Kumpulan Cerita Horor

Kumpulan Cerita Horor
Episode 18


__ADS_3

"Mau kemana mang ?" tanya ayu sembari merapikan mukenanya .


"Jemput indung beurang ceu , ceu tin udah kerasa perutnya , takut ntar malam melahirkan" jawabku sembari melanjutkkan langkahku , masih terdengar ceu ayu bicara..


"Ya udah cepetan , takut keburu ke magrib an" ujarnya .


Indung beurang.. ya indung beurang , sebutan untuk dukun beranak di kampungku . Rumahnya di ujung selatan kampung . Aku harus cepat sampai ke rumahnya sebelum adzan magrib , makanya ku putuskan lewat jalan pintas , ada jalan setapak , meskipun harus melalui sebuah kuburan kuno yang cukup angker . Adzan magrib baru saja selesai berkumandang ketika aku berjalan di depan kuburan itu . Bulu kuduk mendadak berdiri , ketika tiba tiba tepat di sampingku ada suara perempuan bertanya .


"Mau kemana mang , buru buru gitu ?" tanyanya


"Jemput indung beurang , mau ikut ?" jawabku sekenanya , tanpa menghentikan langkah dan melihatnya , karena aku tau yang nanya sudah pasti bukan orang .


Semua orang kampung tau , aku bukan penakut , makanya sering di suruh saat ada warga melahirkan atau sekedar menolong kalau ada hal hal yang terjadi malam hari . Aku tertegun.. mengamati jalan setapak..


"Kenapa lama banget sampenya ? Akh.. sepertinya dia ikut"


Kulanjutkan langkah ku , tapi aku merasa ada yang aneh , di depanku sekarang ada jalan beraspal yang sangat tak asing . tapi dimana aku melihatnya ??... Aku masih berdiri mengingat ngingat... hingga akhirnya..


"Astagfirullah...!!! kenapa aku ada disini ?"


Ya.. jalan di depanku sekarang bukan lagi jalan setapak menuju rumah dukun beranak itu , melainkan jalan kampung beraspal yang biasa aku lalui kalau mau kerja , dan jalan ini berada di sebelah utara kampungku . Berarti ketika di kuburan kuno itu aku bukan mengarah ke selatan melainkan ke arah utara .


"Dasar setan sialan !" umpatku dalam hati . Dongkol banget karena harus memutar menuju rumah dukun...


Kini aku terpaksa memutar melalui jalan kampung , suara "sreekk.. sreekk.. sreek" sangat nyaring memekakan telinga .


"Dia masih mengikuti"


Aku tau dari suaranya , seperti suara kain yang di kibas kibaskan di belakangku , terkadang sekelebat bayangan putih terlihat di atas kepala . Aku sudah terbiasa , jadi cuekin aja lah.. ntar juga pergi sendiri , pikirku saat itu . Ku percepat langkah kaki , meski sekarang jalan mulai gelap .Tadi gak sempat bawa senter karena yakin akan sampai ke rumah dukun beranak sebelum magrib . Akhirnya sampai juga.. aku segera masuk pekarangan rumah dukun beranak itu , meski napas sedikit tersengal aku ketuk pintu..

__ADS_1


"Assalamualaikum.." sedikit berteriak


"Dung , indung...!!!" tak ada jawaban . Hening... hanya suara jangkrik dan binatang malam yang terdengar.. sementara suara itu sudah berhenti .


"Kemana si indung ya ?" tanyaku dalam hati . Kalau ke mesjid gak mungkin karena rumah dukun beranak ini paling ujung posisi rumahnya jauh dari mesjid , usianya sekitar 85 tahunan sudah cukup renta , jalan nya aja udah mulai pake tongkat . Kalau panggil bidan desa jauh sektar 3 km an jaraknya .


"Atau mungkin ada yang mau lahiran lagi ? tapi setahuku cuma ceu tin yang sekarang lagi mengandung,gak ada yang lain.."


Setelah beberapa kali memanggil gak ada jawaban , aku berputar ke belakang rumahnya , barangkali panggilanku tidak terdengar.. hawa dingin terasa sekali begitu aku berdiri di samping kamar , ku coba mengintip kedalam dari sela sela gorden yang tidak tertutup rapi . Seketika darahku berdesir.. bulu kuduk berdiri.. pundak terasa berat sekali.. entah kenapa.. nampak di atas dipan indung beurang sedang terlentang tidur seperti nyenyak sekali..


"Dung..indung , bangun !! ceu tin udah mau melahirkan" panggilku sambil ketuk ketuk kaca jendela pake ujung kuku.. beberapa kali mencoba membangunkanya tapi tetap tidak ada reaksi , malah seperti semakin pulas tidurnya... kayak ada yang aneh....


"Woyyy...sarjang !!! ngapain ngintip ngintip di situ ???"


Hampir saja aku terjungkal , jantung terasa hampir copot saking kagetnya . Nampak di sudut rumah , mak marsih (nama dukun beranak) berdiri di bawah lampu 5 watt .


"Bikin kaget aja indung mah , indung sakit ?" tanyaku sambil mengikutinya masuk kedalam rumah


Rumahnya tidak terlalu besar , malah sangat kecil untuk ukuran rumah di kampungku .1 kamar , dapur , 1 ruangan tempat menerima tamu , itu pun tanpa kursi , biasanya lesehan kalau bertamu ke rumahnya . kalau mau mandi , buang air , atau nyuci harus ke kolam ikan , namanya "tampian" . Kampungku di pelosok , baru sedikit ada kamar mandi dalam rumah . Beruntung ada gentong besar penampungan air di depan rumah mak marsih , jadi aku wudhu di situ .


"Ndung , indung sakit ??" aku kembali bertanya setelah keluar dari ruang tamu tempat aku tadi shalat , nampak mak marsih duduk menuangkan air kedalam gelas di pojok dapur .


"Alhamdulillah indung sehat sarjang , tadi waktu kamu manggil , indung lagi shalat di ruang tamu , jadi gak nyahut" jawabnya sambil menyodorkan segelas air padaku .


"Indung sama siapa di rumah ?" selidik ku perasaan , kok jadi gak enak gini .Tatapan ku sedikit tajam liat raut muka mak marsih .


Indung beurang itu tersenyum...


"Pulang saja sarjang ! belum waktunya.. habiskan air minum itu !!!!"

__ADS_1


Ku teguk air minum pemberian mak marsih sampai habis , meski tanganku gemetaran.. dan terasa berat sekali ketika mengangkat gelas itu .


"Ndung , indung sama siapa di rumah ?" kembali ku lontarkan pertanyaan yang sama .


"Udah sekarang kamu pulang aja , jangan banyak tanya" masih gak jawab pertanyaanku .


"Lah... indung mah" aku berkata sambil masuk ke ruang tamu , hawanya panas tapi terkadang ada hawa dingin yang membuat perasaan jadi gak enak.. perlahan ku dekati pintu kamar , aku penasaran siapa yang tadi tidur menyerupai mak marsih , sementara tadi mak marsih bilang sedang shalat . Ku pegang gagang pintu . Dengan hati yang dag.. dig.. dug.. takut kaget.. aku yakin yang tadi kulihat pasti setan .


"Krreeekkkkk"


"Bhuaaaaaa" ku dorong kuat kuat pintu kamar sambil berteriak , maksudnya biar aku gak kaget . Tubuhku gemetar kaki terasa goyah.. mataku tertuju ke dipan tepat dimana sosok menyerupai mak marsih tadi tidur , tapi tidak ada sedikitpun bekas seperti orang baru saja tidur.. seprainya rapi.. tidak kusut . Sepi ku edarkan pandanganku ke seluruh kamar , hanya ada bupet usang di sudut kamar . Aku masih berdiri , meski perasaanku sudah mulai ku kuasai namun masih ada sedikit perasaan takut . Tiba-tiba...


"Prakkk" pundakku ada yang mukul dari belakang , sontak aku loncat ke depan bupet sambil berbalik pasang kuda kuda .


"Ya Allah , ndungggg bikin kaget aja" ucapku , setelah tau yang mukul itu mak marsih . Dia berdiri depan pintu kamar , tangan kanannya memegang sapu lidi yang tadi pake mukul pundakku .


"Dasar bengal kamu sarjang , di suruh pulang malah masuk kamar . Cepetan pulang , si tin masih lama lahiran nya Jangan keduluan adzan isya sampai rumahnya , suruh minum air ini sama si tin , Insya Alloh gak akan apa apa" katanya sembari menyodorkan botol air mineral berisi air padaku .


Ku pegang botol mineral pemberian mak marsih sambil keluar kamar .


"Tapi ndung , kenapa saya jadi takut pulang ndung ?" kataku


"Udah cepat , bismillah aja . Gak bakal terjadi apa apa , buang rasa was was mu" ujar mak marsih


"Ingat harus sampai sebelum adzan isya" lanjutnya wanti wanti .


Setelah menyalakan obor dari baralak (obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang di ikat) , aku pamit ke mak marsih .


"Jalan pintas aja biar cepet sampe !" kata mak marsih

__ADS_1


"Iya ndung" jawabku singkat kemudian berlalu setelah mengucapkan salam .


Alhamdulillah , aku sampai ke rumah ceu tin sebelum adzan isya , tidak ada halangan sama sekali . Prediksi mak marsih benar , ceu tin melahirkan seminggu kemudian... lancar tanpa hambatan.. bayi laki laki yang sehat sempurna .


__ADS_2