
Hari ini adalah hari dimana Budi dan istrinya akan pergi keluar negeri untuk kembali kuliah setelah sebulan libur di Indonesia.
Anaya dan Ghino begitupun Budi dan Hanna berkumpul di restoran dekat bandara internasional. Mata Anaya sembab namun berusaha bahagia. Makan pun, Anaya kesulitan karena tak kuasa menahan air matanya.
Anaya pun kembali memakai kalung itu pemberian dari Budi waktu masih sekolah SMA. Budi menyuapi Anaya nasigoreng terakhir sebelum ia pergi bersama istrinya, Hanna.
Anaya meneteskan air matanya usai memakan sesuap nasi goreng itu dari Budi. Budi menghapus air matanya sambil tersenyum.
"Nggak usah nangis, aku mau balik lagi kok ke Indonesia setelah lulus S2-nya." Ucap Budi lembut ke Anaya, ia tak lupa tersenyum ke Hanna agar Hanna tak cemburu.
Anaya mengagguk sambil mengunyah nasi gorengnya. "Jangan lupa bawa ponakan, yah. Awas kalau nggak, aku tabok kepala kamu, Bud." Omel Anaya membuat Ghino hamoir tertawa lepas.
"Tenang, aja. Pasti gue lakuin." Sambung Hanna merasa puas karena sudah menjadi istri lelaki pujaan lamanya.
Budi tersenyuum kecil. "Kalian juga harus nikah, kalau nggak! gue nggak vakalan ketemu sama kalian."
"Fix, gue bakalan niakhin Anaya!"
"Hati-hati, Budi dan Hanna. Semoga kuliahnya lancar." Ucap Ghino sembari memberi buket bunga ke Budi.
"Thank's, Bro. Jaga Anaya baik-baik, yah." Saran Budi sebelum bersiap-siap ke bandara.
"Ya, jangan khawatir. Nanti kalau sah, gue nggak bakalan biarin di ngapa-ngapain termasuk memasak."
Satu tahun sudah berlalu, dimana Anaya dan Ghino sudah satu bulan menjadi pasangan suami istri. Anaya dan Ghino sekarang tinggal di apartemen mewah yang berhasil dibangun oleh Ghino sendiri.
Anaya sedang memasak makan malam buat suaminya yang baru saja pulang kerja di kantornya. Usai makan malam, Anaya dan Ghino sedang nonton drama korea romantis hingga dibuat canggung.
Anaya menutup wajahnya tampak canggung dan menjauhi Ghino. Ghino terkekeh, pelan-pelan mendekati Anaya dan merangkul pundak istrinya itu.
"Lo kenapa, nutupin muka?"
"Ganti aja, nggak suka drakor."
"Kenapa nggak suka?"
"Ayolah, ganti aja."
Ghino mematikan tvnya. "Udah!"
Anaya mulai menampakkan wajahnya yang masih canggung. "Huh, kok dimatiin? Tadi aku bilang siarannya yang di ganti."
"Ngomong-ngomong, sepertinya Budi udah punya anak? Belum?"
Anaya jadi cegukan karena Budi menatapnya penuh rasadan rayu, "Nggak tau juga, sih. Belum ada kabar, nomor telepon dia udah nggak aktif lagi." Anaya tampak cemberut, sahabatnya sudah setahun tidak mendapat kabar sama sekali.
__ADS_1
"Kayaknya, iya sih! Bagaimana kalu kita gas juga?"
Mata Anaya seketika membulat menatap wajah suaminya penuh rayu. "Nggak, jangan lakuin."
Anaya berlari menuju ke kamarnya diikuti Ghino. Ghino berhasil masuk ke kamar itu lalu menguncinya.
Bugh...
Tidak lama lagi, Anaya mual-mual dan ngidam makanan segala. Siap-siap deh Ghino jadi ayah. Saat kini kondisi Ghino mulai membaik setelah melakukan konsultasi rutin. Rambut Ghino mulai tumbuh dikepala dan tubuhnya mulai berisi membuat Anaya tampak senang berhasil menemani Ghino sampai sembuh.
Keesokan harinya, Anaya sedang sarapan pagi usai menyiapkan makanan laut pack dan nasi di atas meja. Anaya hanya makan sendiri tanpa membagunkan suaminya. Wajah Anaya cemberut karena kejadian semalam, semenit kemudian, Budi keluar lalu menyampari Anaya yang tengah tergesa-gesa menghabiskan nasi gorengnya.
Usai Anaya sarapan pagi, ia berlari keluar ke balkon karena masih malu dan wajahnya memerah. Budi tersenyum kecut lalu mendekati Anaya dengan cara merangkul pundak istrinya.
"Kenapa? marah?"
"Nggak! Siapa Yang marah?"
"Mukanya kok sangar amat! Kayak gimana tuh? Harimau." Ghino menuruti suara harimau sampai berhasil membuat Anaya tertawa.
"Apaan sih? Sana makan, aku masih malu tau nggak?" omel Anaya ke Suaminya.
"Nggak usah malu, lagian kita ini udah sah. Baiklah, kalau begitu kamu nggak mau temani aku sarapan pagi." Ghino memasang wajah muramnya agar Anaya bisa merujuk.
Anaya herbalik badan lalu merangkul badan Ghino. "Oke, suamiku."
"Serius, Thank beby. Love You!" Ucap Anaya sambil mengusap rambut kepala Ghino.
"Aku beruntung hadir dihidup kamu,"
"Dan aku senang, kamu bisa bertahan dan melawan penyakitku." Ghino mengecup kening Anaya.
"Kita menang melawan penyakit kamu. Ayo sarapan!"
Beberapa minggu kemudian...
Suara Bell apartemen berbunyi, Anaya membukanya dan tekejut melihat kehadiran Budi dan istrinya juga anak kecil sekitar 5 bulan. Anaya begitu sangat senang sampai lompat-lompat layaknya seperti anak kecil.
"Hay...," ucap Budi dan Hanna bersamaan sembari memberi salam.
"Wah, kamu tambah cakep euy." tambah Hanna.
"Hanna, Budi, dan ini siapa? Bayi kamu?"
"Iya, bayi kami. Bukankah kamu minta ponakan baru." Budi menjitak kening Anaya.
__ADS_1
"Oh lupa... ya ampun lucu banget, Beby-nya."
"Ayo masuk, didalam ada Ghino lagi nonton drakor dia."
"Ghino... Ponakan kita stay disini." Teriak Anaya kesenangan.
Budi memeluk Anaya sejenak untuk mengobati rasa rindunya sebelum Ghino menampakkan diri didepannya. "Bagaimana keadaan kamu?"
"Baik, Kok. Sama sekali nggak menyusahkan. Kamu makin ganteng nih jadi ayah, gimana? lulus nggak?"
"Lulus, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah!"
Akhirnya mereka berkumpul kembali. Anaya tak henti bermain dengan anak Hanna yang begitu imut dan gemas. Sedangkan Ghino dan Budi sedang mengobrol tentang pekerjaan mereka.
"Namanya siapa?" tanya Anaya ke Hanna.
"Namanya, Bella Naserra." Jawab Hanna lirih.
"Nay, maaf yah. Tentang masa lalu itu, aku benar-benar banyak salah karena ulah aku merusak mentalmu."
"Udah... aku maafin, kok. Udah berlalu nggak usah diungkap lagi. Sebaiknya kita jalani aktivitas sekarang."
"Terima kasih sudah maafin aku. Ngomong-ngomong, Suami kamu kayaknya sudah membaik dan sehat?"
"Iya, syukurlah. Aku merasa beruntung menemani dia dalam kondisinya buruk sampai membaik luar biasa."
Detik itu, Anaya tiba-tiba mual dan kepalanya terasa pusing. Anaya menuju ke toilet karena tak tahan dengan mualnya. Sedangkan Ghino yang panik sedang menunggu Anaya keluar dari toilet.
Anaya akhirnya keluar dari toilet, wajahnya pucat sambil menyentuh perut dan kepalanya. "Kepala aku sakit banget."
"Nay, kita harus kerumah sakit sekarang. Takut kamu kenapa-kenapa!"
"Gue curiga, bini gue kayak gini dulu sebelum ketahuan hamil sama test pack." Ucap Budi baru muncul dari balkon sambil menggedong bayinya.
"Ngomong apa sih, lo!" Omel Hanna ke Budi.
Hanna mendekati Anaya, "Kata Budi ada benarnya. Kamu sepertinya hamil, Nay. Kalau nggak percaya, otw ke dokter aja."
"Serius, Bud?" tanya Ghino wajahnya penuh gembira.
"Serius, gue." Balas Budi ke Ghino sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.
Ghino memeluk istrinya. "Nay, kita bakal jadi orangtua. Huwaaaaa!"
__ADS_1
Kebahagiaan memang begitu, menenangkan hati dan pikiran. Beginilah akhir cerita Anaya & Ghino juga Hanna & Budi.
Tamat!