
"Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang."
Namaku Kinara Ayubima, aku lahir di Busan, Korea Selatan pada tanggal 18 Oktober 2000 dan sekarang aku ingin kuliah di Jakarta, Indonesia karena ada alasan. Nama ibuku adalah Laudya dan ayahku adalah Lee Seok Joon. Orangtuaku sekarang sibuk bekerja di Busan dan aku ingin tinggal sendiri di Jakarta meskipun keluarga ibuku tidak menyukaiku di Jakarta karena ibuku punya masalah dengan orangtuanya di Jakarta.
Aku orangnya sedikit culun karena suka memakai kacamata dan pakaian yang kebesaran dan juga sedikit tidak pintar mengikat rambut. Aku sebenarnya pandai dalam hal belajar di sekolah dan juga sulit mengubah penampilanku. Itulah alasan aku ingin menjadi seorang Fashion Design agar penampilanku bisa berubah.
Minggu depan tidak lama lagi akan memasuki bulan penerimaan mahasiswa baru di ESMOD JAKARTA yang terkenal di Jakarta Selatan. Aku mengatakan dengan gugup ke orangtuaku secara tiba-tiba karena aku mendaftar lewat online dan aku berhasil lulus padahal aku tidak memberitahu orangtuaku terlebih dahulu.
"Ibu, ayah. Izinkan aku kuliah di Jakarta!" Kataku begitu gugup ke orangtuaku di malam hari yang sedang menikmati makan malam bersama.
"Kenapa kamu tiba-tiba berpikir begitu? Apa ada masalah sehingga kamu ingin ke kuliah di Jakarta?" Tanya ayahku.
"Yah, keluarga disana tidak akan ada yang peduli denganmu! Nggak usah kuliah di Jakarta." Tanya ibuku sedikit marah.
"Aku ingin mandiri ibu, ayah. Sejujurnya aku punya teman disana. Kupikir dia begitu baik." Jawabku masih gugup.
"Bukankah pendaftaran sudah ditutup sejak 2 pekan yang lalu. Kenapa kamu tidak menyiapkan dirimu untuk kuliah. Kupikir kerjamu cuma membaca saja selama ini. Dasar anak kamar pengen madiri padahal taunya cuma kamar saja." Ujar ayahku mengomeliku.
"Ayah, aku sudah mendaftar melalui online sejak 3 pekan yang lalu dan selamat aku dinyatakan lulus." Kataku begitu bersemangat dan rasa gugupku mulai hilang.
"Dimana?" Tanya ibuku ke aku.
"Di ESMOD Jakarta." Jawabku lalu menatap wajah orangtuaku begitu berkaca-kaca.
"Bukankah itu Fashion Design atau Tata busana gitu?" Tanya ibuku lagi.
"Iya benar! Aku ingin menjadi fashion terkenal seperti kak. Ardistia Twiasri, Dian Pleangi, dan juga...." kataku terputus karena ayahku tiba-tiba melempar gelas begitu tiba-tiba.
Prook...
"Di Korea juga ada. Kenapa kamu jauh-jauh ingin pergi ke Indonesia." Ujar ayahku pertama kali memarahiku begitu sangat marah.
"Ayah ayolah! Cuma 3 tahun aja setelah itu aku janji akan kembali ke Busan." Kataku kembali gugup.
"Oh 3 tahun aja! Memangnya kamu pikir 3 tahun itu setara dengan 3 hari." Ujar ayahku lalu beranjak ke kamarnya.
"Ibu! Kok ayah tiba-tiba seperti itu ke aku. Padahal aku sudah membereskan pakaianku untuk pergi ke Jakarta." Kataku sambil menangis.
"Kalau ayah dan ibu mengizinkanmu. Pasti ayah dan ibu tidak enak pikiran setiap hari mengkhawatir kan kamu nak. Apalagi kamu anak tunggal, seandainya keluarga ibu disana tidak membenci kita. Aku akan mengirim kamu tanpa berpikir panjang." Kata ibuku lalu memelukku.
"Begini ibu, aku sudah besar. Aku tidak perlu di biayai lagi pakai uang orangtua, Kinara ingin mandiri. Aku yakin, aku akan berusaha untuk bisa mendapatkan Beasiswa disana." Kataku sambil mengelus airmataku.
"Ibu mengizinkan kamu nak! Sekarang bicara lah dengan ayahmu dengan baik. Masuklah dan memohonlah denganya. Kuharap ayahmu pasti membiarkanmu." Ujar ibuku ke aku.
"Baik!" Kataku lalu beranjak menemui ayahku dikamarnya.
Aku pertama kali masuk ke kamar orangtuaku, aku begitu terkejut dengan isinya karena terdapat 2 tempat tidur yang terpisah didalam. Dan juga 2 lemari pakaian. Aku fokus berbicara dengan ayahku yang terlihat masih kecewa.
"Ayah! Jadi ini alasan ayah selalu mengunci kamar dan tidak membiarkanku masuk?" Tanyaku begitu kaget.
"Laudya..." Teriak ayahku ke ibuku.
"Ada apa sayang?" Tanya ibuku ke ayahku begitu gugup ketakutan.
"Berpikirlah sebelum menyuruh Kinara masuk ke kamar kita. Lihatlah, akhirnya hari ini akan terungkap masa lalu kita." Kata ayahku semakin kecewa ke ibuku.
"Maafkan aku sayang! Nak, Kinara. Kamu keluar dulu, nanti kita ber...." Ujar ibuku sambil menangis.
"Tidak! Aku ingin tahu, kenapa kamar ayah dan ibu seperti ini?" Tanyaku sambil menangis lalu menjauhi jarak dari ibu dan ayahku.
Ayahku langsung mengatakan begitu jujur di depanku, bahwa aku bukan anak kandungnya.
"Kamu bukan anak kandung ayah. Dan itulah sebabnya aku tidak ingin membiarkan kamu bertemu dengan keluargaku dan keluarga ibumu lagi." Jawab ayahku matanya begitu berkaca-kaca melihat ibuku.
"Maksudnya! Tidak mungkin, aku ini anak kandung ayah, iya kan bu?" Tanyaku ke ibuku.
"Maafkan ibu nak! Dia bukan ayah kandungmu." Jawab ibuku membuatku patah hati.
"Kalau aku bukan anak kandung ayah. Lantas kenapa ayah menikahi ibu? Aghs ini membuatku pusing, ada apa sebenarnya dengan kalian hah?" Tanyaku sangat kecewa.
"Aku menikahi ibumu saat mengandungmu 6 bulan. Karena kenapa? Ibumu dahulu saat masih kuliah di Jakarta, dia dihamili oleh dosenya karena nilai ibumu berantakan. Dulu saat kuliah di Jakarta, ayah adalah sahabat dekat ibumu...."
"Sayang, jangan jelaskan ke Kinara!" Ujar ibuku menyuruh ayahku menjelaskan masa lalunya.
"Terus!" Kataku lalu mendekati ayahku.
"Ibumu ketahuan didepan orangtuanya bahwa dia hamil. Ibumu menelfonku dan menyuruhku untuk bertanggung jawab bahwa aku yang menghamilinya padahal yang sebenarnya itu salah. Entah kenapa keluarga disana membenci kita padahal ayah sudah menikahi ibumu."
"Cukup! Aku paham, aku muak. Pantas saja aku ketika pulang sekolah selalu dilarang berpergian dengan teman dan selalu dikamar saja layaknya seperti dipenjara." Kataku lalu kembali ke kamarku menangis.
"Kurasa uang tabunganku cukup untuk kesana ke Jakarta! Aku harus pergi dari rumah ini. Aku muak." Batinku lalu memecahkan celenganku.
__ADS_1
Ke esokan harinya, orangtuaku pamit ke aku karena mereka ingin pergi bekerja di kantornya. Ibuku memberiku uang, kartu kredit dan juga ATM dan juga selembar kertas yang diselipkan dibawah pintu. Kertas itu tertuliskan bahwa ibuku menyuruhku ke Jakarta hari ini. Ibuku juga menulis alamat rumah yang telah dia sewa kemarin. Beberapa jam kemudian aku sudah berada di Bandara. Sesampaiku disana aku melihat dompet seorang Pria terjatuh tiba-tiba. Aku mengambil dompet itu lalu memberikanya.
"Maaf pak. Dompetmu terjatuh!" Kataku setelah menepuk pundak pria itu.
"Oh terimah kasih banyak." Ucapnya lalu melanjutkan perjalananya menuju ke pesawat.
"Wow wajah yang tampan! Kupikir dia orang indonesia. Oh sepertinya aku dan dia satu pesawat." Batinku lalu melanjutkan jalanku.
Beberapa menit kemudian aku sudah berada di pesawat. Ternyata batinku tadi tidak salah, pria yang tadi itu berada di sampingku. Pria itu sedang tidur begitu tiba-tiba padahal pesawatnya belum terbang. Pesawat mulai akan terbang! Aku ketakutan dan tidak sengaja memegang tanganya karena itu pertama kalinya.
"Astaga, ya Tuhan. Aku takut!" Nada suaraku begitu sedikit besar tanpa sadar kalau aku sedang menyentuh tangan pria itu.
Pria itu bangun lalu menatapku begitu horor.
"Hey bukankah kamu pertama kali naik pesawat ini?" Tanya Pria itu ke aku.
"Iya benar! Aku sangat gugup. Apakah suaraku menggaggumu? Pakailah penutup telinga agar tidurmu kembali nyenyak." Jawabku sangat gugup.
"Lepaskan!" Ujar Pria itu ke aku.
"Lepaskan apanya?" Tanyaku.
"Tanganmu menyentuh tanganku." Jawabnya membuatku terkejut lalu melepaskan tanganku.
"Oh maaf." Kataku lalu menatap wajahnya.
"Jangan tatap aku. Aku tidak suka." Ujarnya lalu kembali tidur.
"Huh! Ini memalukan sekali." Batinku.
Beberapa jam kemudian aku sudah berada di Bandara Jakarta Selatan. Aku begitu bingun melihat alamat rumah yang tertulis di kertas sambil berjalan dan tidak sengaja menhinjak kaki pria itu lagi.
"Aduh...kamu lagi. Kok kamu bisa-bisanya menginjak kaki aku." Kata Pria itu ke aku sedikit marah.
"Maaf. Apakah kamu tahu alamat yang ingin kucari?" Tanyaku ke Pria itu sambil memperlihatkan kertasku kepadanya.
"Tentu saja! Alamat ini sama dengan alamat rumahku. Ikut aku." Jawabnya.
"Kemana?" Tanyaku lagi.
"Astaga, kata kamu tadi kan ingin mencari alamat ini. Jadi ikut aku hiks." Jawabnya membuatku malu.
Aku mengikuti pria itu sampai ke sebuah parkiran mobil. Pria itu menyimpan koper miliknya dan juga milikku di bagasi mobilnya lalu masuk ke mobilnya yang dipenuhi dengan debu yang tebal.
"Kenapa?" Tanya balik pria itu ke aku kemudian masuk ke mobilnya.
"Kenapa sangat kotor sekali." Jawabku begitu jijik.
"Astaga... hey! Aku baru saja pulang dari Busan selama 1 bulan, jadi mobil aku kutinggalkan di parkiran. Pikir-pikirlah." Ujarnya hampir marah besar mengajak aku berbicara.
"Omong-omong siapa namamu?" Tanyaku gugup.
"Kevin." Jawabnya singkat lalu mulai menjalankan mobilnya. Kevin menancap gas mobilnya begitu cepat di parkiran, tiba-tiba kepalaku terbentur karena merem secara paksa.
Pok...
"Aduh. Hiks, sombong amat sih lu! Hati-hati dong. Lihat jidatku lebam." Kata-kata bebasku tiba-tiba muncul layaknya seperti berbicara dengan teman sekelasku yang tidak sopan.
"Hey, kamu yang salah. Tuh pakai sabuk pengamanya dulu. Lain kali kamu harus berbicara sopan denganku huh." Ujarnya membuatku kembali malu lalu memasang sabuk pengaman mobil itu.
"Kampungan banget sih cewe yang satu ini. Huh!" Batin Kevin.
"Hey! Bukankah kita sepertinya seumuran. Marilah berbicara bebas." Ujarku.
"Wah! Bebas mulutmu. Memangnya umur kamu berapa hah?" Tanya Kevin sambil mengendarai mobilnya.
"Aku! 20 tahun. Kamu sepertinya masih 18 tahun yah. Kupikir kamu kabur sampai-sampai mobil kamu sekotor ini." Jawabku layaknya berbicara dengan teman sekelasku.
"Huh! 20 tahun. Hahaha wajahmu terlihat tua dan culun. Itulah aku kasihan melihatmu ternyata kamu masih berumur 20 tahun." Ujarnya sambil tertawa.
"Memangnya umur kamu berapa? 20 juga, hah?" Tanyaku.
"Aku! 25 tahun." Jawabnya membuatku terkejut.
"Apa! Ka kamu...terlihat seperti anak SMA." Ujarku membuat wajahku memerah.
"huh Lain kali kalau kamu bertemu dengan orang baru. Sopan-sopanlah, huh dasar malu maluin orang." Katanya lalu berhenti.
"Kenapa berhenti?" Tanyaku.
"Bensin mobilku hampir sekarat." Jawabnya kemudian berbelok ke ke arah pertamina.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian aku sudah sampai di tempat tujuan. Kulihat rumah itu sangatlah mewah. Aku begitu terkejut ternyata rumah yang disewa ibuku begitu sangat cocok denganku.
"Terima kasih banyak." Ucapku kepadanya dan tiba-tiba ayahnya datang menghampirinya.
"Siapa dia?" Tanya ayah Kevin ke anaknya.
"Tadi dia bingung di bandara dan ingin mencari tempat tujuanya. Teryata dia tetangga kita ayah." Jawab Kevin ke ayahnya.
"Oh. Panggil saya Tuan Bima atau Om Bima." Kata Tuan Bima kepadaku lalu mengajakku bersalaman.
"Oh iya. Perkenalkan nama saya Kinara." Ucapku.
"Disini ada beberapa rumah, jadi rumah saya dimana?" Tanyaku begitu gugup.
"Tepatnya di samping rumah kami sebelah kanan." Jawab Tuan Bima kepadaku lalu beranjak masuk kerumahnya bersama Kevin.
"Terima kasih Tuan." Ucapku lalu masuk kerumah yang disewa ibuku.
Sesampaiku didalam. Aku sangat kagum karena isi rumah itu sudah bersih dan rapi dan tiba-tiba seseorang perempuan datang dengan pakaian yang rapi sambil memakai clemek.
"Permisi. Bukankah kamu adalah Kinara?" Tanya perempuan itu ke aku.
"Benar! kamu siapa?" Tanyaku.
"Aku...aku adalah asistenmu. Panggil saja aku Bibi." Jawabnya sambil tersenyum. "Ibumu yang mengurus ini semalam. Kamu tidak usah repot-repot lagi."
"Jadi rumah ini sekarang, adalah milikku." Batinku.
"Terima kasih." Kataku lalu menuju ke kamarku.
Beberapa menit kemudian, teman yang aku kenal lewan online tiba-tiba menelfonku. Nama teman aku adalah Ifa, aku berteman denganya sejak 1 tahun yang lalu. Dia juga baru saja jadi alumni dan ingin Kuliah bersamaku.
sing sing sing....
Kinara: "Halo!"
Ifa: "Halo, Kinara! apakah kamu sudah sampai?"
Kinara: "Yah baru saja."
Ifa: "Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga. Tanya aku alamat rumahmu?"
Kinara: "Buka WhatSappmu. aku sudah mengaktifkan Lokasi keberadaanku."
Ifa: "Oke! aku tutup yah bye."
"Sudah malam pengenya ketemu denganku. Kuharap dia baik dalam bertema."
Beberapa menit kemudian suara ketukan pintu rumahku terdengar. Aku terburu-buru membukanya ternyata Ifa sudah sampai begitu cepat.
AssalamuAlaikum...
Tok tok tok....
"WalaikumSalam. Astaga! kamu cepat sekali kawan." Ucapku lalu memeluknya.
"Aku senang teryata kita bertetangga." Ujarnya.
"Memangnya rumah kamu di bagian mana?" Tanyaku.
"Tuh...Rumah aku." Kata Ifa sambil menunjuk rumah Kevin.
"What! kamu adiknya si Kevin?" Tanyaku begitu terkejut.
"Yah! kenapa kamu tahu Kakakku?" Tanya Balik Ifa kepadaku.
"Oh itu...tadi, aku mmm. Aku satu pesawat denganya dan juga ddi dia...huh maksudnya. Sudahlah lupakan saja." Jawabku.
"Baiklah! jadi...Bolehkah kita tidur bareng malam ini." Ujar Ifa lalu mengedipkan matanya.
"Bukankah aku terlihat Culun? Aku pertama kali mendapatkan teman yang begitu seperti..."
"Sudahlah, kamu ini cantik kok. ayo masuk,"
"Baiklah!" Kataku lalu menuju ke kamarku besamanya.
"Wah saat kamu melepas kacamatamu dan tidak mengikat rambutmu juga. Kamu sangat Cantik ternyata." Ucap Ifa kepadaku.
"Penglihatanku sedikit Rabun! Karena dulu aku doyang ngegame saat kecil pakai android." ujarku.
"Ayo tidur! kita lanjutkan saja besok ceritanya. Selamat malam Kinara." Ucap Ifa kepadaku lalu tidur disampingku. Zzzz
__ADS_1
Jangan Lupa like, vote, komen, rate yah.
Ini karya pertama saya dan mohon maaf jika ada kata-kata dan penulisan yang salah.😊