
Ke esokan harinya, aku stay di Mall, di tokoku. Aku sedang mengatur beberapa pakaian yang ingin kukeluarkan dari lemari penyimpanan barang. Wajahku masih cemberut, karena semalam Mita meneleponku.
Mita, menyuruhku untuk menerima cinta Rifki jika dia menyatakan cintanya kepadaku. Tujuan Mita, dia ingin Aku mengobati luka hatinya karena kesalahannya kemarin di depan restoran itu.
Usai jam istirahat di pukul duabelas lewat tigapuluh menit. Aku beranjak dari Mall untuk menuju ke parkiran dimana mobilku terparkir. Sesampaiku disana, aku terkejut melihat Rifki muncul tiba-tiba dari belakang mobilku.
"Putri, tunggu!" panggilnya. Dia mendekatiku, wajahnya sedikit ramah dan tersenyum.
"Kak Rifki, ngapain disini?" tanyaku, aku terkejut. Aku dan dia melanjutkan perjalanan menuju ke restoran kemarin.
"Kenapa, Kak?"
Kak Rifki tersenyum ke arahku. Aku sampai susah mengemudikan mobilku. Masa sih baru sehari putus udah heran banget lihat cowo bahagia kayak mau nyatain cinta lagi ke cewe lain.
"Boleh nanya sesuatu nggak?"
"Apa?" tanyaku penuh rasa penasaran.
"Begini... aku mau pacaran sama kamu." Jawabnya membuat aku syok hingga kuhentikan mobilku di pinggir jalan.
Duh! Sudah kuduga.
"Apa, baru sehari putus. Udah nembak cewe lain aja." Batinku, mataku membulat tidak percaya.
"Yaelah... Kak! Pasti Kakak bercanda yah sama aku?"
"Aku serius, Put! Please, aku suka sama kamu aku jatuh cinta sama kamu kemarin di pantai."
Dia jujur banget, sampai aku merasa belum sepenuhnya percaya. Apakah ini mimpi. Tidak, ini nyata. Aku harus bagaimana. Semalam Mita pun bilang kepadaku ditelepon bahwa aku harus mengobati luka hati Rifki.
"Tapi, Kak. Hmmm aku tidak pandai berpacaran, aku sama sekali nggak pernah pacaran, mantan pun tidak ada!" ujarku membuatnya tertawa kecil.
"Putri... Putri..., jujur, setelah tahu kalau Mita itu nggak move on sama Rival. Aku jadi nggak usah kecewa lama-lama. Karena Mita udah bahagia sama dia, seandainya kami putus tanpa melihat Mita bahagia. Aku pasti ikut kecewa dan sakit hati." Rifki menggenggam tangan kiriku. Ia menatapku penuh tulus.
"Please!"
Aku mengendus kasar. Seandainya dia menyatakan cinta kepadaku tanpa ada masalah seperti kemarin. Aku menerimanya tanpa berpikir dua kali. Aku ragu dan merasa seolah-olah akan ada masalah besar setelah ini.
"Kita makan siang dulu aku lapar!"
Usai makan siang, kami masih duduk berdua di restoran itu. Kami pun masih mengobrol baik-baik dan ketika aku bilang "Pulang!" Dia menahan tanganku dan menanyakan kepadaku lagi. "Bagaimana? Maukah kamu menjadi pacarku?"
__ADS_1
Aku duduk kembali di kursiku sambil menaruh HPku di atas meja. Kulihat span Chat muncul di layar HPku.
"Terima lah, Dia! Aku ada di restoran itu juga. Aku melihatmu dengan Kak Rifki." Tulis Mita, dia mengirimkan aku pesan WhatsApp.
Aku menengokkan sejenak kepalaku ke kanan, kulihat Mita ada di balik jendela restoran sedang berdiri sambil memberiku kode dengan menganggukkan kepalanya.
Aku tersenyum sambil memandang wajah Rifki yang begitu serius menunggu jawabanku. Aku mengangguk 3 kali sambil tersenyum lebar.
"Ya, aku mau!"
"Serius?" tanya Kak Rifki kepadaku.
"Iya...,"
"Hmmm... bagaimana kalau besok sore kita jalan-jalan ke pantai Losari."
"Iya, aku mau!"
Ke esokan harinya, sore pun tiba. Aku dan Rifki sedang duduk di pinggir pantai sambil menikmati indahnya pemandangan senja. Kami berdua mengobrol tiba-tiba Mita meneleponku.
Suara nada dering HPku didengar oleh Rifki. "Siapa?" tanya Kak Rifki yang sedang asik mengambil foto menggunakan kamera digitalku.
"Karyawan aku, aku kesana dulu sebentar!" isinku, lalu beranjak dari kursi.
"Halo? Ada apa?" tanyaku ke Mita sedikit risih.
"Kamu dimana?" tanya balik Mita kepadaku. Suaranya seperti sedang sedih atau sakit.
"Aku... lagi di pantai Losari sama Kak Rifki. Ada apa?" tanyaku, aku bingung karena ia tiba-tiba menangis.
"Boleh kita bertemu sebentar, please! Aku dirumah sakit. Jangan ajak Kak Rifki, kamu kesini sendiri saja." Jawabnya membuatku cemas. Aku menutup telepon darinya lalu menemui Rifki.
"Kak, Aku pamit dulu yah! Aku tiba-tiba ditelepon sama karyawan aku. Soalnya ada masalah disana." Pungkasku lalu pergi begitu saja.
"Hati-hati!" Teriak Kak Rifki kepadaku.
Langkah kakiku terhenti, aku kembali mendekatinya dan mengelus ujung rambutnya.
"Maaf, yah! Aku harus pergi. Kamu pulang sendiri." Aku kembali berlari ke arah mobil untuk menuju ke rumah sakit.
Sampailah Aku di Rumah Sakit. Aku terkejut usai melihat Mita sedang duduk di kursi taman depan rumah sakit dengan wajah dihiasi air mata.
__ADS_1
Aku mendekatinya, dan mengelus lengan tangannya sambil mengobrol baik-baik.
"Kamu kenapa? Kamu sakit apa?" tanyaku penuh khawatir.
"Putri, bagaimana nih aku takut! Aku tak tahu harus bagaimana?"
Keningku berkernyit ditambah lagi perasaanku yang mulai tak nyaman. "Kamu kenapa?"
"Aku hamil! Ternyata udah 3 bulan, Put!" jawabnya seketika membuat tubuhku jadi lemas.
"Siapa! Cowo yang kemarin, Kak Rival. Astaga dia benar-benar keterlaluan." Tegurku.
Mita bergeleng kepala. "Bukan dia?"
"Jangan bilang, orangnya adalah Kak Rifki!" Ujarku tidak terima. Detik itu pun, air mataku menetes.
"Siapa lagi kalau bukan Kak Rifki, pokoknya dia harus tanggung jawab sama aku dan oragtuaku." Dia menunjukkan hasil USG itu kepadaku.
"Padahal, aku baru saja jadian kemarin. Selain itu aku berharap banget dari dulu ingin memilikinya." Aku menangis tak berdaya, seakan-akan aku merasa hidupku akan terhenti tidak lama lagi.
Mita menyentuh kedua pundakku, dia berhenti menangis. "Aku mau, kamu pacaran satu bulan saja sama Kak Rifki yah, Put. Aku nggak mau jika lebih dari satu bulan itu. Aku nggak mau jika perutku jadi gede baru dia nikahin aku."
"Hanya satu bulan, bagaimana kalau Kak Rifki udah nyaman sama aku. Kan, kamu bilang tujuanku untuk mengobati luka hati dan perasaan Kak Rifki." Aku masih menangis hingga tanganku terkepal kuat.
"Bagaimana nih, mau di gugurin pun aku nggak tega." Keluh Mita sambil memandang penuh kasihan wajahku.
"Baiklah, satu bulan! Kalau begitu aku pamit." Pungkasku, aku pergi begitu saja.
Malam tiba, hujan turun begitu sangat deras. Aku masih menangis di atas tempat tidurku sambil menyalakan tv.
Hidupku terasa benar-benar hancur.
"Pacaran satu bulan! Bagiku lebih baik menulis novel Romance selama 1 tahun dan memberinya kata cinta yang lebih indah."
"Huh, kenyataan memang seperti kopi pahit. Meskipun ada gulanya masih ada rasa pahit di dalam kopi itu. Sama seperti aku dan Kak Rifki. Aku gulanya dia kopinya."
"Bodoh yah aku, terlalu berharap memang bodoh lebih bodoh daripada mencintai dalam bersamaan."
Sambil menepuk dadaku diiringi dengan tangisan yang amat sesak. "Apa aku hanya badut untuk dia, kenapa harus begini. Seharusnya awalnya diawali dengan manis lalu pahit."
Tentang harapan dan takdir. Kadang apa yang diharapkan lebih dan ingin sekali menggapainya. Tetap saja akan ada takdir yang menghalangi dan membuat kita menyerah. Padahal, tanpa disadari kalau setelah takdir itu yang mengalahkan harapan diri, akan ada saatnya hidup lebih baik daripada sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung...