Kumpulan Cerita Horor

Kumpulan Cerita Horor
Episode 16


__ADS_3

Sejak masa SMA , saya berfikir bahwa orang orang yang mampu melihat dan berkomunikasi dengan 'jin' adalah sesuatu yang ‘waow’ , karena hal itu tidak dimiliki oleh setiap manusia , hanya orang orang tertentu saja .


Dikepalaku , sudah ada rencana matang untuk memenuhi keinginan itu . Aku mengenal orang yang dapat memuluskan hasrat tersebut . Beliau adalah adik sepupu perempuan dari kakek saya sendiri . Beliau tinggal di desa sebelah , jaraknya hanya sekira lima kilometer dari desa kami .


Setelah lulus SMA , saya tidak berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi . Keadaan ekonomi keluargalah yang membuatnya demikian . Aku tidak tega harus memaksa kedua orang tua membanting tulang untuk membiayai perkuliahanku nantinya . Lain dari itu , pekerjaan sebagai petani gula merah membuatku tergiur . Dengan profesi itu , meskipun tidak banyak , aku dengan mudah menghasilkan uang , sangat cukup untuk memenuhi kebutuhanku yang masih sendiri . Modalnya hanya tenaga , sementara sumber daya alam yang mendukung profesi itu sangat melimpah .


Tanpa sepengetahuan kedua orang tua , aku membulatkan tekad untuk menemui adik sepupu dari kakek . ‘Ipa Ngwaladhi’ , begitulah orang memanggilnya . Sematan itu diberikan kepadanya karena hobinya menanam keladi . Untuk nama sebenarnya , aku tidak mengetahuinya . Sudah menjadi adab di kampung , sangat tabu menyebut nama asli seseorang yang sudah tua .


“Nek , ada maksud yang ingin ku utarakan sama kita”


Meskipun ada sedikit keraguan , aku mulai membuka perbincangan . Hampir bersamaan , segera kuserahkan sebuah bungkusan yang berisi tembakau , daun sirih dan juga kapur sirih . Setelah memeriksa isi bungkusan , wajahnya jadi sumringah . Senyumnya mengembang , hingga tampak jelas gusinya yang memerah karena daun sirih . Sambil berjabat tangan , ia mengerutkan mata . Ia memandangku , seakan mencoba untuk mengenaliku .


“Kamu ini siapa , dan mau apa kemari ?” wanita yang telah memutih seluruh rambutnya itu mulai bertanya .


“Saya ini galmin , anaknya J*don , cucunya L*mu” Aku menjawabnya dengan keyakinan . Ia tentu tidak mengenalku , tetapi nama ayah dan kekekku pastilah dikenalnya .


“Hah , engkau ini masih cucuku , jangan sungkan sungkan datang kemari” ia tersenyum sambil menepuk bahuku .


Dalam hati aku sangat bersyukur , sepertinya maksudku akan berjalan dengan mulus . Di pondok kediamannya saat itu hanya ada kami berdua . Kami duduk di bawah sinar remang lampu pelita , beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun palem . Hasratku memuncak ketika hendak mengungkapkan maksud . Jantungku tiba tiba saja berdegub sangat kencang .


Aku menunggu…. menunggu…. masih menunggu….


Degub jantung bukanya reda , malah makin menggila hampir tanpa jeda . Aku juga heran , mengapa muncul hal seperti itu . Pikrianku sedikit liar , teringat kembali saat pertama menyatakan cinta pada si rayna , pacar pertamaku . Degub kali ini aku rasa lebih kencang .


“Elah , tabrak sudah !” aku berteriak dalam hati , memancing keberanian , coba membuyarkan hati yang bergejolak .


“Maksud datang kemari , ingin sekali nenek memandikanku , aku ingin melihat makhluk makhluk astral dan juga mengenal dunia mereka”


dengan gemetar maksud itu akhirnya keluar juga dari lisanku . Bebanku seakan hilang , degub jantungpun perlahan mereda .


Wajah renta itu tiba tiba saja muram . Rasa iba merambat dalam hatiku , juga bersalah . Seolah hadirku telah membawakanya beban yang begitu berat . Ia diam cukup lama , menatapku dengan beribu makna . Tapi mau diapa , kata sudah terlanjur berbuah menjadi ucap , tidak bisa ditarik kembali .


“Cu , aku menyayangimu , sudah siapkah imanmu mengenal dunia mereka ? antara alam kita dan alam mereka hanyalah dipisahkan oleh hijab yang sangat tipis , lebih tipis dari kulit bawang . Dan juga , wujud asli mereka sebenarnya beraneka rupa , kebanyakan buruk dan menyeramkan . Mengenal mereka hanya akan membuat hidupmu terganggu” ia mengurai sedikit tentang dunia astral dengan maksud untuk mengingatkanku .


“Aku siap nek” jawabku pendek , dengan sadar membunuh keraguan yang masih tersisa di dalam dada .


“Kalau demikian tekadmu , datanglah kembali malam jum’at dengan membawa syarat syaratnya . Tidak banyak , selembar kain putih cukup dua kali dua meter , dan carilah daun pohon waru tiga lembar yang unjungnya menyentuh air kali yang mengalir”


Nenek itu menyampaikan syarat syarat yang harus kupenuhi . Syarat yang bagiku begitu mudah . Kain putih ada banyak stok dirumah , tersedia banyak waktu untuk mendapatkannya , kedua orang tuaku setiap hari menghabiskan waktu mengurus ladang . Dan untuk daun pohon waru , banyak tumbuh di pinggiran kali .


Malam yang ditunggupun tiba . Dengan mengayuh sepeda , aku tiba saat hari mulai gelap . Syarat syarat yang diperlukan kukemas rapi di tas lusuh , tas yang biasa kubawa ketika berangkat menyadap aren . Hal itu kulakukan agar ayah dan ibuku tidak curiga , mereka tentu mengira kalau aku hendak mengasapi gula aren yang kutampung selama seminggu agar tidak rusak .


Setelah membalas salam , ia mempersilahkanku masuk . Si nenek hanya mengenakan sarung yang ujungnya sudah di hiasi kerutan sana-sini. Kebaya lusuh menghiasi tubuhnya.


“Apakah aku berdosa ? Apakah aku sudah mengusik ketenangannya ?” perlahan hadir rasa bersalah , rasa yang membuatku tidak nyaman .


“Kita tunggu waktu antara maghrib dan isya , itu waktu yang tepat” lamunanku buyar oleh si nenek .


“Iya nek” jawabku pendek sebelum kembali tenggelam dalam lamunan . Terbayang kehidupanku nanti setelah ritual ini berhasil . Muncul beribu tanya dan rasa penasaran , tidak sabar untuk mengalaminya .


“Sini ikut saya ke kali , bisa kita mulai”


Dengan langkah yang tampak payah , wanita tua itu bangkit dan berjalan mendahului . Aku hanya bisa patuh , mengikutinya dari belakang . Tidak lupa tas yang beisi persyaratan ritual kubawah serta . Syukurlah kali yang dituju hanya sekira dua puluh meteran dari pondoknya .


Akan tetapi , setiba dikali , kami tidak langsung melaksanakan ritual . Dengan berbekal senter yang kubawa , kami berjalan menyusuri tepi kali .


“Berdirilah kau di hulu kali yang bercabang itu , disitu kita mulai , lepaskan semua pakaianmu”


Wanita tua yang sudah sarat dengan pengalaman hidup itu mulai mangatur posisiku . Menutupi sekujur tubuhku dengan kain putih , membenahinya agar tidak sedikitpun badan kasarku ini tampak dari luar , kecuali wajahku . Kemudian ia mengambil segayung air , gayung yang terbuat dari bilah buah maja dan bertangkai kayu . Ia lalu komat kamit membaca mantera , meniup tiga kali ke atas air di dalam gayung , menyiramkannya perlahan dari kepalaku . Selanjutnya ia mengambil tiga lembar daun waru , memantarainya satu persatu , sebelum dihanyutkan kekali . Ada perasaan aneh menjalar di sekujur tubuhku .


“Prakkk ! akh !”


Terdengar bunyi hantaman keras yang seakan membelah kepalaku menyusul jeritku . Aku buru buru meraba kepalaku , mengira ada yang salah dan telah dengan sengaja mencelakaiku .


“Tidak apa apa , tidak apa apa , hanya persaanmu saja itu , tanda kalau hijabmu sudah terbuka . Kenakan pakaianmu sana , kita balik cepat ke pondok !”


Wanita tua itu buru buru meredakan perasaanku , menyuruhku segera meninggalkan tempat itu .


"Hiiiiiiiiiii…."


Seketika terdengar jeritan burung malam , tajam melengking , menusuk rongga dada . Hanya sekali sebagai hidangan penutup ritual malam itu . Sesampai di pondok , si nenek bertitip pesan kepadaku


"Nanti bila suatu waktu engkau tidak sanggup menjalani kehidupan sebagai akibat dari ritual malam ini , segerahlah kembali mencari ku . Mudah mudahan saat itu Tuhan masih memberiku umur panjang"


Malam itu aku tiba dirumah sekira pukul sebelas malam . Perlahan kubuka pintu yang memang sengaja tidak dikunci . Itu sudah menjadi kebiasaan . Dikampung kami belum pernah terdengar kisah tentang pencuri yang berani memasuki rumah orang . Rupanya seluruh penghuni rumah sudah pulas . Aku segera masuk kamar berniat rebahan karena badan sudah terasa penat .


Ritual yang kami lakukan dengan Nenek ‘Ipa Ngwaladi’, tiada seorang pun yang tahu selain Ia dan saya pribadi . Kami telah sepakat merahasiakannya . Aku tidak ingin hal itu diketahui orang tuaku apalagi oleh orang lain . Biarlah waktu yang menjawabnya , akan sampai sejauh mana nantinya aku melihat dan mengenal sisi lain dari kehidupan dunia ini , dimensi yang berbeda .


Peristiwa peristiwa ganjil mulai menghiasi hari hariku . Bermula dari suatu pagi , kala berjalan dengan membopong ruas ruas bambu yang penuh dengan air sadapan aren . Sesuatu benda tiba tiba saja jatuh dihadapanku . Bentuknya seperti telur , putih dan licin . Aku segera memungutnya . Namun betapa terkejutnya aku , ketika menggenggam benda tersebut , tanganku terasa seperti tersengat sesuatu yang sangat panas . Refleks , segera kulemparkan sekuat tenaga .


"Bummm !"


Terdengar bunyi dentuman yang keras dari arah jatuhnya batu serupa telur yang kubuang tadi . Jauh dari perkiraanku , benda yang hanya sebesar telur tersebut mendarat dan mengasilkan bunyi yang sebesar itu . Sungguh diluar nalar . Aku kemudian berlalu begitu saja , membawa tanya yang belum terjawab .


Sudah menjadi kebiasaan . Ketika lelah setelah seharian mengolah hasil sadapan sampai menjadi gula aren yang siap jual . Sore hari , aku menyempatkan waktu untuk mandi . Air kali yang jernih dan mengalir deras menggodaku untuk menceburkan diri kedalamnya . Mencari lubuk yang sedikit dalam . Menyelam menikmati segarnya air pegunungan yang masih murni jauh dari polusi .


Sedikit lagi masuk waktu magrib . Salawat pengantar azan sayup mulai terdengar dari arah kampung . Aku masih enggan menyudahi mandi , berniat untuk menyelam beberapa kali lagi . Ketika menyelam untuk kesekian kalinya , sayup terdengar suara gadis yang tertawa bersenda gurau , tidak jauh dari tempatku berada . Buru buru kuangkat kepala yang terlanjur terbenam kedalam air .


Benar saja . Tampak jelas olehku dua sosok . Mereka berdua duduk di atas sebuah bongkah batu di pinggiran kali .


"Sejak kapan mereka berada disitu ?" hadir tanya dalam hati .


Kaki mereka terjuntai , dengan riang ditepuk tepukan pada permukaan air . Jarak kami begitu dekat , tidak lebih dari lima meteran .

__ADS_1


“Alangkah cantiknya , bidadarikah ?” aku terpana menatap mereka . Seumur hidup belum pernah melihat wanita secantik mereka . Aku mencari tanda itu , tidak ada . Tahulah aku kalau mereka adalah dari golongan jin . Lekukan yang turun dari hidung ke bibir atas tidak ada pada mereka .


Dua sosok gadis sedang tertawa , sambil sesekali menoleh ke arahku . Keduanya hanya mengenakan sarung yang menutupi dada hingga lutut . Aku terpukau dengan paras mereka . Terlebih ketika sarungnya sedikit tersibak kala kaki mereka digerak gerakkan . Mulus sempurna tiada cacat .


Sebagai laki laki normal , berahi muncul tanpa diundang . Tetapi di sisi lain , aku belum siap untuk mengenal mereka lebih dekat . Sudah pasti mereka bukannlah dari golongan manusia . Jujur , rasa takut masih mengalahkan berahi dan perasaan yang lain terhadap mereka .


Segera aku bangkit meninggalkan kali itu , dengan rasa malu karena hanya mengenakan ****** ***** . Kuraih pakaian ganti yang sebelumnya sengaja kuletakkan di pinggir kali , pakaian yang sedianya kujadikan sebagai salin bila nanti sudah selesai mandi .


Aku masih sempat mendengar tawa mereka , ketika sedikit berlari sambil mendekap baju salin yang belum sempat kukenakan .


“Tertawalah , sesuka hati kalian , yang penting aku tidak tergoda” gumamku dalam hati


Aku ingat betul, waktu itu hari jum’at . Ayah sebelum kekebun menyempatkan diri singgah di pondok tempat aku memasak gula aren . Ia berniat kehutan sejenak untuk mengambilkanku beberapa potong kayu bakar .


“Ada pohon tumbang dekat situ , saya pergi potong dulu agar mudah di pikul kemari . Sebagian sudah ada yang kering” ujarnya , sambil berjalan memasuki hutan .


Sepeninggal ayah , aku istirahat merebahkan diri di atas ‘bale bale’(tempat duduk yang dibuat panjang dan sedikit lebar terbuat dari kayu dalam bahasa setempat) . Tiba tiba saja saya di serang rasa ngantuk .


Sosok itu tiba tiba masuk kedalam pondok . Masih sadar , akan tetapi tubuhku terasa lunglai untuk digerakan . Tanpa sepatah kata , wanita itu langsung menindihku . Ia adalah salah satu dari sosok yang pernah kutemui sewaktu mandi di kali beberapa hari yang lalu . Ia mengenakan gaun putih tipis tembus pandang . Lekuk tubuhnya yang seksi tampak dengan jelas olehku .


“Iman lelaki mana yang tidak runtuh , melihat gadis cantik dan seksi seperti dia ?”


Aku mulai meragukan keyakinanku untuk bertahan dari godaanya . Kecantikannya telah merampas nalarku . Sosoknya tidak dapat di samai meskipun di sandingkan dengan artis artis di televisi .


Berahiku kali ini tidak bisa kubendung , ditambah lagi tubuhku yang terasa lunglai . Aku pasrah mencoba menerima keadaan . Aku tahu betul , sekali terjadi hubungan badan dengan mereka , maka akan selamanya masuk perangkap mereka . Sangat susah mencari orang pintar yang dapat menyelamatkan diri dari jerat mereka . Sudah ada beberapa orang contohnya . Pribadi mereka menjadi tertutup . Semakin lama cenderung menjauhi pergaulan dengan masyarakat luas . Lebih banyak menghabiskan waktu di hutan . Pandangan mata mereka menjadi liar bila berjumpa dengan orang lain .


Setelah beberapa saat ditindih olehnya , aku mulai balas merespon . Tenagaku seakan pulih kembali seperti sedia kala , menyusul nafsuku yang bangkit mengggelora . Mendekapnya erat erat . Rambutnya yang lurus dan bersih membelai lembut jatuh menimpa wajahku . Di saat itulah muncul tekadku untuk bersedia bergaul akrab dengannya asalkan selama bersamaku wujudnya tidak berubah , terus seperti itu .


“Prakkk !”


Kami berdua serempak menoleh kearah bunyi yang berasal dari samping pondok . Wajah mulusnya menempel di pipiku . Dari celah dinding papan , kulihat ayah baru saja membanting tumpukan kayu bakar , kayu bakar yang baru saja diambilnya dari dalam hutan . Sosok itu tergesa pergi , lenyap disudut pondok . Meninggalkan aku yang masih diliputi rasa penasaran .


“Syukurlah , ayahku jadi penyelamatku” gumamku dalam hati setelah nalarku kembali pulih . Aku tidak berani membayangkan bila ayah tadi tidak datang . Jalan hidupku selanjutnya jelas akan berbeda . Kejadian di dalam pondok sama sekali tidak diketahui ayahku . Setelah menaruh kayu bakar , Ia lalu pergi meninggalkanku , pergi menengok kebun kesayangannya .


Aku kembali menata ulang tekad dan keyakinanku . Sudah seharusnya , dan mesti dengan sekuat daya menghindari segala celah , yang memungkinkan kejadian serupa di dalam pondok terulang kedua kalinya .


Hari hari berikutnya kejadian dan penampakan penampakan aneh mulai intens terjadi . Disamping sosok cantik yang sempat menggangguku , ada juga hal hal ganjil lainya yang sering kusaksikan . Perlahan lahan aku mulai memahami rupa , sifat dan kehidupan mereka .


Tidak meleset apa yang pernah diutarakan oleh Nenek ‘Ipa Ngwaladi’ . Rupa mereka , ada yang sangat cantik , ada yang biasa saja seperti manusia pada umumnya , ada pula yang memiliki tampang yang sangat menakutkan , tampang yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya .


Sepanjang yang kusaksikan , aktifitas mereka memang berbeda beda . Tapi , masing masing dari mereka itu melakukan aktifitas yang sama , boleh di katakan monoton setiap harinya . Saking seringnya melihat mereka , aku mulai memberi nama dan gelar yang saya sesuaikan dengan ciri fisik maupun dari tingkah laku mereka .


Ada si marathon , ada si bungkuk , ada pak haji , ada si gorila , ada si mata salah , ada si KDRT dan masih banyak lagi yang tidak kusebutkan di sini .


Aku beri gelar dia sebagai si marathon karena setiap menjelang maghrib , pasti kulihat dia melintas, berlari dengan kecepatan yang stabil , ala ala pelari marathon . Ia hanya mengenakan celana pendek , badannya yang atletis senantiasa dilumuri keringat . Jin inilah yang biasa menyebabkan orang tiba tiba dilanda sakit perut dan muntah muntah . Ia hanya tahu berlari lurus , tidak peduli apapun yang ada di hadapannya . Ditabraknya begitu saja , tembus dan terus berlari .


Si bungkuk , jin tua yang jahil . Antara maghrib dan isya , ia selalu terlihat menyeberang melintasi jalan penurunan yang letaknya sebelum jembatan jumli (kami namakan jembatan jumli karena di sana ada orang yang bernama jumli , tewas setelah tergencet mobilnya yang terbalik) . Ia berjalan seperti siput , sangat lamban . Lebar jalan yang hanya sekira empat meteran itu , ia mampu seberangi dengan sukses setelah memakan waktu hampir satu jam . Jin inilah yang biasa buat orang kecelakaan . Kendaraan yang tersenggol olehnya , tiba tiba saja jatuh . Orang yang mengalami kecelakaan tidak sadar betul apa telah dialaminya . Mereka tidak tahu kalau ada si bungkuk yang mampu menghilangkan ingatannya seseorang dalam sesaat . Iya , memang hanya sesaat . Setelah sadar , korbannya hanya mengira ngira apa yang menjadi penyebab sehingga ia celaka .


Pak haji . Jin yang satu ini punya wilayah . Ia menguasai sebuah kawasan yang cukup luas . Setiap hari mengenakan kopiah dan selempang berwarnah putih . Ia termasuk golongan jin muslim . Tapi se muslim muslimnya jin , ia tetaplah jin . Tidak bisa disamakan betul dengan sifat manusia seutuhnya . Dialah yang menyebabkan bibir marzuki kawan saya bengkak beberapa bulan yang lalu . Selembar ikan kering mendarat telak di mulutnya. Saat itu kawan saya berniat memperluas lahannya . Ia berniat hendak menebang sebuah pohon beringin . Curiga pohon itu berpenghuni , maka dibacanyalah ayat kursyi beberapa kali sambil mengitari pohon tersebut dengan maksud mengusir penghuninya . Naas , kebetulan pak haji lewat . Pak haji geram ketika mendengar marzuki tidak fasih betul melafalkan huruf huruf dalam ayat ayat suci Al Quran . Dirogohnyalah ikan kering , bekal marzuki yang berada di dalam tas , lalu dipukulkan ke mulut kawan saya tersebut dengan keras . Marzuki tahu kalau bengkak dibibirnya memang di sebabkan oleh perbuatan Jin , tapi ia tidak dapat menyaksikannya . Ia hanya melihat ikan kering yang melayang menampar mulutnya .


Si mata salah . Jin ini hanya menang tampang doang . Menang dalam hal kejelekan dan keseraman . Modalnya cuma bisa menakut nakuti orang . Rambut di kepalanya sangat jarang , menampakkan kulit kepalanya yang kasar seakan dipenuhi penyakit kurap . Aku beri gelar dia si mata salah karena letak matanya yang aneh . Satu matanya berada di jidat , tepat sejajar di atas hidung , sementara yang satunya lagi berada dipipi kanannya . Uniknya , walaupun letaknya tidak beraturan , kerlingan dan tatapan kedua mata tersebut tetap sinkron seirama .


Si KDRT . Jin yang satu ini sadar dan tahu betul kalau saya bisa melihat dan menyaksikan dunia mereka . Iya , hanya dia dan si cantik penggoda pastinya . Saat itu hujan rintik rintik . Aku menemukannya berdiri dekat comberan di kolong dapur (kebetulan dapur kami berbentuk panggung) , tempat pembuangan limbah dapur . Ia menggendong anaknya yang masih balita . Bau comberan dan tetes air yang jatuh dari tirisan atap tidak membuatnya risih .


“Eh , kenapa ko di situ , naik di rumah , marimi , tidak ada orang hanya saya sendiri” aku mengajaknya mampir , terharu melihat kondisinya . Terutama kepada anaknya yang masih kecil .


Entah mengapa , ia tidak berani naik ke rumah , hanya berani duduk pada salah satu anak tangga dapur . Ia berkisah bahwa baru saja lari dari rumah karena sudah tidak tahan mendapat siksaan dari suaminya . Aku tidak begitu tertarik dengan kisahnya .


“Jangankan mendengar kisah KDRT di duniamu , di duniaku saja aku malas . Tadi aku peduli karena mengira kalian hendak berlindung dari air hujan” batinku saat itu .


Sebelum pergi , Si KDRT memohon maaf


“Minta maaf min , tolong kita kasi tahu orang-orang tua yang anaknya suka mandi di kali itu (sambil menunjuk ke arah kali tempat biasanya anak anak di kampung bermain dan mandi) , kalau dia hilang sandal mereka , saya itu yang ambil , ingin juga anakku memakai sandal seperti yang mereka miliki . Saya senang melihat salah satu dari mereka , anak yang punya tahi lalat kecil di atas bibirnya”


“Iya , nanti saya sampaikan . Tapi awas memang ko ganggu anak anak yang mandi di situ . Kalau tidak ingin berurusan dengan saya” ancamku terhadapnya .


Aku tahu anak yang dia maksud . Enon , anak perempuan pasangan si dono dan suyanti . Aku tidak ingin ia bertindak lebih selain dari hobinya nyolong sandal anak anak .


Terjawab sudah penyebab keluh anak anak yang selalu kehilangan sandal selama ini . Ternyata adalah perbuatan dia . Pesannya tidak pernah saya sampaikan . Tindakan itu hanya akan menimbulkan kecurigaan orang tentang keadaan diri saya .


Semakin hari si cantik penggoda semakin berani . Ia terus saja mencari kesempatan agar kejadian di pondok tempo hari bisa terulang . Tetapi karena tidur tiduran di ‘bale bale’ tidak pernah lagi kulakukan , maka hal yang diinginkannya tidak pernah kesampaian .


Karena tidak berhasil , ia memakai cara yang lain untuk mendekati dan menarik simpatiku . Kadang ia mencoba membantuku menganggkut tabung tabung bambu , tetapi selalu saja kutepis ketika hendak ia raih dari bahuku . Ia selalu hadir setiap saat , menggoda dan merayuku .


Aku yakin ia pura pura tidak tahu . Ketika sesekali diam diam mengamatinya . Seumpama manusia , sungguh ia tiada cacat dan cela . Dari segi usia , ibarat buah , gadis ini lagi matang matangnya , saat terbaik untuk dipetik .


“Sampai kapan aku bisa bertahan ?” tidak bisa kupungkiri , kekhawatiran selalu hadir melanda pikiranku .


Pernah suatu waktu aku sedikit lengah . Tiba tiba ia sudah duduk di pangkuanku . Merayu , melingkarkan tangannya di leherku . Suaranya yang manja nyaris meruntuhkan imanku . Sedikit kasar , aku menggeser tubuhku hingga membuatnya terjatuh . Ia tidak menyerah , berusaha untuk duduk kembali di atas pangkuanku . Berkali kali diulanginya . Terpaksa aku bangkit berdiri , berpura pura sibuk mengumpulan kayu bakar yang berserakan . Dalam hati kecilku berkata


“Bila terus seperti ini , robohnya imanku hanyalah masalah waktu”


Tidak hanya di pondok tempat aku memasak air aren , wanita itu mulai berani menyambangiku ke rumah . Ia menanti saat orang orang sudah pada tidur . Kehadirannya di awali dengan hembusan angin yang kencang . Anehnya angin ini , walaupun kencang , ia berhembus dalam sunyi tiada suara berisik . Saat tiba tiba hembusan angin itu diam , wanita itu sudah berada di sisiku .


Bersama hadirnya , aroma bunga cempaka menyebar memenuhi ruangan . Ku hirup aroma itu , aroma yang membawa suasana hatiku dijalari perasaan aneh . Rasa yang sangat kubenci akan tetapi tak mampu kutolak , karena ia masuk melalui nafasku . Dengan balutan gaun putih ia duduk di tepi ranjang , mengamati aku yang sedang berbaring .


“Eh , sudah berapa kali saya bilang , sudah jangan datang ganggu ganggu saya , dunia kita berbeda . Ini... biar di rumahku ko sudah berani datang , apakah yang kau cari dari saya ?” kesal , aku menggerutuinya . Akan tetapi gerutuku tak sedikitpun berpengaruh padanya . Ia tetap saja diam , selalu begitu .


Biasanya , meskipun aku mengagumi kecantikannya , rasa takut ketika dengannya tetap ada . Untunglah beberapa hari yang lalu aku sempat menemui nenek Ipa Ngwaladi . Aku menceritakan kepadanya tentang gangguan gangguan yang kualami . Ia memberiku Doa doa sejenis mantera . Mantera yang sangat di takuti oleh segala makhluk dari bangsa jin . Mantera ini berisi semacam sumpah , yang mana di dalamnya berisi nama nama raja jin yang berkuasa di antero bumi . Itulah ia kemudia dikenal dengan Mantera 'SUMPAHNA JINI' yang berarti SUMPAH JIN . Bekal inilah yang membuat mentalku menjadi jauh lebih kuat .


“Kalau tidak begitu genting , jangan ko baca , cukup baca dalam hati saja . Karena kapan ko baca , kasihan mereka , bisa hancur terbakar” nasehatnya setelah selesai memberikan mantera tersebut .


Sepertinya Mirua , mirua nama jin penggodaku ini (Itulah yang keluar dari mulutnya ketika aku menanyakan namanya pada suatu waktu . Sedikit canggung , Ia menyebutkannya dengan suara nyaris tak terdengar) , telah mengetahui kalau aku sudah memiliki mantera tersebut . Ini aku baca dari gerak geriknya yang mulai segan dan tidak banyak melakukan tingkah aneh seperti biasanya .

__ADS_1


Menjadi dilema , mataku mulai diserang kantuk , tetapi ragu untuk tidur karena ia masih menunggu di sisiku . Aku mengira kalau ia menungguku terlelap agar bebas melaksanakan niatnya .


“Ko pulang sana ! jangan sampai orang tuamu mencarimu” emosi , tak sadar suaraku meninggi .


“Min…min…min…. apa ko bikin itu , dengan siapa ko bicara ?" dari kamar sebelah , ayah menegurku . Rupanya nada suaraku yang meninggi membuatnya terbangun .


“nda…nda… saya mengigau” elakku , takut ketahuan .


“Ko pulang sana !” dengan geram , aku mendekat ke wajahnya .


“Orang tuaku yang menyuruhku ke sini , mereka ingin sekali kau jadi menantunya” dia menyahutku sambil tertunduk .


“Hah…!”


Aku terkejut tapi tak mau menampakannya . Bila sudah melibatkan orang tuanya , bahayaku tentu menjadi semakin bertambah . Aku menjauhinya untuk kembali berbaring . Dalam hati timbul suatu niat , mengusirnya dengan cara terakhir .


Hanya dalam hati , kubaca mantera yang di berikan oleh nenek Ipa Ngwaladi sembari memperhatikannya penasaran , seperti apa kira kira reaksinya ?


Ia yang sedari tadi hanya menunduk , seketika menoleh . Pandangan mata yang biasanya indah , tiba tiba berubah tajam , melotot ke arahku . Di saat bersamaan wajahnya yang jelita menjadi beubah upah , menjadi bentuk bentuk rupa yang menyeramkan .


“Kau….”


Itulah kata terakhir yang kudengar malam itu sebelum dengan tergesa ia melayang , hilang di balik fentilasi jendela .


Sejak kejadian malam itu dirumah , ia mulai sedikit berubah . Tidak seperti biasanya , yang tanpa canggung dan malu bertingkah sesuka hati untuk menarik simpati . Ia mulai sedikit liar , meski tetap senatiasa mengawasiku . Dengan menjaga jarak , hadirnya tidak lagi sendiri , akan tetapi selalu datang bersama dengan gadis lain , tak kalah cantik . Sosok inilah yang tempo hari bersamanya mengawasiku ketika mandi di kali . Wajah mereka sangat mirip . Kemungkinan besar mereka bersaudara , hanya yang satu lebih belia .


“Ada apa lagi ini , pake acara bawa bawa teman segala , mana cantik lagi” gumamku dalam hati mencoba memahami apa yang menjadi maksudnya .


Aku sebenarnya kurang mengerti , mengapa dengan banyaknya orang lain yang bisa ia ganggu , ia memilih diriku . Di tambah lagi sekarang ia sudah tahu kalau aku mempunyai sesuatu yang bisa membuatnya hancur musnah , masih tak membuatnya kapok .


Aku tidak begitu menghiraukannya . Terus saja aku melakukan aktivitas seperti biasa . Mengambil hasil sadapan , memasaknya hingga menjadi gula siap jual , mengumpulkan kayu bakar di hutan . Segala gerak gerikku itu terus diikuti dan di awasi olehnya .


“Apa yang dia cari ini makhluk satu , cintanya luar biasa” hatiku bertanya tanya , heran melihat kegigihannya .


Suatu malam ia memberanikan diri datang kembali menemuiku di rumah . Dengan meringgkuk di bawah kakiku , ia memohon agar aku ketika bersamanya jangan lagi membaca mantera itu .


“Sudah saya bilang berapa kali , kita ini beda , tidak mungkin bisa bersatu” tak bosan aku terus mengingatkannya .


“Bisa asal ko mau . Ikutlah bersamaku tinggal , aku akan menuruti semua keinginanmu” pintanya sambil menggenggam kedua tanganku . Lembut tapi dingin , sedingin es .


Mendengar rengekannya , rasa haru sempat menjalar memenuhi rongga dada namun segera kutepis . Aku sadar betul dengan segala tipu dayanya . Sepandai pandainya manusia melakukan tipu daya tidak akan dapat menyamai mereka karena hal itu sudah merupakan kodratnya , penuh dengan tipu daya .


“Saya tidak mau , sampai kapanpun saya tidak akan pernah mau” jawabku mempertegas apa yang sudah menjadi tekadku .


Tiba tiba ia bangkit , memandangiku lama , sehingga aku dihinggapi perasaan waswas .


Saat itu timbullah niatku untuk membaca mantera itu . Aku tidak ingin gegabah . Karena ia bisa mencelekaiku kapan saja .


“Jangan , aku tidak akan mengganggumu !” ia melarangku dengan cepat , seakan tahu aku mulai membaca mantera itu .


“Iya , aku akan pergi . Tapi ingat , aku mungkin tidak dapat mengganggumu , tapi bila engkau tidak bersedia menikah denganku , aku akan mencelakai orang orang terdekatmu !” dengan wajah yang berubah jadi menyeramkan , aku diancamnya . Ia kemudian secepat kilat menghilang .


Sekarang barulah terang olehku . Rupanya rayu manja dan tingkah lembutnya selama ini memang hanya tipu daya belaka . Aku bersyukur karena dengan segala cara dan usahanya belum mampu membuatku masuk kedalam perangkapnya .


Ancamannya ternyata bukanlah sebuah ancaman kosong . Suatu malam aku bermalam di rumah bibi . Sebelum tidur aku tidak lupa membaca beberapa ayat di dalam Al Quran yang kupercaya bisa menjadi benteng penghalang dari gangguan jin .


Saat tengah malam , aku terbangun dengan hembusan angin , angin yang menjadi tanda kedatangannya . Tapi malam ini , sedikit berbeda . Angin itu berhembus lebih keras dari biasanya . Aku mulai waspada , mengawasi kedatangannya . Kuamati sekeliling , tiada siapa siapa . Tapi ketika mendongak ke atas , aku di kagetkan oleh beberapa sosok . Ada empat di atas sana . Satu lelaki yang sudah tua , dan satu lagi seorang wanita juga sudah tua . Di sisi yang lain , duduk berdampingan wanita itu bersama dengan sosok yang biasa menemaninya mengawasiku ketika berada di pondokan tempat aku bekerja setiap hari .


“Rupanya satu keluarga yang datang” batinku saat itu .


Tanpa pikir panjang segera kubaca mantera bekal dari nenek Ipa Ngwaladi . Belum setengah , kudengar teriakkan melengking serempak dari ke empat sosok itu . Di ujung lengkingan sempat terdengar ancaman salah satu dari mereka


“Akan kubunuh bibimu !”


Segera aku berlari menuju kamar bibi , merapatkan telinga ke pintu . Kudengar bibi sedang mengigau seperti orang mengeluh . Keluhnya semakin lama semakin keras namun tertahan , seolah ada sesuatu yang mencekik lehernya . Aku membangunkannya sambil menggedor gedor pintu kamarnya yang terkuci .


“Bi ! bi bi !... paman ! paman ! paman !” teriakkan dan gedoranku tidak mendapat repon dari dalam kamar . Aku baru sadar kalau pamanku itu memang punya gangguan pendengaran , sementara bibiku tidak dapat berbuat apa apa karena sedang dikerjai oleh makhluk itu .


"Brakkk !"


Terpaksa pintu kamar aku dobrak . Begitu masuk , paman aku pukul dengan keras di bahunya , yang membuatnya bangun dalam keadaan bingung . Kemudian kami berdua berusaha membangunkan bibi . Tapi betapapun usaha kami belum bisa membuatnya tersadar . Panik , kubaca mantera itu dengan buru buru . Bau hangus sesuatu yang terbakar memenuhi kamar . Bibi kemudian tersadar dalam keadaan lemah .


“Perempuan itu dia mau bunuh saya , keras sekali dia cekik leherku” dengan suara yang agak parau , bibi menjelaskan apa yang baru saja dialaminya .


Setelah kejadian itu , kami bersepakat untuk tetap berjaga jaga hingga pagi . Dan syukurlah kami tidak lagi mendapat gangguan dari makhluk makhluk itu .


Pagi hari , pada salah satu sudut kamar . Bibi menemukan sebuah tumpukan abu . Aneh , sedang tidak pernah ada yang membakar apapun di tempat itu .


Saya pikir cukup sudah . Aku ingin menyudahi semua ini . Segala peristiwa yang kulalui setelah melakukan ritual dengan nenek Ipa Ngwaladi , mulai mengganggu kehidupanku . Peringatan dari nenek terbukti benar . Dari segi usia , memang belum pantas memiliki kelebihan tersebut , aku katakan saja kelebihan sesuai anggapan kebanyakan orang , tapi sebenarnya hal itu lebih pantas dikatakan sebagai kekurangan . Bagaimana tidak , apalah untungnya dapat menyaksikan kehidupan dan tingkah laku mereka . Hanya akan membuat kita gila , paling tidak gila urusan . Menyaksikan seluk beluk kehidupan di dunia nyata saja sudah bisa membuat kita stress apalagi harus ditambah dengan penyaksian dunia astral yang penuh dengan keganjilan dan tipu daya .


Aku pilih malam jumat menemui nenek itu . Untunglah ia ada di pondok . Setelah menjawab salam , ia mempersilahkan saya masuk .


"Hehehe, hmmm..., untunglah aku masih hidup , kalau tidak siapa yang bisa mengakhiri semua ini , syukur syukur ketika mati sempat kuwariskan cara untuk mengakhirinya kepada seseorang" belum sempat kuutarakan maksud , ia sudah mengetahuinya lebih dulu .


"Iya nek , aku ingin mengakhirinya , cukup semua kujadikan pelajaran" pintaku


"Sini , dekatkan wajahmu kepadaku !" perintahnya


Kudekatkan wajah . Ia lalu menjulurkan tangannya , mencabut sesuatu yang berada di antara kedua alisku .


Kurasakan sesuatu , serupa onak tertarik keluar . Seketika kepalaku terasa ringan , seperti terlepas dari sesuatu yang berat . Terkulai , aku tak sadarkan diri di atas pangkuannya . Terjaga tengah malam , sempat kebingungan sedang berada di mana sebelum disadarkan oleh suara si nenek .


"Lanjutkan saja tidurmu , sudah larut malam , sekalian siang engkau pulang"

__ADS_1


Aku kembali tidur , tidak sabar menanti pagi dengan kehidupan yang baru .


__ADS_2