Kumpulan Cerpen Romantis

Kumpulan Cerpen Romantis
Anaya & Ghino (Masa Lalu.)


__ADS_3

Flasback...


Dulu waktu umur Anaya menginjak usia 16 tahun dan pertama kali sekolah SMA. Anaya sedang duduk dikelas barunya sambil menyiapkan alat tulis diatas meja. Anaya tampak malu karena sebagian teman sekelasnya tak berhenti memuji wajahnya yang begitu sangat cantik. Anaya hanya menunduk sambil menulis nama lengkapnya di buku .


Anaya terkejut kedatangan Budi sambil membawa coklat silverqueen diikuti sepuluh orang cowo dibelakangnya. Mereka membawa sekuntum mawar merah dan menaruh di depan meja Anaya. Anaya dibuat bingung, bari pertama kali sekolah, Budi masih saja memperlakukan Anaya seperti seorang ratu.


"Selamat datang anak baru!" Ucap Budi, ia duduk sambil mengulurkan coklat itu ke arah Anaya.


Anaya menerima coklat itu lalu menjitak hidung Budi. "Apaan, sih. Pake gini segala. Tapi terima kasih suprise-nya."


"Senang, kan? Wah hari ini kamu sudah SMA. Tak terasa yah. Padahal kemarin itu kita kerjanya main terus sama teman-teman."


"Btw kelas kamu dimana, Bud?" Anaya mengabaikan pembicaraan Budi karena takut aibnya terbuka.


Disini Anaya sekarang bersama Budi yang merangkul pundaknya, di kelas 12 Matematika. Anaya tersenyum melihat sahabatnya begitu bahagia karena terlihat setiakawan pada semua siswa.


"Bud, siapa?"


"Cewe, lo?" tanya seorang siswa yang baru saja masuk ke kelasnya, Hanna.


"Bukan, sahabat kecil gue," jawab Budi tampak bahagia.


"Sahabat rasa pacar, gitu." Imbuhnya dengan cara membisik ke telinga Hanna.


Mata Hanna seketika membulat, ia patah hati. Hanna, teman sekelas Budi sekaligus cewe satu-satunya yang ingin dimiliki oleh Budi tapi Budi selalu menolaknya.


Anaya hanya menunduk melihat ujung sepatunya usai Hanna menatapnya dengan sinis. "Awas! Lo." Gumam Hanna tak sabar untuk merencanakan sesuatu kepada Anaya.


"Yuk, kamu duduk dibangku aku." Budi mengajak Anaya duduk dikursi nya bagian pojok belakang berdekatan dengan jendela.


Anaya duduk, alisnya berkerut melihat meja Budi banyak coretan spidol dan pulpen yang bertuliskan contekan. Selain contekan, Nama Anaya Claudya pun terbekas di meja itu.


"Astaga, Bud. Nama aku banyak banget disini dibanding contekan kamu." Omel Anaya ke Budi tanpa mepedulikan Hanna didepannya yang sedang berdiri memasang wajah amarah.


"Nggak apa-apa, lah. Oh iya, istirahat nanti kekantin, aku tungguin kamu disana. Kita makan bakso bareng-bareng." Ucap Budi sambil membelai rambut Anaya lembut.


"Cie, pemikiran gue sih itu... Sahabatan nggak kayak gini deh, malah kayak orang lagi pacaran gitu." Ledek Zean, teman sebangku Budi.

__ADS_1


"Nggak usah percaya sama omongan dia,"


"Btw, teman sebangku aku yang paling peringkat pertama di kelas. Namanya, Zean Zainudin."


"Hai, Zainudin." Sapa Anaya seketika membuat Budi tertawa jahat.


"Maaf, Zean nama kamu."


"Sombong amat jadi Junior disitu." Batin Hanna kesal sambil menghentakkan tangannya ke meja.


"Bud, yang benar aja loh." Omel Zean tidak terima.


"Nama itu nggak gitu, Nama gue, Zean Zyudesber." Ujar Zean membenarkan nama lengkapnya kepada Anaya.


"Btw, Budi itu pernah bilang sama gue kayak gini. Dia suka banget sama lo, suwerr!" Imbuh Zean sambil menaikkan telunjuk bersamaan jari tengahnya.


Anaya melirik Budi tersenyum, Budi mengabaikan lirikan Anaya karena malu.


Pelajaran pertama sudah berlalu atau istirahat sudah dimulai. Anaya, bergegas menuju ke kantin untuk menemui Budi disana. Saat Anaya hendak memasuki kantin dan menyapa Budi, tiba-tiba Hanna menahan tangan Anaya dan menariknya menuju ke UKS.


Rahang Hanna mengeras bersama kedua tangannya yang megepal kuat. "Lo!"


"Hiks, jadi lo orangnya?" tanya Hanna tegas dan penuh penekanan.


"Maksud Kakak apa?" tanya Anaya balik.


Bugh...


Anaya mendapat satu pukulan keras dari Hanna yaitu kepalanya dibenturkan kepintu UKS satu kali. Hanna menarik rambut Anaya kebelakang hingga dibuat kesakitan yang luar biasa.


"Gara-gara lo, cinta gue ditolak sama Budi selama hampir tiga tahun berturut-turut."


"Maaf, Kak. Tapi aku sama Budi cuma bersahabat." Ujar Anaya membenarkan.


"Sahabat apanya, gue tanya dan lo harus jawab dengan jujur," Hanna mengambil gunting didekatnya kemudian kembali menarik rambut Anaya kebelakang. "Apa benar lo sayang sama Budi, iya?"


Anaya menggelengkan kepalanya sambil menangis. "Tidak kak, aku cuma sahabatan."

__ADS_1


Hanna melempar gunting itu kearah cermin, ia menyerah namun hanya sesaat. Hanna menyuruh Anaya keluar sebelum Budi mencari keadaannya.


Anaya bergegas menuju ke toilet wanita untuk memperbaiki penampilan dan wajahnya. Anaya membasuh wajahnya di wastafel lalu kembali kekelasnya. Sesampainya disana, ia berusaha terlihat santai dan ceria usai menangkap sosok sahabatnya yang sedang duduk bangku miliknya.


"Nay, cepat kemari!" Panggil Budi tampak bahagia.


Anaya berjalan cepat menemui Budi lalu duduk disebelahnya. "Ada apa, Bud?" tanya Anaya dengan suara sedikit serak.


Budi memperhatikan mata Anaya yang sedikit sembab. "Kamu habis nangis, yah! Apa ada yang nyakitin kamu? Bilang aja, biar gue yang keluarin dari sekolah." Ancam Budi dengan wajah tampak geram.


Anaya bergeleng kepala. "Nggak kok, aku lagi." Sambil menepuk perutnya agar Budi berpikir bahwa Anaya sedang datang bulan. "Begitu, mengertilah keistimewaan perempuan."


"Sesakit itukah, sampai mata kamu sembab begini?" Budi mengelus pipi Anaya dingin.


Anaya mencubit pinggang Budi karena terlalu banyak perhatian. "Nggak usah terlalu perhatiin aku, ada apa kamu kesini cariin aku?"


"Nggak jadi deh," Budi diam-diam menyembunyikan sesuatu ke saku celananya. Namun cowo itu berhasil ketahuan oleh Anaya.


"Nanti aja kali, yah."


"Tunjukin aja, apa itu? Aku curiga kamu pasti sembunyuiin sesuatu di saku celana kamu, kan?" tanya Anaya sambil menunjuk wajah Budi.


Budi menyerah, ia menujukkan benda itu ke Anaya. Wajah Anaya tampak kagum dan bahagia melihat benda yang sudah lama ia ingin beli.


"Kalung huruf! Itu ada nama aku," Anaya langsung memeluk Budi erat dan detik itu bel berbunyi membuat wajah Budi jadi muram.


Budi terburu-buru memasng kalung itu dileher Anaya lalu kembali ke kelasnya. Padahal Budi belum mengatakan rencananya, yaitu mengungkapkan perasaannya ke Anaya.


Beberapa hari lagi penamatan siswa senior kelas 12 sebentar lagi. Anaya tersenyum lega karena dimana ia tak kagi mendapatkan bullian dari kakak kelasnya, Hanna.


Anaya juga tampak sedih karena Budi akan melanjutkan pendidikannya diluar negeri. Ia tak bisa lagi mendapat lelaki seperti Budi yang begitu perhatian bak diperlakukan seperti seorang ratu.


Dua tahun berlalu, Anaya akhirnya tamat juga sekolah SMA. Ia menutuskan tidak melanjutkan pendidikannya karena kesulitan ekonomi atau biaya untuk kuliah.


Anaya memutuskan untuk mencari pekerjaan agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya bersama seorang nenek.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2