada yang bisa aku perbuat , aku hanya diam tak bergeming namun dalam hati aku terus berdoa mohon perlindungan dari Allah , perlahan suasana diruang itu kembali normal dan bau anyir itu hilang .
Merasa situasi kembali normal dan aman , aku membuka kedua mata dan langsung bangun untuk menghidupkan lampu , ketika lampu aku hidupkan dan diruang itu menjadi terang benderang , tatapan mataku mengarah ke lantai semen . Astaghfirulloh ... aku lihat di lantai ada bercak air seperti bekas jejak kaki orang dewasa , kembali dadaku berdebar . Ya Allah lindungilah kami ya Allah dari segala gangguan setan yang terkutuk , demikian hatiku memohon kepada Allah .
Hari minggu tentunya hari yang menyenangkan buat pelajar karena hari itu libur sekolah , apalagi aku lihat di kalender hari seninnya tanggal merah pula , lumayan nih dua hari libur fikirku , namun aku bingung mau kemana karena kami tidak ada kegiatan , mau pulang kampung lumayan berat bagi kami untuk ongkosnya .
Akhirnya kami gunakan mencuci sepatu dan pakaian dan ketika tengah menjemur pakaian di belakang rumah , aku lihat mas mas jawa itu tengah menaikan barang barang ke mobil pick up , tentu saja aku heran dan penasaran , mau pada kemana mas mas itu ? setelah selesai menjemur pakaian , aku dan adikku menghampiri mereka dan bertanya .
"Loh kok pada angkatin barang , mau pada kemana mas ?"
"Eh dek Dayat , iya dek , tadi mas kerumah adek tapi gak ada" jawab mas warno
Mas Warno mendekatiku dan berkata....
"Dek , kami mau pindah rumah karena disini kejauhan dari tempat kerja , selain itu rumah ini juga enggak bagus dek , dan sebaiknya adek juga pindah dari sini"
Sepertinya mas warno paham jika aku tidak mengerti . Lalu ia mengajakku duduk di teras dan ia melanjutkan ceritanya .
"Jadi begini dek , dirumah ini dan lingkungannya banyak penghuninya yaitu mahluk halus yang jahat , mereka mengganggu , mas sudah berusaha berkomunikasi dengan mereka tapi sepertinya mereka tidak mau diajak bicara , apalagi mahluk yang ada di dalam kolam itu"
Mendengar ucapan mas warno jika di dalam kolam itu ada penunggunya seketika aku merasa sangat terkejut dan berkata
''Ja jadi mas juga tahu kalau di dalam kolam itu ada hantunya ?" ucapku sembari menatap mas warno
Sembari mengangguk mas warno balik bertanya kepadaku
''Loh dek dayat melihat juga ya ?"
''Iya mas , kami melihatnya sebelum mas tinggal dirumah ini , bahkan tadi malam makhluk itu datang kerumah mas... sebenarnya kenapa ya mas makhluk itu mengganggu ?" jawabku dengan rasa takut
Mas warno semakin terkejut mendengar ceritaku jika malam tadi makhluk itu mendatangiku dirumah
''Dek , di kolam itu... dahulunya ada bangsa belanda yang mati dibunuh dan di kuburkan disana , dan sejak saat itu dia selalu gentayangan dan mengganggu , sama orang yang baru tinggal disini , kalau hasil komunikasi mas dengan dia , dia sedang mencari orang untuk di jadikan temannya di kolam itu , yang menurutnya itu istana kerajaannya , artinya makhluk itu mencari orang untuk dijadikan tumbal , jadi sebaiknya kalian cepat pindah dari sini dek'' ujar mas warno panjang lebar , serta mengkhawatirkan kami .
Mendengar cerita dari mas warno tentu saja aku merasa ngeri dan takut , sekaligus sedih , karena kami harus pindah kemana , juga pindah itu sudah pasti harus ada uang untuk cari dan bayar sewaan rumah lagi .
''Iya mas , tapi kami tidak ada uang untuk bayar sewa rumah lagi , kalau gitu dayat harus pulang dulu ke kampung'' ucapku sedih
"Begini saja dek , dari pada pulang kampung habis waktu , sebaiknya hari ini adek gunakan untuk cari rumah sewa lain ya , masalah biaya nanti mas bantu ya , yang penting kalian cepat pindah dari sini , karena dia (hantu) mengincar salah satu dari kalian bertiga'' ucapnya lagi dengan wajah serius
Singkat cerita , mas warno sebelum berangkat pindah , beliau memberi uang sebesar 150 ribu kepadaku , ditambah uang jajan 30 ribu buat kami sebagai tanda terimakasih karena selama ini kami membantu mereka , nominal segitu untuk masa itu sangatlah besar bagi kami , aku mengucapkan banyak terimakasih kepada beliau , dengan uang itu aku segera mencari rumah sewa lain yang terjangkau dan Alhamdulillah minggu siangnya aku dapat rumah sewa yang dekat dengan sekolah nining , dengan harga sewa 15 ribu perbulan .
Setelah dibayar langsung 2 bulan , rumah itu kami bersihkan dan sorenya kami pindah kerumah sewaan yang baru . Semua berjalan lancar dan kami merasa senang karena saat itu jadi lebih dekat pergi ke sekolah dan yang jelas kami tidak lagi selalu merasa ketakutan karena gangguan atau penampakan menyeramkan lagi .
Malam seninnya kami sudah tinggal dirumah sewaan baru , rumah sangat sederhana , semi permanen , terdapat satu kamar , tidak jauh beda dari rumah sebelumnya , tidak ada kamar mandinya , namun tidak jauh dari kamar mandi umumnya yang berada di belakang rumah sang pemilik . Mungkin karena kelelahan yang namanya pindahan , malam itu kami langsung tertidur lelap , ditambah hujan deras terus mengguyur bumi , yaah saat itu memang tengah musim hujan .
Siang yang tak cerah , karena hujan yang deras , ditambah dentuman serta kilatan petir seakan tengah beradu kekuatan , aku tengah berada di tepian sebuah sungai yang luas dengan arus yang sangat deras pula , aku sedang memungut ikan yang sangat banyak mungkin terdampar karena hempasan gelombang air .
Tiba tiba saja gelombang air yang besar datang menghantam tubuhku , aku terseret gelombang air itu dan hanyut terbawa arus sungai yang deras , beruntung ada sekeping papan yang dapat aku gunakan untuk berpegangan agar tubuhku tidak tenggelam , namun naas aku yang berada diatas papan di tabrak oleh kayu bulat berukuran besar yang hanyut juga .
Bruaaak , aku tenggelam di dalam air , nafasku terasa sesak karena perlahan air mulai memasuki tubuhku , aku terus berjuang dengan menggapai ke segala arah berharap ada sesuatu yang bisa aku raih jadi pegangan dan akhirnya...
Dengan nafas tersengal-sengal aku bisa timbul ke permukaan , aku selamat , aku sapukan pandangan ke segala arah , Alhamdulillah aku berucap syukur karena ternyata aku hanya bermimpi, namun saat itu benar adanya, aku tengah berada di dalam air , ternyata rumah sewa kami yang baru kebanjiran karena hujan deras yang mengguyur bumi malam itu .
__ADS_1
Dengan panik aku bangkit berdiri , bingung apa yang harus aku lakukan . Begitu kesadaran ku kembali penuh , teringat dengan kedua adikku yang tidur dikamar , segera aku melangkah ke kamar dan membuka pintu untuk mengeceknya , Alhamdulillah adikku tidak kebasahan karena mereka tidur diatas dipan kayu .
Melihat kedua adikku masih terlelap tidur dan aman , aku menghela nafas lega . Dan tinggalah aku malam itu tidak dapat tidur serta tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu pagi tiba .